
"Jujur, aku ikut bahagia dengan kebahagiaan mereka berdua. Menikah dan sekarang mau punya anak." Ungkapnya Malik sembari berjalan menuntun tangan sang istri masuk ke dalam rumah.
"Oh aku juga ikut bahagia dengan kebahagiaan mereka berdua, Hem ... semoga saja ada keajaiban untuk kita berdua." Renita membalas perkataan dari sang suami.
"Tapi sekarang, rasanya aku tidak berani untuk banyak berharap kondisi yang ada pada diriku ini," nada bicara Malik terdengar agak putus asa.
Renita menghentikan langkahnya begitupun dengan Malik. "Kamu jangan putus asa dong ... harus pesimis bahwa sesungguhnya tidak ada yang tidak mungkin, biarpun seperti itu. Kamu harus yakin kalau kamu bisa melewatinya dan kamu kan bisa berobat."
"Bunda, Papa Rendy mau bobo duluan ya ngantuk!" suara Rendy yang langsung beranjak dari tempat nya. Dan langsung berlari ke dalam kamarnya.
"Iya sayang Bobo ya biar besok tidak kesiangan!" Malik menoleh ke arah Rendy yang dalam hitungan detik pun sudah menghilang di balik pintu kamarnya.
Kemudian Malik mematikan lampu di ruangan tersebut kemudian berjalan bersama sang istri memasuki kamarnya.
"Emangnya sayang mau mendampingi aku berobat?" Tanya Malik setelah melintasi pintu kamarnya tersebut.
"Kenapa mesti bertanya seperti itu. Aku kan istrimu! tentu aku mau mendampingi mu dan memberi semangat agar kamu terus optimis." Renita meyakinkan sambil mengunci pintu kamarnya tersebut.
Malik meneruskan langkahnya untuk ke kamar mandi sesaat. Beberapa detik kemudian dia kembali sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil.
"Sesungguhnya aku tidak habis pikir, padahal aku tidak punya riwayat yang aneh-aneh. Alkohol tidak pernah! merokok pun tidak, olahraga selalu rajin. Tapi kenapa sp-er-ma aku tidak bagus?"
"Itulah yang menjadi rahasia yang maha kuasa, ada yang hidupnya kurang sehat. Peminum, merokok berjalan tapi dengan mudahnya dikasih keturunan dan ini malah kebalikannya. Bersabarlah ... mungkin ini sebuah ujian dan jika kita sabar dan ikhlas akan mendapatkan yang lebih indah dari yang kita bayangkan! Hem," timpal sang istri sembari memainkan kedua alisnya.
"Hem ... Bisa aja membujuk ku, baiklah demi istriku yang tercinta ini aku akan ikuti apapun maunya, suruh sabar ya sabar. Yang penting istriku ini selalu disisi ku," Malik memeluk Renita dari samping dan menghujaninya dengan kecupan.
"Aku akan selalu mendampingi mu, berada di sisimu jika kamu masih membutuhkan ku! tetapi jika sebaliknya ... apalah dayaku tidak dapat bertahan apalagi menjadi istri yang kamu banggakan!" Renita membelai rambut suaminya dengan halus.
"Aku akan selalu membutuhkan mu dan berada di sisiku, tidak sebentar pun aku tidak membutuhkan nya. Akan selalu butuhkan dan aku rindukan! seperti saat-saat ini!" tambahnya Malik sambil terus menyusuri lehernya Renita yang jenjang serta sudah melepas kerudungnya.
"Ach ..." Suara Renita yang lolos begitu saja tatkala Malik dengan brutalnya melepas kecupannya dan apalagi ketika tangannya yang nakal menjamah buah yang menggantung di pohonnya yang tampak selalu segar dan menggoda untuk di nikmati dengan penuh semangat.
"Jangan ragu sayang, lepaskan suaranya agar aku tambah semangat untuk melakukannya. Aku butuh dukungan agar lebih semangat. Siapa tahu dapat merubah semuanya." Seru nya Malik yang terdengar bergetar dan di landa perasaan yang tidak karuan.
Tubuh Renita di angkatnya dan di lempar ke atas tempat tidur.
Membuat Renita merasa kaget luar biasa dengan perlakuan suaminya itu, ia melonjak bangun dan duduk yang langsung Malik dorong kembali agar Renita berbaring, lantas ia kunci dengan tubuhnya yang sudah bertelanjang dada.
__ADS_1
Malik menyentuh bibirnya sang istri dengan sangat mesra. Bergerak me-lu-mat setiap inci nya.
Setelah puas pemanasan ... Akhirnya Malik memulai olah raga malamnya bersama Renita hingga peluh pun bercucuran membasahi tubuh keduanya.
Tidak ada satupun yang berbicara selain suara-suara aneh yang lolos dari mulut mereka berdua. Membuat Malik bertambah semangat.
