Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Berlapang dada


__ADS_3

Renita mengusap wajah Rosita yang sedang tertidur. Di tatap penuh haru, Renita duduk di kursi yang berada dekat ranjang pasien.


"Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini, tapi aku yakin kamu wanita yang hebat dan kuat. Kamu wanita yang tabah, kamu bisa menjalani semua!" Renita menghela nafas dalam-dalam dengan pandangan mata yang setuju pada wajah Rosita yang sedang tidur sesekali bergerak meringis memegangi kepalanya.


Renita menoleh ke arah pintu, tatkala dokter dan suster datang untuk memeriksa Rosita. "Dok, tolong ya sembuhkan dia, berapapun biayanya akan saya bayar."


Dokter dan suster menatap ke arah wanita yang menata penuh harap ke arah dokter. "Insya Allah Bu ... saya akan bantu penyembuhannya dan berdoa saja, lagi pula Alhamdulillah Ibu ini tidak terlalu parah lukanya!"


"Iya Dok, sebelumnya saya ucapkan makasih banyak dan suster ... tolong ya jagain dia seandainya saya tidak ada di sini, setahu saya dia tidak punya keluarga dan kerabat. Adiknya pun sedang berada di luar Negeri." Mengalihkan pandangannya ke arah suster yang langsung membalas dengan anggukan.


"Gimana, apa pemakamannya sudah selesai?" tanya Renita kepada Malik yang baru saja kembali ke rumah sakit bersama Jefri dan juga keluarganya Azam.


"Alhamdulillah, semuanya selesai." Malik mengangguk sambil menetapkan ke arah Rosita yang tampak melamun dengan tatapan yang kosong.


"Apa kau sudah makan?" tanya Renita kembali sambil menatap pada sang suami yang langsung menggelengkan kepala pertanda dia belum makan.


"Oh, kalau gitu aku mau beli makanan dulu ya. Kamu tunggu di sini." Renita langsung berdiri hendak membeli makanan buat mereka makan.


"Ehem, Ren ... kalau kalian mau pulang! pulang saja, biar Rosita bersama ibu dan ayah di sini, kamu pulang saja dan Jefri pun urus tahlilan di rumah. Rosita biar ibu dan ayah menungguinya di sini." Ucap ibu dengan lirih. "Sekalian kamu jaga kedua anaknya Azam selama ibunya masih dirawat di rumah sakit!" Mengerahkan pandangannya pada Jefri.


"Iya, Bu ... aku juga berpikirnya kayak gitu, aku akan mengurus semua di rumah!" jawab Jefri sembari menganggukan kepalanya.


Malik dan Renita saling pandang kemudian Malik berkata. "Ya ... kalau ibu dan ayah mau menemani Rosita di sini, ya saya akan membawa Renita pulang dan mungkin dia akan sesekali ke sini! kalau soal anak-anak ... kalian juga jangan terlalu khawatir, Jefri maupun kami pasti akan membantu untuk merawatnya sampai Rosita kembali ke rumah!"

__ADS_1


"Ya baguslah, kalau ibu dan ayah mau menemani Rosita di sini. Akan tetapi jika kalian membutuhkan bantuan aku ... telepon aja, aku akan dengan senang hati membantu kalian!" Timpalnya Renita sembari mendekat pada ibu mertua.


"Bukannya ini sudah tanggung jawab kami ya! mengingat Rosita tidak punya siapa-siapa, jadi sudah sewajarnya kamilah yang harus menjaganya, kasihan juga dia!" ucap Ibu sembari menyeka air matanya yang jatuh. "Dia pasti merasa sangat kehilangan suami, sama seperti kami berdua yang kehilangan Putra kami!"


Renita langsung merangkul sang ibu mertua. "Yang sabar ya Bu. Mungkin ini yang terbaik untuk Mas Azam dan aku pun berdoa agar mas Azam diterima di sisinya, diampuni segala dosanya, dilapangkan dan diterangi dalam kuburnya!"


"Ibu minta maaf, atas segala kesalahan Azam sama kamu, Ren ... dia yang sudah menyakiti kamu, sudah menduakan kamu. Menyia-nyiakan dan ibu mohon maaf yang sebesar-besarnya--"


"Ibu-ibu ... tidak boleh minta maaf seperti ini," Renita menggenggam kedua tangan ibu yang disatukan di depan dada, meminta maaf atas segala kesalahan Azam kepada dirinya. "Kalau aku tidak maafkan mas Azam ... buat apa ke sininya kami sering bersama, satu kerjaan, sering bertemu. Mengobrol ... sehingga hubungan kami sangatlah baik!"


"Tapi Ibu kepikiran soal itu Ren ... disaat kalian bahagia dia tergoda wanita lain sehingga menyianyiakan mu juga Rendy, hik-hik-hik."


