Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Miniatur


__ADS_3

"Oke aku pulang dulu ya. Terima kasih sudah diijinkan Untuk mengantar mu! mungkin lain kesempatan kita bisa ketemu lagi!" ucap Azam kepada Rosita yang langsung di respon dengan anggukan.


Azam mempercepat langkahnya kembali ke tempat semula, karena mobilnya pun barada di situ.


Kini pria matang tersebut sudah berada di dalam mobilnya dan senyumnya terus mengembang menghiasi wajah tampannya.


Sementara Rosita dia melajukan kembali kursi rodanya dan memasuki kediamannya.


"Siapa dia? tumben ada yang mengantar mu dan sebaiknya hati-hati. Jangan mudah percaya dengan omongan laki-laki takutnya cuman memanfaatkan saja!" suara seorang ibu paruh baya yang menatap ke arah Rosita yang baru saja melintasi pintu utama.


Biarpun terlihat kecil dari depan ternyata rumah itu lumayanlah agak luas dan memiliki kamar 3.


"Em ... dia pelanggan di warung kopi, orangnya cukup baik dan sopan. Ibu jangan khawatir aku bisa memilih mana orang baik dan mana orang jahat!" jawabnya Rosita sembari terus melaju menuju kamarnya.


Perlahan dia berdiri dan berpindah duduk ke tepi tempat tidur. duduk-duduk di sana sebentar lalu kemudian dia menduduki kembali kursi nya dan memasuki kamar mandi yang berada di luar kamar pribadinya tersebut.


"Kenapa Ibu masih belum tidur? kan sudah malam biasanya jam segini Ibu sudah tidur!" sapa Rosita pada sang ibu yang masih menonton televisi.


"Adik mu belum pulang makanya ibu belum tidur!" sahutnya sang Ibu melirik ke arah Rosita.


"Biar saja, Bu ... nanti Rosita yang membukakannya. Ibu istirahat saja, sudah malam!" tambahnya Rosita pada sang ibunda.


"Tidak apa-apa, Ibu belum ngantuk lagian kamu juga capek! gimana di warungnya ramai." Tanya sang ibu.


"Alhamdulillah warungnya ramai!" jawabnya Rosita lalu kemudian bergerak mendekati kamar mandi.


Sang Bunda hanya mengangkat kepalanya sembari menatap punggung Rosita.


Selesai dari membersihkan dirinya. Rosita langsung ke dapur untuk makan malam, yang ada hanya nasi, sayur dan telor ceplok. Akan tetapi Rosita tetap memakan dengan nikmat.


Selesai makan, dia membereskannya lalu mendekati sang ibu sembari memberikan sejumlah uang buat belanja. "Ini Bu ... uang buat belanja."


"Sudah gajian emang!" gumam sang ibu sambil mengambil uang yang Rosita berikan.

__ADS_1


"Sudah, Bu ... makanya aku punya uang. Untuk menyambung hidup!" kemudian Rosita memutar kursi rodanya menuju kamar untuk beristirahat.


Sang ibu menatap haru. Dengan keadaan yang cuma di kursi roda namun masih bisa bekerja dan menghasilkan uang dengan halal.


Bisa membantu biaya hidup. anaknya itu sangat semangat untuk mencari uang biarpun cuman duduk di kursi roda dan tidak membuatnya berpangku tangan, atau tidak menghasilkan uang.


Rosita berbaring di atas tempat tidur dan entah kenapa tiba-tiba terbayang wajah pria tampan yang barusan mengantarnya pulang.


"Hem ... ngapain sih aku ingat pria itu? dia aja belum tentu, dan siapa tahu sudah punya keluarga, rasanya aku tidak pantas mengingatnya." Gumamnya Rosita sambil menutup wajahnya malu-malu dengan kedua telapak tangan.


Pikirannya melayang terbang ke awan. Beserta tatapan yang kosong, yang tidak lama kemudian rasa kantuk pun menyerang dan akhirnya manik mata Rosita terpejam sambil memeluk gulingnya.


Malam yang semakin larut membawa malam yang beranjak pergi dan sebentar lagi akan berganti siang.


Karena warung itu bukanya sore sekitar pukul 03.30. Jadi kalau pagi Rosita bekerja sebagai tukang cuci pakaian seraya membantu sang Bunda.


Dan ketika sudah sudah sore sekitar pukul 03.30 Barulah Rosita kerja di warung kopi. Sebab bukanya pukul segitu.


Sekitar pukul 8 malam ... kedua manik mata indahnya Rosita mencari-cari keberadaan Azam yang biasanya memang ... tidak setiap malam sih.


"Kamu sedang mencari siapa Ros?" tanya ibu warung kepada Rosita yang tampak celingukan sembari membuatkan kopi untuk pelanggan yang lain.


