
Suasana yang hening menambah kesyahduan bagi penghuni dunia ini yang sedang di mabuk cinta dan kena candu asmara.
Malam semakin larut dan kian beranjak menjemput sebuah pagi. sang Surya mulai bersinar walau masih tampak malu-malu, rasa hangatnya perlahan mengikis rasa sejuk dan dingin yang menyelimuti tubuh menusuk ke dalam tulang.
Renita kini sedang menyiapkan sarapan buat putra dan suaminya yang mau ngantor dan sekolah.
Tiba-tiba gelas yang Renita tuangi minum di ambil shopia dan langsung di teguk nya.
"Makasih!" Shopia meneguk minuman teh hangatnya dengan nikmat.
Renita bengong dengan tidak sopannya Shopia mengambil teh yang dia buat untuk sang suami.
Bibir Renita mengatup dan enggan untuk berbicara. Lalu dia berbalik mengayunkan langkahnya kembali ke dekat kompor, namun kakinya Renita malah menjulur menghalangi langkahnya Renita yang untung saja tidak tersenggol.
Renita menoleh pada Shopia yang tersenyum kecut dan tatapan yang aneh pada dirinya. "Maaf, gimana kalau saya terjatuh atau kaki mu yang patah? karena terbentur dengan tubuh saya?"
"Hem, jangan sok menjadi nyonya di sini. Kerena saya lebih dulu tinggal di sini," ucapnya Shopia.
Renita menatap tajam ke arah Shopia seraya berkata. "Oya, saya lupa kalau kau itu lebih dulu dan menjadi suhu di sini. Iya-iya ... tapi bukankah saya di sini adalah istri tuan rumah yang berhak juga di sini?"
"Iya sih, kamu itu istrinya Malik di sini tapi bukan sepenuhnya kamu bisa menjadi nyonya atau tuan rumah di sini--"
"Sophia. Kamu bicara apa kamu, jangan kurang ajar sama istri saya, dan maunya kamu itu apa sih? sehingga kamu itu tidak suka sama istri saya? dan apa sih kesalahan istri saya sehingga kamu tidak suka sama dia!" tiba-tiba suara itu menghiasi ruangan tersebut yang tiada lain dan tiada bukan adalah suara nya Malik.
Membuat Shopia merasa kaget dan langsung menoleh ke arah Malik, yang baru saja turun dari lantai atas! begitupun dengan Renita, dia menoleh pada suaminya dengan bibir yang sedikit tersenyum.
"Eh ... eh. Aku tidak melakukan apa-apa dan aku nggak bilang apa-apa sama istrimu!" elaknya Shopia sembari melirik ke arah Renita.
"Semakin hari sikap kamu semakin aneh ya pada istri saya, pada anak saya! sebenarnya apa sih mau kamu? seharusnya kita saling menghargai karena bukan hanya satu atap saja, tapi emang kita punya ikatan darah kita bersaudara!" ucapnya Malik kembali.
"Tapi aku tidak melakukan apa-apa, Malik ... tanya aja sama istri kamu! Aku tidak berbuat apa-apa sama dia," akunya Shopia.
"Renita adalah istriku dan kamu sepupu ku. Apa salahnya kamu lebih menghormati dia sebagai istriku dan nyonya rumah di sini, kamu jangan mentang-mentang sudah lama ataupun menjadi suhu tinggal di rumah ini!" Jelas Malik sambil berdiri di dekat Renita.
"Yank, kita nggak ada apa-apa kok dan aku juga aku nggak kenapa-napa! sabar," liriknya Renita sembari mengusap dada Malik.
__ADS_1
Malik melirik ke arah sang istri lalu menatap pada Shopia. "Masalahnya Sayang, aku sudah tahu apa yang dia dilakukan padamu. Sikap dia di rumah ini, aku tahu dan aku nggak habis pikir dan tidak pernah terbayang di benak ku kalau sepupu ku ini tidak menyukai istriku."
"Kalau memang Shopia tidak suka aku dan anak di sini ... aku tidak apa-apa kok dan aku tinggal di rumah ku saja!" Renita memegang tangan Malik.
"Tidak sayang, ini rumah kita. Aku bilang kamu tinggal di sini ya tinggal di sini. Buat apa kamu pulang biar saja rumah itu di tempati sama bapak dan ibu juga Sheila." Malik berhadapan dengan Renita.
"Tapi!" gumamnya Renita sambil menatap wajahnya Malik yang menatap lekat.
Malik menempelkan gaya telunjuknya di bibir Renita seraya berkata. "Aku tidak mau kamu tinggal di sana, karena suami mu ini tinggalnya di sini. Mengerti?"
Pada akhirnya Renita mengangguk setuju pada Malik. "Baiklah."
"Aku harap kamu jangan coba-coba istri dan anakku kalau kamu ingin hidup tenang di sini, terkecuali--" Malik menggantungkan perkataannya.
Sementara Shopia hanya menatap tajam ke arah Malik dan Renita, semakin hari dia merasa semakin benci sama wanita itu. Sikap Malik yang dulu dia rasa lembut penyayang dan penuh perhatian kini berubah drastis setelah mengenal Renita dan menikahinya.
"Ada apa ini pagi-pagi dari ribut-ribut? pagi-pagi itu menghirup udara pagi yang segar, yang sejuk bukan ribut-ribut!" suara sang Bundanya Malik.
