Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Mencari lawyer.


__ADS_3

Sepulangnya dari sekolah Rendy, Renita langsung menemui seorang yaitu wanita yang bernama Yati Dan dia adalah sahabatnya dari lama.


Yati kebetulan mempunyai teman lawyer yang sedang dibutuhkan oleh Renita saat ini untuk mengurus semua masalah perceraian dia dan Azam.


Secara kebetulan Yati pun sedang berada di rumah karena berada di masa-masa menerima cuti kehamilan.


"Assalamu'alaikum ... apa kabar?" setelah Renita berada di teras dan yang punya rumah pun sudah berada di depan pintu menyambut kedatangan Renita dan putranya.


"Halo ... Wa'alaikum salam ... Alhamdulillah, kabar ku baik, senangnya bertemu lagi. Aku lihat kamu sekarang ... duhh ... tambah cantik saja Ibu yang satu ini, aku jadi kalah nih! dulu waktu kuliah aku yang paling cantik, paling langsing. Eeh ... sekarang dia nya yang kayak gitu. Aku malah gendut, bulat ... orang bilang kayak badut!" sambutnya Yati sembari memeluk sahabatnya tersebut.


"Ya ampun ... segitunya! kan lagi hamil ... wajarlah gendut dan bulat juga kayak badut, nggak apa-apa, di dengar amat omongan orang." Balasnya Renita sambil menunjukkan senyumnya.


"Iya juga sih ... tapi kan kadang-kadang kena gitu ke hati rasanya, ti ... gitu! he he he ... yok masuk?" ajaknya Yati sembari menuntun tangan Rendy.


"Di sini sajalah ... ngobrolnya. Lagian panas deh kalau di dalam, lebih enak di sini adem! kena angin-angin." Renita sambil mengipas tangannya di depan Dagu.


"Cielah ... Ibu ... emangnya di dalam nggak ada AC, kipas angin juga ada!" ucapnya Yati sembari menoleh ke arah Renita.


"Tapi kan di luar lebih alami Nyonya ... nggak harus pakai listrik nggak pakai mesin juga, sudahlah di sini aja! nggak usah repot-repot." Renita langsung mendudukan dirinya di sofa yang ada di sana.


"Ya sudah ... kalau begitu. Kita duduk sini saja, kamu ganteng banget cihhhh ... Semoga bayi ku ganteng seperti kamu ya." Yati mencubit pipi Rendy dengan gemas.


"Aamiin-Aamiin ya Allah ... ya rabbal alamin ..." Renita mengusap wajahnya mengaminkan perkataan dari Yati.


"Doain ya? doain, pengen seperti anak ini yang bikin gemessss ..." Yati beberapa kali mencium pipi Randy yang bikin gemes katanya.


Kemudian Yati memberikan banyak mainan untuk Rendy bermain di teras dan sekitar taman, sementara Yati dan Renita mengobrol.


"Emang ada apa kok kayak serius banget, Ren?" Yati menatap penasaran ke arah Renita.


Renita memandangi ke arah seorang asisten yang menyodorkan kan minuman di depannya, Renita memberikan senyuman dan sedikit mengangguk pada asisten tersebut, lalu dia menghela nafas dalam-dalam nafas panjang. Menoleh ke arah Yati.


"Kamu punya teman lawyer kan Yati?" Renita to the point tentang apa yang menjadi maksud dan tujuannya datang menemui Yati.


"Lawyer? emang ada apa?" Yati semakin penasaran. "Untuk apa kau membutuhkan lawyer?"


"Aku mau bercerai!" jawabnya Renita singkat sambil memandangi putranya.

__ADS_1


"Apa? mau bercerai! astaghfirullah jangan bercanda deh. Jangan Bercanda. Aku nggak suka! lelucon apa ini? nanti menjadi doa lho, jangan ngomong seperti itu!" Yati menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Renita, sahabatnya itu.


"Aku ... serius, aku mau bercerai. Dan aku butuh lawyer." jelas Renita dengan sangat meyakinkan.


"Sebentar-sebentar ... tolong jangan bikin lelucon! I don't want to hear any jokes that come true," Yati tampak pusing dan tidak percaya begitu saja dengan penjelasan Renita barusan.


"Aku serius!" Renita menatap lekat ke arah sahabatnya.


"A what? - why?" Yati ingin menyelidiki alasan dari sahabatnya, sampai-sampai ingin bercerai segala.


"Temukan dulu aku dengan lawyernya ... nanti aku cerita! kalau sekarang aku cerita ... nanti cerita lagi males aku!" Renita sedikit mengusap hidungnya.


