Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Lamaran Azam


__ADS_3

"Tas ku?" teriak nya Renita yang tasnya di jambret orang.


Renita berlari, di susul oleh Rosita yang merasa panik, melajukan kursi roda nya.


Renita di tengah mengajar orang yang menjambret tasnya, dia teringat sama Rosita sehingga dia menoleh ke arah belakang di mana Rosita menyusulnya.


"Kamu jangan ikut, tunggu saja di situ. Jangan ke mana-mana! aku takut kamu nanti nggak bisa turun! kamu di situ saja," pintanya Renita.


Yang membuat laju kursi roda Rosita pun berhenti karena Emang benar juga, kalau mereka turun sementara tak ada yang nemenin! sopir pun sedang sibuk bawa barang-barang belanjaan.


Renita berniat kembali berlari mengejar pencuri tadi, tapi orangnya entah ke mana? sudah nggak kelihatan lagi. Kepala Renita celingukan.


Perlahan Rosita mendekat dan bertanya. "Gimana, Mbak?"


"Nggak ada, orangnya sudah nggak kelihatan lagi! mana semuanya di tas, ponsel. ATM dan dan lainnya juga. Ya Allah ... gimana semuanya di sana!" gumamnya Renita dengan nada cemas.


"Aku telepon Mas Azam ya, Mbak!" dengan cepat Rosita mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


Dan Renita hanya menatap lemas mengingat barang-barang berharga berada di dalam tasnya yang hilang.


"Mbak, nggak diangkat ... mungkin sedang sibuk!" Rosita menurunkan ponselnya dari dekat pipi.


Lutut Renita terasa lemas, bergetar dan akhirnya dia berjongkok. Mau melapor ke pihak yang berwenang di sana, tapi kedua kaki rasanya berat untuk melangkah. "Ya Allah ... namanya musibah, bisa datang dari jalan mana saja!"


"Gimana dong, Mbak ... lapor ke pihak yang berwenangnya di sini!" Rosita menatap cemas ke arah Renita yang tampak shock bingung dan terpukul.


Renita hanya menatap lesu pada Rosita, dan entah harus bagaimana? yang jelas lututnya masih terasa lemas untuk berdiri saja rasanya belum sanggup.


"Huuh!" Renita mencoba menghela nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan kasar dan begitu berapa kali. Kedua manik matanya mencari-cari siapa tahu ada security yang lewat di sekitar sana. "Sopir mana? sopir lama banget ya!"


"Nyonya Ini tasnya!" tiba-tiba ada orang yang tinggi besar mengembalikan tas Renita.


Jelas Renita bengong menatap kedua orang tersebut yang merasa kenal tapi di mana ya? dan tidak segera mengambil tasnya! dia malah bengong.


"Nyonya, ini tas anda! coba cek lagi isinya siapa tau ada yang kurang!" ucap kembali orang tersebut sambil memberikan tasnya.


Yang pada akhirnya Renita ambil dan mengecek semua isinya. "Alhamdulillah sepertinya sih masih komplit. Makasih ya abang-abang!" menganggukkan kepalanya dengan hormat dan berterima kasih kepada kedua orang tersebut.


"Lain kali ... lebih hati-hati, Nyonya!" kemudian kedua orang tersebut pun pergi meninggalkan Renita dan Rosita yang bengong.

__ADS_1


"Mbak kenal sama orang tersebut?" selidiknya Rosita.


Renita menggeleng. "Tidak tahu," sembari mengermyitkan keningnya dan akhirnya Renita ingat kalau itu bodyguard-nya sang suami yang mungkin disuruh untuk mengawasi mereka.


"Mungkin itu suruhannya Abang, suamiku. Alhamdulillah tas dan isinya sudah kembali, ya sudah kita pulang!" Renita mendorong kembali pegangan kursi roda Rosita, dengan hati-hati mendorongnya ke dekat lift.


Renita memilih jalan lift agar lebih simpel aja membawa Rosita, karena kalau memakai eskalator rasanya ngeri takut kursinya menggelinding.


"Kita menggunakan lift lagi saja. kalau pakai eskalator saya takut kursi Mbak malah turun sendiri langsung 'kan ngeri gitu." Renita memasuki pintu lift bersamaan mendorong kursi roda Rosita.


Tidak terasa mereka sudah tiba di lantai dasar, di sambut sopir yang sedari tadi bolak-balik mengangkut belanjaannya ke dalam mobil.


Kini Renita dan Rosita sudah berada kembali dalam mobil dan sopir pun segera melajukan dengan cepat! untuk mengantarkan Rosita ke kediamannya.


Sekitar pukul 20.00.


Malik dan Renita selesai makan malam dan mereka berdua mengobrol di ruang tengah, jauh dari mereka Rendy yang tengah berputar dengan buku-buku pelajarannya.


