
Renita kembali masuk ke dalam rumah dan mendatangi kamarnya, membaringkan diri di tempat tidur bersama Alena yang tampak terlelap.
Sore harinya Renita menemani sang suami, Malik untuk pertemuan dan Alena pun di bawa oleh sang bunda. Tidak membiarkan di rumah dengan bibi.
Biar terbiasa katanya. Sehingga Renita dan Malik membawa biarpun keadaan malam.
"Sayang, tadi aku melihat mas Anto!" kata Malik sambil duduk di mobil dalam perjalanan dengan sang istri untuk memenuhi pertemuan.
"Terus kenapa? kalau kamu melihat mas Anto?" Renita menatap datar.
"Dia sama Shopia! sayang ..." lanjut Malik sambil mengelus kepala Alena yang tidur di pangkuan bunda nya.
"Emangnya kenapa? mungkin ada urusan kerja!" Renita pura-pura tidak tahu.
"Bukan gitu Sayang ... ada yang aneh saja--"
"Anehnya di mana, Yank ..." potong Renita dengan masih pura-pura gak ngerti.
Renita menggaruk tengkuknya dan merasa bingung mau jelaskan nya gimana. "Mereka kaya orang pacaran gitu."
"Masa sih ... mungkin salah lihat kali, masa seperti itu. Hati-hati lho nanti jadi fitnah." Kata Renita sambil melirik ke arah jalan.
"Tapi aku merasa ada yang aneh gitu. Merasa tidak enak hati!" tambahnya Malik sambil melepas pandangan nyanyang kosong.
Beberapa saat kemudian, mobil pun sampai di tempat yang menjadi tujuan mereka.
Malik turun dan mengitari mobilnya lantas membukakan pintu untuk sang istri yang repot memangku Alena.
"Ayo sayang, sini aku pindahkan Alena ke keretanya bayi." Malik mengambil alih putrinya dari pangkuan Renita setelah mengambil kereta bayi dari bagasi.
Renita pun menurut saja kata suaminya, kemudian mereka berjalan memasuki sebuah gedung yang tampak orang-orang pun memasuk gedung tersebut.
Malik dan Renita pun bertegur sapa dengan mereka semua, dengan ramahnya.
...-------...
__ADS_1
Di sebuah kamar hotel bintang lima. Anto dan Shopia sedang booking kamar di situ. Layaknya pasangan suami istri yang halal, mereka melakukan yang ***-***.
"Sayang, kadang aku was-was deh Gimana kalau mbak Yusna tahu ya hubungan kita!" suara Shopia dengan manjanya sembari menempelkan pipi di dadanya Anto yang berbulu dan tanpa pakaian.
"Makanya jangan sampai ketahuan, kita harus pandai-pandai menyimpan rahasia biar kita terus bisa seperti ini!" cuph kecupan hangat mendarat di keningnya Shopia.
"Aku sih bisa aja! orang kita jauh kok, gak pernah ketemu juga sama dia! sementara kamu tuh tiap hari tiap malam ketemu. Hubungan juga kan? gak cukuplah sama aku hem?" Shopia mencubit kecil dada nya Anto dengan ekspresi wajah yang cemburu.
"Justru kalau aku tidak ngapa-ngapain dia ... nanti bisa-bisa dia curiga karena aku nggak anuin dia, ya sebisa-bisanya dong aku menyembunyikan ini semua." Jawabnya untuk kembali sambil mengeratkan pelukannya.
"Iya juga sih ... nanti dia curiga. Menurut kamu enakan mana punya aku sama dia? tentu enakan aku dong ... soalnya kan aku mesinnya masih bagus, baru anak satu. Beda dengan istrimu itu!" Shopia dengan bangganya memuji diri sendiri.
"Tentu dong sayang ... semuanya ada di kamu, semuanya ada di kamu legit dan kencang. Sebenarnya aku udah bosan sama dia, kalau ibarat makanan ... sudah tinggal ampasnya," kata Anto dengan entengnya.
"Hi hi hi ... ya udah kau tinggal saja, buang aja lah ngapain dipelihara juga nggak akan enak. Nggak ada sarinya lagi!" ucap Shopia sambil terkekeh.
"Dibuang sayang. Saham aku atas nama dia dan anak-anak. Dan gimana kalau aku cerai dia terus aku bangkrut ... emangnya kamu mau, masih mau gitu?" tanya Anto sambil meremas buah segar milik Shopia.
"Ach ... heli sayang. Yang pastinya sih aku nggak mau, masa aku hidup susah? udah bosan! ya udahlah nggak usah dicerai, mendingan kayak gini aja lah. Akan tetapi masa kayak gini terus nikah lah, aku nggak mau kayak gini terus Sayang ... kapan kau akan menikahi aku? gimana pun aku tidak apa-apa di madu juga dariapada kayak gini terus!" ucapnya Shopia sembari menunjukkan mimik wajah yang menggemaskan.
