
Rendy, Malik Renita dan juga Alena menoleh ke arah gadis yang berdiri membawakan bunga yang bertuliskan congratulation Rendy, dengan raut wajah yang sumringah, tersenyum bahagia ke arah Rendy.
Namun dengan suasana hati yang tidak karuan, Rendy bukannya menyambut bahagia tapi malah semakin sedih. Tanpa berkata apapun ataupun menyapa sekalipun untuk membalas sapaannya! Rendy malah melengos dan langsung memasuki mobil Malik yang sudah ada sopirnya.
Disusul oleh kedua orang tua dan adiknya. Membuat hati si gadis bersedih, hatinya sangat hancur kehadirannya ternyata tidak diharapkan sama sekali dalam hatinya pun bertanya-tanya apakah karena dia telat datang atau bagaimana!
"Rendy, kok kamu begitu? aku sudah bela-belain datang buat kamu. Maaf kalau aku telat, tapi itu gara-gara jalanan macet!" Suaranya tersengal dan kedua manik matanya yang indah pun langsung berembun mematung dengan tatapan ke arah mobil ditumpangi oleh Rendy dan keluarga.
Alena melirik pada sang kakak. "Kak, kasihan sekali gadis itu, dicuekin sama Kakak, bukan Kakak punya hati sama dia? dimana sih hati kakak! kok bisa-bisanya biarkan dia dengan sikap Kakak yang sedingin itu, setidaknya Kakak menyapa dia atau membalas ucapannya, kan kasihan juga--" ucapan Alena terhenti melihat gerakan tangan Rendy yang menandakan stop, jangan bicara lagi.
Renita menyentuh lembut tangan anak gadisnya. "Sayang, suasana hati kakak lagi kurang baik! jadi jangan di ganggu dulu," dengan suara yang parau.
Alena menoleh pada sang Bunda kemudian beralih melihat ke arah papa yang langsung mengangguk. Membuat Alena pun mengatupkan bibirnya, mengunci tanpa banyak kata.
"Aku kan hanya kasihan sama gadis itu, coba saja aku yang digituin sama laki-laki, ku bejak-bejek tuh muka. Sudah bela-belain datang ,bawa bunga segala dengan ucapan congratulation, eh malah pergi begitu saja, minta di timpugh batu tuh orang," gerutu Alena dalam hati. Dia menjadi kesal dengan sikap sang kakak kepada seorang gadis.
"Coba gadis itu adalah aku, aku langsung berlari menyusul kakak dan aku lempar bunga ke wajahnya. Huuh ... Aku jadi gemes sendiri, jadi kesal. Marah dan jengkel, sema cowok macam dia itu!" Alena bermonolog dalam hati wajahnya menunjukkan rasa kesal, namun tidak dapat berkata-kata.
Wajah Rendy tampak begitu gelisah dan tegang, dia menempelkan siku tangannya ke bibir jendela mobil yang terbuka dan menempelkan ibu jarinya ke mulut. "Pah aku harap Papa tidak kenapa-napa! aku harap Papa baik-baik saja dan aku sangat berharap berita itu adalah bohong. Setidaknya Papa masih ada dan dapat berbicara denganku! Menghabiskan waktu dengan ku." Batinnya sambil menghembuskan nafas kasar dan menatap ke arah luar.
__ADS_1
Setibanya di rumah sakit, malah bersamaan datangnya dengan keluarga Azam yaitu ibu dan ayah, Jefri juga istrinya. Mereka menatap memandangi ke arah Malik dan Renita dengan tatapan yang tampak sedih.
"Ayah apa benar berita ini! Aku harap tidak benar?" Renita langsung menghampiri dan menyalami kedua mertuanya sesaat berpelukan bersama sang ibu mertua.
"Ibu nggak tahu, ibu juga baru datang dan ibu nggak tahu benar atau tidak," suaranya pun tersengal serak-serak basah menahan tangis khawatir kalau berita itu benar adanya.
Kemudian mereka semua berjalan cepat di koridor rumah sakit menuju ruangan yang sudah ditunjukkan oleh pihak rumah sakit sebelumnya, dan ternyata di situ hanya ada Rosita yang sedang terbaring lemah kepalanya di perban, sebelah tangannya pun diperban juga.
Terlihat kedua menikmatinya menjatuhkan air mata begitu deras di saat Renita dan yang lainnya datang menghampiri.
"Azam mana Ros? Azam di mana? tanya ibu yang langsung menanyakan putranya dimana.
"Ros, kenapa ini bisa terjadi? kami semua menunggu di tempat wisuda kalian tidak datang!" Renita langsung duduk di sampingnya Rosita.
Yang langsung disahut oleh ibu. "Iya, di mana dia sekarang? Azam di mana?" tampak tidak sabar.