"Lain kali, harus lebih hati-hati ... jangan sampai kejadian lagi seperti tadi siang, biarpun orang-orang ku akan terus menjagamu tapi mereka juga manusia biasa!" ucapnya Malik sambari menatap ke arah istrinya.


"Iya Abang ... namanya juga sedang asik berjalan, mana kita sadar jika ada orang yang mengintai!" balasnya Renita sambil meneguk minumnya.


"Ya udah, duluan saja. Aku mau nemenin dulu Rendy kasihan dia sendiri!" jawabnya Renita sembari menunjuk ke arah Rendy yang sedang belajar.


Kepala Malik pun mangut-mangut seraya melirik ke arah Rendi yang memang sedang tampak serius belajar. "Baiklah aku duluan ya! soalnya aku capek banget nih! hu ... am."


Malik beranjak dari duduknya sambil menguap, kalau berjalan-jalan mendekati anak tangga.


Sementara Renita duduk di dekat Rendy dan menemaninya.


...----------------...


"Sebagai wakil dari Azam. Saya merasa sangat bahagia karena lamaran ini sudah diterima!" ucapnya Malik sembari mengedarkan pandangan ke arah keluarganya Rosita.


Semua yang ada di sana berwajah-wajah bahagia. Dengan lamaran ini. Apalagi Azam dan Rosita sebagai orang yang bersangkutan.


Di rumah petak itu tampak penuh dengan orang yang hanya beberapa orang itu, dan juga hantaran yang mereka bawa.


Renita yang memangku Alena yang tampak anteng itu tampak ikut bahagia dengan kebahagiaan Azam dan Rosita.

__ADS_1


Dan pernikahan mereka akan dilangsungkan pada bulan depan tepatnya satu bulan lagi.


"Sayang, kita mau kado apa pada Rosita dan Azam?" tanya Malik pada Renita.


"Apa ya, bingung juga mau kado apa?" Renita menggeleng.


Kemudian Renita, Malik. Bu Amelia dan Alena pulang duluan. sementara Rendy memilih pulang sama papanya aja nanti.


"Abang, kok sudah lama ya kakak kamu nggak pernah datang ke rumah! apakah dia sakit atau ada masalah? coba tanyakan! soalnya sama Mama dia nggak bilang apa-apa, tapi Mama merasa ada yang aneh saja! kok dia nggak pernah datang ke rumah ... ya? yang biasanya hampir tiap hari menjenguk Mama."


Malik menoleh pada sang bunda. "Mungkin dia sibuk."


"Iya juga ya? sekarang mbak Yusna lama nggak ke rumah ada apa ya?" Renita pun mengerutkan keningnya sambil melirik pada suaminya.


Sejenak Malik dan Renita terdiam seribu bahasa dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Renita mengingat di mana dia pernah melihat Anto sama Shopia, apa emang iya! terus yang membuat Yusna sekarang tidak datang ke rumah.


Begitupun dengan Malik dengan bayangan yang sama! yaitu dia melihat Anto bersama Shopia! apakah mungkin bahwa suami kakaknya telah berselingkuh dengan Shopia dan sekarang kakaknya sedang menghadapi masalah. Namun dia diam-diam saja tidak bercerita pada keluarga.


"Apa mungkin?" suara Malik begitu serempak.


"Kalian kenapa kok suaranya berbarengan gitu? dan kata-katanya pun sama! apa kalian pikirkan yang sama tentang Yusna. Ada apa dengan kakakmu?" tanya penasaran Bu Amelia


"Tidak tahu Mah ... nanti aku mau tanyain dulu nanti aku cari tahu lah kenapa Mbak Yusna nggak pernah datang, biasanya kan kalau Mama suruh datang dia suka langsung datang bukan?" Malik menggeleng.


"Iya, biasanya seperti itu! tapi akhir-akhir ini, kalau pun Mama bilang kurang sehat. Katanya kan ada Renita lagian Mama juga nggak sendiri di rumah. Selalu bilang kayak gitu 'kan aneh! biarpun mulutnya pedas dia itu cukup perhatian sama orang tua, cuma sekarang aja dia seperti ini. Mama jadi khawatir!" sang Ibu tampak cemas.


"Gimana kalau nanti sore ... kita ke rumahnya sama aku mau nggak, Mah?" tawarnya Renita.


"Ah kalau harus ke sana Mama malas capek rasanya kedua kakinya pegal-pegal padahal enggak jalan-jalan," sahutnya Bu Amelia dengan nada malas jika harus datang ke rumahnya Yusna.


"Ya udah, Abang aja datang ke sana cari tahu! gimana kabarnya Mbak dan anak-anaknya pun kok nggak ada main ya? Padahal Reka suka banget bermain sama Alena." Renita menoleh ke arah sang suami.


Malik mengangguk seraya melihat ke arah jalanan yang tampak ramai ....


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2