
Bugh ....
Suara meja yang di keprak, untung tidak terlalu kencang. Sehingga apa yang ada di meja tidak berjatuhan ataupun berantakan.
Renita yang sedang duduk dan siap makan dengan staf lain, merasa sangat terkejut, dan menoleh ke arah orang yang baru saja datang dan menggebrak meja.
Renita sangat terkesiap. Ternyata orang itu adalah Azam yang kini menetap tajam ke arah dirinya. "Mas, ada apa di sini?"
"Saya ingin bicara sama kamu," kata Azam dengan nada dingin dan mengedarkan pandangannya ke arah orang di sekitar Renita.
Begitupun dengan wanita yang melihat ke arah teman-teman kerjanya yang menatap heran, kemudian dia berdiri dan mengajak Azam untuk bicara di meja yang lain yang kebetulan kosong.
"Silakan duduk? dan bicaralah baik-baik tidak perlu melotot ataupun berkata kasar," ucapnya Renita sambil menunjuk ke arah kursi.
Azam pun duduk dan kini berhadapan dengan Renita. "Apa maksudnya kamu menyakiti istriku? aku saja suaminya tidak pernah menyakitinya, kalau ada masalah bilang sama aku langsung. Soal anak ngomong langsung sama aku! bukan bicara sama dia yang tidak tahu apa-apa, apalagi main fisik segala. Saya tidak menyangka, kok kamu tega ya melakukan seperti itu!"
Renita melongo, mendengar perkataan dari Azam yang sama sekali dia tidak mengerti. Emangnya apa yang ia lakukan kepada istrinya? perasaan nggak ada, lagian ketemu itu hari kemarin.
"Sebentar Mas, Mas ini ngomongin apa sih? saya tidak mengerti--"
"Halah ... jangan sok suci deh ... sok tidak mengerti segala, kalau kamu ingin meminta nafkah untuk Rendy sama saya ngomongnya langsung. Bukan sama istri saya yang tidak mengerti apa-apa!" Tambahnya Azam sambil mengibaskan tangannya.
"Jujur ya Mas, aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan, kalau kamu merasa seperti itu ... kenapa nggak kamu lakukan? kamu sadar tidak memberi nafkah sama Rendy? kenapa malah kamu yang marah-marah!" Ucap Renita dengan nada yang tetap pelan serta tatapan heran.
"Saya tuh ... baru pulang dari luar kota dan saya mendapat laporan kalau istri saya kamu sakiti Apa maksudnya seperti itu? kenapa kamu tidak ngomong langsung saja sama aku langsung, seharusnya kamu ngomong sama aku bukan sama dia apalagi menyakiti fisiknya--"
"Astagfirullah ... Mas. Emang siapa yang nyakitin istri kamu dan siapa yang laporan sama dia? sekalipun kamu nggak ngasih nafkah Iddah sama aku ... aku nggak gak masalah kok Mas. Kamu gak ngasih nafkah pada Rendy ... aku juga tidak masalah. Aku juga mampu membiayai hidup Rendy! jangankan sekarang, sampai nanti pun dia besar aku nggak akan minta sama kamu. Kecuali kamu ikhlas memberinya dan aku nggak akan koar-koar kok. Sekalipun di persidangan kamu bersedia dan tertulis di surat perjanjian kalau kamu sanggup memberi nafkah Rendy setiap bulannya, dan pada kenyataannya nggak, aku gak jadi masalah!"
"Alahh .... nggak usah istighfar segala, aku tahu sekarang hatimu busuk, kamu benci kan sama istri aku, tidak terima aku menikahi dia--"
__ADS_1
"Dengar ya, Mas ... terima tidak terima kamu menikah sama dia, aku udah ikhlas kok dan itulah kenyataannya. Dan kamu nggak perlu dengerin omongan dia, dia yang berhati busuk memfitnah orang yang bukan-bukan, kalau begini caranya! kemarin aku ketemu dia di jalan kan ... tapi aku nggak pernah melakukan apapun." Timpalnya kembali Renita yang memotong perkataan dari Azam yang seolah-olah dirinya sudah menyakiti Sharon, istrinya.
"Tidak melakukan apapun gimana? mukanya lebam-lebam dan itu masih ada sampai sekarang, dia bilang kalian bertengkar kemarin--"
"Apa Mas, berkelahi? hem, maaf Mas itu salah! kami tidak bertengkar apalagi adu jotos, kami berdebat sedikit gara-gara apa, tahu nggak?" Renita menatap tajam ke arah Azam yang menggelengkan kepalanya.
"Kemarin itu ... aku tidak sengaja menyenggol kaca spion motornya, karena dia yang oleng dan kaca spionnya lecet dikit. Eeh ... mulanya dia minta ganti karena katanya rusak berat. Oke aku siap ganti kok, tapi lama-lama dia nggak mau aku ganti. Dan dia malah bilang yang aneh-aneh sama aku bahkan nyumpahin segala. Terus yang salah siapa Mas? aku sama sekali tidak menyentuh dia dan obrolan kami pun tidak lama, cuman sebentar."
"Halah ... alasan! buktinya dia lebam-lebam kok pipinya!" Azam lagi-lagi menggelengkan kepalanya dia tidak percaya dengan omongan Renita.
