Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Talak 3


__ADS_3

"Yang seharusnya marah itu kami, Mas, kamu yang apa-apaan? kurang apa Mas, istri mu cantik. Anak lucu dan sehat, kau masih juga bermain di luar! dengan wanita lain." Sahutnya Jefri sambil berdiri dari duduknya.


"Kalian tidak perlu datang dan mempermalukan ku di hadapan orang banyak." Teriak Azam sambil kini mengarahkan pandangan pada Renita dengan sorot mata yang sangat tajam seolah ingin menerkam.


"Terus kalau tidak datang kesana, mau sampai kapan, Mas? sementara bila tidak tertangkap basah! kau tidak akan mau mengakui akan kesalahan mu." Ungkap Renita sambil menghampiri.


"Tapi tidak perlu kamu permalukan saya seperti itu! jadi selama ini kamu memata-matai ku?" suara Azam tiba-tiba semakin tinggi.


"Mas, malu dipermalukan di depan orang banyak? sekarang apa Mas tidak malu? teriak-teriak begini hingga nanti kedengaran orang-orang sini yang tidak tahu apa-apa. Dan akan tahu apa-apa!" seru nya Renita menatap dengan tatapan jijik mengingat kejadian tadi.


"Mas, Mas nggak perlu marah-marah apalagi berteriak! seharusnya Mas menyadari kesalahan Mas itu apa Mas, meminta maaf kalau Mas sudah berbuat salah. Sadar Mas ... kalau Mas sudah melakukan dosa dan jujur Aku jijik melihatnya!" Renita membuang mukanya ke samping.


Dengan waktu singkat Renita hilang rasa kepada suaminya! apalagi mengingat kejadian yang sore tadi bikin bergidik jijik, sangat bikin mual perut Renita.


"Aku juga jijik sama kamu, bosan dan tidak menggairahkan. Terlalu monoton! gitu-gitu saja. Tidak pernah mengerti dengan yang aku inginkan!" bentak Azam yang membuat Renita tercengang.


Air mata Renita tiba-tiba deras mengalir, seiring rasa sakit di dadanya! menerima penghinaan seperti itu dari suami yang selama ini dia cintai dan dia hormati.


"Kamu tega, Mas. Bilang seperti itu sama aku! seharusnya jika ada yang kurang itu bilang ... ngomong baik-baik! bukan begini caranya. Kamu bilang seperti itu karena kamu sudah mendapatkan yang lain, apa kamu tahu Mas kamu melakukan yang salah. Kamu sudah melakukan zina dengan perempuan itu. Di mana Mas Azam yang dulu begitu alim? begitu mengikuti alur agama di mana sekarang, Mas?" suara Renita bergetar sambil menangis sungguh sakitnya sampai ke dulu hati.


"Kenapa Mas tega melakukan itu, Mas? benar dengan yang dikatakan Mbak Renita. Dimana Mas yang dulu? yang tahu betul tentang agama! yang tahu baik dan buruknya, kenapa sekarang Mas melakukan seperti itu? berdosa, Mas!" tambahnya Jefri.


"Berdosa atau tidak berdosa! itu urusan saya, bukan urusan kamu dan kamu. Urus saja urusan kamu sendiri!" Azam menunjuk-nunjuk ke arah Jefri dan Renita bergantian.


"Mas, aku istri kamu dan kita harus saling mengingatkan jika salah satu pasangan membuat kesalahan--"


"Benar, Mas, saya adik kamu! saya juga berhak mengingatkan kamu meluruskan jalan kamu, bukan kebalikannya. Membiarkan kamu dalam jurang dosa!" Jefri menimpali perkataan dari Renita.


"Saya akan menikahi wanita itu, ada izin atau tidak ada izin dari kamu, saya akan tetap menikahinya." Azam menatap tajam ke arah Renita.

__ADS_1


Renita membalas tatapan Azam dengan tatapan yang penuh air mata. "Mas Apa kau yakin akan menikahinya? bagaimana dengan rumah tangga kita? yang sekian lama kita bina dan kamu tega membiarkan Rendy jauh dari kamu, Mas tidak perlu memikirkan aku. Setidaknya Mas memikirkan putra kita Rendy."


"Siapa juga yang memikirkan kamu? kan sudah saya bilang, kamu itu selalu monoton dan tidak menggairahkan lagi. Aku sudah mati rasa dari sejak lama." Azam tak ragu-ragu mengatakan demikian kepada istrinya.


Lagi-lagi perkataan Azam bagaikan petir di tengah hari, menghantam tubuhnya Renita. "Kamu bilang begitu, karena kamu punya yang baru. Nggak mungkin kamu bicara seperti itu kalau gak ada yang baru kan? kalau kamu nggak punya perempuan ****** perebut suami orang, apa kelebihan perempuan itu? karena pandai merawat diri. Dan apa kebaikan dia? apakah karena sering memberikan miliknya di saat kamu mau dengan cara yang masih haram? bak perempuan gatal dan murahan, itu yang kamu suka ha? perempuan yang jadi kebanggaan kamu--"


Plak ....


Tiba-tiba tamparan keras menghantam wajah Renita dengan tangan Azam sendiri, yang baru pertama kali dia lakukan!


Azam merasa marah dan murka, karena Renita sudah mengatakan kalau perempuan yang saat ini dia cintai adalah perempuan gatal, perempuan ******. Alias tidak terhormat.


