
Ibu nya Malik mengeluarkan sebuah cincin untuk Renita sebagai tanda ikatan sebelum pernikahan. Kini cincin tersebut sudah melingkar di jari manis nya renita.
Kemudian mereka pun membahas waktunya pernikahan nanti yang akan di laksanakan nya di sebuah gedung. Tepatnya sebulan yang akan datang.
Sheila yang sedari tadi terdiam hanya tersenyum tipis, sesekali melihat ke arah Malik dan Renita bergantian.
Sheila tidak tahu dia harus bahagia atau gimana namun di dalam hatinya yang paling dalam dia mengakui kalau dia terpesona oleh Malik.
Dadanya terasa sesak, hatinya terasa sakit. Namun dia harus tetap bertahan di sana, demi menunjukkan kalau dia baik-baik saja di mata keluarganya dan juga Malik.
Kini saatnya mereka menikmati makan malam. "Maaf ya makannya cuma seadanya aja tapi semua ini aku yang masak sendiri yang entah enak atau entah tidak!" ucapnya Renita sembari menyodorkan masakan yang berada di meja ke arah calon ibu mertuanya.
"Segini juga sudah cukup kok ... padahal nggak perlu merepotkan lho!" Lirihnya sang calon ibu mertua.
"Tidak merepotkan kok Bu. Kalau seandainya kurang bumbunya apa, bilang aja biar aku belajar lebih baik lagi," sambungnya Renita.
"Enak kok Sayang, masakan mu enak dan pas di lidahku!" Timpalnya Malik sambil tersenyum dan menikmati makannya.
"Ha? panggilannya sayang, belum apa-apa dah panggilan sayang di depan keluarga juga!" Batinnya Sheila sembari berhenti mengunyah melihat ke arah Malik dan Renita yang sudah tampak kemesraannya.
"Rasanya enak. Saya rasa tidak ada yang kurang, kamu boleh juga ya memasak." Bundanya Malik mengunyah dengan perlahan dan menikmati masakannya.
"Terima kasih, Bu ..." Renita senyum bahagia. Apa yang dia lakukan seharian tidak sia-sia.
"Rendy suka rendang telor ya? itu makannya sama telor." Ibunya Malik melihat ke arah Rendy yang sedang menikmati makannya dengan rendang telor.
"Ya ... kok Papa gak di tawarin sih rendang telornya, mau dong ..." Malik pada Rendy yang sedang nyengir.
"Boleh kok, kalo Papa mau. Rendy menyodorkan mangkuk telor ke arah Malik yang langsung Malik ambil.
Beberapa saat kemudian makan malam pun selesai dan kini Malik dan Renita sedang berada di teras.
"Terima kasih ya, sudah repot-repot memasak untuk kami. Tapi lain kali juga masakin aja lagi, sepertinya aku candu tuh sama masakan mu itu."
"Aku kira jangan merepotkan ya, biar makan di luar saja he he he ... Nggak-nggak, aku cuma bercanda kok." Renita mesem sambil melihat sekilas lalu mengalihkan pandangan ke lain arah.
Malik tersenyum dan menatap lekat ke arah Renita, seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
"Kalau untuk sekali-kali makan di luar tidak apa sayang ... Tapi bukan berarti tiap hari. Bukan tidak ada duit sayang ... tapi agar lebih menghargai masakan istri saja. Istri sudah capek-capek memasak dan suaminya enak-enakan makan di luar kan gak enak juga." Ujar Malik kembali.
"Iya, nggak pa-pa kok. Aku juga dari dulu gak terlalu banyak menuntut." Renita menunduk dalam.
__ADS_1
"Sayang. Aku akan berusaha untuk membahagiakan mu lebih dari sebelumnya dan juga Rendy. Aku akan menyayanginya seperti aku menyayangi kamu!" ucap Malik dengan sangat serius.
Manik mata Renita berkaca-kaca mendengar perkataan Malik yang membuat dia terharu.
"Permisi ... jangan berduaan saja, nanti keduanya setan lho ... he he he ..." Sheila tersenyum dan baru saja datang ke teras. Menghampiri Malik dan Renita, duduk di antara keduanya.
Renita dan Malik menoleh pada Sheila yang datang dan duduk di antaranya mereka berdua.
"Berarti kamu ya! yang jadi setannya. He he he ..." Renita terkekeh pada Sheila.
"Iih Mbak ... Tega banget bilang begitu." Sheila mendelik pada sang kakak lalu melirik ke arah Malik yang tersenyum tipis.
"Oke, saya mau pulang dulu. Sampai jumpa di kantor besok." Malik berdiri dan masuk ke dalam rumah untuk mengajak ibunda dan Sophia pulang dan juga berpamitan pada keluarga Renita.
Renita pun menyusulnya ke dalam. Sheila hanya terdiam melihat keduanya yang memasuki rumah tersebut.