"Terserah, Mas mau percaya atau tidak sama aku! yang jelas demi Tuhan aku tidak pernah menyentuh dia Mas. Bahkan aku tidak mau berurusan dengan dia, kalau saja aku tahu yang di motor itu dia. Aku pasti kabur Mas ... males berketemu dia!" Tambahnya Renita sembari mengedarkan pandangannya ke arah sekitar di mana teman-teman kerjanya yang sedang menikmati makan dan melihat ke arah dirinya.
Azan tetap menggeleng. Mungkin dia sudah terhasut dengan omongan nya Sharon.
"Kalau dia memang lebam-lebam pipinya, mungkin dia bertengkar sama orang lain kali. Atau mungkin dia jatuh, yang jelas tidak ada kaitannya dengan aku dan cukup ya Mas menghakimi aku, menghakimi sesuatu yang tidak pernah aku lakukan!" seru nya Renita kembali.
"Mas, kalau Rendy ada apa-apa tentunya aku langsung ngomong sama kamu. Buat apa aku ngomong sama dia yang mungkin belum tentu dia sampaikan sama kamu, terus aku pun aku nggak memaksa Mas memberi nafkah untuk Rendy, Mas ngasih syukur, nggak juga nggak apa-apa! nikmati saja kehidupan mu sekarang, Mas. Dengan istri tercinta mu itu, hanya ... aku mengingatkan saja sama kamu, jangan sampai nanti kamu menyesal karena sudah menyia-nyiakan kami." Renita berdiri hendak meninggalkan Azam.
Geph ....
Azam memegang lengan Renita bagian atas dengan cengkraman yang agak kuat sehingga Renita meringis kesakitan.
"Apa-apaan kamu Mas, lepaskan? sakit!" pinta Renita sembari meringis.
"Apa maksud mu, dengan kata menyesal? aku nggak akan pernah menyesal telah menceraikan mu karena sekarang aku tahu, hatimu busuk tidak sebaik dulu dan tidak ada salah satu pun yang akan buat aku menyesal dari dirimu!" ucap Azam dengan kata-kata yang sangat tajam bahkan mungkin melebihi tajamnya pisau.
Kedua manik mata Renita berkaca-kaca termasuk menahan sakit di dada, dengan omongannya Azam tersebut seolah-olah dirinya istri yang paling buruk di mata Azam.
"Bu-bukan menyesal tentang diriku, Mas. Tapi yang aku maksudkan kamu yang sudah menyia-nyiakan Rendy! jangan sampai kamu menyesal karena kamu sudah tidak peduli lagi pada darah daging mu sendiri. Mungkin aku istri yang paling buruk di mata mu, tapi bagaimanapun Rendy adalah darah daging kamu Mas, yang seharusnya kamu sayang dan kamu perhatikan!" Suara Renita bergetar menahan ingin menangis.
__ADS_1
"Emangnya siapa yang bilang kalau Rendy itu bukan darah daging ku? aku mengakuinya kalau dia putra ku!" Azam menatap Renita dengan sangat tajam dan tangannya masih mencengkram kuat tangan Renita, wanita yang bertahun-tahun pernah hidup bersama dengannya dalam suka maupun duka.
"Lepaskan tanganku, Mas. Sakit?" Tangan Renita yang satunya memegang tangan Azam meminta untuk melepaskan tangannya.
"Hei, lepaskan tangan istriku! apa-apaan nih?" Tiba-tiba suara Malik berada di sana.
Membuat Renita dan Azam langsung menoleh dan dengan refleks Azam pun melepaskan tangan Renita.
"Hem. Siapa dirimu dan tidak perlu ikut campur, Ini masalah pribadi," suara Azam dengan ekspresi wajah yang tampak angkuh.
"Oh ya, masalah pribadi! pribadi yang seperti manakah? karena jika urusan pribadi dia, sama dengan urusan dengan saya, kau berurusan dengan dia tentu berurusan dengan ku juga!" tegasnya Malik seraya menyuruh Renita untuk mundur.
Prok-prok-prok .... Azam bertepuk tangan.
"Hebat ... hebat, kamu itu hanya atasannya, bukan siapa-siapa dia dan tidak perlu lah ... sok jadi pahlawan di hadapan saya! saya bilang masalah pribadi ya pribadi!" Kedua netra Azam melotot dengan suara yang naik tinggi.
"Hei ... Bung, tidak perlu berteriak di sini, ini wilayah saya jangan lupa itu! dan Anda harus tahu, Bung ....kalau wanita ini adalah calon istri saya, jadi jika anda berurusan dengan wanita ini tentunya harus berurusan dengan saya!" Walau dengan nada suara yang rendah namun cukup jelas yang terdengar dari bibirnya Malik telunjuknya pun menunjuk ke arah dada Azam.
Azam mengerutkan dahinya, dia melihat ke arah Renita, Malik balik lagi ke Renita terus balik lagi ke arah Malik. Dia setengah tidak percaya kalau Renita akan segera menikah dan CEO inilah yang jadi calon suaminya.
"Ha ha ha ... tidak mungkin itu sangat tidak mungkin--"
"Kenapa tidak mungkin, Bung? bukankah di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, anda saja yang seharusnya tidak mungkin meninggalkan wanita seperti dia. Kenyataannya mungkin dan anda sudah menyakitinya. Meninggalkan nya, hanya karena wanita lain." Timpalnya Malik dengan sangat jelas.
Azam tetap merasa tidak percaya dan dia menatap ke arah Renita dengan tatapan yang sedikit curiga ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, sebagai dukungannya agar aku tambah semangat Makasih banyak reader ku semuanya
__ADS_1