Jefri terkesiap melihat Renita di tampar oleh sang kakak. Sampai tubuhnya Renita oleng ke samping sambil memegangi pipinya dan Jefri langsung mendekati Renita agar mundur.


Tubuh Renita sedikit menunduk, mengusap pipinya yang terasa panas dan menetes darah segar dari sudut bibirnya. Ia mundur seiring dengan di tariknya oleh Jefri.


Rendy yang sedari tadi terdiam di kursi meja makan, akhirnya menjerit melihat bundanya di tampar sang ayah yang baru kali ini melihat pemandangan tersebut.


Azam yang baru menyadari kalau putranya berada di sana, melongo dan terdiam begitu saja.


"Mas, jangan semena-mena kepada perempuan. Mas, ingat kalau kita punya ibu dan saudara perempuan." Jefri berdiri di depannya Renita yang berdiri memeluk Rendy.


"Aku tidak sudi di madu! sekarang kau harus pilih aku atau dia? kalau pilih aku, tinggalin dia! dan kita bina keluarga seperti dulu lagi. Tetapi jika kamu memilih janda itu ... ceraikan aku, Mas! dan pastikan rumah ini adalah miliknya Rendy!" tegasnya Renita dengan terpaksa mengucapkan kalimat cerai, sembari menatap nanar ke arah Azam dan mengusap sudut bibirnya yang terus bercucuran darah.


"Baik, dan ... saya dengan yakin akan memilih wanita itu dan dijadikan istri saya. Dan kamu ... Renita binti Jumadi, saya ceraikan kamu dengan talak 3." Azam berucap talak dengan tanpa ragu.


Ucapan talak dari Azam, lagi-lagi bagai suara ombak yang menghantam karang. Bak petir yang menyambar saling beriringan dan suaranya begitu menggelegar, menyakitkan pendengaran.


"Dan rumah ini memang miliknya Rendy, saya nggak akan bawa apapun! yang akan saya bawa adalah mobil dan barang kerjaan saya! motor juga memang milik kamu dan itu hasil tabungan kamu." Akhirnya Azam lebih memilih janda itu dan menjanda kan istrinya sendiri.

__ADS_1


Tubuh Renita merosot dengan kasar, terduduk di atas sofa sambil memeluk putranya yang terus menangis.


"Bunda, Papa jahat sudah nyakitin Bunda. Rendy nggak suka, Rendy gak sayang lagi sama papa, Papa jahat! Rendy benci sama papa." Suara anak itu yang terdengar jelas, biarpun sambil menangis.


"Mas, kenapa nggak dipikirkan lagi Mas? sungguh sangat disayangkan, Mas. Kata-kata itu terlalu cepat Mas ucapkan, seharusnya dipikirkan dengan matang-matang, Mas." Ungkap Jefri yang sangat menyayangkan dengan kata-kata yang sudah Azam lepaskan, sebuah kata yang tidak bisa ditarik kembali.


Dengan kata-kata yang sudah diucapkan oleh Azam, jatuhlah talak kepada Renita dan lepaslah Renita sebagai istrinya di mata agama.


"Tidak ada yang perlu saya pikirkan lagi, kan itu yang dia mau bukan? dan keputusan saya sudah bulat, kalau saya akan menikahi pujaan hati saya dan melepaskan dia sebagai istri!" Azam mengarahkan pandangannya pada Renita yang sedang menangis memeluk putranya.


Jefri tidak dapat berkata-kata lagi, dia hanya menggelengkan kepalanya. Menyesali yang sudah terjadi, menyayangkan kalau sang kakak melepaskan Renita demi wanita lain. Yang istilahnya menjanda kan istri demi janda lain.


"Aku yakin! satu waktu kau akan menyesal, Mas telah menyia-nyiakan istri dan anak mu, hanya demi wanita lain yang belum tentu bisa seperti istri yang sudah-sudah!" ucap kembali Jefri.


"Sudahlah, tidak usah mengurusi urusan ku! urus saja urusan mu sendiri," ucap Azam membalikan tubuhnya dan memasuki kamarnya.


Jefri mendekati sang Kakak ipar. "Mbak yang sabar ya? Mbak harus kuat hadapi semua ini. Demi Rendy demi Mbak sendiri, aku yakin Mbak akan menemukan seseorang yang lebih baik dari Mas Azam."


Renita tidak menjawab dia terus menangis sambil memeluk putranya yang juga menangis tersedu.


Entah apa yang dilakukan oleh Azam di kamarnya karena tidak lama kemudian ... Azam keluar kembali dengan membawa dua koper besar dan tas nya.


"Kita akan bertemu lagi di pengadilan, saya tunggu!" kata Azam sambil berjalan menarik kedua kopernya ke arah pintu keluar.


Renita mengusap wajahnya yang banjir dengan air mata dan terlihat menahan Saliva nya mendengar kata-kata itu dari Azam.


Azam berlalu begitu saja tanpa menghiraukan putranya, seolah-olah tidak mengenali dan tidak mengingat kalau dia itu punya Putra dari pernikahannya dengan Renita.


Membuat hati Renita semakin hancur tak berkeping, oke dia mati rasa sama istrinya dan sekarang sudah menjadi mantan istri, tapi bukan berarti dia harus melupakan putranya yang jelas-jelas tidak ada kata mantan ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Mohon dukungannya ya seperti like komen dan yang lainnya Makasih sebelumnya.


__ADS_2