Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Ikut bahagia


__ADS_3

Sudah beberapa hari Renita tinggal di rumahnya dan kerja pun pulang pergi dari sana. Begitupun Rendy sekolah.


Lumayan tidak pikiran agak tenang tidak terdengar yang menanyakan soal anak.


Ketika sore hari, Renita pulang dari kantor sudah di suguhi dengan keberadaan sang adik, yaitu Sheila yang datang sendirian.


"Aku kangen deh sama Mbak." Sheila memeluk berulang-ulang sang kakak.


"Kamu tampak gemuk nih," Renita menatap intens pada sang adik.


"Aku punya kabar gembira Mbak." Sheila senyum-senyum sendiri.


"Kabar apa? jangan bikin Mbak penasaran dong ..." Renita dibikin penasaran. "Wisuda sebentar lagi? atau ... di angkat jadi guru tetap?"


Namun Sheila menggeleng dengan senyuman yang terus merekah dari bibirnya.


"Terus, apa dong ... jangan bikin penasaran Mbak dong." mengerutkan keningnya.


"Aku ... aku sedang ... hamil." Sheila tampak sangat bahagia sekali dengan kehamilannya yang baru menginjak delapan minggu.


Renita shock bahagia mendengar kabar baik dari sang adik itu. Ia menutup mulutnya yang menganga. "Masya Allah ... Sheila ... serius?"


Sheila memegangi kedua tangan sang kakak dan mengangguk pelan dengan bibir yang terus melukiskan senyuman.


"Ya ampun ... selamat ya Sheila ... Mbak sangat bahagia mendengar nya, ya Allah ... semoga sehat kamu dan baby nya. Mbak benar-benar ikut bahagia lho ..." Renita memeluk sang adik dengan penuh kebahagiaan.


"Makasih Mbak ..." Renita membalas dan mengeratkan pelukan mereka berdua.


Kemudian mereka mengobrol dengan penuh canda tawa dan bercerita tentang kehamilan nya Sheila.


"Kenapa baru bilang sih? nggak bilang dari kemarin." Renita bertanya pada sang adik.


"Kan mau bikin surprise, ibu sama bapak aja belum ku kasih tahu." Jawabnya Sheila sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata.


"Mbak sangat bahagia dengan kabar ini, di saat Mbak gencar program hamil. Kamu yang hamil Alhamdulillah ... Allah memberi kepercayaan pada mu lebih cepat." Renita mengusap bahu sang adik.


"Masih program ya, dan hasilnya gimana? sudah ada tanda-tanda nya?" tanya Sheila sambil menatap Renita.


"Belum. Abang ... kurang subur dan jadinya ya seperti ini sudah ingin sekali menimang cucu. tapi gimana lagi usaha sudah ini itu dilakukan dan hasilnya Mas tak nihil." Jawabnya Renita kembali seraya menghela nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Sabar ya Mbak. Mungkin belum waktunya! nanti juga kalau sudah waktunya akan datang dengan cara tidak diduga. Seperti aku ini kan aku dijaga dulu tapi kenyataannya hamil juga!" Sheila merangkul bahu sang kakak dan mengusap punggungnya.


"Kami sih tidak ada masalah! mau telat mau cepat juga, tapi ya ... itu masalahnya. Mama terus menekan kita agar terus berusaha dan memberikan momongan, sementara ... kita pun sudah berusaha semampunya." Tambahnya Renita kembali.


Kemudian Dion, suaminya Sheila berbarengan dengan kedatangan Malik yang memang pulangnya ke rumah itu, memasuki teras dan masuk menghampiri sang istri yang tengah mengobrol dengan asyiknya.


"Assalamualaikum!" ucapkan dua pria tersebut yang langsung disambut oleh Renita dan juga Sheila.


"Wa'alaikumus salam ..." udah pulang ya?" Renita menatap suaminya.


"Aku dengar kamu sedang mengandung ya Sheila. Aduh ... Selamat ya. Kita yang program kamu yang hamil, tapi alhamdulillah aku pun ikut bahagia." Malik mengarahkan pandangan pada sang adik ipar seraya menundukkan dirinya di samping sang istri.


"Iya Bang ... makasih ya! semoga menular ya ... siapa tahu aja! bukankah di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, bisa aja kan besok atau lusa ada keajaiban. Mbak Renita juga segera hamil." cara melihat ke arah Malik dan juga Renita bergantian kemudian melihat pesan suami yang sedang tersenyum cantik bahagia.


"Aamiin doain ya? semoga kami pun segera mempunyai momongan, agar Rendy ada temennya." Balasnya Malik sembari menarik dasi yang masih terpasang di lehernya.


"Oh ya aku mau masak dulu ya jangan buat makan malam!" Renita beranjak dari duduknya. berjalan menuju dapur dan disusul oleh Sheila.


"kalian sangat beruntung barang berapa bulan sudah isi!" kata Malik kepada sahabatnya Dion.


