
Pada malam hari nya, setelah konsultasi ke dokter ahli kandungan. Malik dan Rendy berkunjung ke panti adukan dan panti jompo.
"Alhamdulillah sudah selesai!" gumamnya Malik seraya mahela nafas, melirik ke arah istri dan bertanya yang duduk di belakang.
"Iya, semoga yang sudah kita lakukan hari ini ... membawa berkah, berbagi kebahagiaan dengan orang lain dan memberi kebahagiaan kita yang lebih!" tambahnya Renita sembari menunjukkan senyumnya pada sang suami.
Yang berada duduk di sampingnya! tepatnya di belakang kemudi dan mobil tersebut masih terparkir di depan sebuah panti.
"Bun, anak-anak panti itu orang tuanya di mana sih, masih punya orang tua nggak?" tanya Rendy pada sang Bunda.
Renita melirik pada putranya yang berada di belakang. "Ada yang sudah tidak punya orang tua ... ada juga yang masih punya, cuman orang tuanya nggak tahu di mana atau ada juga orang tuanya yang nggak mampu! yang tidak sanggup untuk membesarkan anak itu sehingga mereka menitipkannya ke panti!"
"Oh gitu ya Bun, kasihan ya? tapi kan kalau nggak mau punya anak kenapa bikin ya Bun? dan soal makan kan ... mereka juga pasti makan, sama aja bukan!" lagi lagi Rendy menunjukkan kepolosan nya.
Malik yang bersiap menyalakan mesin mobilnya tersenyum melihat ke arah Rendy dari kaca spion atas kepalanya. "Ada banyak alasan yang kalau dijelaskan sekarang pun Rendy nggak akan mengerti. Dan ... suatu saat nanti barulah Rendy akan mengerti kenapa dan gimana? Itu memang bukan sebuah keinginan untuk tinggal di panti."
"Sebenarnya sih ... kayaknya asik juga tinggal di panti, banyak teman jadi banyak saudara! tapi kalau pengen jajan gimana? masa menunggu dikasih orang! kalau aku sih nggak mau, soalnya aku suka jajan!" gumamnya Rendy sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Ya tentunya asik dong ... banyak teman dan banyak saudara, bermain berkumpul!" Tambahnya Renita kembali.
"Memang bener sih Bun, pasti asik dan serunya, tapi yang jadi pertanyaan aku, kalau dia pengen baju bagus. Mainan bagus! pengen jajan yang mahal-mahal uangnya dari mana, Bun?" tanya kembali Rendy dengan nada serius.
Renita menoleh pada suaminya berharap menjawab pertanyaan dari putranya itu.
"Rezeki itu sudah diatur sama Allah, cuman manusia wajib berusaha dan jangan berharap atau berpangku tangan kalau akan dikasih orang lain, karena kita wajib berusaha dan bekerja mencarinya. Intinya tangan di atas itu lebih baik ketimbang tangan di bawah." Jelasnya Malik sembari melajukan mobilnya dengan kecepatan sedah.
Rendi mengerutkan keningnya. "Maksudnya tangan di atas dan di bawah itu gimana, Pah?"
Renita yang melihat keluar jendela, kembali mengalihkan pandangannya pada Malik.
"Maksudnya tangan di atas itu ... adalah memberi sementara yang namanya tangannya di bawah adalah meminta dan ... lebih baik tangan memberi daripada tangan yang meminta. Tetapi terkecuali lebih baik meminta ketimbang mencuri," seru nya Malik sembari menoleh sesaat pada putranya tersebut.
"Oh ... gitu ya Pah, jadi meminta itu lebih halal ketimbang mencuri ya Pah?" Rendy sangat antusias.
__ADS_1
"He'em. Tapi janganlah bermental meminta-minta! karena itu tidak baik! selagi kita bisa berusaha dan bekerja, sebabnya yaitu tadi memberi lebih baik daripada meminta-minta!" tambahnya Renita sembari menganggukan kepala sedikit.
"Bun, Pah. Aku kan sering lihat ya, orang yang mulung rongsokan gitu, itu halal apa tidak?" Rendy menatap keduanya bergantian.
"Kalau namanya mulung itu berarti suatu barang yang sudah terbuang tidak terpakai lagi. Dan nantinya dijual insya Allah halal ... dia kan tidak mencuri, kalau seandainya mencuri itu baru tidak halal dan tidak akan berkah!" Jawabnya Malik kembali.
Suasana menjadi hening dan tak ada lagi suara dari Rendy, pas Renita berbalik melihatnya eh dia Sudah ngorok saja tuh anak.
Renita terkikik sendiri. "Hi hi hi ... ini anak baru aja berceloteh. Sudah ngorok!"
"Capek kali sayang, tidak apalah lagian sudah makan juga." Timpalnya Malik seraya melirik.
Detik kemudian memfokuskan lagi pandangannya ke depan.
Jalanan masih terlihat ramai lampu penerang jalan berjejer kanan kiri. Kendaraan roda empat dan roda dua pun masih hilir mudik dan juga seperti bus masih terlihat melintasi.
Setibanya di rumah, Malik langsung memangku tombol Rendy dan rupanya ke dalam kamar. Sementara Renita membawa tas miliknya dan juga Malik.
