Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Pasti sembuh


__ADS_3

Saat ini Renita yang sudah sadar dari dua jam yang lalu terbengong-bengong dan air mata pun terus mengalir membasahi kedua pipinya. Tidak kuasa menahan perasaan sedih apalagi setelah mendengar kalau dia mengalami kelumpuhan.


Rendy yang terus memeluk bunda nya ikutan menangis melihat bundanya berderai dengan air mata.


"Kamu harus sabar dan yakin bahwa kamu akan sembuh seperti semula, sabar saja dan tawakal. Allah nggak akan memberikan cobaan kepada umatnya jika dia tidak mampu!" lirihnya sang Bunda kepada Renita.


"Memangnya kejadiannya seperti apa? apa kamu ingat sesuatu?" tanya sang ayah.


Renita mengusap pipinya yang basah, lalu dia mengingat-ingat lagi kejadian yang sebelum dia berada di rumah sakit ini.


"Seingat aku ... waktu itu aku sedang berolahraga dan menunggu Malik yang sedang membeli minuman. Namun tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju begitu kencang dan menghantam tubuhku. Padahal posisi aku di pinggir jalan! setelah itu aku nggak ingat lagi," kenangnya Renita.


"Astagfirullah ... kata Malik, tidak jauh dari kamu tergeletak ada mobil yang menabrak tiang listrik, dan mobil itu pun katanya entah rusak berat atau gimana? yang jelas ada di sana!" ucapnya sang ayah.


"Sekarang Malik nya ke mana? Yah, Ibu?" tanya Renita yang dari tadi Setelah dia sadar tidak melihat kembali begitupun adiknya Sheila.


"Katanya Malik sedang ke kantor polisi. Sedang mengurus-ngurus insiden itu, dan Sheila pun ikut bersama Malik," tutur sang Bunda yang duduk tidak jauh dari Renita.


"Terus yang mengurus administrasi perawatan aku di sini siapa?" selidiknya Renita dengan suara yang lemas.


"Ayah tidak tahu, karena semua yang mengurus adalah Malik--"


"Iya, yang mengurus semuanya Malik dan kita tidak tahu menahu soal itu." Sang Ibu menimpali perkataan dari suaminya.


Renita kembali memejamkan manik matanya, sembari memeluk Rendy yang berada di atas perutnya.


"Assalamu'alaikum?" suara seseorang seiring dengan suara ketukan pintu.


Kedua orang tua Renita saling berpandangan sebelum menjawab salam.


"Wa'alaikum salam ..." suaranya serempak lalu ibunya Renita beranjak dan berjalan mendekati untuk membuka pintu.


Blak ....

__ADS_1


Pintu pun terbuka dan tampak calon besannya yang berdiri di depan pintu, bersama keponakannya yaitu Shopia.


"Besan. Gimana keadaannya Renita?" sapa ibunya Malik sembari mengarahkan pandangan ke dalam.


"Ya begitulah, besan silakan masuk?" ibunya Renita menyilakan untuk besannya masuk dan juga Sophia.


Sophia mengarahkan pandangannya ke arah Renita yang sedang berbaring lemah, dengan tatapan yang sangat datar dan tanpa ekspresi.


Wanita sepuh itu berjalan gontai diikuti oleh keponakannya mendekati tempat tidur Renita.


"Reni, kenapa kamu Nak ... kok bisa seperti ini?" ibunya Malik duduk di kursi yang berdampingan dengan tempat tidur wanita sementara Sophia berdiri di dekatnya.


Renita membuka kedua menikmatinya yang terpejam. "Mama," tidak banyak kata yang keluar dari bibir Renita, yang ada hanya air mata yang terus berjatuhan membasahi sudut matanya. Menangisi keadaannya yang sekarang.


Sang Ibu calon mertua memegang tangan Renita. "Kamu harus sabar ... kuat, ini hanya cobaan bagi orang yang sabar dan Allah tidak akan menguji umatnya jika ia tidak mampu."


Renita mengusap sudut pipinya. "Tapi Mah ... sekarang aku seperti ini! hik-hik-hik ...."


"Bunda ... jangan menangis. Aku kan jadi sedih!" ucapnya Rendy dan tangan kecilnya mengusap pipi sang Bunda yang basah.


Lalu sang ibu Malik mengulurkan tangannya agar Rendy tidak terlalu nempel sama bundanya.


Rendy pun mendekat pada ibunya Malik dan mencium tangannya. "Oma, Bunda kasihan Oma. Katanya Bunda nggak bisa jalan! kalau Bunda sakit ... Rendy sama siapa, hik-hik-hik."


