
"Iya, calon istri Papa." Tambah Malik.
"Ooh, Tante, Ros ya? aku suka sama Tante itu, baik dan ... rajin, biarpun keadaan ya dia tetap semangat jalani hidup!" kata Rendy yang memberi lampu hijau pada papanya Azam.
Malik dan Azam yang tengah berdiri saling pandang dan tersenyum.
"Tuh 'kan, sudah dapat lampu hijau. Tinggal maju saja!" ucap Malik sambil mengangkat jempolnya.
Azam merasa senang mendengar putranya setuju dan bikin hatinya berbunga-bunga! rasanya insya Allah semua akan berjalan lancar.
"Terima kasih, Nak ... jika Rendy menyetujui papa sama tante Rosita!" Azam menatap putranya penuh rasa bahagia.
Rendy mengangguk pelan. "Kalau Papa sama tante Rosita aku setuju dan dia itu nggak seperti Tante Shopia kemarin." Tambahnya Rendy.
Azam menghela nafas lega lalu kemudian dia pun berpamitan pada Rendy dan putranya.
Malik dan Rendy pun memasuki kediamannya setelah Azam tidak ada di sana.
Malik merangkul pundak nya Rendy sambil berjalan. "Ayo. Kita tidur!"
Keduanya masuk ke dalam bilik nya masing-masing danalam pun sudah semakin larut.
...-------...
"Bu, saya saja yang memasak. Ibu diam saja dan duduk manis." Sharon berusaha ramah pada sang ibu mertua yang sikapnya begitu dingin padanya.
"Tidak usah, saya bisa sendiri, siapa tahu nanti kamu kasih racun!" ketusnya ibu mertua.
"Ya ampun, Ibu ... nggak mungkin saya berlaku seperti itu, buat apa dan gak ada ada gunanya. Saya racun Ibu, ck-ck ... bisa-bisa saya digantung sama suami saya, Bu!" tambah Sharon sambil menatap pada sang ibu mertua.
"Siapa tahu saja, sebab saya tidak percaya sama kamu. Dan saya tidak pernah merestui kamu jadi mantu saya." Jelas sang ibu mertua.
"Dasar tua Bangka. Lagian buat apa sih aku racun dia? biarpun mulutnya pedas bagai cabe, masa bodoh. Aku tidak perduli, lagian tidak setiap hari juga aku di sini." Batinnya Sharon sambil berdiri di dekat kompor yang tadinya mau masakin ibu mertuanya.
Namun ibu mertua gak mau dibantunya. Malah menuduh yang tidak-tidak padanya.
"Tidak perlu dibahas lagi kali, Bu ... saya sudah tahu kalau Ibu nggak suka sama saya, dan saya tidak peduli yang terpenting putra ibu selalu sayang sama saya dan anak-anak!" Sharon menjauh dari tempat memasak
__ADS_1
Dan membiarkan ibu mertua masak sendiri yang kebetulan asistennya sedang pulang kampung.
Sharon sendiri di suruh Jono untuk nemenin ibunya. Makanya Sharon berada di sana.
"Kau itu, hanya wanita mu-ra-han. Saya tahu itu!" sambung ibu mertuanya Sharon kembali dengan tatapan yang tidak suka.
Sharon yang sedang menatap layar ponselnya menolehkan kepalanya pada sang ibu mertua. "Ibu, tahu dari mana? dan saya juga yang lain ... itu pasti punya masa lalu. Mau baik atau buruk! Ibu tidak perlu menghakimi saya, karena Ibu tidak tahu mungkin ya? kalau anak ibu pun punya masa lalu yang gelap."
"Apa? kamu tidak perlu melimpahkan kesalahan pada putra saya. Karena saya ibunya Jono dan tahu putra saya gimana!" sang ibu mertua membela putranya.
"Ibu jangan bangga dengan putra Ibu sendiri. Karena mungkin Ibu tidak tahu apa yang dia lakukan di belakang ibunya! jadi jangan selalu memandang hina saya karena lihat dulu putra Ibu sendiri!" Sharon beranjak dari duduknya meninggalkan dapur.
Sang ibu mertua terdiam dan bibirnya terkunci dia tidak habis pikir apa maksudnya Sharon mengatakan kalau putranya tidak sebaik yang ia pikirkan.
"Apa maksudnya wanita itu! hingga mengatakan putra ku seperti itu, emang putra ku sering melakukan apa di luar? pusing." Ibu nya Jono merasa pusing juga kepalanya berdenyut gara-gara ucapan Sharon.
"Mungkin di matanya putra dia sangat sempurna, padahal tidak sebaik yang dia pikirkan. Dia 'kan menikahi ku karena awal mulanya sering pakai aku! apa itu namanya laki-laki baik?" monolog nya Sharon sambil menjatuhkan bokongnya di kursi yang ada di teras.
