Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Rujuk


__ADS_3

Yusna benar-benar dibikin geram dengan keadaan, rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya. dengan susah payah menelan saliva nya sendiri untuk memberi rasa segar pada tenggorokan yang terasa begitu kering.


"Kamu tahu, aku itu sayang sama kamu, dan kita menikah bukan 1 2 tahun saja. kamu tega!" Yusna memukul badan setir.


Mobilnya terus melaju dengan cepat membelah jalanan yang ramai yang kebetulan waktunya pulang kantor.


...-----...


Anto tidak bisa berkutik disaat hakim ketuk palu mengesahkan bahwa pernikahannya dengan Yusna berakhir di situ. Dia menunduk dengan rasa penyesalan yang memenuhi rongga dadanya.


Biarpun dia ada pembela yang mendampingi, tetapi tetap kalah dan tidak mendapatkan apapun dari Harta gono-gini, selain mobil kesayangannya itu.


"Terima kasih Mas, kamu sudah menunjukan siapa dirimu yang sebenarnya." Gumam Yusna sambil terus menyetir mobilnya.


...-----...


Sebulan kemudian, Anto terpuruk mobil habis. Uang tidak ada. Kerja pun di keluarkan oleh Yusna dari kantor. Hingga pada suatu hari Anto datang ke rumah Yusna.


"Ada apa Mas? anak-anak sedang sedang ada acara di luar." Ketus Yusna sambil mendudukan bokongnya di sofa bersebrangan dengan Anto yang duduk condong menumpukan kedua siku di atas pahanya.


Terlihat Anto menghela nafas dalam-dalam, dia menatap ke arah Yusna dengan meneliti. Wanita yang kini sudah menjadi mantan. "Saya ingin bertemu kamu, lama kita tidak bertatap muka seperti ini. Kangen rasanya!"


"Pretttt ... Oo. bullsit." Yusna mengerlingkan matanya. Walaupun sudah punya anak dewasa dan pantas mempunyai cucu, Tetapi wanita itu masih tampak cantik. Apalagi setelah berpisah dari Anto semakin sering keluar masuk salon untuk merawat diri.


"Serius, aku menyesal dan aku minta maaf atas semuanya. Aku khilaf." Anto tampak serius dan bersungguh-sungguh.


Sejenak keduanya saling bersitatap. Yang kemudian Yusna membuang mukanya ke samping. "Itu saja yang ingin kau katakan?"


"Em, dengan rendah hati ... aku ingin mengajak mu rujuk!" Anto menggenggam tangan Yusna yang langsung di tepisnya.


"He! ngapain kau mau rujuk dengan ku? bukannya kalian mau menikah, kamu itu akan menikah dengan selingkuhan mu kan?" Yusna menatap tajam.


Dengan malu-malu Anto nyengir. "Aku gak jadi menikahinya--"


"Karena kamu sudah kere dan si wanita ga-ta-l itu tidak mau sama kamu. Sebab tidak ada yang bisa di harapkan dari pria kere macam kamu!" potongnya sambil menyandarkan punggung di bahu sofa.

__ADS_1


Anto tidak menjawab, dia tidak tahu harus menjawab apa? berhibung realitanya memang seperti itu, Shopia meninggalkannya karena sudah tidak punya apa-apa. Tinggal pun sama orang tua, dan dari punya mobil sekarang cuma punya motor doang.


Memanglah benar, sebagian pelakor hanya menginginkan harta saja, dia menyanjung-nyanjung, mengejar-ngejar pria yang sudah mapan! setelah tak punya apa-apa lagi si pria ditinggalkan, karena tak ada yang pantas diharapkan lagi. Apalagi di zaman sekarang hidup tidak bisa cuman makan cinta! segalanya menggunakan uang. Laki-laki yang tak ber'uang tentunya akan ditendang sesuai kebutuhan.


"Aku menyesal sudah mengkhianati kamu, sangat menyesal dan sekarang aku baru sadar kalau kamu lebih baik--"


"Pretttt ..." Yusna menjulurkan lidahnya pada Anto. "Sudahlah nggak usah banyak basa-basi. Aku muak, bukan kah aku itu sudah tidak segar. Dah longgar, bosan! monoton, gak punya gaya dan sebagainya."


Anto bengong mendengar kalimat yang terucap dari bibir Yusna.


