
"Kalau memang putra Bapak bersalah ... Bapak minta maaf dan bapak akan menegurnya!" ucap Pak Sukma dengan lirih.
"Tapi nggak mungkin putra kita seperti itu, Pak ... nggak mungkin Azam selingkuh, mungkin dia cuma rekan kerjanya!" Bu Dewi tetap kekeh Azam gak mungkin selingkuh.
"Tapi, Bu ... apa mungkin? cuma rekan kerja, tapi setiap waktu selalu ada. Apa mungkin dia rekan kerjanya kalau dia sampai berbohong kepada kami dan tidak ada waktu buat anak dan istri?" Renita menatap ibu mertua dengan wajah yang basah dengan air mata.
"Ada apa ini, kok nangis?" tanya seorang pria yang usianya lebih muda dari ajam dan dia adalah adiknya Azam yang bernama Jefri.
Kemudian sang Ibu bercerita tentang yang barusan diceritakan oleh Renita. Tentang putra nya yang bernama Azam dan Ibu Dewi tetap kekeh dia nggak percaya. kalau putranya Azam berselingkuh dari istrinya.
Jefri yang duduk dan mendengarkan perkataan dari ibunya, menghela nafas dalam-dalam. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Renita yang sedang mengusap wajahnya dan mengeringkan dari air mata.
"Apa benar itu Mbak?" selidiknya Jefri suara penasaran.
"Aku rasa seperti itu, karena nggak mungkin kalau sekedar rekan kerja ... tapi perhatiannya lebih, mas Azam tidak pernah ada waktu buat kami dan dia menghabiskan waktunya dengan wanita itu. Uang belanja dikurangi, sementara dia bilang sibuk bekerja dan uangnya kemana? dan aku cek tabungannya saldonya belum bertambah lebih!" Renita menggeleng.
"Mbak, sudah selidiki emang?" selidik kembali Jefri.
"Sudah Dek, dia janda punya anak dua masih balita dan Mas Azam sering membelikan buat keperluan anak-anaknya. Sementara anaknya diabaikan." jawabnya ranita sembari mengambil tisu berapa lembar lalu mengeluarkan ingusnya.
Jefri menghembuskan nafasnya dengan kasar dia sih antara percaya dan tidak! tapi kemungkinan besar. Iya kalau mengingat gelagat dari cerita kakak iparnya tersebut, nggak mungkin kalau sekedar sibuk bekerja sampai segitunya.
"Kalau seandainya kita ngomong sama dia, nanti dianggap ikut campur. Sementara kita tidak tahu apa-apa bukannya ... bukannya tidak ingin membantu." Jefri dengan lirih.
"Mbak mengerti dan memang kalian jangan ngomong dulu lah sama dia, biar jelas dulu nanti dikira Mbak yang mengada-ngada ataupun membuat cerita!" kata Renita lalu kemudian dia beranjak dari duduknya.
Mereka hanya terdiam ketika Renita pergi dari tempat tersebut.
Kemudian Jefri pun beranjak meninggalkan orang tuanya dan menghampiri keponakannya Rendy.
"Rendy sayang, main sama om yuk?" ajaknya Jefri pada Rendy yang tengah bermain dengan anak-anak lain.
__ADS_1
Anak itu mengangguk! mata beningnya menatap ke arah Jefri.
"Gimana kalau kita ... jajan ke warung, mau nggak?" ajak jefri kembali mengulurkan tangannya ke arah Rendy dan juga anak-anak lain.
Beberapa anak tersebut menyambut yang senang karena mau diajak jajan ke warung. Dan tentunya akan dibelikan oleh Jefri.
"Oh ya Rendi, sama papa suka main ke mana?" tanya Jefri pada keponakannya tersebut.
"Dulu suka main ke Timezone, ke taman ... tapi sekarang nggak pernah, papa lebih banyak sibuk kerja biarpun hari sabtu, hari minggu sama aja, Rendy dan bunda dibiarkan berdua saja." Jawabnya anak itu sambil makan jajanan.
"Masa hari Sabtu dan hari Minggu bekerja juga? kan hari libur sayang?" selidik kembali Jefri.