Brongk brengk brangk !
Suara barang dapur terjatuh dan membuat Sharon melonjak naik, tapi terduduk kembali dengan bibir yang tersenyum dingin.
"Oh my God sakitnya ..." rintihnya sang Ibu Jono, masih untung wajannya nggak ada air panas ataupun minyak panas. Wajan yang jatuh tersebut kosong namun bekas dia masak. Sebelum terjatuh mengenai kepalanya terlebih dahulu.
Sehingga kepalanya pun kotor bekas terkena wajan kotor. "Aduh ... sakit ..." desis nya wanita sepuh itu.
Mau berdiri pun sulit dan kakinya juga bokongnya terasa sakit. Wajah nya meringis dan berusaha berdiri namun sulit malah terjatuh lagi.
Mana tidak ada siapa-siapa di rumah tersebut selain dirinya dan Sharon. Mau minta tolong sama Sharon gengsi, yang ada nanti dibiarkan dan menertawakan.
Setelah beberapa lama kemudian Sharon pun masuk dan mendapati ibu mertuanya di lantai sedang berusaha berdiri.
"Ibu kenapa? duduk di lantai, nggak ada kursi, Bu?" Sharon menatap tanpa ekspresi pada ibu mertuanya itu.
"Jangan ikut campur," balasnya sambil membelalakkan matanya pada Sharon.
"Siapa juga yang mau ikut campur? orang saya cuma nanya doang. Mau di bantu gak?" Sharon mendekat.
__ADS_1
"Tidak perlu, saya bisa sendiri." Sambil meringis dan kini sudah berdiri memegangi kursi.
"Baguslah kalau tidak mau dibantu, saya juga tidak mau kok bantu Ibu." Sharon pun melengos meninggalkan kembali, namun dia melihat wajan di lantai.
Sehingga Sharon mengambilnya dan menyimpan di tempat namun tidak niat sama sekali untuk mencucinya, terserah! orang ... ibu mertuanya juga seperti itu tidak mau dibantu.
"Kenapa Bu?" suara Jono baru saja datang dan menemukan ibunya tampak meringis kesakitan.
Sharon menoleh pada suaminya yang untungnya ia tidak lagi bicara apapun ataupun menggerutu.
"Jono, Ibu terjatuh. Sakit pinggang dan bokong Ibu, Nak ..." jawabnya sang ibu sambil terus meringis, posisinya sedang duduk di kursi mejaakan.
"Sayang, kenapa tidak kau jaga ibu ku?" Jono menghampiri ibunya dan menoleh pada sang istri.
"Aku tidak tahu, Mas. Saya melihatnya sudah berdiri kok. Tadi juga saya mau masakin tidak mau dibantu! yowes. Saya tidak memaksa orang yang tidak mau dibantu!" Sharon mengangkat kedua bahunya.
"Kok bisa ibuku jatuh kamu nggak tahu, kan kamu suruh tinggal di sini untuk menemani Ibu. Karena asistennya sedang pulang!" kata Jono sambil memapah ibunya meninggalkan dapur.
"Tapi, Mas ... aku bener nggak tahu! tadi aja waktu aku tawarkan bantuan dia nggak mau!" Sharon membela diri sambil mengikuti langkah Jono yang akan membawa ibunya ke dokter dan Sharon pun meninggalkan pintu mobil untuk ibu mertua.
Jono yang mengemudikan mobilnya dan Sharon menemani ibu mertuanya di belakang.
Sikap sang ibu mertua tetap saja tidak mengenakan pada Sharon walau sambil meringis! namun manik matanya mendelik ke samping dimana mantunya berada.
"Ibu itu lagi sakit, jangan tambah dengan rasa penyakit hati. Saya sudah coba kok untuk menolong Ibu! meringankan beban Ibu, Ibu aja tidak mau dan ini akibatnya 'kan!" lirihnya Sharon sambil tersenyum tipis pada sang ibu mertua.
"Jangan banyak ngomong. Saya tidak butuh kamu banyak ba-cot. Saya juga nggak butuh pertolongan kamu mendingan saya sakit daripada di tolong sama kamu!" ucap sang ibu mertua dengan ketusnya.
"Kalau Ibu mendingan sakit ... terus kenapa sekarang dibawa ke dokter?" Sharon tidak mau kalah.
"Yang mau ajak saya ke dokter adalah putra saya! bukan kamu, dan saya tidak mau kalau kamu ikut serta! apalagi pura-pura menolong saya, saya tidak sudi." ketusnya kembali.
Sharon sudah membuka mulutnya bersiap kembali bicara, namun Jono langsung menyela.
"Kalian ini kenapa sih ... dari tadi ribut mulu nggak bisakah aku sebentar? aneh sekali." Jono melihat kedua dari kaca spion yang ada di atas kepalanya ....
.
__ADS_1
Bersambung.