
Selang waktu di perjalanan lain Renita pun sudah tiba di pengadilan. Kedatangan Renita disambut oleh lawyer nya, dan ternyata orang tua Renita juga Sheila sudah berada di sana. Kecuali Rendy dan Feni yang memang tidak diizinkan untuk ikut ke sana.
"Apa kabar Bu ... Bapak?" Renita pun langsung mencium tangan kedua orang tuanya seraya meminta doa agar semua dilancarkan tanpa halangan apapun.
"Sudah pasti, kami akan mendoakan semoga semua urusan mu diperlancar dan Allah beri kemudahan, kan? hanya doa yang bisa kami berikan kepada mu!" ucap kedua orang tuanya bergantian serta mengusap panggung Renita.
"Doa sudah lebih dari cukup, Bu ..." balasnya Renita.
Sheila memeluk sang kakak dan berkata. "Semoga lancar ya Mbak!"
Renita mengangguk kemudian membalas. "Iya Aamiin doain aja."
"Gimana, Bu persidangannya kapan?" Renita menoleh pada lawyer nya, Ibu Sarita.
"Masih ada waktu sekitar 30 menit lagi. Apakah kau sudah siap menghadapinya? sudah pasti dong ya? harus siap!" balasnya Bu Sarita sembari mengusap bahunya Renita.
"Insya Allah ... aku akan siap!" seraya Renita mengganggu kan kepalanya.
Kemudian Renita melirik kembali kepada orang tuanya. "Kalian tadi ke rumah kan?"
"Iya, Rendy pun pengen ikut. Tapi setelah dibujuk ... dia mengerti juga!" ucapnya Sheila.
"Assalamualaikum ... ya Allah ... kita bertemu juga di sini!" suara ibunya Azam, dia datang bersama suaminya dan juga Jefri.
"Wa'alaikum salam ... apa kabar? masya Allah ... lama kita tidak bertemu ya? pas ketemu di sini!" sambutnya ibu Renita dengan suara yang bergetar sedih, karena bagaimanapun hatinya mencelos. Rumah tangga sang anak harus berakhir di sini, di pengadilan ini.
Keduanya saling berpelukan dan menciptakan momen penuh haru, saling meminta maaf, atas segala kekurangan anak-anak mereka.
"Maafkan atas segala kekurangan Renita, kami sekeluarga tidak pernah menyangka. Kalau rumah tangga Renita dan Azam akan berakhir seperti ini. Maafkan atas kekurangan Renita selama menjadi istri dan mantu di sana." Kata Sang Ibu Renita yang ditujukan kepada besannya.
"Besan, justru kami yang harus banyak-banyak meminta maaf ... karena ini kesalahan Putra kami yang tidak bersyukur telah mempunyai istri yang baik yang sholehah seperti Renita! kami sebagai orang tuanya sangat kecewa! sangat-sangat kecewa dan menyesali kenapa Azam melakukan hal demikian," ungkap ibunya Azam seraya menghela nafas dalam-dalam.
__ADS_1
Ibunya Renita mengerutkan keningnya sembari melirik pada sang suami, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah besan keduanya. "Buat demikian! emang buat apa? bukannya mereka bercerai dengan alasan tidak cocok saja?"
Membuat keluarga Azam menoleh kepada Renita, dalam hati mereka bertanya-tanya apakah orang tua Renita tidak mengetahui yang sebenarnya atau gimana?
Dengan halus Renita menggeleng kan kepalanya, memberi tanda kalau orang tuanya tidak tahu kejadian yang sebenarnya.
Ibunya Renita semakin penasaran, mulutnya kembali menganga dan bersiap untuk bertanya! tetapi ibu Sarita sebagai lawyer Renita segera mengajak Renita untuk bersiap ke ruang persidangan intuk sidang yang pertama.
Azam dan lawyer nya pun sudah datang dan sudah berada di ruangan sidang, dan sidang kali ini cukup tertutup biarpun dengan keluarga, sehingga yang ada di ruangan tersebut, pihak penggugat dan tergugat juga kedua lawyer mereka yang setia mendampingi kliennya masing-masing.
Membuat Kedua keluarga hanya bisa berkumpul di luar, dengan perasaan harap-harap cemas kalau sidang pertama mereka akan berjalan dengan sangat lancar.
Sesuai janjinya, Malik pun tampak hadir di ruang bersama keluarga kedua belah pihak. Dan kedua keluarga tersebut tidak mengetahui siapa Malik yang sebenarnya! mereka tidak kenal. begitupun dengan Malik yang tidak tahu keluarganya Renita dan Azam.
Setelah sekian lama persidangan, akhirnya sidang pertama selesai juga dengan akhir keputusan kalau mereka tetap akan bercerai, apalagi secara agama talaknya Azam sudah habis. Dan semua pengajuan dari Renita, Azam terima dan dia menyadari serta mengakui semua kesalahannya.
Kedatangan Renita langsung diserbu oleh keluarga dan bertanya-tanya soal hasil sidang barusan, Renita yang tampak tegar hanya menjawab. "insya Allah semuanya lancar."
