
"Aku sayang kamu sudah dari dulu kita masih SMP, sekarang ... sekarang kita sama-sama sudah dewasa! apa salahnya sih kita lebih mendekatkan lagi menjalin hubungan yang lebih intens." ungkap Priscillia sambil memegangi tangannya Rendy.
Rendy menarik tangan dari genggaman Pricilia, dia harus mengakui dadanya begitu berdebar dan jantung berdegup sangat kencang seakan-akan ingin melompat dari tempat, sesungguhnya Rendy pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Pricilia sejak SMP. Dia pun sangat menyayangi dan menyukai Pricilia sehingga hari-hari nya selama di SMA pun tak ada gadis yang mampu mencuri hatinya.
Sekalipun ada, Rendy tetap menekankan dalam dirinya kalau dia harus menjadi seorang yang kukuh, setia dalam pendiriannya. Remaja-remaja seusia dia sejak SMP, SMA bahkan kuliah mungkin sudah puluhan kali menjalani hubungan pacaran, tapi tidak dengan Rendy! dia tetaplah menjadi Rendy yang tanpa pacaran dengan gadis manapun.
"Apa kamu tidak salah dengan ucapanmu itu? bukannya banyak pemuda yang lebih segalanya dari aku!" ucap Rendy sembari menghela nafas sangat dalam dan panjang.
Pricilia menatap tangannya yang baru saja memegangi tangan Rendy. "Bicara itu memang mudah tapi ini urusan hati, buat apa aku mencari Pemuda lain kalau aku memang cintanya sama kamu. Aku sayang kamu Ren ... dari dulu sampai sekarang tidak berubah, biarpun ... aku sering gonta-ganti pacar juga selama ini, akan tetapi bukan karena benar-benar cinta, melainkan untuk hiburan saja! semacam selingan gitu mengisi waktu. Gitu." Sambil nyengir.
Sesekali Rendy menatap ke arah Pricilia lalu kemudian memikirkan apa yang harus dia katakan, sebab Ia pun tidak ingin mengatakan isi hatinya saat ini. Dia yakin kalau jodoh itu takkan ke mana. "Oh berarti kamu saring juga ya pacaran? pantas kamu lebih agresif, sementara aku sendiri sedikit risih kamu bersikap seperti itu. Apalagi Negara kita ini bukan lah ke barat-baratan, yang harus lebih menggunakan etika, sopan santun termasuk dalam berpakaian dan menghargai yang lain juga!"
Mendengar ucapan Rendy yang demikian, membuat Prisilia tidak enak dan dia menaikkan kerah bajunya yang rendah sehingga memperlihatkan belahannya. Ia merasa baru tahu kalau rendy tidak suka dengan penampilannya yang seksi. Di bawah pun dia menarik roknya yang terlalu pendek itu sehingga memperlihatkan pahanya yang mulus.
"Em ... jadi kamu nggak suka ya? dengan gadis yang penampilan seperti aku, seksi begini?" Pricilia menatap ke arah Rendy dengan tetapan yang tanpa ekspresi.
"Sebenarnya aku suka ... tapi kan ada waktunya, sebagai wanita ... sebaiknya bisa memilih dan memilah, emangnya gak risih ya bila memakai pakaian yang kurang bahan seperti itu?" Rendy tidak menatap ke arah Pricilia yang tampak malu dan salah tingkah. Dia justru melihat suasana sekitar.
"Tapi bukan jawaban itu yang aku mau, kan aku bertanya gimana kalau kita pacaran saja. Dan kita berdua pasti bisa menjaga etika, gak mungkin melakukan yang tidak-tidak. Apalagi mengingat kamu seperti apa--"
__ADS_1
"Tidak, tidak bisa juga seperti itu, karena kalau sudah berat dan bucin itu nggak bisa dikendalikan! bicara memanglah mudah. Tapi untuk melaksanakannya sangatlah sulit." Rendy menyesap minumnya sembari menatap sekilas pada Pricilia.
Pricilia memanyunkan bibirnya ke depan tampak menggemaskan dan Rendy langsung menundukkan pandangannya.
"Seperti yang sudah aku bilang ... Aku hanya ingin fokus belajar aja. Tanpa ada kata pacaran ataupun apa, karena aku hanya ingin di saat ini aku dapat menggapai cita-citaku dengan mudah tanpa ada halangan apapun! dan setelah aku berkarier ... barulah aku mau memikirkan soal perasaan. Akan tetapi untuk saat ini, no ...."
Kemudian Rendy beranjak dari duduknya lantas membayar apa yang sudah ia makan bersama Prisilia. Pricilia pun menyusul langkahnya Rendy berjalan pendampingan, dengan perasaan yang sedikit kecewa karena secara tidak langsung cintanya telah dontolak mentah-mentah oleh pemuda yang sangat dia cintai dari masa SMP.
