Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Interogasi


__ADS_3

Saat ini hari dah sore dan Malik menjanjikan akan mengajak Renita dan keluarga untuk makan malam bersama, di sebuah restoran dan itu memang janji Malik kepada Rendy.


"Tidak apa-apa emangnya kau mengajak kami makan malam di restoran?" tanya Renita pada Malik yang berada di ujung sebuah ruangan.


"Emangnya kenapa? hingga bertanya begitu segala?" Malik balik bertanya.


"Em ... nggak ... aku cuma tidak ingin keluarga mu kehilangan dirimu." Kata Renita tidak ingin keluarga Malik mencari-cari.


Malik menatap lekat ke arah janda beranak satu itu. "Aku tidak akan menelantarkan keluarga ku dan kamu jangan khawatir. Aku pasti memproritaskan keluarga ku!"


"Bagus lah kalau begitu." Renita mengangguk seraya menatap ke arah Malik yang sering menatap dirinya dan entah tatapan mengandung apa.


"Bunda ... aku dah siap ... ganteng gak?" Rendy mendatangi bunda dan Malik.


"Oh, iya ... dah ganteng lho ... dah cakep." Bunda nya mengucap pucuk kepalanya Rendy.


"Pangeran kecil, sudah cakep mau kemana?" tanya Malik yang menatap datar.


"Lho, kan mau sama Papa,


pergi makan malam!" anak itu merengut, dia kira kalau Malik lupa.


"Kapan Papa mengajak Rendy makan malam di restoran?" Malik mengerutkan keningnya menatap ke arah anak itu yang ekspresi nya sudah agak aneh.


Renita menoleh pada keduanya bergantian. Sheila datang menghampiri mbak dan keponakannya yang sedang mengobrol dengan Malik.


"Kan kemarin papa bilang begitu ... apa papa lupa itu? ach Papa jahat." Wajah Rendy semakin merengut sbil menghentakkan kakinya ke lantai.


Bibir Malik menyungging dan berjongkok membingkai wajah Rendy yang tidak bersahabat. "Pangeran kecil ku ... Beneran! Papa sudah janji sama Rendy dan janji itu harus apa?"


"Janji itu harus di tepati. Tidak boleh di ingkari. Itu kata Papa juga, jadi laki-laki itu harus bisa menepati janji!" timpalnya Rendy sembari menatap lekat ke arah Malik.


Malik tersenyum lebar lalu memeluk bahunya Rendy. "Benar sekali, laki-laki itu harus bisa dipegang janjinya, harus pandai menepatinya. Sebisa mungkin, kecuali benar-benar tidak bisa!"

__ADS_1


"Abang, emangnya istri Abang tidak marah ya! kalau Abang sering datang ke sini?" Sheila mulai menyelidiki.


Malik menoleh pada Sheila yang menatap penuh interogasi. "Buat apa marah? saya tidak melakukan salah, saya tidak melanggar hukum dan saya tidak mengkhianati seseorang!"


Perkataan Malik membuat Sheila semakin menurunkan keningnya, dia tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Malik.


Sementara Renita, dia hanya terdiam dan tertunduk dalam sambil memainkan jari jemarinya yang lentik.


"Jujur saya tidak mengerti dengan maksud Abang, abang kan sering datang ke sini. Emangnya nggak pernah ditanyakan oleh istrinya atau keluarganya?" tanya kembali Sheila.


"Em ... Saya rasa tidak perlu saya jawab kembali, karena jawaban yang tadi sudah cukup bagi saya! saya tidak merugikan siapapun! ok, kita berangkat sekarang dan mana yang lain?" Malik menoleh ke arah ruangan lain di mana keluarga Renita masih di dalam sana.


Kemudian mereka pun berangkat dengan menggunakan dua mobil, yang satu mobil Malik dan yang satu mobil bawaannya Jefri yaitu mobil keluarga.


Mereka memilih makan di sebuah restoran mewah, namun menunya Indonesia, maklum membawa dua pasang orang tua! kalau di bawa ke restoran Jepang atau yang menurutnya aneh-aneh! takutnya mereka nggak mau makan.


Tapi kalau Rendy, Malik Sheila Jefri serta sang istri, Renita! makannya steak daging sama kentang.


Tetapi selesai makan, apa yang terjadi. Ibunya Azam menangis, dia sedih, coba saja yang baik seperti itu adalah Azam! membawa istrinya. Membawa orang tuanya jalan-jalan dan makan-makan, tapi ini bukan.