"Tidak, Bu ... tidak mencari siapa-siapa kok!" jawab Rosita sembari menggelengkan kepalanya.


"Tetapi dari tadi kamu tampak gelisah seperti mencari seseorang!" kata ibu warung kembali.


Rosita menerbitkan senyuman manis di wajahnya yang cantik. "Tidak, Bu ... tidak mencari siapa-siapa dan aku biasa-biasa aja."


Kemudian Rosita pun melanjutkan tugasnya dengan baik sampai malam pun tiba dan warung pun tutup, Azam tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.


"Kenapa aku kepikiran dia dan kenapa juga aku mencari-cari dia? dia kan memang tidak setiap malam datang ke sini dan aneh sekali, kenapa aku ingin melihat dia!" gumamnya Rosita sembari memajukan kursi rodanya keluar dari warung kopi tersebut.


Wanita yang kini berkerudung bunga-bunga tersebut, terus mengajukan kursi rodanya sambil melamun. Dan hampir saja dia menabrak kucing yang tengah berjalan di hadapannya.

__ADS_1


"Ya ampun ... hampir saja, lagian kenapa sih aku melamun mikirin apa?" Rosita menepuk jidatnya sendiri. Wajah Azam terbayang-bayang terus di ingatannya dan suaranya pun terngiang-ngiang di telinga.


"Ya Tuhan ... kenapa aku ingat tuh sama pria itu sih? jangan sampai aku menaruh hati sama pria itu yang tidak tahu dia punya istri atau tidak, dia pun tidak mungkin suka sama aku! Rosita ... kamu harus nyadar diri siapa dirimu? siapa dia! sepertinya dia kerja kantoran dan dia pun bermobil mewah, sementara kamu apa?" Rosita terus bermonolog dalam hati.


Sampai-sampai tidak terasa dia sudah berada di teras kediamannya dan dia pun tidak langsung masuk melainkan menoleh ke arah jalan yang baru saja dia lalui.


Memandangi dimana tempat kemarin Azam berdiri. Begitu lekat di ingatannya bagaimana wajah tampan pria tersebut dan suaranya pun terus saja terngiang-ngiang. Rosita berapa kali menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah Rosita ... kamu jangan macam-macam apalagi menyimpan perasaan pada seseorang! termasuk pria itu jangan mimpi yang aneh-aneh, terima kenyataan bahwa hidupmu seperti ini!" Rosita menghela nafas dalam-dalam lalu kemudian dia kembali menoleh ke arah daun pintu.


Kini wanita cantik itu sudah berada di dalam rumah yang tampak sepi dan ibunya pun sepertinya sudah tidur.


Sehingga Rosita pun langsung memasuki kamarnya untuk segera beristirahat, merehatkan tubuhnya yang terasa capek dan juga membuang pikiran-pikiran yang ada di kepalanya termasuk bayangan Azam.


...---------...


Sementara waktu yang bersamaan, Azam berada di rumahnya Renita mengantarkan Rendy sehabis bermain di luar dan sekalian aja membawakan hadiah untuk baby Alena.


"Kenapa mesti repot-repot sih, Mas? ditengok pun sudah Alhamdulillah kok!" ucapnya Renita kepada Azam.


"Tidak apa-apa! nggak repot kok. Lagian aku sekalian kan tadi membeli mainan buat Rendy yang akhirnya tidak dapat apa-apa buat dia!" jawabnya Azam.


"Emangnya Rendy cari apa katanya, Mas?" tanya Renita kembali dengan penuh rasa penasaran.


"Rendy pengen miniatur pesawat, mencari ke beberapa toko nggak ada. Makanya dia agak cemberut tuh!" jelasnya Azam sembari menunjuk ke arah Rendy dengan dagunya.


Kemudian Renita menoleh kepada Rendy yang tengah duduk di sofa dengan wajah yang ditekuk, masam dan bermuram durja.


"Sayang ... kok ditekuk gitu wajahnya? kalau nggak ada gimana! sabarlah ... kan lain kali bisa nyari lagi jangan gitu ah. Bunda nggak suka! sama aja Rendy nggak bersyukur!" ucap Renita setelah menghampiri putranya.


"Kesel Bun ..." sahutnya Rendy.


"Sudah ah jangan kesel-kesel. lagian kan miniatur yang dimiliki sudah banyak. Jadi Rendy tinggal belajar aja yang tekun biar nanti besarnya jadi pilot dan Rendy bukan cuma memiliki miniaturnya yang banyak ... tapi Randy bisa membawa pesawatnya yang asli!" bujuknya Renita.

__ADS_1


Kemudian Azam pun berpamitan untuk pulang, setelah sebelumnya melihat baby Alena sebentar. Sehingga menimbulkan rasa julid bagi Yusna ....


Bersambung.


__ADS_2