"Sudah lah, Mas. Aku sibuk! masih banyak pekerjaan yang ku bawa ke rumah dan untuk ajakan mu itu. Terima kasih, tapi maaf ya! aku nggak bisa--"


"Tapi seandainya kita bersatu kembali ... anak-anak pasti senang mereka pasti bahagia orang tuanya kumpul kembali dan kamu jangan egois, ini demi kebahagiaan anak-anak juga--"


"Kamu tidak perlu mengatakan aku egois, karena kamu sendiri yang membuatnya, emang kamu tidak egois? berbulan-bulan kamu selingkuh dengan wanita ja-la-ng itu, kalau harus kubilang. Aku jijik sama kamu, bahkan jijik ku melebihi melihat ulat sekalipun. Jadi jangan mengatasnamakan anak-anak untuk kita bersatu." Yusna melambaikan tangan di udara.


"Tapi," Anto tidak meneruskan ucapannya.


"Cukup, Mas. Aku tidak butuh alasan apapun, silakan keluar dan pintu masih terbuka." Usir Yusna, berdiri dan berjalan mendekati pintu.


"Aku sudah maafkan kamu kok, tapi bukan berarti mau rujuk. Rasa sakit yang aku rasakan masih belum kering dan jangan dibuat luka lagi!" Yusna sambil menatap ke arah luar.


Anto memandangi Yusna dengan tatapan yang sulit di artikan. "Baiklah aku pulang dulu, salam buat anak-anak."


Yusna tidak menjawab, yang kemudian menutup pintu utama setelah Anto keluar berapa langkah dari rumah tersebut.


Huuh ... Yusna membuang nafasnya yang seakan berat.


"Mbak, Mbak melamun!" suara Renita membuyarkan lamunan Yusna.


"Ah nggak, aku gak melamun kok. Oya, aku mau pulang dulu." Yusna beranjak dari duduknya.


"Kenapa nggak nginep saja? lama kita tidak berkumpul di sini," Renita menatap lekat pada Yusna.


"Nggak, lain kali saja. Masih banyak kerjaan di rumah," Yusna kekeh berpamitan lalu mengajak putra dan putri nya yang sudah dewasa dan sudah mulai bekerja di perusahaan sang bunda.

__ADS_1


Malik yang baru saja masuk ke ruangan tersebut, menatap ke arah sang kakak. "Mbak mau ke mana?"


"Mbak mau pulang, sudah sore!" Pamit Yusna sambil menoleh pada sang adik.


"Ooh, ya sudah hati-hati saja." Malik mengangguk kemudian mengantarkan sang kakak ke teras.


Pada malam hari ini berpamitan pada sang Bunda juga papanya. "Pa, Bun. Aku mau pergi dulu ya? nggak lama kok ... aku cuman janjian makan doang sama temen-temen, di cafe tempat biasa!"


"Baiklah tapi jangan ngebut-ngebut ya dan jangan macam-macam, jagalah diri baik-baik!" pesan sang Bunda pada Putra sulungnya tersebut.


"Rendy sudah besar, Bun ... dia sudah bisa menjaga dirinya sendiri, jangan terlalu khawatir ... berilah anak itu kepercayaan!" kata Malik sambil menoleh pada sang istri.


"Rendy akan selalu ingat pesan Bunda kok, juga pesan Papa. Insya Allah aku akan bisa menjaga diri dan bisa memilah dan memilih!" lalu kemudian Rendy pun menyalami keduanya dengan penuh hormat dan setelah itu barulah dia berlalu mendekati motornya.


.


.


Semenjak hubungannya dengan Anto renggang, sebab tak ada lagi yang bisa diharapkan dari Anto karena dia sudah nggak punya apa-apa lagi.


Kini wanita itu tengah di bawah pohon rindang, sambil memikirkan gimana nasibnya yang tidak ada perubahan sama sekali, dan ini harus menghidupi putarannya yang semata wayang yaitu Genta! yang kini sudah berusia remaja dan sekolah menengah atas.


"Ya ampun ... kenapa ini? kok gatal-gatal itu aku, apalagi di bagian sela-ng-kan-gan. Lebih-lebih natalnya," tubuh Shopia bergerak-gerak dan bingung mau digaruk malu, karena di sana ada berapa orang yang sedang berteduh.


Tidak digaruk pun tersiksa. Dan setidaknya dengan berjalan sedikit pergerakan rasa gatalnya berkurang.


Shopia menjadi kebingungan karena semakin lama rasa gatal itu tidak hilang juga, terserah dan bikin gemes pengen menggaruk sekuatnya.


"Aduh, gimana ini masa harus garuk-garuk itu di depan umum sih?" Gumamnya Shopia sembari mengusap-usap tangannya yang sedikit terasa gatal juga.


Hingga pada akhirnya sebelum pulang ke rumah, dia mampir ke apotek untuk membeli obat gatal dari mulai tabur tablet juga oles ....


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2