
"Yank ... Aku punya hadiah untukmu!" Renita memberikan sebuah benda semacam kotak panjang kepada Malik.
Malik pun bangun dan menyandarkan punggungnya ke bahu tempat tidur. "Apa ini?" Malik mengambil dan meneliti apa yang sudah ada di tangannya.
"Kira-kira ... coba kamu tebak itu ... isinya apa?" Renita memberi menyuruh Malik untuk menebak. "Em ... apa ya? jam tangan, hadiah dalam rangka apa nih?" Malik malah menatap ke arah sang istri.
"Rangka apa ya? aku tidak tahu dalam rangka apa, yang jelas pengen saja!" jawabnya Renita sambil merapikan rambut dan mengikatnya.
"Kapan belinya?" tanya Malik tanpa membukanya kotak tersebut.
"Iih ... buka dulu ... masa nggak pengen tahu isinya, coba lihat isinya apa jangan ngomong terus!" Renita menyuruh Malik untuk membuka kotak tersebut.
Lalu kemudian Malik membukanya dengan perlahan, matanya terbelalak melihat isi kotak tersebut. "Apa ini?"
"Lihat saja, semoga dapat membuat mu bahagia." Kata Renita dengan senyuman yang merekah.
"Masya Allah ... serius? ini punya kamu sayang?" Malik menatap sang istri dengan sorot mata yang berbinar.
Ternyata hanya tersenyum membalas tatapan dari sang suami, wajahnya Renita pun menunjukan kebahagiaan.
Malik langsung memeluk sang istri penuh dengan rasa bahagia yang tiada Tara. "Serius sayang hamil hem? ya Allah ... benarkah ini hadiah untuk ku!"
Renita yang berada dalam pelukan Malik mengamalkan kepalanya tanda mengiyakan kalau dia saat ini memang tengah mengandung.
"Sungguh sebuah keajaiban untuk ku, yang tadinya aku sudah berputus asa dan tidak berani berharap lagi. Ternyata aku di kasih juga ya sayang!" Malik berucap lirih.
"Nanti kita ke dokter kandungan ya? agar lebih akurat beritanya." Renita membelai rambut Malik yang memudarkan rangkulannya.
Malik pun mengangguk, dia tidak bisa lagi berkata-kata dan dia hanya bisa meluapkannya dengan rangkulan yang erat pada sang istri, sungguh ini kebahagiaan yang tidak terkira untuknya.
Dalam beberapa saat tak ada kata yang terucap dari bibir mereka berdua. Hanya bahasa tubuh saja yang mereka tunjukkan satu sama lain, yang menunjukkan betapa bahagianya mereka saat ini karena mendapat garis 2.
__ADS_1
"Sebaiknya kita cerita saja sama Mama! dia pasti senang mendengar berita ini," ucap Malik sembari membingkai wajah sang istri.
"Tapi kalau menurut aku sebaiknya jangan dulu, biarpun sudah terbukti garis 3 tapi nanti aja setelah kita mendapatkan hasil pemeriksaan dari dokter!" Renita menggeleng, karena dia kurang setuju kalau harus menyampaikan berita baik ini kepada sang ibu mertua.
Malik mengerutkan dahinya memandangi dengan lekat pada sang istri.
"Kalau nanti sudah mendapatkan hasil dari dokter kandungan ... barulah kita memberikan berita ini kepada mama dan juga orang tuaku, kalau sekarang cukup kita berdua saja yang tahu!" Renita menaik turunkan alisnya.
Pada akhirnya melipur mengamuk setuju dengan pemikiran sang istri. Selanjutnya Mereka pun membersihkan diri.
...----------------...
Semenjak berita yang menghebohkan tentang dirinya yang berselingkuh di kamar hotel dan diketahui oleh sang suami, hingga terjadi insiden yang menjadi korbannya suaminya sendiri.
Menjadikan berita tersebut sebuah berita yang viral. menggegerkan jagat raya, pemersatu Bangsa. Sharon dibully habis-habisan.
Membuat dia merasa shock tak berani keluar menunjukkan wajahnya, hanya berdiam diri di rumah. Bahkan rumah orang tuanya tidak ayal menjadi sasaran masyarakat yang ingin menghakimi dirinya. Wartawan pun hilir mudik ingin mencari tambahan berita.
Untuk kehidupannya sehari-hari, Sharon hanya bisa menjual perabotan yang ada di dalam rumah, motor bahkan rumah mewahnya tersebut pun yang dia dapatkan dari Azam! pada akhirnya dijual juga untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari, bersama kedua Putra dan putrinya dan dia sendiri pindah ke rumah kontrakan yang cukup untuk dia dan kedua buah hatinya.