Keluarga Azam tentunya bertemu dengan Azam dengan penuh haru, namun mereka tetap merasa kecewa atas kelakuan Azam yang telah berselingkuh dari istrinya.
"Kami sangat kecewa dengan mu. Azam kenapa kau tidak memiliki contoh yang baik untuk saudara-saudara mu! kenapa kamu sampai tergoda dengan wanita lain yang belum tentu bisa menjadi istri yang baik untuk mu?" ucap sang ayah kepada Azam yang justru hanya terdiam.
"Katanya kamu sudah menikah dengan wanita itu, tapi kok sama sekali tidak memberitahu kami ataupun mengundang. Apa kamu sudah tidak ingat lagi dan tidak menganggap kami sebagai orang tuamu lagi?" tambah sang Bunda sembari berderai dengan air mata.
"Biarpun saya undang, kalian nggak mungkin datang. Apalagi mendoakan!" ucapnya dengan nada dingin.
"Tapi dengan cara itu sama aja kamu tidak mengakui kami sebagai orang tua mu!" kata sang ayah dengan mata yang melotot merasa tidak dihargai oleh sang anak.
"Tapi kan benar! kalian sangat kecewa dengan ku, jadi sekalipun kalian di undang ke pernikahan ku ... apakah kalian akan datang? Kan belum tentu! apalagi mendoakan!" ucapnya Azam kembali dengan nada angkuhnya.
"Aku tidak menyangka, Mas! begitu banyak perubahan yang telah terjadi pada mu, bukan cuma istri anak kamu telantarkan! tapi orang tua pun kamu lupakan di mana Mas Azam dulu, Mas?" Kini giliran Jefri yang mengungkapkan perasaannya dan ketidaksukaannya dengan sikap sang kakak. "Sepertinya otakmu benar-benar sudah dicuci oleh perempuan jala-ng yang tidak tahu malu yang tidak baik punya perasaan--"
__ADS_1
Plak ....
Dengan cepat tangan Azam menampar pipinya Jefri. "Kamu jangan lancang ya? bagaimana dia istriku dan dia tidak seperti yang kamu bilang!"
"Oho ... apa yang dimaksud tidak seperti yang saya bilang? emangnya wanita yang merebut suami orang tuh terhormat? emangnya wanita itu punya
... punya perasaan? gimana kalau perasaan dia kalau punya suami di rebut orang! gimana perasaan dia kalau anaknya ditelantarkan oleh seorang bapak gara-gara wanita lain? apa itu yang dikatakan kata-kataku lancang tentang dia?" Sergahnya Jefri sembari mengusap pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari lima jari Azam.
Renita beserta keluarganya yang masih berada di sana, menyaksikan perdebatan antara Azam dan keluarganya terutama dengan Jefri.
Setelah itu Azam tidak bereaksi apapun lagi, dia diam dengan tatapan tajam kepada keluarganya khususnya kepada Jefri, dan tidak lama kemudian meninggalkan keluarganya tanpa mengakui atau mengajak ke tempatnya tinggal. Seolah-olah kalau mereka itu bukan orang tuanya membuat Jefri semakin geram dan kesal kepada sang kakak.
"Tunggu Mas! aku mau bicara sebentar?" Renita memanggil Azam dan segera menyusulnya.
Sejenak Azam pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Renita. "Ada apa lagi?" tanya Azam dengan nada dingin.
"Mas, aku hanya ingin membicarakan tentang Rendy! Rendy ingin ketemu kamu, Mas. Dia kangen sama ayahnya. Apa tak pernah terbesit ingin bertemu dia Mas? kayaknya ... kamu lupa untuk menemui dia, jangankan untuk bertemu! bertanya kabar pun kamu nggak pernah kan? dimana sih hati nurani kamu sebagai ayah Mas? yang sungguh bertolak belakang dari Mas yang dulu, yang sangat perhatian. Penyayang kepada anak. Dan setelah kamu mengenal wanita itu ... sungguh sangat kebalikannya, Mas. Rendy bagaimanapun butuh kasih sayang kamu sebagai ayahnya." Ujar Renita dengan sangat panjang lebar
Azam melihat datar ke arah Renita. "Iya. Nanti aku datang." Hanya kata-kata itu yang terucap dari bibirnya Azam, kemudian dia melanjutkan kembali langkahnya bersama sang lawyer.
Renita terdiam mematung untuk sesaat di tempat, memandangi punggungnya Azam yang dia rasa begitu sangat dingin, tanpa terlihat perduli kepada anaknya Rendy. Kemudian Renita menghela nafas dalam-dalam dan berharap apa yang dikatakan Azam adalah benar dia akan menemui Rendy secepatnya.
"Aku tidak menyangka kalau dia itu adalah suami mu. Karena bagaimanapun aku tahu dia, dia pengusaha yang ulet dan pekerja keras," ucapnya Malik setelah berada tidak jauh dari Renita yang juga didekati oleh lawyer nya.
Kepala Renita menoleh kepada Malik dan juga Bu Sarita bergantian. "Apa kau mengenalnya?"
Malik mau menjawab namun keluarga Azam menghampiri ke arah Renita ....
...🌼---🌼...
Shetttttt ... jangan pelit jempol nya ya, makasih
__ADS_1