
Keesokan harinya, Malik bersiap untuk ke luar kota. Dan Renita pun mengantar ke bandara.
"Aku pergi dulu ya, jaga diri baik-baik jaga kesehatan, baby kita juga. Hi ... baby di jaga bunda nya ya! Papa mau pergi dulu." Malik mengusap perut Renita yang bulat.
Lalu kemudian Malik berlutut dan mencium perutnya Renita penuh kasih dan rasanya berat untuk meninggalkan.
"Abang juga hati-hati, jangan lupa makan dan lainnya. Jaga kesehatan dan cepat pulang." Renita membelai rambutnya malik yang menempelkan pipinya di perut.
Malik berdiri lantas memeluk sang istri. "Iya, aku akan ingat semua pesan mu itu sayang. Tunggu aku pulang ya."
"Hem ... aku akan menunggu mu pulang!" Renita mengangguk.
"Jaga anak-anak!" Maliknmemangkupkan telapak tangan di pipi sang istri, kemudian mengayunkan langkah nya memasuki terminal. Melambaikan tangan ke arah sang istri yang berdiri menatap kepergiannya.
Tangan Renita melambai di sampai Malik pun menghilang seiring bergeraknya eskalator yang membawanya.
Kaki Renita mengayun ke dekat dinding kaca dan melihat ke arah lapangan, dimana para penumpang mulai memasuki pesawat. Begitupun terlihat Malik yang sedang berjalan hendak menaiki tangga pesawat.
Renita merasa mencelos sedih. atas kepergian suaminya padahal hanya untuk berapa hari saja. Bukan untuk berminggu-minggu ataupun bulan.
"Selamat jalan Sayang hati-hati, ya Allah lindungilah suamiku dimanapun berada dan bawa dia pulang dengan selamat! kembali berkumpul denganku dan keluarga!" Renita mengjela nafas dalam-dalam seraya mendongakan wajah ke langit.
Setelah itu Renita membawa langkahnya kembali ke mobil, jangan perasaan yang mengambang.
"Pak balik ke kantor ya?" mintanya Renita setelah duduk di dalam mobil bersandar ke jok belakang seraya mengusap-usap perutnya yang mulai terasa bergerak.
"Papa mu sedang tugas dulu ke luar kota. Nanti papa kembali dan kita bersama lagi." Gumamnya Renita dengan lirih.
Mobil melaju dengan cepat. Dan tidak butuh waktu lama di perjalanan. Sehingga kini Renita sudah berada di kantor meneruskan tugasnya.
Ketika waktunya makan siang. Renita bersama staf lain makan siang bersama.
Azam menghampiri dan gabung dengan Renita, dkk.
"Boleh ku ikut gabung di sini?" ucapnya Azam yang langsung mendudukan dirinya di antara mereka yang kebetulan ada kursi kosong dan dekat posisi Renita duduk.
"Silakan, Pak ... kita gabung makan bersama." Jawabnya seorang staf.
Sementara Renita hanya tersenyum dan mengangguk pada Azam.
Semua staf atau karyawan tidak ada yang tau kalau Azam dan Renita adalah mantan suami istri, walaupun kadang Rendy ketauan panggil papa tetapi mereka tidak pernah ngeh.
Renita sesekali mengobrol dengan Azam yang tampak akrab hingga tibalah makan pun selesai. Dan semuanya bubar melanjutkan tugasnya masing-masing.
__ADS_1
"Ren, aku kangen sama Rendy dan nanti sore aku akan ke rumah ya!" Azam menatap ke arah Renita sebelum terpisah di koridor kantor.
"Boleh," Renita mengangguk.
Lalu kemudian sesaat Renita terdiam dan menatap punggungnya Azam yang lebih dulu menuju ruang kerja nya.
Setelah jam kerja selesai. Renita pulang pulang dan berjalan menuju parkiran.
"Kamu pulang sama siapa Ren?" tanya Azam kepada Renita yang sedang berjalan menuju mobilnya berada.
"Aku pulang sama sopir kenapa?" Renita balik bertanya.
"Nnggak, kirain pulang sendiri! kalau pulang sendiri udah aja ikut aku!" Sambungnya Azam sambil mengarahkan remote ke mobilnya.
"Aku ada sopir kok, lagian jalan kita kan tidak satu arah!" Renita menggeleng.
"Tadinya kalau pulang sendiri aku antar, sekalian saja. Tapi ... kalau seperti ini ku akan pulang dulu dan nanti aku ke sana temui Rendy." Timpalnya Azam.
Kemudian mereka berdua memasuki mobilnya masing-masing dan melaju dengan berbeda arah.
Setibanya di rumah, Ranita langsung disambut oleh Rendy.
"Bun papa jadi keluar kotanya naik pesawat ya?" Rendy mendongak pada sang Bunda yang baru saja memasuki teras.
