
Azam menoleh pada Sharon. “Mereka orang tua ku,” capnya Azam.
Sharon mendekat dan meraih tangan keduanya yang tampa dingin dan wajahnya di tekuk.
“Seharusnya seorang istri itu harus bisa mengingatkan pada suaminya, ingatkan pada orang tuanya dan suami juga punya anak dari sebelumnya, suruh dia bertanggung jawab kasih nafkah untuk anaknya. Jangan mau anaknya saja yang di momong di biayai. Anak dari sebelumnya di telantarkan begitu saja.” kata ibunya Azam dengan pedasnya.
Sharon tidak menjawab melainkan melirik pada suaminya yang hanya diam. Bukan tidak bisa melawan. Kata-kata mendadak numpuk di dada, namun dia pikir lagi ini di tempat umum dan dia pikir pasti ada waktunya yang tepat untuk meluahkan uneg-uneg di hatinya ini.
“Emangnya aku perduli apa, mau ingat atau tidak. Mau ngasih nafkah atau tidak sama anaknya, bodo amat. Emang gue pikirin.” Dalam hatinya Sharon.
“Ibu bicara apa sih? dia tidak tau apa-apa Bu ...” Azam seolah membela istrinya.
“Mas, kok ibu kamu bilang gitu sih Mas. Seolah-olah aku ini buruk banget di mata mereka.” Sharon pura-pura sedih dan matanya berkaca-kaca.
Azam melirik pada sang istri yang merajuk dengan omongan ibunya.
“Terus kenapa kamu banyak berubah, Hingga lupa sama keluarga dan anak.” Tambahnya sang ibu kembali.
“Sudah-sudah, maka dari itu aku tidak mau mengenalkan kalian karena ibu belum tentu mau menerima istri ku.” Azam tidak mau mendengar lagi ocehan dari sang bunda, dia membayar bill nya.
Renita bersama keluarga nya berjalan menuju pintu utama dan berhenti dekat keluarga Azam. “Bu ... ayo kita pulang?”
“Iya Ayo. Ibu juga mau pulang kok, panas di sini. Apa tidak ada AC ya?” timpalnya sang ibu mertua.
Azam melirik ke arah Renita yang seolah menunduk tidak melihat ke arah dirinya ataupun Sharon. Jefri pun tampak cuek dan tidak perduli sama dirinya.
Ia pun hanya menatap ke arah mereka yang dulu menjadi keluarganya juga, di paling belakang. Tampak Rendy bersama seorang pria yang sebenarnya tidak asing bagi dia atau di kalangan pebisnis.
“Rendy?” panggil Azam pada Rendy. Namun Rendy hanya menoleh dengan tatapan yang dingin kepada papanya.
“Sayang. Salam dulu sama papa,” Renita menyuruh Rendy agar mencium tangan papanya.
Rendy pun malah menoleh pada Malik yang yang menuntun nya, dia menganggukan kepalanya dan menyuruh Rendy untuk mendatangi papanya. Anak itu pun tampak malas namun tidak ayal menurut juga menghampiri dan mencium tangannya Azam.
Kemudian Azam menggendong Rendy di ciumnya hingga berkali-kali pipi dan keningnya, ia baru ingat kalau putranya ini sedang berulang tahun. Bisa-bisa nya ia lupa. “Sayang ulang tahun ya? semoga panjang umur ya ... maaf papa lupa dan Rendy mau hadiah apa dari Papa?”
Di tawari hadiah oleh papanya. Rendy malah menggeleng dingin tidak mau apa-apa dari papanya.
__ADS_1
“Kok Rendy tidak mau bicara sih sama Papa? Kenapa ... Rendy marah ya sama Papa—“
“Wajar lah bila Rendy marah, toh kamu juga Mas yang buat dia seperti itu. Papa macam apa kamu hingga lupa sama anak? Hewan saja ingat sama anak kamu kok macam itu,” ucapnya Jefri pada Azam yang terdiam menatap Rendy yang masih dalam pangkuannya.
“Em ... sudah, kita pulang yo?” ajak Renita sambil mengedarkan pandangan pada semua anggota keluarganya.
“Ooh dia ya istrinya Mas Azam?” gumamnya Sheila yang dengan suara pelan dan melirik ke arah Jefri yang kebetulan berada dekat dengannya dan langsung mengangguk.
“Ooh kamu juga juga baru tahu ya itu perempuannya?” balas istri nya Jefri sambil melirik ke arah Sheila.
“Asli baru tahu aku, Mbak.” bisik Sheila sambil berjalan.