Ibunya Malik memeluk anak itu penuh haru. "Rendy sayang ... jangan sedih ya! bundanya pasti sembuh dan papa Malik akan menyembuhkan Bunda, jadi Rendy jangan sedih lagi ya!"


"Kalau Bunda nggak bisa jalan lagi gimana Oma? nanti bunda nggak bisa kerja, nggak bisa nyari uang lagi buat Rendy!" celoteh anak itu semakin menyedihkan, membuat ibunya Malik menangis. Begitupun dengan nenek dan kakeknya yang duduk dia sofa belakang, duanya mengusap wajah yang basah dengan air mata.


"Tidak Rendy ... bunda pasti sembuh sayang ... papa Malik akan berusaha mengobati bunda, sampai bunda bisa berjalan lagi!" lirihnya ibu nya Malik sambil memeluk anak itu.


Biarpun Rendy bukan dari dagingnya tapi wanita semua itu merasa Sayang pada Rendy yang akan menjadi cucu sambungnya.


"Rendy takut Oma ... Rendy nggak punya siapa-siapa lagi selain Bunda, hik-hik-hik dan Bunda yang mencari uang buat Rendi kalau Bunda nggak bisa bekerja lagi dan ini gimana ga bisa jajan nggak bisa sekolah, nggak bisa membeli mainan lagi." suara anak itu kembali dengan lirih dan sambil terisak.

__ADS_1


Renita yang mendengarnya semakin tidak bisa membendung air mata yang terus berjatuhan, bak air sungai yang mengalir deras.


"Gimana kalau Rendy ikut Oma yo? kita jalan-jalan, Rendy mau belanja apa, permainan baru juga boleh. Oma akan belikan buat Rendy!" tawar ibunya Malik.


Rendy menatap sang Bunda yang juga menatap haru pada dirinya, kemudian Rendy menggeleng tidak mau Oma ini tidak mau dan dia mau sama Bunda saja di sini."


"Nanti juga Oma anterin lagi ke sini, habis jalan-jalan dan belanja Rendy balik lagi ke sini temenin Bunda. Mau ya? biar punya mainan baru, oke?" sambungnya ibu Malik.


Lagi-lagi Rendy menatap sang Bunda, seolah-olah Minta pendapat dan Renita hanya mengangguk pelan! seakan memberi persetujuan kalau putranya boleh ikut sama omah. itupun kalau Rendi nya mau.


"Oke deh Rendi mau, tapi nggak lama-lama kan, Oma?" Rendy menatap lekat ke arah wanita yang dia panggil omah.


"Nanti sore Oma antarkan Rendy ke sini lagi, atau bila rendy mau ... nginep aja di rumah Omah ya?" ibunya Malik membelai rambut Rendy.


Akhirnya Rendi dibawa oleh sang calon ibu mertua Renita, yang sebelumnya juga minta izin kepada orang tuanya Renita untuk membawa cucunya hari ini. Kasihan bila di rumah sakit terus.


Malik baru saja datang setelah dari kantor polisi, mengurus semua tentang insiden yang menimpa Renita sehingga wanita itu harus masuk rumah sakit dan mengalami kelumpuhan sementara.


"Bagaimana Nak Malik, siapa yang sudah menabrak wanita dan apa yang menjadi motifnya?" tanya ayahnya Renita setelah Malik duduk di sofa tidak jauh dari dirinya duduk.


"Belum jelas apa motifnya, Yah. Yang jelas ... orangnya mabuk dan juga luka-luka, dia pun dirawat di rumah sakit yang ada di jalan xx, kondisinya sedang mabuk berat di saat membawa mobil tersebut. Sehingga akhirnya menabrak Renita dan juga tiang listrik yang berada di samping jalan!" Malik menghela nafas dalam-dalam.


"Tapi, Nak Malik ketemu sama orangnya yang sudah menabrak Renita?" selidik ibunya Renita dengan nada sangat penasaran.


"Ketemu, itu dia dirawat di rumah sakit tapi dianya luka-luka ringan saja, tidak ada yang signifikan." Jawabnya Malik.


Sheila duduk tidak jauh dari Renita yang berbaring dan sedikit tegak, sesuai tempat tidurnya yang bisa di rubah-rubah bisa baring dan juga untuk duduk.


"Ingin ku jambak rambutnya dan ku tonjok wajahnya orang itu yang berlagak gila itu." Gerutu Sheila.


Namun wanita ingin komentar apapun, namun dia lebih memilih untuk memejamkan matanya.


Malik celingukan, menoleh kanan dan kiri karena berasa ada yang kurang. Setelah menyadari kalau Rendy tidak berada di sana, Malik bertanya keberadaan anak itu ...

__ADS_1


...🌼---🌼...


Jangan lupa jejak nya ya. Makasih.


__ADS_2