"Em ... Mama mau sarapan apa? biar Renita bikinkan, kebetulan bibi tadi pamit pulang! katanya keluarganya Ada yang sakit!" kawannya Renita kepada sang ibu mertua.
"Oh ya udah kalau gitu ini ke atas dulu mau jemput Rendy nggak tahu udah mandi atau belum!" Renita sembari menyentuh bahunya Malik yang sudah duduk di depan meja makan. "Sayang aku ke atas dulu ya sebentar."
"Hem, hati-hati Sayang jangan terburu-buru jalannya aja karena kamu belum pulih!" ucapnya Malik seraya melihat ke arah Shopia yang tampak terdiam.
Sementara buat makan yang Malik sudah tersedia di hadapannya.
"Aku harap kamu tidak macam-macam kepada istri dan anak ku. Sebab mereka sangat punya hak untuk tinggal di sini." Malik mengingatkan pada Shopia.
Ibundanya Malik mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi dan maksudnya Malik kepada Shopia itu apa? dia tatap Shopia tampak tegang dan kaku.
"Sebenarnya kalian ini ada apa sih ... kok tampak tegang dan kaku begitu? tidak seperti biasanya! emangnya kalian ada masalah apa?"
"Em, tidak ada apa-apa Bu tante! beneran," akunya Shopia.
"Ini Mah ... aku lihat sikapnya Shopia kepada Renita kurang menyenangkan. Bahkan dia sepertinya ingin berbuat jahat kepada Renita dan juga Rendy--"
__ADS_1
"Kamu jangan memfitnah aku, kalau kamu nggak suka sama aku bilang aja nggak suka! nggak usah memfitnah segala," sambarnya Shopia. "Kalau kamu nggak suka aku di sini, aku bisa pergi kok dari sini. Biarpun aku sudah tidak punya orang tua! aku bisa mencari tumpangan. Bila perlu aku mau ngontrak dan mencari kerja!"
Ibunya Malik semakin tidak mengerti, dia melihat ke arah keduanya bergantian. "Lho kok jadi begini?"
"Kalau kamu sudah tidak suka aku tinggal di sini, aku akan pergi kok dan terima kasih atas semuanya!" Shopia bangkit hendak pergi dan berharap mendapat pencegahan dari Malik khususnya.
"Shopia ... Kamu mau ke mana Dan kamu akan tinggal di mana? subhanallah tinggal di sini dan kehidupan kamu pun terjamin di sini Emang kamu tinggal di mana?" suara Bu Amelia membuat langkah Shopia terhenti sesaat.
"Tapi Malik sudah tidak suka aku tinggal di sini, Tante! setelah keberadaan istrinya. Dia malah tidak respon lagi sama aku dan juga Genta, dia tidak peduli lagi sama kami berdua jadi lebih baik kamu pergi saja Tante." ungkapnya Shopia tanpa menolehkan kepala kepada orang yang mengajaknya bicara.
"Tapi Shop ... mungkin itu cuma perasaan kamu saja! sesungguhnya Malik tidak bermaksud seperti itu sambungnya bu Amelia.
"Satu ... dua ... Malik cegah dong ... masa kamu tega membiarkan ku pergi, sementara aku nggak punya tempat tinggal. Nggak punya orang! tua suami nggak punya!" monolognya Shopia dalam hati.
"Kalau kamu mau pergi ... dari rumah ini, aku tidak akan melarang! silakan saja, di manapun kamu berada ... yang penting kamu bisa menitipkan diri sama siapapun, lagian tabungan pun pasti cukup kok sebab setiap bulan yang aku transfer sama kamu, jarang kamu pergunakan karena semua yang kamu perlukan di sini aku cukupi!" ungkapnya Malik yang menyilakan Shopia untuk pergi.
Perkataan dari Malik membuat dada Shopia terasa sesak, sakit nyeri sampai ke ulu hati. Tidak terasa dan tanpa diundang, buliran air bening pun menghiasi sudut matanya.
Shopia setengah berlari menaiki anak tangga tidak peduli di depannya ada siapa sehingga hampir saja Dia pun menabrak Renita yang sedang berjalan menuntun Rendy.
Anak itu pun bengong melihat Shopia yang terburu-buru menaiki anak tangga dan wajahnya pun tampak merah seperti sedang menangis.
"Bunda tante Shopia kenapa?" Rendy mendongak kepada bundanya.
"Bunda tidak tahu sayang ya udah yuk jalan lagi. Papa dan Oma sudah menunggu untuk sarapan." Ranita melanjutkan langkahnya kembali untuk menuju lantai dasar, mendatangi meja makan di mana Malik dan ibunya sudah menunggu.
Selanjutnya mereka sarapan bersama. Renita pun sempat bertanya kenapa Shopia terburu-buru pergi ke atas, apakah dia sudah sarapan atau belum?
Namun jawaban Malik hanya menggeleng, begitupun dengan mama mertua yang begitu asik menikmati harapannya.
Plak ... Plak ... Plak ...
Suara derap langkah yang terdengar dari meja makan ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Apa kabar reader ku semuanya, semoga kabar kalian semua baik-baik saja ya mudah rezekinya disehatkan badannya dimudahkan pula setiap urusannya 🤲🤲