“Cantikan mbak mu lah. Cuma ... dia punya body seksi aja dan baik hati—“
“Baik hati gimana?” Sheila menatap heran pada istrinya Jefri yang mengenakan kerudung biru hitam.
“Ya baik lah ... makanya Mas Azam tergoda, belum apa-apa sudah ngasih mimmew. Bukankah itu tandanya baik hati. Ha ha ha ...” kata Istrinya Jefri yang yang terkekeh.
“Ha ha ha ... bener-bener,” Sheila terkekeh juga.
“Beneran kan Mas? kalau istri mas Azam yang sekarang itu sangat baik hati? buktinya belum apa-apa suda memberikan mimmew, ha ha ha ...” istrinya Jefri pada Jefri yana langsung mengangguk.
“Awas ya, kalua kamu seperti itu gak ada ampun, bukan Cuma bogem mentah dari ku saja. Tapi ... aku bakalan potong burung mu itu, aku cincang sampai halus.” Sang istri langsung geram dan membulatkan kepalan tangannya.
Mendengar seperti itu membuat Jefri langsung merasa ngilu dan menangkup area burungnya yang sedang tidur. “Uh ... jangan dong! masa tega—“
“Lu yang tega,” timpal sang istri.
Sheila yang mendengar perdebatan kecil itu terkekeh dan sedikit mengompori sang istri dari Jefri. “Beneran Mbak ... potong saja biar dia gak bisa pakai lagi ha ha ha ....”
"Sheila, awas kau ya! malah mengompori lagi," ucap Jefri memekik yang tertahan sambil mengepalkan tangannya ya di tujukan pada Sheila
"Bodo amat, sukurin Wew." Sheila menjulurkan lidah pada Jefri.
"Awas ya!" Jafri mau mengejar Sheila, tapi gak jadi karena di tarik rang istri ujung bajunya.
"Buruan ach pulang! aku dah pegal nih anak kita tidur, gak lihat apa?" istrinya menunjuk anaknya yang tertidur dalam gendongan.
__ADS_1
"Oh, iya." Jefri segera masuk ke dalam mobilnya yang membawa kedua orang tuanya yang sudah berada di dalam.
"Woi ... mau ikut mobil mana?" pekiknya Jefri pada Sheila yang masih berdiri di dekat mobilnya Malik.
Sheila menoleh dan pada Jefri sembari menggeleng dan tangan nya pun memberi tanta tidak.
"Yo wes. Kalau begitu ... tak tinggal saja." Jefri melakukan mobilnya setelah memastikan semuanya sudah berada di dalam mobil.
Sheila masuk ke dalam mobil nya Malik dan duduk di belakang bersama kedua orang tuanya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang yang di kendarai oleh Malik sendiri. Karena memang kalau ke tempat Renita, Malik jarang bawa supir.
Sepanjang jalan, Rendy kembali berceloteh. Apa aja di ceritakan, apa yang dia lihat di tunjuk dan bilang mau punya itu dong. Mau ini dong.
"Oya, Bun ... kapan beli mobilnya? biar Bunda gak naik motor lagi, kasian panas kalau hujan juga." Rendy mendongak pada Bundanya.
"Sayang ... mobil itu buka barang yang murah lho, mahal dan bunda bersyukur kok masih punya motor dan bunda juga tidak jalan kaki." Kata sang bunda.
"Ooh, Rendy mau punya mobil ya? kan Rendy punya banyak mobil di rumah." Timpal tantenya.
"Bukan, itu mobil-mobilan Tante ... bukan mobil beneran." anak itu menggeleng.
"Ooh, bukan ya yang di rumah itu!" tambahnya Sheila.
"Itu. Bukan Tante." Rendy menoleh kearah belakang.
Aamiin. Semoga yang jadi keinginan Rendy segera terkabul. Kakek dan nenek hanya bisa mendoakan saja." Suara sang nenek dari belakang yang di respon dengan anggukan dari suaminya alias kakek nya Rendy.
Malik hanya tersenyum dan mendengarkan obrolan mereka. Sesekali melirik ke arah Renita dan putranya. Rendy.
"Rendy berdoa saja semoga segera kita punya mobil." Renita mengusap pucuk kepala nya Rendy penuh kasih.
"Rendy, kenapa tadi kok ketemu papa nya diam gak mau bicara?" tanya Malik sambil sekilas melihat ke arah anak itu.
Rendy terdiam sambil memasukan. coklat ke mulutnya. Tidak serta merta menjawab pertanyaan dari Malik melainkan malah menunjuk sebuah patung yang mereka lewati
Tidak lama di perjalanan. Akhirnya ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya dan makasih banyak pada reader ku yang masih setia.