"Iya sayang sabar ya? nanti aku pasti nikahin kok, sabar aja dulu." Seru nya Anto penuh janji.
"Ya tunggu berapa waktu lagi jangan terburu-buru juga--"
"Heleh ... nanti kamu keburu bosan dan akhirnya nggak mau nikahin Aku!" ketusnya Shopia.
"Mana ada Sayang ... bosan sama kamu nggak ada, buktinya ini nggak bosan-bosan." Anto merubah posisinya dan kini berada di atas Shopia dan memulai ritual yang Baru saja beberapa saat selesai.
Dan kini mau memulai lagi. Shopia cekikikan dan sangat agresif. Memanjakan Anto yang yang notabene-nya suami sepupu sendiri.
Sementara di lobby hotel, Yusna sedang klimpungan mencari suaminya, sudah tanya bolak-balik ke pihak resepsionis nggak ada yang namanya Anto katanya. Sementara mobilnya ada di Parkiran.
"Saya ini istrinya Mas, saya yakin kalau suami saya ada di hotel ini!" Yusna begitu kekeh kalau suaminya memang ada di sana.
Akan tetapi pihak resepsionis kekeh juga bahwa tidak ada yang nama Anto yang booking kamar di hotel tersebut.
__ADS_1
"Apa mungkin atas nama ceweknya?" gumamnya Yusna sembari mengerutkan keningnya.
"Coba deh, Mas ... siapa tahu ... kira-kira yang baru masuk ya sekitar berapa jam yang lalu gitu. Soalnya kalau pagi sampai sore suami saya ke kantor. Jadi kemungkinan dari sore ke sini nya atau mungkin baru masuk mungkin!" Yusna berusaha tenang dan menaikkan kedua bahunya.
"Maaf Nyonya ... kami tidak bisa bantu lagi dan ini sudah menyalahi aturan!" kata pihak resepsionis.
"Ck." Yusna berdecak kesal. Namun dia tidak mau membuat onar di tempat tersebut sehingga dia berjalan keluar dari lobby. Mendatangi mobilnya Anto.
Dengan perasaan yang bergemuruh kesal, marah. Cemburu ... sebab dia yakin kalau suaminya ada di hotel itu dan dengan seseorang.
Ia sudah mengumpulkan informasi kalau suaminya memang tak ada acara kerjaan khususnya hari ini sehingga Yusna semakin yakin kalau memang suaminya ada main dengan seorang wanita.
"Kalau memang benar, kamu tega Mas, kamu tega sama aku, tega sama anak-anak." Gumamnya Yusna sambil celingukan ke pinggir-pinggir jalan.
Lalu kemudian ... kedua netra matanya menemukan sebuah batu yang kalau dibandingkan dengan tangan, dua kepalan tangan dan melebihi itu sedikit.
Yusna mengambil batu tersebut dengan tidak pikir panjang lagi, dia menggedor kaca depan mobilnya Anto sampai retak dengan 5 kali pukulan.
Begitupun dengan kaca samping kanan dan kiri. Dia tidak berhenti menggedor sebelum kaca-kacanya retak Bahkan remuk.
"Rasain lho Mas, Aku bukan tipe wanita yang tinggal diam! Biarpun aku diam bukannya aku nggak tahu perbuatan mu itu." Pekiknya Yusna.
Kebetulan sekali di tempat itu sepertinya scurity lagi keluar entah ke toilet, atau kemana. Sehingga tidak ada yang menghentikan perbuatan Yusna.
Ada segelintir orang yang sepertinya mau keluar dari tempat tersebut, namun tak berani menegur atau gimana-gimana pada Yusna.
Dan setelah itu Yusna buru-buru meninggalkan mobilnya Anto yang kemudian dia masuk ke dalam mobilnya dan memundurkan. Parkir agak jauh dari situ dan ... dia nekat untuk menunggu sampai kapanpun Anto keluar juga mendatangi mobilnya.
Suasana parkiran menjadi ricuh setelah security mengetahui adanya mobil yang dirusak seseorang.
Yusna hanya tersenyum melihat ke arah sana sambil memeluk kemudi nya, lalu dia mencoba untuk menghubungi nomor sang suami yang ternyata berapa kali pun dipanggil tidak ada sahutan sekalipun.
"Sial, sedang apa sih dia?" yang kemudian Yusna membayangkan suaminya sedang main sama perempuan lain! membuat air matanya tidak terasa keluar dari bendungan.
Rasanya membayangkan saja sudah terasa sakit, pedih. Nyeri menyiksa hati, apalagi kalau melihatnya dengan mata kepala sendiri mungkin akan lebih dari itu payahnya ....
__ADS_1
.
Bersambung.