"Mas Azam. Hik-hik-hiks," tangis Rosita malah pecah, dia menangis tersedu sambil berbaring dan menyampingkan wajahnya ke arah dinding.
"Mah, Papa mana?" Suara Rendy sangat pelan yang berdiri dekat bundanya.
__ADS_1
"Maaf, korban yang bernama Azam ada di ruang mayat," suara itu bagaikan petir yang menggelegar bagi keluarga Azam termasuk Renita walaupun sudah menjadi mantan.
Dan semua langsung menoleh ke arah suster yang berdiri bersama dokter yang langsung menjelaskan. Beberapa saat kemudian Rendy langsung berlari dari ruangan tersebut ke ruangan jenazah. Di susul yang lainnya.
Sambil menangis Renita pun menoleh ke arah rosita yang terus saja tangisnya tak berhenti, sementara dia di sini masih sendiri dan orang tuanya belum terlihat hadir. "Ros ... sabar ya yang tabah mungkin ini sudah takdir dan Allah lebih menyayangi mas Azam sehingga mengambilnya lebih dulu dari kita, kamu harus kuat, harus sabar. Ingat kedua anakmu di rumah!" Renita memeluk Rosita yang terus menangis.
Hati Rosita hancur, sehancur-hancurnya rumah tangga yang beberapa tahun ini penuh dengan kebahagiaan dan sudah diberikan dua buah hati. Harus berakhir di perjalanan, suaminya meninggal karena kecelakaan. Kepalanya terus menggeleng tak dapat berkata apapun. Hanya air mata yang terus berjatuhan sebagai ungkapan perasaannya yang hancur lebur. Dan keadaan memaksanya untuk menjadi seorang janda kembali namun janda ditinggal mati.
Renita terus memeluk Rosita dan juga mengusap bahunya dan terus berkata agar wanita yang berada di hadapannya itu tabah dan sabar, yang sanggup menerima takdir ini, yang mau tidak mau harus terpisah dengan suaminya yang tidak akan pernah kembali, yang sudah berpulang pada yang maha kuasa.
Sementara yang lain di ruang jenazah, Renita sendiri memutuskan untuk sementara ini biarlah menemani Rosita, dia pun membutuhkan dukungan dan perhatian. "Aku yakin kamu pasti mampu melewati ini semua, ingat kalau ada dua anak mu di rumah yang masih membutuhkan kamu, membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya. Terimalah takdir dengan lapang dada. Karena mungkin ini yang terbaik menurut Allah, walau akan sangat menyakitkan bagi kita yang menerimanya," ucap Renita sambil terisak kecil.
Sesungguhnya hati Renita pun sangat terpukul, ini sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan. Sekalipun dulu pernah membenci Azam tapi dia tidak pernah mengutuk atau menyumpahi dia gimana-gimana. Justru ia selalu berusaha untuk melapangkan dada, memaafkan dan menerima kesalahan Azam di masa lalu. "Selamat jalan Mas. Semoga Allah menempatkan mu di tempat yang lebih tepat, dilapangkan kuburmu. Diterangi, diampuni segala kesalahan mu, Mas!" batin Renita sambil mengusap hidungnya yang terus berair dan terasa panas.
Tangan Renita satunya terus menggenggam tangan Rosita. "Apakah keluargamu sudah dihubungi!" tanya Renita dengan suara yang lirih menatap wajah Rosita yang mulai menghentikan tangisnya, namun tetap masih terisak dan bahunya bergetar.
Rosita menggeleng. "Siapa yang harus aku hubungin ,Mbak? adik aku di luar Negeri sedang merantau dan aku sudah ak punya siapa-siapa lagi, ibuku kan sudah meninggal berapa tahun silam!" Suaranya nyaris tidak terdengar.
"Astagfirullah ... aku lupa kalau Ibu mu memang sudah tiada, tapi kan ada Bibi paman atau siapa?" Renita menutup mulutnya dengan tangan dia benar-benar lupa kalau Rosita sudah tidak punya ayah dan ibu, terakhir ibunya meninggal berapa tahun silam.
__ADS_1
Lagi-lagi Rosita menggeleng kan kepalanya. "Aku nggak tahu, Mbak, aku nggak tahu mereka di mana dan aku nggak tahu nomor saudara almarhum!" tangis Rosita kembali pecah mengingat kalau dirinya seolah-olah hanya seorang diri tanpa keluarga dia hanya memiliki suami yang sayang sama dia akan tetapi sekarang dia sudah tiada.
"Sudah Ros, jangan menangis seperti itu. Kasihan Mas Azam kalau ditangisi terus, kamu jangan kuatir, masih ada aku dan juga keluargaku yang akan menjadi keluargamu juga! jangan takut sendiri karena banyak orang-orang yang menyayangi mu dan juga anak-anakmu nantinya," suara lirih Renita sembari mengusap tangan Rosita.