"Rendy, Papa mau pulang dulu ya. Lain kali kita ketemu lagi." Malik mencium kepala Rendy dengan penuh kasih.
"Iya deh. Tapi lain kali Papa mau menginap kan di sini?" Rendy menatap lekat pada Malik.
"Iya sayang, nanti kalau sudah waktunya Papa akan menginap di sini kok." Malik mengangguk seraya melirik ke arah Renita.
"Baiklah kalau begitu." Anak itu mengangguk lalu memeluk Malik sesaat.
Malik menghampiri ibundanya. "Mah. Pulang yo? sebelum di usir oleh yang punya rumah."
"Iih dasar .... Ngusir sih nggak! cuma. Tolong faham aja." Renita mesem.
"Nggak pa-pa ... memang belum waktunya kok." Timpal sang ibunda nya Malik. Lalu berpamitan pada orang tua nya Renita.
"Terima kasih atas kedatangannya ke sini, sungguh sebuah kehormatan bagi kami!" ucap ayah nya Renita yang sangat merendah.
"Jangan seperti itu, saya justru merasa tidak enak bila anda begitu merendah, bukannya kedatangan kami ini sudah merepotkan kalian." Ibunda nya Malik berpelukan dengan ibunya Renita.
"Jangan kapok ya datang kemari yang begini adanya." Kata sang ibu Renita.
"Oh tidak justru saya merasa nyaman di sini. Oya kalian kapan mau datang ke rumah saya? nanti kalau mau datang kasih kabar ya!" balasnya bundanya Malik.
Kemudian Renita, sang Ibu dan juga sang ayah bahkan juga Rendy yang dipangku oleh Malik mengantarkan tamunya ke teras.
"Ya sudah Papa pulang dulu ya?" Malik menurunkan Rendy lalu melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Iya Papa hati-hati ya." Balas anak itu dengan lucunya.
"Ya sayang!" Malik mengangguk pelan.
"Assalamu'alaikum, semuanya ... jangan lupa ya main ke rumah saya dan kasih informasikan sebelum datang!" kata ibundanya Malik.
"Wa'alaikum salam ... Iya insya Allah minggu yang akan datang kami akan ke sana!" balasnya Ibu dari Renita.
Malik memasuki mobilnya setelah memegangi wanita sepuh itu ke dalam mobil, duduk di belakang bersama Sophia.
Kini Malik sudah duduk di belakang kemudi dan melajukan mobil nya tersebut dengan kecepatan sedang, sebelum melaju ... Malik mengangguk ke arah Renita yang tengah memandanginya.
Renita memandangi mobil tersebut sampai menghilang dari pandangan, kemudian dia menoleh ke arah samping di mana sudah kosong. Ayah dan ibu juga Randy pun sudah masuk ke dalam rumah.
Dan Renita langsung membereskan semua yang berantakan, gelas-gelas. Piring di meja ruang tengah dan juga meja ruang makan. Membantu Feni yang tengah beres-beres.
"Biar saja Feni. Kamu istirahat saja! ini semua biar saya yang beresin," kata Renita kepada Feni.
"Tidak apa-apa Bu biar aku saja, ini kan memang tugas aku, seharian sedari tadi pagi ibu masak. Capek, bersih-bersih biar aku saja." Kata Feni.
"Tidak apa-apa yang mencuci dan beres-beres ini saya saja dan kamu nyapu lantai saja. Kita bagi-bagi kerjaan biar cepat beres. Oke?" Sambungnya Renita yang langsung dibalas dengan anggukan juga senyuman dari Feni.
Sang ibu pun membantu Renita membawakan gelas ke wastafel. "Jadi mau fitting bajunya kapan Ren?" tanya sang ibu.
"Nggak tahu, Bu ... aku ikut Malik aja balik ngajak kapan ya aku pergi." Jawabnya Renita sembari mencuci perabotan.
"Oh, nanti kabari aja ibu kalau mau fitting." Tambahnya sang ibu.
"Oh aku sama Malik fitting baju pengantin, Bu ... bukan baju keluarga, itu lain lagi! nantilah kita bicarakan," ucap Renita lalu menoleh pada sang anak yang masih bermain dan malah lari-lari sama Sheila.
"Rendy ... sudah malam bobo sayang, besok kan mau sekolah kalau kesiangan gimana? Nggak mau ah, bobo gih!" pekik nya Renita pada Rendy. "Sheila jangan ngajak main terus ... biarkan dia tidur!"
"Iya Bunda. Ini juga mau tidur." Sahutnya anak itu sambil berlari memasuki kamarnya, dan detik kemudian dia balik lagi untuk mengambil mainannya.
"Jangan main-main lagi, bobo ya?" Perginya Reza kembali.
Suasana terasa hening tanpa tawa rendy yang sudah memasuki kamarnya ....
...🌼---🌼...
Terima kasih ya reader ku yang sudah menyukai Renita dan Malik.
__ADS_1