"Ya alhamdulillah, padahal Sheila Sedang menundanya lho. Dengan alasan masih belum siap! masih sibuk ini itulah! tapi pada kenyataannya Tuhan memberi anugerah, memberi titipan untuk kami jaga yang harus kami syukuri." Timpalnya Dion.


Beberapa saat kemudian Renita kembali dengan gelas minuman air jeruk untuk suami dan adik iparnya tersebut.


"Iya Sayang sebentar lagi aku akan mandi." Malik mengangguk Senayan mengambil gelas dan lalu menekuknya sampai tinggal setengahnya.


Renita segera kembali ke dapur untuk melanjutkan niatnya menyiapkan makan malam yang ditemani oleh sang adik.


"Kamu tidak ngidam yang berat-berat kan?" selidik sang kakak sembari melirik pada sang adik.


"Yang berat-berat gimana?" Sheila tidak mengerti.


"Iya ... yang berat-berat ngidam minta apa gitu? atau bau-bau apa gitu? seperti dulu kan waktu Mbak hamil, seperti kamu tahu kan ... pengen apa yang sulit didapat hingga bau sama nasi jadinya sulit untuk makan." Jelas Renita sambi memotong sayuran.


"Alhamdulillah sih sampai sekarang nggak aneh-aneh!" sahutnya Sheila.


Setelah berapa waktu berputar dengan wajan dan sodet juga kompor, akhirnya kedua wanita itu pun menyajikannya di meja makan.


Kemudian mereka pun menikmati makan malamnya dengan sangat lahap biarpun cuma seadanya tapi terasa nikmat. Dibarengi dengan obrolan-obrolan ringan.

__ADS_1


Begitupun dengan Rendy, Dia sangat menikmati makan malam yang dimasak oleh sang Bunda.


"Berarti sebentar lagi ini akan punya adik ya tapi dari Tante bukan dari Bunda?" mata jernih anak itu mengarah pada sang Bunda juga.


"Iya sayang sebentar lagi ini kan jadi Abang dari baby nya tante!" jawabnya Renita sebagai menelan makanan di mulutnya.


"Hooh, Rendy senang nggak mau punya adik dari Tante?" tanya Sheila kepada ponakan yang satu-satunya itu.


"Senang dong ... apalagi kan Bunda belum bisa ngasih aku adik makanya aku kesepian yang lain lah pada punya adik ada yang satu yang dua!" jawabnya Rendy sembari menunjukkan senyumnya yang bahagia.


Renita dan Malik saling bertukar pandangan seraya menghela nafas dalam-dalam.


"Sabar aja ya pangeran Papa. Mungkin belum waktunya Bunda memberikan adik!" ucapnya balik sementara dalam hati yang merasa sedih karena kamu juga mendapatkan momongan.


Renita yang mengerti dengan perasaan Malik, menyentuh punggung tangannya dengan lembut seakan-akan memberi dukungan agar terus bersabar dan berusaha.


"Dan jangan lupa Reni pun terus mendoakan Bunda dan papa ya!" mbahnya Renita pada sebuah hati.


"Iya Bun, Rendy pasti akan selalu mendoakan Bunda sama Papa agar segera memberikan Rendy adik yang lucu ... banget!" anak itu mengangguk.


Selesai makan malam. Mereka pun melanjutkan obrolannya di ruang keluarga! sampai akhirnya Sheila dan sang suami berpamitan. Mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 malam.


"Kenapa kalian tidak menginap saja sih ... kan sudah jam 09.00. Mendingan nginep saja!" ucapkan itu pada sang adik.


"Renita benar, kalian menginap saja biar besok pergi ke kantor nya dari sini," tambahnya Malik sambil menatap ke arah Sheila dan juga Dion.


"Nggak lah ... kami pulang aja! lagian memakai mobil kok nggak jauh-jauh amat. Oh ya, kalau kami nginep di sini ... takutnya mengganggu yang lagi program hamil, kalau kita sih sudah dapat, jadi nggak ada program lagi! ya kan sayang?" Dion menyenggol tangannya sang istri.


"Hooh bener, mendingan kita pulang saja! biar kalian lebih fokus untuk programnya!" sambungnya Sheila semua itu senyum kepada kakak dan kakak iparnya.


"Dan ... jangan putus asa ya! coba terus ... sampai dapat dan jangan berhenti hanya gara-gara gagal, ha ha ha ..." Dion tertawa lepas namun dengan suara yang tertahan.


"Rendy tante pulang dulu ya?" pakainya Sheila kepada Rendi yang sedang asyik menonton di dalam.


"Iya tante ... lain kali main lagi ya!" balasnya Rendy tanpa menghampiri.


Kemudian Sheila dan Dion pun memasuki mobilnya setelah berjabat tangan dengan Malik dan Renita.


Renita dan Malik pun melambaikan tangan yang masih mandiri di teras sampai mobilnya Dion hilang dari pandangan.

__ADS_1


Setelah mobilnya Dion sudah tidak terlihat lagi barulah mereka masuk ke dalam rumah tersebut sambil saling bergandengan tangan ....


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya makasih.


__ADS_2