
Setibanya di rumah ... dalam ke adaan dah malam dan katanya Azam pun sudah pulang karena sudah terlalu malam.
"Tamu nya dah pulang ya?" tanya Malik pada bibi karena ibunda sudah tidak nampak di sana.
"Sudah pulang, Den ... 1 jam yang lalu." Jawabnya bibi lalu kemudian ngeloyor ke belakang.
"Kita terlalu malam pulang nya, jadi kita pap Azam keburu pulang. Rendy." Malik menoleh pada Rendy yang tampak capek.
"Em ... biar saja Pah, lain kali kejutan pasti bertemu lagi kok." Balasnya Rendy lalu bergegas ke kamar untuk beristirahat.
"Oke, kita ke kamar sayang!" Malik mengiring sang istri langsung pergi ke kamar nya.
"Capek sekali nih tubuh ku. Kaki pegal-pegal gini!" keluh Renita sambil menyimpan tas nya di atas nakas.
"Sekarang mandi lah dulu dengan air hangat, nanti ku pijitin." Kata Malik sambil membuka jaketnya yang lantas dia gantung di tempatnya.
"He'em. Aku mau mandi tapi malas dingin dan malas jalan." Renita duduk di ujung tempat tidur.
Malik menarik kedua sudut bibirnya yang di arahkan pada Renita, lantas membungkuk menggendongnya ke dalam kamar mandi.
Dengan refleks tangan Renita merangkul pundaknya Malik tatkala tubuhnya melayang di udara bersama langkahnya yang lebar dari Malik.
"Aku bisa sendiri." Gumamnya Renita sambil menatap suaminya.
"Katanya malas jalan dan lainnya. Sudah, jangan banyak bicara. Aku bisa kok memandikan dirimu." Malik menurunkan Renita setelah berada di dalam kamar mandi.
Akhirnya mereka membersihkan diri bareng-bareng, setelah sekitar 20 menit kemudian. Mereka pun menyudahi ritual mandi nya dan setelah itu Malik memijit kaki Renita dengan lembut.
Renita merasa nyaman dengan pijitan dari tangan suaminya, Malik. Sehingga dia merasa santai dan rileks.
"Sudah, cukup. makasih ya?" Renita meminta Malik untuk menyudahinya.
"Sudah merasa rileks ya sayang!" Malik pun menarik tangannya dari kaki Renita.
"Hooh, sudah." Kemudian mereka pun langsung membaringkan diri untuk beristirahat.
Malam semakin larut dan semakin menjelang pagi Dan ... karena ini hari libur membuat mereka bersantai di rumah.
__ADS_1
Sekitar pukul sepuluh siang Azam datang lagi dan kali ini sendiri untuk menjemput Rendy yang ingin dia ajak jalan.
Kedua pun pergi setelah berpamitan dengan Renita dan Malik. Rendy berlari memasuki mobilnya Azam yang katanya mau mengajak dia ke tempat wisata.
Azam melakukan mobilnya setelah mereka berdua mengenakan sabuk pengaman.
Di tengah perjalanan. Rupanya Azam mampir di suatu tempat menjemput Shopia dan Genta yang sudah menunggu kedatangan Azam.
Shopia terdiam melihat Rendy yang duduk di jok depan. sementara Dia terpaksa harus duduk di belakang bersama putranya Genta, mau ngomong atau menggeser! menyuruh untuk pindah gak enak sama papanya tapi dalam hatinya tetap menggerutu.
"Enak banget dia duduk di depan, sementara aku harus di belakang, awas! lihat aja nanti," Gerutu Shopia sambil menempelkan bokongnya di kursi belakang.
Rendy menoleh ke arah belakang. yaitu ke arah Genta. "Genta?"
Genta hanya tersenyum tipis dan dia tidak terlalu kenal. Lagian dulu ketika suka main bereng masih kecil banget.
Sesaat Rendy menatap ke arah Genta yang malah asik bermain dengan gadget nya. Shopia mengatupkan bibirnya serta berpura-pura melihat ke arah depan.
"Sudah duduknya? kita jalan sekarang!" tanya nya Azam yang diarahkan kepada Shopia.
Wanita itu hanya mengangguk pelan tanpa melihat ke arah Azam yang bertanya dan mengajaknya bicara.
Mereka pun menikmati waktu di tempat tersebut. Di depan Azam sikapnya Sophia begitu ramah dan baik, makanan apapun ditawarin untuk beli.
Akan tetapi di belakang papanya semua lain dan berbeda. Seperti sekarang, Shopia sedang berkata pada Rendy.
"Jangan mentang-mentang kamu putranya ya, bisa duduk seenaknya di mobil. Saya calon istrinya dan saya lebih berhak duduk di samping papa mu bukan kamu, kamu duduk saja di belakang sama Genta!" ucapnya Shopia disertai tetapan yang tajam kepada Rendy yang 0enuy dengan kebencian.
"Oh ... tadi kenapa nggak bilang Tante ... kalau pengen duduk di depan! seharusnya Tante bilang aja tadi, biar aku sendiri pindah ke belakang!" Sahutnya Rendy.