"Aku harus segera kembali ke lokasi penerbangan sayap tetap, sorry. Aku tidak bisa mengantar mu pulang!" kata Rendy dengan buru-buru, setelah menerima isi cat di ponselnya.
Membuat Pricilia menjadi bengong dan menatap panggung Rendy yang sangat tergopoh menaiki kendaraannya yang roda dua itu.
"Rendy-Rendy ... kok sulit banget sih buat aku deketin kamu, padahal kamu itu Cinta pertama Dan akan menjadi cinta terakhirku. Kamu itu menjadi cinta monyet dan cinta sejatiku!" lirih Pricilia yang menunjukkan ekspresi wajahnya yang sedih.
.
.
"Bun, mohon doanya ya? semoga Rendy dilancarkan setiap urusan, apalagi dalam beberapa bulan ini menuju wisuda! mohon doa yang terbaik dari bunda dan juga Papa!" Tiba-tiba Rendy melutut di hadapan Renita yang tengah duduk bersantai didampingi sang suami yang sedang sibuk dengan laptop di pangkuan.
__ADS_1
Keduanya menatap ke arah Rendy yang memegang kedua tangan Renita dan menciumnya, menempelkan wajah di atas pangkuan sang Bunda memohon doa dan segala kebaikan untuknya.
Membuat hati keduanya mencelos, sedih. Terharu! belum apa-apa sudah terharu bagaimana kalau sudah menjadi ....
Tentunya doa yang terbaik yang selalu dipanjatkan oleh orang tua untuk anak-anaknya! doa yang selalu lepas menjangkau langit dan tentunya akan didengar oleh malaikat dan mengabulkannya. Tangan wanita bergerak mengusap kepala si sulung dengan tak kuasa setetes air mata pun jatuh di atas kepala Rendy.
"Sayang, jangankan dipinta. Tidak dipinta pun Bunda akan selalu mendoakan mu. Semoga apa yang kamu cita-citakan terlaksana, yaitu kamu ingin menjadi pilot ... kami sebagai orang tua telah berusaha bahkan sampai sekarang masih berusaha untuk membantu kamu dalam hal biaya dan juga dukungan. Semoga kamu bisa mencapai segalanya." Lirih Renita dengan suara yang bergetar dan tangis yang sudah mencapai tenggorokan.
"Rendy takkan bisa mencapai seperti sekarang ini, tanpa dorongan Bunda sama papa! tanpa perhatian dan dukungan kalian berdua Aku bukan apa-apa, walaupun sampai sekarang aku belum menjadi siapa-siapa! tapi setidaknya aku akan berusaha untuk melewati langkah demi langkah yang tinggal sedikit lagi mencapai tujuan ku."
"Bunda, akan mendoakan mu agar segera tercapai cita-citamu. Pesan Bunda tetaplah menjadi orang yang lurus ... jangan lupa salat yang lima waktu dan juga berdoa. Iringi lah usahamu dengan doa. Agar seimbang ... dan bila nanti sudah menjadi orang yang sukses ... janganlah kamu sombong tetap rendah hati pada orang lain, apalagi orang tua! Harus saling menyayangi juga dengan keluarga dan saudara." Renita menangkupkan kedua tangan di wajahnya Rendy, serta tetapan yang sangat lekat dan dalam.
Rendy menggerakkan tubuhnya sedikit naik dan memeluk tubuh Sang Bunda yang selama ini menyayangi dan merawatnya sampai saat ia dewasa.
Sesekali Malik menoleh anak dan Bunda yang sedang berpelukan, tanpa terasa tetesan air bening mengenang di sudut matanya yang buru-buru ia hapus, agar tidak diketahui kalau dia merasa terharu.
Rendy memudarkan rangkulannya pada sang Bunda dan menoleh ke arah Malik yang tampak terdiam dan menatap dirinya, lantas pemuda itu pun bergeser ke hadapan Malik dan memeluk erat Papa sambungnya tersebut yang bagi dia Malik maupun Azam itu sama-sama memiliki peran penting dalam hidupnya. Bahkan Malik lebih banyak perannya ketimbang yang memang tidak satu rumah dengannya.
"Pah. Terima kasih ya ... selama ini sudah mendukungku bukan hanya dalam hal materi saja tetapi juga dukungan-dukungan lainnya dan aku merasakan itu! tanpa peran Papa pasti semuanya kurang sempurna, terima kasih Pa. Selama ini Papa sudah menjadi papa yang baik buat Rendy sendiri, suami yang baik buat bunda dan peranan Papa sangat berarti bagi Rendy sekali lagi Makasih, Pa." Rendy tidak tahu harus berkata apa lagi kepada Malik, bibirnya berasa sempit dan kelu. Walaupun banyak kata yang ingin diucapkan tapi rasanya hanya tercekat di tenggorokan ....
__ADS_1
.
Bersambung.