
Mobil Azam meluncur ke sebuah tempat di mana dia sering nongkrong di sana dan dia pikir tempat itu aman untuk membawanya Rendy ke sana, karena di sana hanya ada kopi. Minuman biasa dan juga makanan ringan sebagai teman kopi! jadi tak akan ada masalah jika membawa anak seusia Rendy ke tempat itu.
"Sebenarnya kita mau kemana sih Pa?" tanya Rendy sambil menoleh pada sang ayah setelah dia merasa bosan melepas pandangan ke luar jendela.
"Hem. Kita cuman mau nongkrong saja di warung kopi, Papa rasa ... tempatnya aman kok buat anak seusia kamu!" jawabnya sang ayah sambil terus fokus menyetir.
"Ke warung kopi, jadi di sana cuma ada kopi? masa aku harus minum kopi Pah!" anak itu menautkan kedua alisnya.
"Nggak, ada minuman jus ... air putih, cemilan! nggak harus minum kopi juga." Sambungnya sang ayah sambil membelokkan mobilnya ke sebelah kiri lalu berhenti dan memarkirkannya dengan baik.
"Ya paling nongkrong-nongkrong doang di sana, emang ada tontonannya?" keluhnya Rendy.
Azam sejenak terdiam memang benar juga sih, anak seusia dia dibawa ke warung kopi buat nongkrong ngapain? namun tidak membuat Azam menghentikan niatnya untuk mendatangi warung tersebut.
Kemudian Azam mengajak Rendy untuk turun dan mendatangi warung yang menjadi tujuannya. Namun sebelum memesan kopi Azam mencari-cari keberadaan Rosita yang ternyata tidak ada! yang ada hanya Ibu warung sehingga Azam pun bertanya pada ibu warung.
"Bu Rosita nya mana?" tanya Azam sembari tetap celingukan.
"Oh, Rosita nya nggak masuk ... katanya kurang enak badan sudah dua hari ini dia nggak masuk!" jawabnya si Ibu warung sambil membuatkan kopi.
"Nggak masuk ya. Oh ya udah. Saya mau minuman dinginnya satu buat anak saya!" Azam pun beli minuman botol buat Randy.
"Oh ya. Bu ... saya titip mobil nggak apa-apa 'kan? saya mau ke rumahnya menjenguk! kalau memang dia kurang enak badan!" Azam menatap ke arah Ibu dan menitipkan mobilnya. Ibu warung langsung menganggukan kepalanya.
Lalu kemudian Azam pun meninggalkan Ibu warung dan keluar dari tempat tersebut lantas langkahnya diikuti oleh Rendy yang kini menyedot minuman dari botolnya.
"Mau ke mana lagi sih, Pah?" tanya Rendy pada papanya yang berjalan lebih dulu.
"Ikuti aja Papa. Nggak jauh kok ... tapi, masa kita menjenguk orang sakit nggak bawa apa-apa ya?" Azam menghentikan langkahnya sembari berpikir.
"Iya dong, Pah ... kata Bunda juga kalau menengok orang sakit itu harus bawa buah tangan! agar mereka senang, kalau nggak buah-buahan mungkin kue!" timpalnya Rendy mengiyakan.
Hingga akhirnya kembali mengajak ke warung yang berada sebelah warung kopi, untuk membeli buat buah tangan. Azam pun memilih membeli mie rebus, mie goreng. Telur! kue kering sampai satu kresek pun penuh.
"Rendy mau beli apa?" Azam melirik pada sang buah hati yang sedang bengong melihat papanya belanja.
"Apa ya? Rendy dah makan 'kan di rumah," akhirnya Rendy pun menggeleng tidak ada yang ingin dia beli.
__ADS_1
Namun setelah berapa langkah keluar dari warung tersebut, dia malah minta beli teh botol hingga akhirnya balik lagi.
Keduanya pun terus berjalan menyusuri jalan gang lalu berhenti di depan rumah kontrakan yang waktu itu Azam mengantar kan Rosita.
Sejenak Azam berdiri di dekat teras sehingga Rendy pun mengajukan pertanyaan kembali.
"Ini rumah siapa, Pah? ah Rendy tahu, pasti ini rumah ceweknya Papa ya? ngaku saja deh ... sama Rendy. Randy juga nggak larang kok!" Rendy memicingkan matanya sebelah pada sang ayah.
Perkataan Rendy membuat wajah Azam tersipu malu, namun dia mengelak kalau ini rumah kekasihnya! karena memang ini bukan siapa-siapa maksudnya belum apa-apa.
"Bukan, Papa baru kenal kok sama dia. Akan tetapi Papa yakin kalau dia wanita yang baik, dia tidak seperti tante Shopia dan juga tante Sharon! insya Allah wanita ini sebaik Bunda!" akunya Azam sambil mengayunkan dan membawa langkahnya untuk mendekati pintu.