"Nggak bilangin aja nanti kalau pulang bawa oleh-oleh ya--"
"Hi hi hi ... Rendy-Rendy, Rendy kan udah gede! emang mau dibawain oleh-oleh apa sih? Bunda aja bingung mau ngasih oleh-oleh apa untuk Rendy. Masalahnya sekarang Rendy udah gede masa mau beli mainan mulu!"
"Ya biarin aja. Bun, daripada aku main gadget! nanti yang ada aku malas belajar mainnya gadget mulu." Timpalnya Rendy yang masih suka dengan mainan. Sebab memang Rendy tidak banyak main gatget. Beda dengan teman-teman sebayanya yang lebih banyak memainkan gadget.
"Iya deh ... iya ... nanti Bunda bilangin sama papa agar belikan oleh-oleh mainan buat Rendy, Oya katanya nanti papa Azam mau main! kangen sama Rendy." Tambahnya sang bunda.
"Oh papa Azam mau ke sini ya? baguslah biar Rendy ada temennya! tapi Rendy nggak mau diajak ke apartemen ah, kasihan bunda di sini nggak ada temen!" ucapnya anak itu sembari memasuki rumah tersebut mengekor langkah bundanya.
"Bunda mau mandi dulu ya?" Renita langsung membawa langkahnya untuk menaiki anak tangga namun sebelum melangkahkan kaki dia ketemu dengan sang ibu mertua.
"Baru pulang Ren!" sapa sang ibu mertua sembari menatap lekat ke arah Renita yang tengah menjinjing tas kerjanya.
"Iya, Mah. Aku baru pulang Mama dari mana?" Renita balik bertanya melihat sang ibu mertua tampak rapi.
"Oh ... Mama baru pulang dari arisan, Malik sudah berangkat ke luar kotanya?" tambahnya sang ibu mertua.
"Sudah, dan Katanya sudah sampai di Bandara kota setempat." Renita menatap sekilas. "Ya udah Ma aku masuk dulu ya mau mandi."
__ADS_1
"Rendy temenin Oma yuk?" ajaknya Bu Amelia kepada Rendy yang tadinya anak itu mau bermain di lantai dengan berapa mainannya.
"Kemana Oma?" selidik ya Rendy sembari mengernyitkan keningnya.
"Ke depan, Oma ada urusan dikit. Nggak jauh kok." Kemudian mereka pun berangkat yang entah mau ke mana.
"Neng, ada tamu di luar!" suara bibi dari balik pintu.
"Siapa Bi?" tanya Renita dengan suara lantang mengarahkan pandangannya ke arah pintu.
"Itu, tuan Azam Neng. Den rendinya nggak tahu kemana sama ibu." Jawabnya.
Renita berjalan mendekati daun pintu dan blak ... pintu terbuka. "Rendy kemana emang Bi?"
"Sama ibu dan belum kembali." Bibi sbil kembali ngeloyor kembali ke lantai bawah.
Lalu kemudian Renita pun mengayunkan langkahnya dengan teratur! menuruni anak tangga dan menemui Azam yang berada di ruang tamu.
"Sudah lama, Mas?" sapa Renita setelah berada ruang tersebut. yang kemudian mendudukkan dirinya di sopan berseberangan dengan pria itu.
Azam menoleh ke arah Renita. "Sepuluh menit yang lalu. katanya Rendy sedang keluar!"
"Sepertinya begitu! tadi aku dengar diajak Omanya, tapi katanya sebentar. Kok belum kembali ya melihat ke arah luar.
Karena merasa khawatir, Mereka belum kembali juga. Renita pun menghubungi nomor sang ibu mertua dan ternyata info yang di dapat mereka sedang berada di sebuah mall.
"Katanya mereka sedang berada di mall, sedang belanja! mungkin sebentar lagi pulang." Kata Renita sambil menyimpan ponsel di sampingnya.
"Ooh," Azam pun membuka ponselnya untuk membuang ke penataan dalam menunggu sang buah hati.
"Oya, Mas kapan mau menikah dengan Shopia?" Renita membuka pembicaraan.
"Mungkin sebentar lagi," Azam berasa di beri jalan untuk membincangkan Shopia. "Menurut mu gimana?"
"Gimana apanya, Mas?" tanya Renita sambil menatap ke arah pria yang tiada lain adalah mantan suami.
"Iya ... maksud ku ... gimana menurut mu apa Shopia itu baik pada Rendy atau--"
"Menurut ku sih baik saja. Lagian ... akan sulit sih, bila pendapat orang itu pasti beragam, jadi gimana penilaian sendiri saja lah." Renita menggoyangkan kedua bahunya.
Di saat mereka berdua tengah mengobrol. Blak! pintu terbuka ....
.
__ADS_1
Apa kabar reader ku semua? semoga kabar baik ya, semoga dalam lindungan yang maha kuasa selalu.