"Kamu tidak perlu menjawab, saya tidak suka anak kecil seperti kamu menjawab omongan saya! saya ini sebentar lagi menjadi istri papa mu! otomatis jadi orang tuamu juga, jangan suka membantah omongan saya. Saya tidak suka." Shopia semakin menajamkan pandangannya pada Rendy yang kini menunduk dalam.
"Ngerti tidak? jangan cuman menunduk begitu. Percuma kalau nggak ngerti!" tambahnya Shopia.
"Baik, baik Tante, Rendy mengerti." Anak itu menganggukkan kepalanya dengan gerakan kepala yang sangat pelan.
Rupanya Sophia tidak merubah dari dulu sampai sekarang sama saja, dia tidak suka dengan keberadaan Rendy. Padahal semuanya baik-baik saja, apa sih yang menjadi kesalahan Rendy sehingga dia tidak suka.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tiba-tiba suara Azam berada di belakangnya Shopia dan Rendy.
Shopia sangat kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara, dimana ajam berdiri menatap tajam ke arah dirinya. "Enggak Sayang enggak ada apa-apa, Rendy ya? kita nggak ada apa-apa kan? kita cuman lagi bikin janjian kita mau makan di mana!"
Azam menoleh ke arah putranya yang tampak tersenyum tipis. "Aku curiga kalau Shopia bilang yang macam-macam pada putra ku." Batinnya Azam tanpa di ungkapkan dalam hati.
"Sayang, aku tuh lagi ngajak Rendy untuk makan malam bersama! nanti kan pulang dari jalan-jalan kita pasti makan malam dulu di luar kan ..." Shopia menyentuh tangan Azam dengan halus.
"Ya udah kita jalan-jalan lagi, Rendy ayo Nak?' Azam mengulurkan tangannya pada Rendy.
Kini Azam dan yang lainnya sedang berada di sebuah restoran untuk makan malam terlebih dahulu, sebelum mereka pulang.
Disela makannya, Azam berdiri dan berpamitan untuk ke toilet sebentar. "Aku mau ke toilet sebentar ya? titip Rendy, kalian lanjutin aja makannya kalau mau nambah pesan aja lagi! nggak pa-pa kok!"
"Iya sayang ... jangan lama-lama di toilet nya ya," Shopia sambil mesem.
"Iya nggak lama, cuman sebentar kok. Rendy sama tante ya papa mau ke toilet dulu sebentar aja!" Kemudian Azam berjalan meninggalkan mejanya dengan tujuan untuk ke toilet.
Azam yang ditinggalkan oleh sang ayah merasa deg-degan. Rasanya kepalanya begitu berat untuk mendongak, ia terus saja menunduk sambil menikmati makannya.
"Eh Rendy kamu jangan pernah ngadu ya sama papa mu. Soal apapun itu, kalau kamu berani ngadu ... lihat saja! saya bisa lebih jahat sama kamu!" Shopia berucap sambil celingukan takutnya si Azam balik lagi.
Rendy memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. "Tante, Rendy punya salah apa sih? segitu bencinya tante sama Rendy, bukannya tante mau menikah sama papa jadi kan Tante harus sayang juga sama Rendy sebagai anak Papa."
"Apa, saya harus sayang sama kamu? Ha! yang ada Saya benci sama kamu benci sama ibu kamu, karena kalian berdua sudah merebut kebahagiaan saya bersama Malik." Sophia semakin membelalakkan kedua manik matanya dengan sangat sempurna kepada Rendy.
Bukan cuman itu saja tangan Sofia pun mendorong bahunya Rendy. "Dengar ya? kebencian saya tak akan pernah hilang sampai kapanpun sampai mati sekalipun! karena waktu itu saya sedang bahagia bersama putra saya, tapi tiba-tiba kalian itu hadir dalam kehidupan saya dan Malik!"
"Tante, Tante itu saudaranya Papa Malik nggak mungkin Tante sama papa Malik bisa menikah! kenapa Tante begitu membenci Bunda sama aku?" Anak itu kembali berkata.
"Saya tidak peduli, yang jelas saya ingin selalu bersama Malik. Waktu itu saya sedang bahagia sama dia kenapa kalian hadir dan merampas semuanya ha?" pekiknya Shopia yang tertahan.
Sementara Genta, dia tidak peduli dengan pembicaraan mama nya dan Rendy, dia asik saja menikmati makannya.
"Jadi jangan pernah kamu bermimpi untuk saya bisa menyayangi kamu sekalipun kamu itu anak dari suami saya nantinya! dan bagus-bagus kamu itu emang jarang ketemu saya dan suami saya, karena kalau sering-sering muak perut saya lihatnya!" Tambahnya Shopia semakin jelas dan menunjukan kebenciannya pada Rendy.
Rendy hanya menunduk dalam tangannya mengaduk-aduk makanan di piring, dia sudah tidak berselera untuk makan lagi hatinya merasa sakit ....
__ADS_1
.
Bersambung.