Sehingga dia semakin mengayuh pedal sepeda nya yang terus menuntut lebih cepat.
Setelah mendapatkan puncaknya berapa kali, akhirnya Malik beristirahat. Memeluk bahu sang istri yang meletakkan kepalanya di atas dada.
"Sayang Sudah berapa hari ini kita tinggal di sini. Tinggalkan rumah kita di sana, bagaimana kalau besok sore kita kembali aja pulang ke sana ya?" Ucapnya Malik dengan lirik.
Degh.
Jujur Renita merasa keberatan jika harus lebih cepat kembali lagi ke rumahnya Malik. Rasanya belum siap untuk menghadapi omongan-omongan dari sang mertua.
"Sebaiknya kita hadapi mama dengan berdua! jelaskan kalau aku yang tidak subur bukan kamu! Aku rasa Mama pun akan mengerti!" tambahnya Malik seraya membelai rambutnya Renita.
"Sudah berapa kali mama telepon aku dan ... menanyakan kapan pulang, dia di sana kesepian nggak ada teman apalagi katanya jika Rendy tidak berada di sana!" kata Renita sambil mengeratkan pelukannya di perutnya Malik.
"Em ... aku bilang saja kalau ibu belum kembali ke sini, kan memang gitu kenyataannya. Mereka melakukan kembali besok lusa!" Jawabnya Renita yang kini mengusap-usapkan tangannya di dada bidang Malik.
"Terus kata Mama apa?" lagi-lagi Malik bertanya.
"Mama tidak bilang apa-apa! hanya bilang cepat pulang ya Mama di sini kesepian! gitu aja," balasnya Renita.
Suasana berubah menjadi hening, hanya yang terdengar suara deru nafas saja yang halus dari hidung keduanya.
Kedua pasang mata mereka sudah terpejam dan memulai melayani mimpinya masing-masing yang indah.
Namun tidak lupa untuk saling mengeratkan pelukannya masing-masing.
Keesokak karinya. Malik. Renita dan Rendy sedang sarapan bersama.
"Papa suka deh melihat makannya Rendy semakin banyak dan tubuhnya pun semakin kekar, gemuk juga." Malik mengarahkan tatapannya kepada Rendy yang tengah asik mengunyah.
"Iya dong ... Papa biar Rendy cepat besar he he he ...."
__ADS_1
"Ya, Oh iya bagus itu, biar ada yang menjaga bundanya, bila ada yang mengganggu bunda!" Lirihnya Malik.
"Iya Pah biar ada yang menjaga Bunda kalau ada yang menyakitinya!" Rendy mengangguk lalu menyudahi makannya dengan segelas air susu.
...----------------...
Azam yang sedang berada di sebuah cafe, dengan suasana hening dan tenang tengah nongkrong sendirian di mejanya dan dia anteng saja menikmati makannya.
Sehingga tidak mengetahui kalau ada seseorang yang berdiri di dekat dirinya dan memperhatikan sedari tadi.
"Permisi ... boleh kalau saya duduk di sini," suara seorang wanita dengan lembutnya.
Membuat Azam tersiap dan langsung mendongak. "Ha! silakan-silakan."
Dengan refleks Azam ampun berdiri dan menarik sebuah kursi untuk wanita tersebut duduk.
"Kenalkan namaku Shopia!" Wanita itu menyebutkan nama dan juga mengeluarkan tangannya.
"Oh iya! namaku Azam," sambutnya Azam dengan pandangan mata yang terus menatap wanita tersebut dengan tatapan yang sangat intens dari atas sampai bawah.
Shopia mengulum senyumnya tatkala melihat pria yang dihadapannya itu menatap dengan Intens kepada dirinya.
"Siapa tahu aja aku bisa mengambil hatinya, sepertinya sih dia pria yang berduit. Kalau aku bisa dapatkan dia kan lumayan ya! yang penting aku tidak susah-susah amat!" Batinnya Shopia.
Sejenak mereka terdiam dengan masih berjabatan tangan! saling menatap satu sama lain beberapa saat kemudian Azam pun bercadar.
"Oh lupa silakan duduk!" Azam menarik tangannya dan menyilakan Shopia untuk duduk.
"Oh iya makasih," Shopia pun duduk dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari bibirnya yang berwarna merah menyala.
"Em ... Sendirian aja, mana temannya?" Selidiknya Azam sembari memajukan kursinya lebih dekat ke meja.
"Iya sendirian nih ... mau ketemu temen. Tapi entah dianya datang atau enggak!" jawabnya Shopia sambil planga-plongo.
"Oh gitu ya!" Pasang netra mata Azam terus memperhatikan wanita yang berada di hadapannya tersebut, yang memakai gaun hitam tanpa lengan dengan dada rendah, panjangnya di atas lutut.
Selanjutnya Mereka pun mengobrol saling meneliti satu sama lain, menyelidik yang lebih dalam dari dirinya masing-masing ....
__ADS_1