Namun sebelum langkahnya sampai di dekat tangga itu sudah dicegat oleh sang ibu mertua yang berujung dengan rentetan pertanyaan.
"Oh iya Mah, sudah kok ... kami sudah menemui dokter ahli dan kami sudah konsultasi," jawabnya Renita sembari mengangguk.
"Terus gimana? kalian jadikan ... untuk program bayi tabungnya, kamu jangan takut dengan biayanya, Malik pasti bisa kok yang penting kalian berdua kerjasama. Untuk mendapatkan keturunan, keturunan Mama nggak ada tuh yang mandul!"
Degh.
Ucapan dari sang ibu mertua langsung menghentak perasaan Renita. Tersinggung dengan ucapan sang mama mertua.
"Mama kenapa bilang begitu? kan aku juga nggak mandul Mah ... aku sudah punya Putra!"
"Em ... kamu nggak usah tersinggung, Mama nggak bermaksud ngomong seperti itu Mama cuman, cuma tidak sabar aja untuk memangku cucu dari kalian! bukan maksud Mama untuk menyinggung perasaan kamu!" lirihnya ibu Amelia, dia pun masih tidak enak hati dengan apa yang sudah diucapkannya barusan.
"Ya sudah Mah ... aku ke atas dulu ya mungkin obrolannya bisa dilanjutkan dengan Abang!" Renita menundukkan kepalanya, kemudian mengayunkan langkahnya! menginjakkan kaki di atas anak tangga, satu persatu ia lewati dengan perasaan yang berkecamuk, tidak enak hati! ucapan sang ibu mertua sangat mengganggu pikiran dan benaknya.
__ADS_1
Bu Amelia menatap langkah sang mantunya, dia pun merasa tidak enak hati yang sudah berkata demikian.
"Kenapa sayang wajahnya ditekuk begitu?" Selidiknya Malik yang ternyata sudah berada di dalam kamarnya, dan sudah menggantikan pakaian dengan pakaian rumah.
Renita menoleh ke arah belakang sekilas. Kemudian menjatuhkan bokongnya di atas sofa dengan kasar. Membuka kerudungnya dan membuka beberapa kancing kemeja yang ia kenakan.
Malik pun menghampiri lantas duduk di samping sang istri meraih kepalanya dan mencium keningnya. "Istriku kenapa kok tiba-tiba murung seperti ini? kalau ibarat langit yang mulanya cerah tiba-tiba mendung, dihiasi awan hitam."
"Nggak ada apa-apa kok, Bang. Hanya saja ... ada yang mengganggu pikiran ku!" Renita menggerakan bola matanya menatap lekat pada sang suami.
"Hem ... Emangnya apa yang mengganggu pikiran mu sayang?" tanya Malik sembari menarik kepalanya Renita agar berada dalam pelukannya.
"Bukannya niat untuk menjelekkan Mama, tidak sama sekali. Tetapi kata-katanya barusan sangat menyinggung perasaanku."
Malik menautkan kedua alisnya. "Emangnya Mama bilang apa sama kamu hem?"
"Ya itu perihal anak, Mama bilang ... Mama nggak ada keturunan mandul. Sementara aku juga nggak ada kan? kamu tahu aku sudah punya Putra kan? jadi aku nggak mandul kan sayang! bahkan seperti kata dokter kalau kita baik-baik saja kadang masalah apapun kok!" Nada suara Renita menggebu-gebu dan menaikkan kepalanya menetapkan ke wajah nya Malik.
"Shuttt ... ya sayang, kita nggak ada masalah apapun. Yang sabar aja dan jangan dimasukkan ke dalam hati omongan mama, maklum ... sudah tua! jangan marah sama mama ya?" cuph Malik mendaratkan kecupannya di pipi Renita dengan lembut.
Renita bangun menganggukan kepalanya dia tidak marah! cuma sedikit terganggu aja dengan ucapan itu yang melayani perasaan.
"Ya sudah, ganti baju sana. Kita istirahat capek nih!" Malik memudar kan rangkulannya pada istri.
Lalu Renita pun beranjak dari sisinya Malik. Berjalan gontai menghampiri lemari pakaian kemudian dibawa ke kamar mandi.
Pada keesokan harinya. Sebelum sarapan sang Ibu mengajak Malik untuk berbincang, ya Soal apa lagi kalau bukan soal program bayi tabung.
"Gimana Malik, soal konsultasinya dan jadikan kalian akan menjalani program bayi tabung?" sang Ibu menatap putranya dan berharap jawaban yang sangat memuaskan untuknya.
Sejenak Malik terdiam kemudian dia berkata. "Insya Allah mah kita akan tetap berusaha, mengenai hasilnya gimana-gimana kita hanya bisa berpasrah pada yang maha kuasa."
"Kalau seandainya program hamil bayi tabung gagal, apa salah nya jika kamu mencari wanita lain. Siapa tahu dengan rahim yang lain akan mudah tumbuh benihmu!" Ucap Ibu Amelia dengan ringannya.
__ADS_1
Membuat Malik tersentak mendengarnya. Begitupun Renita yang sedang menyiapkan sarapan di belakang mereka berdua sangat terkejut dan tidak menduga sama sekali kalau sang ibu mertua punya pikiran demikian ....
Mana nih jejaknya? aku tunggu ya makasih banyak.