"Beneran, Om ... setiap hari papa selalu pulangnya juga malam kalau Rendy sudah tidur," jawaban anak itu meyakinkan.
"Oh ya? seperti itu terus ... uangnya banyak dong?" kata Jefri.
"Nggak tahu Rendy, nggak tahu soal itu. Karena Rendy kan kalau mau jajan di dikasih sama bunda bukan sama papa! Rendy mau mainan juga bunda yang belikan." sambungnya anak tersebut.
...----------------...
Sekitar pukul 09.00, pagi Renita berpamitan untuk pulang ke rumahnya, karena menunggu Azam pun tidak mungkin, buktinya dia nggak datang-datang sampai sekarang.
Sang Ibu mertuanya yakin kalau Azam akan datang ke sana sekalian menjemput mereka berdua, tapi Renita malah berkata lain kalau Azam nggak akan pernah datang ke sana. Sehingga Renita pun bersikeras untuk pulang sama Rendy seperti ketika mereka datang berdua.
Karena merasa kasihan, apalagi dengan cerita rumah tangganya. Jefri berinisiatif Untuk mengantarkan Renita dan Rendy pulang, biar dia saja yang membonceng keduanya kalau nanti pulang biar nanti naik taksi saja.
"Kalau begitu biar aku aja yang mengantar, Mbak. Biar aku yang bawa motornya, mbak kasian dari kemarin bawa motor terus!" kata Jefri seraya minta kuncinya.
"Tidak apa-apa, Jefri ... Mbak sudah biasa kok, bawa motor tiap hari juga. Kalau di antar kamu nggak enak juga!" balasnya Renita sembari menahan kuncinya.
"Nggak papa, Mbak ... malah aku dengan senang hati bisa mengantar keponakan ku." Balasnya Jefri sembari mengambil kunci motor dari tangan Renita.
__ADS_1
"Jadi kamu mau mengantar mereka, Jefri?" tanya sang ayah.
"Iya, Pak. Kasihan! biar aku antar saja, nanti aku pulang bisa naik taksi ataupun bus!" jawabnya Jefri sambil mengenakan helm yang sudah disediakan sebelumnya.
Ibu Dewi menatap sedih, sedihnya kenapa putranya nggak datang-datang juga, padahal anak istrinya berada di sini. Pikirannya mulai melayang! Apa benar anaknya punya wanita lain dan Apa benar yang dikatakan oleh mantunya tersebut kalau Azam punya selingkuhan?
"Renita pulang dulu ya. Lain kali kita ketemu lagi, Assalamu'alaikum ..." ucap Renita setelah mencium punggung tangan kedua mertuanya tersebut.
"Wa'alaikum salam, hati-hati ya?" balas kedua mertuanya dengan serempak.
Sebelum pergi, Rendy sempat dipeluk oleh Oma dan opanya, mereka merasa berat untuk berpisah kembali namun apa boleh buat.
"Hati-hati Jefri, jangan ngebut!" pinta kedua orang tuanya ketika Jefri menyalakan mesin motor milik Renita, beberapa saat kemudian Jefri pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang setelah Renita dan Rendy neradandi motor yang sama.
Jefri membonceng Renita yang duduk di belakang, sementara Rendy duduk di depan sambil berceloteh sendiri.
Renita menghela nafas dalam-dalam. Sekilas melihat bangunan rumah mertuanya.
Setelah di tengah-tengah perjalanan, Renita pun meminta Jefri berhenti untuk istirahat sejenak, dan memilih istirahat di sebuah orang makan.
Jefri pun menuruti permintaan dari sang kakak ipar. Lagian ada baiknya istirahat untuk menghilangkan rasa penat dan lelah.
Renita pun memesan makanan untuk mereka bertiga sesuai dengan seleranya masing-masing.
"Makan dulu Jefri, karena perjalanan itu butuh tenaga dan tenaga butuh asupan!" kata Renita dengan bibir tersenyum sambil mengaduk-aduk makanannya dengan tangan.
"Oh iya. Makasih ya Mbak." Jefri pun membalas senyuman dari sang kakak ipar ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa like comment dan dukungan lainnya ya, makasih banyak dan mohon maaf jika ada banyak typo nya 🙏
__ADS_1