"Sudah, bu ... jangan dikenang lagi aku tidak ingin membahasnya, kembali dan aku sudah maafkan dengan segala kelapangan hatiku, atas semua kesalahan Mas Azam padaku. Mendingan kita kirimkan banyak-banyak doa untuknya bukan membahas masa lalunya!" Renita kembali merangkul bahu ibu kemudian mengalihkan pandangan pada Ayah yang telah memperhatikan mereka.


"Ayah Ibu pulang dulu ya!" Malik pun melakukan hal yang sama seperti wanita mengalami keduanya dengan hormat.


"Ros ... aku pulang dulu ya. Dan aku janji akan sering menjenguk mu ke sini, kamu jangan banyak pikiran! anak-anak pasti ada yang menjaga, aku pun akan melihatnya ke sana! yang sabar ... yang tabah ya!" Renita mengusap punggung tangan Rosita yang tampak melamun.


Rosita menoleh ke arah Renita. "Terima kasih atas bantuannya dan maaf sudah merepotkan. Mbak begitu baik kepadaku!" Air mata Rosita kembali berjatuhan.


"Sudah, nggak apa-apa! jangan menangis lagi ya, kamu harus sabar dan kuat. Besok aku akan menjenguk mu di sini, sekarang aku pulang dulu dan di sini ada ayah juga ibu yang menunggui mu!" Renita menggenggam tangan Rosita kuat-kuat sebelum akhirnya dia pergi.


"Ya udah Ros ... aku pergi dulu ya semoga cepat sembuh! agar segera pulang juga dan berkumpul dengan anak-anak!" Malik mengangguk pada Rosita.

__ADS_1


Kemudian Malik, Renita berjalan keluar dari ruangan Rosita bersama dengan Jefri yang juga mau pulang ke rumahnya Azam untuk mengurus semuanya di sana.


"Sungguh sesuatu yang tidak terduga ya Mbak, Dengan tiba-tiba saja mas Azam kecelakaan dan seakan tidak diberi waktu untuk bicara sama kita, dia langsung diambil sama Allah!" ucap Jefri sembari berjalan yang posisinya berada di depan Renita dan juga Malik.


"Iya, Jefri ... Mbak tidak pernah membayangkan ini semua begitu cepat. Mbak kasihan sama Rendy, Oh iya sekarang dia di mana. Di rumah Mas Azam atau di rumah kita bang?" Renita menoleh pada Malik.


"Kalau tadi sih di rumahnya Azam, entah kalau dia balik ke rumah!" Malik menggidik bahu.


"Aku sedih dengan kata-katanya itu lho ... katanya dia belum puas diperhatikan! dipedulikan, disayangi oleh Mas Azam. Karena mungkin dia merasa waktu kecil dia banyak sama aku! hanya mendapatkan kasih sayang dariku!" suara Renita tersengal, Malik langsung merangkul bahunya sembari berjalan pelan.


"Sayang ... sudahlah jangan ingat-ingat lagi ya! nanti kamu sedih lagi kan. Kamu sendiri yang bilang banyak-banyak ngirim doa untuknya bukan dikenang keburukannya!" Malik mengusap punggung sang istri. "Gimana kalau kita makan dulu, itu di depan ada tukang nasi bungkus." Malik menuding ke arah gerobak nasi bungkus.


Renita pun menoleh ke arah Jefri seraya mengajak makan bersama. Dengan gerak cepat, Jefri pun langsung mengangguk. Lalu ketiganya memesan nasi bungkus dan makan di tempat! sebelum mereka pulang ke tujuannya masing-masing.


"Besok pagi-pagi Mbak ke rumah untuk melihat anak-anak tadinya sih sekarang mau ke sana, tapi Mbak capek banget. Rasanya lengket banget pengen mandi dan berendam." Kata Renita sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Iya benar! capek banget pengen mandi!" Tambahnya Malik sembari menyesap minumnya.


"Iya Mbak, Bang. Nggak apa-apa aku juga ngerti kalian yang pasti capek banget dari acara pagi 'kan wisuda Rendy sampai sekarang kalian belum pulang, belum bersih-bersih." Jefri mengangguk dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Selesai makan, Renita dan Malik membayar semuanya. Mereka pun terpisah! Jefri pulang ke rumahnya Azam dan Malik bersama sang istri pulang ke rumahnya.


"Ibu dan Ayah tadi, Alena ... sudah pulang ke rumah kita?" Selidiknya sembari memasang bell safety di tubuhnya.

__ADS_1


"Ayah, ibu juga Alena pulang ke rumah, sementara Sheila dan Dion langsung pulang katanya tidak mampir dulu ke rumah kita!" Malik menyalakan mesin mobilnya lalu menancap gas dengan perlahan sehingga mobil tersebut melaju dengan kecepatan sedang.


__ADS_2