Untuk melanjutkan hidup dia berjualan seperti gorengan, es dan dia mengambilnya dari tetangga kontrakan, sesekali jika dia mendapatkan mangsa ... ya dia pepet sampai dia mendapatkan uang! sekalipun harus menukar dengan dirinya. Tak ubahlah dengan Sharon yang sebelumnya.
Suatu hari dia pernah bertemu dengan Azam di jalan. Sebenarnya dia ingin meminta maaf dan ingin kembali pada pria tersebut, namun dia merasa malu dan lagian pria itu pun tampak dingin padanya. Mungkin dia masih marah pada dirinya atas kejadian yang sudah menimpa.
Sharon pun tidak berani untuk pulang ke rumah orang tuanya, karena sikap masyarakat di sana lebih kritis dan bisa-bisa kalau Sharon menampakan diri di sana dihakimi habis-habisan.
Putrinya yang bernama Vera yang kini sudah menginjak remaja kelas tiga SD dan Denis sudah menginjak usia 5 tahun. Sering ia titipkan ke tetangga kalau ia sedang berjualan atau ada kerjaan lain.
"Hupt, berjualan segini aja nggak habis! gimana lebih banyak? terus gimana aku bisa mendapatkan uang kalau kayak gini terus? ada yang borong kek, atau ada laki-laki yang tajir gitu yang berminat nikahin aku, perasaan penampilan ku nggak kampungan kampungan amat!" Sharon meneliti penampilannya sendiri. Biarpun tidak ke salon tapi dia tetap bisa merawat diri.
Di tatapnya penampilan dirinya yang tetap menarik dan sedikit seksi tidak terlihat kalau dirinya pedagang gorengan biasa.
__ADS_1
"Gorengan-gorengan ... gorengan rp10.000 tiga, dapat 3 plus sambelnya ya!" teriaknya Sharon sambil celingukan dan terus berjalan sedang menjinjing wadah dagangannya.
Suasana tampak agak sepi, mungkin karena memang anak-anak pun masih jam sekolah. Kemudian dia berhenti di semua pos ronda yang ada tiga laki-laki yang sedang merokok dan ngopi.
"Gorengannya Mas! murah kok ... cuma 10.000 3 biji. Boleh saya ikut duduk?" Sharon menunjukkan wajah ramahnya kepada tiga laki-laki yang melihat dirinya.
Mungkin ya pikir pedagang gorengan tapi penampilannya seksi lutut pakai handphone agak ketat.
Sebentar pria tersebut saling bertukar pandangan dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu bertanya kepada Sharon yang kini sudah duduk di pos ronda tersebut.
"Emang ada gorengan apa saja Mbak?" tanya salah seorang pria yang mungkin sekitar usianya 40 tahun. Matanya malah dengan nakal melihat bagian yang terbelah dengan kerah rendah.
"Oh ini ada gorengan apa ya? macam-macam, Mas ... ada bakwan, tahu pedas. Isi daging si sayuran nggak bisa coklat mungkin pisang Mas-Mas semua kurang menarik, nah ini pisang yang lebih menarik namanya pisang coklat." Jawabnya Sharon dengan ada bicara yang manja.
"Eeh ....si Mbak! kata siapa pidang kita nggak menarik, justru lebih menarik dan bisa hidup sendiri lho Mbak. Yang enaknya pisang coklat Mbak bisa dimakan, dan pisang kita bisa digunakan ya kan?" kata salah satu pria menoleh pada kedua temannya bergantian sembari tertawa.
"Aish ... si Mas bisa aja, mau dong ... yang bisa digunakan! kayanya enak nih! panas-panasan gini bikin adem he he he." Sharon kecentilan.
"Mbak mana gorengannya dulu kadang dikit jangan ditutupin Terus kalau di tutupin terus gak ada yang beli nanti!" kata salah satu pria tersebut sambil tersenyum nakal.
"Oh siap jangankan cuman sedikit buka banyak pun boleh!" sahutnya Sharon dengan nada manja dan sedikit mengusungkan dadanya yang memiliki ukuran besar.
Ketika pasang mata pria mengarah pada pemandangan yang menggantung-gantung. Bukannya ke arah gorengan yang saran buka tutupnya.
"Mbak, berapa itu yang menggantung. Kalau boleh tahu?" tanya seorang pria yang memakai baju kaos hitam dengan suara agak pelan dan menunjuk dengan dagunya ke arah dadanya Sharon.
Sharon yang sigap langsung menjawab. "Murah kok Mas! kalau liatin mah gratis Kalau memegang rp50.000 menghisap 100.000. eh salah ini rp10.000 tiga Mas gorengannya!" wajah Sharon memerah menahan malu.
Ketiga pria tersebut langsung tertawa terbahak-bahak. Dan melepas mata elangnya pada suatu pemandangan yang memanjakan mata ....
.
__ADS_1
Mohon dukungannya ya agar aku tambah semangat dan terima kasih sebelumnya.