Yang dengan detik kemudian Azam mengetuknya dengan teratur.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Tidak lama menunggu. Beberapa saat kemudian terdengar suara derap langkah yang mendekati daun pintu.
Blak ....
Tampaklah seorang ibu paruh baya yang buka pintu tersebut. Dan menatap ke arah Azam dan juga Rendy dengan tatapan yang meneliti.
"Wa'alaikum salam ... mau bertemu sama siapa ya?" tanya si Ibu tersebut.
"Apa Rosita nya ada? kata ibu warung tidak enak badan, makanya tidak masuk kerja!" ungkap Azam dengan ramah dan mengganggu hormat pada wanita separuh baya yang berada di hadapannya itu.
Dalam suasana yang sedikit gelap karena lampu pun tidak terlalu terang, tampak remang-remang wanita itu terus memandangi ke arah Azam dan Rendy. "Memangnya ada keperluan apa sama Rosita?"
"Em, kata ibu warung Rosita sedang tidak enak badan dan sudah dua hari ini tidak masuk kerja dan saya datang kemari untuk menjenguknya Rosita. Saya ingin bertemu dengannya?" Azam mencoba menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya hingga mengulang.
Rendi mendekatkan diri pada papanya seraya berbisik. "Oh ... namanya Rosita ... cantik-cantik namanya! pasti orangnya juga cantik!"
Azam hanya menoleh pada putranya lalu kembali mengarahkan pandangan pada wanita paruh baya tersebut yang tampaknya susah banget untuk menyuruhnya masuk. Walau sekedar untuk menjenguk keadaan Rosita, entah cutiga! tapi apa yang mesti di curigakan.
__ADS_1
"Ooh, untuk menjenguk ya?" kata si ibu dengan nada lirih.
"Iya benar, Bu ... saya ingin menjenguk Rosita dan saya tidak punya niat jahat. Rosita tahu kok saya." Tambahnya Azam sembari mengangguk pelan.
"Kalau begitu masuklah! Rosita sedang beristirahat. Lagian kenapa harus malam-malam datangnya? kenapa nggak masih sore gitu?" gumamnya si ibu sambil terus berjalan.
Diikuti oleh Azam dan Rendy masuk ke dalam rumah tersebut dengan penerangan yang sedikit rendah, cahayanya tidak terang benerang.
"Gimana ya, Bu ... saya baru datang ke warung dan menanyakan Rosita! katanya kurang sehat dan saya langsung ke sini, Bu ... kalau saya tahu dari sebelumnya ya mungkin dari sore datangnya ke sini!" balasnya Azam sembari mengedarkan pandangan setiap sudut ruangan.
Rumah yang terbilang sangat sederhana namun tampak asri dan nyaman.
Langkahnya si ibu berhenti dan menoleh ke arah Azam dan Rendy. "Silakan duduk! saya akan panggilkan Rosita."
Azam mengajak putranya untuk duduk di kursi yang terbuat dari rotan. Dan sebelum si Ibu pergi sudah terdengar suara.
"Ada siapa, Bu? siapa yang bertamu?" suara Rosita yang langsung keluar dari kamarnya! muncul dari balik gorden dengan kursi rodanya.
Melihat wanita tersebut yang duduk di kursi roda dan melihat ke arah ayahnya bergantian. Dada anak itu bergemuruh. Apa mungkin papanya naksir sama wanita seperti itu? tapi apa salahnya.
Azam yang mengarahkan pandangannya ke arah Rosita membuat pandangan mata mereka pun bertemu. Sejenak saling bertukar pandangan dengan perasaan yang dag-dig-dug tak karuan.
"Ini tamu, katanya ingin jenguk kamu! malam-malam gini kan?" kata ibunya Rosita.
"Em ... Oh ya, Bu ... saya tidak membawa apa-apa hanya ini saja yang saya beli dari warung depan!" Azam memberikan kantong kresek besar pada ibunya Rosita.
"Wah ... kok repot-repot! tapi makasih ya?" sambut si Ibu sembari mengambil belanjaan dari tangan Azam.
"Eh ... Mas, kok ke sini! ada apa?" Rosita sedikit gerakan kursi rodanya sedikit mendekat dan melihat juga ke arah Rendy dengan pertanyaan di dalam hati, siapakah anak ini mungkin putranya Azam? terus buat apa ya mereka datang ke sini.
"Saya tadi ke warung, em ... kata ibu warung kamu sudah dua hari ini tidak masuk kerja dan kurang enak badan! makanya saya langsung ke sini!" jawabnya Azam sedikit salah tingkah.
Sejenak Rosita menunduk, sebenarnya sih dia ingin bertemu dengan Azam! namun masa tidak enak dan masa sih harus dibilang, apalagi sekarang pria itu bersama pria kecil yang wajahnya mirip dengan Azam ....
.
Bersambung.
__ADS_1