"Bu ... nggak baik nangis di sini. Lagian ngapain di tangisi? udah kayak gini buktinya! sama kita aja dia nggak ingat, sudahlah jangan dibawa risau, tenang. Sabar biarkan saja! dia nanti juga dia sadar, tentunya dia akan kembali kepada kita sebagai orang tuanya." Kata sang suami.


"Iya besan, ikhlaskan saja dengan apa yang ada, semoga saja Azam cepat sadar dan mengingat kembali keluarganya dengan baik!" timpalnya sang ibu Renita sambil mengusap punggung besannya tersebut.


Malik menatap ke arah orang tua itu sambil berkata. "Anggap saja saya ini anak ibu juga."


Tangis ibunya Azam semakin menjadi dan memeluk suaminya yang merasa terharu. Mendengar perkataan dari Malik.


Malik pun beranjak dan menghampiri dan merangkul ibunda Azam. "Bu ... anggap saja aku ini putra ibu, jadi jangan sedih."


Di tempat yang sama, namun di ujung yang dekat pintu! ada keluarga kecil yang sedang makan malam juga. Yaitu Azam dan Sharon, mereka menjual dan juga kedua kedua putra-putrinya sedang makan di restoran yang sama dengan keluarga Renita.


"Sayang, gimana makanannya enak nggak?" tanya Azam kepada Sharon.

__ADS_1


"Em ... nyammy ... enak sekali iya kan sayang Rara, Deris!" Sharon menatap ke arah putra dan putri.


"Baguslah kalau kamu suka!" Azam menganghukan kepalanya.


"Oho ... aku suka sekali. makanya sering-seringlah bawa aku ke sini jangan pas aku ulang tahun aja 1 tahun sekali!" sambungnya Sharon.


"Kalau sering-sering sih ... jangan, nanti dompetku jebol. Mendingan kamu masak di rumah yang enak-enak--"


"Aduh ... Mas, bukannya aku nggak suka masak! percuma dong aku pergi ke salon. Jika rusak di pakai masak." Sharon ingin memperhatikan kupu-kupu yang cantik sembari menggendong Deris.


"Tapi memasak itu lebih irit, biarpun enak-enak! tidak seperti dari restoran langsung yang harus merogoh kocek lebih dalam." Tambahnya Azam.


"Oh tidak-tidak, Aku tidak mau! percuma dong, aku merawat diri ke salon untuk membuat kamu bangga dan seneng kalau kamu punya istri yang cantik seperti aku!" Sharon menggeleng dan tidak setuju Azam suruh memasak di rumah.


"Azam!" suara sang ibu yang melihat putranya.


Azam kaget dan langsung menoleh ke arah pasangan suami istri yang sedang manatap terhadap dirinya dengan tatapan yang nanar dan tampak gembira.


"Ibu, bapak kenapa ada di sini?" tanya Azam menatap heran pada pasangan suami istri itu sambil berdiri.


Sang Ibu langsung memeluk Azam, bagaimanapun hati seorang ibu tidak dapat dipungkiri, dia merasa rindu pada putranya yang selama ini sulit dihubungi dan sulit ditemui.


"Ibu sering ingin bertemu dengan mu, dihubungi pun kamu itu sulit ... kenapa kamu melupakan kami sebagai orang tuamu?" ucap sang ibu dengan lirih dan bergetar menahan tangisnya.


"Sebenarnya kamu tinggal di mana Zam? dan kamu tega ya? nggak pernah mengingat anak mu, apalagi menjenguknya! dia darah dagingmu jam jangan disia-siakan! kasihan dia!" timpal sang ayah.


"Sebenarnya kalian di sini sedang apa?" selidiknya Azam sambil mengedarkan pandangannya ke arah lebih dalam dan dia melihat keberadaan Jefri dan keluarganya Renita yang berada di sana.


"Siapa mereka, Mas?" Sharon berdiri sambil menggendong putranya, bertanya tentang pasangan suami istri tersebut yang Azam panggil ibu dan bapak.


Kedua orang tua Azam menoleh ke arah Sharon, dan dia langsung berpikir pasti ini istrinya Azam.


"Oh, dia pasti istrinya kamu Zam? yang sudah mencuci otak kamu sehingga kamu lupa sama keluarga kamu sendiri, darah daging mu sendiri?" sang ayah menggeleng.

__ADS_1


Begitupun ibunya Azam yang menatap tajam ke arah Sharon, tatapan yang meneliti dari atas sampai bawah, yang tidak luput sedikitpun dari pandangannya. Wanita yang sangat jauh berbeda dengan Renita ....


__ADS_2