"Oh my God ... aku nggak nyangka kok sahabat ku ini nekat-nekat seperti ini. Tapi ... oke! kalau begitu kita akan hubungi sekarang, kau masih ingat kan dengan Sarita? dia menjadi lawyer terkenal dan dia pembela permasalahan wanita--"


"Sebentar, Sarita yang mana? aku gak ingat tuh. sebab yang mempunyai nama itu kan banyak." selidiknya Renita.


"Oh, gak ingat kah, ya udah ... sekarang kita berangkat saja ke sana, ke kantornya. Kamu bawa motor kan? kita pergi pakai mobil ku saja! tapi ngomong-ngomong di minum dulu deh minumannya. sayang kan ... bila mubazir. Sudah dibikinin sama asisten gue juga!" Yati menunjuk ke arah minuman beserta kuenya.


Renita pun mengambil gelasnya lalu meneguk sampai tandas biar nggak mubazir katanya. "Aku jadi repotkan kamu deh ... mana sedang hamil besar lagi."


Sementara Renita memanggil Rendy yang sedang anteng bermain.


"Sayang ... yo kita pulang?" ajak Renita sambil mengulurkan tangan.


"Ya ... Bunda ... aku masih ingin bermain." Anak itu tampak masih betah.


"Tapi Bunda, masih ada keperluan sayang ... nanti lain sekali kita main lagi ke sini, kita perginya juga sama Tante Yati. Tuh sudah siap!" Renita menunjuk ke arah Yati yang baru saja melintasi pintu.


"Emang kita mau ke mana, Tante?" Rendy malah bertanya kepada Yati.


"Kita mau ke tempat temannya Tante! kita jalan-jalan pakai mobil oke?" Yati mengarahkan remote control nya dan membuka pintu mobil.


"Yey ... kita jalan-jalan pakai mobil," barulah anak itu beranjak dari duduknya dan menghampiri Bunda dan juga Yati.


Kini mereka sudah berada di dalam mobil miliknya Yati yang dikendarai oleh hati sendiri, menuju sebuah kantor lawyer untuk dimintai bantuan dari hal perceraian Renita.


"Ini mau beli makanan apa?" tawaran itu kepada putranya yang melamun melihat ke arah depan.

__ADS_1


"Iya belikan makanan dulu sana, kasihan dia bengong dari tadi nggak ada makanan!" Yati melirik ke arah Renita yang duduk di sampingnya.


"Hooh, di depan tolong berhenti dulu! sepertinya ada warung tuh kita beli makanan dulu di sana!" pintanya Renita kepada Yati.


Tanpa menjawab Yati pun terus melajukan mobilnya, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah warung.


Renita menuntun putra nya berjalan menuju sebuah warung yang tidak jauh dari pinggiran jalan tersebut! untuk membeli berapa makanan kesukaan Rendy dan juga minumannya.


"Aku mau minuman dingin ya, Ren. Satu saja dan biskuit nya juga satu! he he he ..." pintanya Renita.


"Oke, sebentar ya?" Renita melanjutkan langkahnya ke warung.


Tidak lama menunggu, Renita pun kembali dengan kantong kresek berisi makanan dan minuman buat Rendy dan pesanan Yati.


"Makasih." Yati meminum terlebih dahulu minuman pesanannya! barulah dia kembali melajukan mobilnya setelah Renita dan putranya sudah duduk dengan tenang dan nyaman.


"Masih jauh ya?" gumamnya Renita sambil membukakan kantong makanannya Rendy.


"Paling sekitar 20 menit lagi juga nyampe." Jawabnya Yati sambil terus fokus ke depan.


"Ooh, gitu ya ..." Renita melihat Kanan dan kiri ke arah luar.


"Aku tidak menyangka deh, kok bisa gitu. Tidak habis pikir aku jadinya." Kata Yati yang benar-benar tidak menyangka kalau sahabatnya ini mau bercerai suaminya yang dia pikir sangat adem ayem.


"Jangankan orang lain, aku aja nggak menyangka kok! nggak tahu akan seperti ini." Jawabnya Renita sembari melihat ke depan.


"Emang masalahnya udah lama ..." selidik Yati yang merasa penasaran.


"Nggak juga, baru-baru saja! udahlah ... Nanti aja ceritanya sekalian ya? biar lebih jelas!" Renita tampaknya enggan untuk bercerita saat ini.


"Baiklah oke ..." Yati mengangguk sembari membelokan setirnya ke arah kanan memasuki parkiran di depan sebuah gedung tinggi, di parkiran tersebut. Terlihat banyak kendaraan yang nongkrong di area tersebut.


Mereka pun turun setelah mobil terparkir dengan cantik dan Yati pun menitipkan mobil pada seorang scurity yang ada di sana ....


...🌼---🌼...


Jangan pelit-pelit jempolnya ya ... aku tunggu makasih.

__ADS_1


__ADS_2