Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Tidak rela


__ADS_3

Renita memang bercucuran air mata dan hampir tersedu, bukan karena pedas tapi karena sakit hati, merasa di khianati dan di permainkan oleh suaminya sendiri.


Pantas uang belanja semakin berkurang dan begitupun dengan perhatian suaminya yang semakin hari semakin terkikis juga, yang sangat menyakitkan ... anak pun menjadi korban! sehingga kurang di perhatikan ayahnya.


Pikiran Renita sudah mulai jelek tentang rumah tangga ia ke depannya, yang mereka bina beberapa tahun ini sampai menghadirkan buah hati yaitu Rendy.


Beberapa bulan lalu dia dan suami sudah berencana untuk program anak lagi biar Rendy ada temennya, tapi kalau melihat gelagat seperti ini sih, sumpah. Tidak mau! dan Renita akan kembali memakai kontrasepsi sebelum terlambat.


Setelah itu selesai makan, Renita dan putranya langsung pulang. Karena kecapekan Rendy pun tidur, dan Renita segera meluncur ke tempat bidan terdekat! tidak lupa menitipkan anaknya kepada tetangga terdekat siapa tahu nanti Rendy terbangun di saat Renita tidak ada.


Tujuannya Renita ke bidan untuk kembali memakai kontrasepsi, dia takut kecolongan biarpun sudah lama ini tidak disentuh oleh suaminya, bagaimanapun dia harus jaga-jaga.


"Kenapa memilih untuk memakai lagi? bukankah kemarin pengen berhenti karena ingin program punya bayi lagi!" tanya bidan kepada Renita.


"Saya berubah pikiran, Bu bidan. Saya belum siap untuk menambah lagi momongan, mengingat putra saya masih 4 tahun kok!" jawabnya Renita dengan agak sedikit bengong.


"Oh begitu, ya nggak apa-apa suntik lagi kan?" tanya bu bidan kembali.


"Iya, Bu ... seperti kemarin saja!" jawabnya Renita mantap.


"Oke, tapi harus periksa dulu ya! siapa tahu sedang berisi!" kata bidan kembali.


Lalu memeriksa keadaan Renita yang dia bilang siapa tahu Renita sedang hamil, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan nantinya. Sebelum menggunakan kontrasepsinya lagi.


Setelah diperiksa, Renita bertanya pada bidan. "Gimana Bu bidan? saya sedang tidak hamil kan? Renita menatap cemas.


"Oh tidak, kebetulan Ibu tidak sedang hamil kok. Alias aman untuk memakai suntik KB kembali." Jawabnya bidan.


"Alhamdulillah ..." Renita mengusung wajahnya dan mengucap syukur karena dia sedang tidak hamil saat ini.


"Suntik yang 3 bulan ya." Bidan pun menyuntikkan jarum yang sudah berisi obat kontrasepsi seperti yang Renita inginkan.

__ADS_1


Selesai dengan urusannya, Renita pun langsung buru-buru pulang dia khawatir kalau Rendy keburu bangun. Sehingga dia dengan cepat menjalankan motornya untuk menuju pulang ke kediaman nya tersebut.


Walau dengan pikirannya kacau, tidak tenang dan terus kepikiran apa yang dia lihat. Namun Renita harus berusaha untuk tegar demi menghadapi semuanya, demi anaknya. Dia tidak ingin gegabah dalam menyimpulkan sesuatu, biarpun buktinya sudah dia kantongi dan Renita pun berniat untuk menyelidiki kebenarannya. Karena kalau hanya diomongin dengan suaminya! mungkin nggak akan mendapatkan titik terang, nggak mungkin kalau suaminya akan berterus terang.


"Sudah pulang?" sapa tetangga yang Renita menitipkan Rendy kepadanya.


"Iya, Bu gimana Rendy bangun apa tidak?" Renita balik bertanya sembari membuka helmnya.


"Belum, sepertinya enak sekali tidurnya." Jawabnya si ibu tetangga.


"Oh iya, makasih ya, Bu? makasih banyak!" ucap Renita sembari mengangguk hormat.


"Iya nggak apa-apa! kayak orang yang baru saja!" kata si Ibu sembari mengulas senyum ramahnya


Kemudian Renita membawa langkahnya ke dalam rumah. Setelah menyimpan motor ke dalam garasi.


Waktu terus berputar, hari pun sudah melewati sore dan kini sudah beranjak malam.


Sementara sang Bunda duduk di atas sofa, sedang nonton televisi. Pandangan memang mengarah ke televisi, tapi hati dan pikirannya tidak! entah ke mana, sehingga suara Rendy berasa tidak terdengar.


"Bunda, papa kok belum pulang ya? seharian ini Papa belum pulang juga, padahal kan ini hari libur, Bun." Rendy mengulang kata-katanya sembari menepuk tangan sang Bunda.


Sehingga Renita pun tersadar dan menoleh pada putranya itu. "Mungkin Papa masih sibuk dan sebentar lagi akan pulang" jawabnya Renita berusaha untuk tegar.


"Tapi kan ini hari libur, Bunda ... biarpun lembur kan paling setengah hari. Biasanya juga!" ucapnya Rendy yang sudah pinter dengan keadaan waktu.


"Entahlah sayang, mungkin masih melakukan pertemuan atau menambahkan lemburnya." jawabnya kembali Renita.


"Aneh ya, Bun ... semakin hari papa semakin sibuk dan nggak ada waktu buat kita berdua lagi," lagi-lagi sang anak seolah merasakan kehilangan waktu bersama papanya.


"Iya, sabar aja ya! lain kali kalau sudah nggak sibuk papanya, pasti ada waktu buat kita. Buat jalan-jalan, bermain sama Rendy. Doain aja semuanya baik-baik saja ya!" Renita membelai wajah putranya.

__ADS_1


"Tapi kan Rendy kangen sama papa seperti dulu lagi!" gumamnya anak itu dengan nada sedih.


"Em ... sekarang bobo ya! dah malam, besok kan mau sekolah." Renita membelai rambut putranya dengan tatapan haru.


Jangankan Renita yang memiliki insting seorang istri, putranya saja yang masih kecil merasakan perubahan dari sang ayah.


Setelah menidurkan putranya, Renita mondar-mandir di dalam kamar, sesekali melihat putaran jam yang sudah menunjukkan pukul 10.00 malam, di hari libur tetap beralasan sibuknya. Pukul segini belum pulang juga, sementara besok pun akan bekerja kembali.


"Ya Allah ... benarkah suamiku sudah tidak sehat lagi, sehingga dia mempunyai wanita lain di luar sana. Ya Allah ... aku tahu aku ini bukan manusia yang sempurna bukan wanita yang memiliki segalanya. Tapi apa sih yang dia cari?" gumamnya Renita sembari melihat ke langit-langit kamar.


"Rasanya aku tidak rela, bila harus berbagi suami, apalagi dikhianati ataupun diselingkuhi." Renita tidak kuasa lagi menahan air matanya pun menetes membasahi pipi, mengingat suaminya yang tampak intim dengan wanita lain.


Grung ... runggggh ....


Suara mobil Azam memasuki halaman rumah. Renita buru-buru keluar dari kamarnya menyambut kepulangan sang suami.


"Assalamu'alaikum ..." ucap salam dari Azam.


"Wa'alaikum salam. Baru pulang Mas?" Renita meraih tangan Azam untuk di ciumnya.


"Iya, Rendy sudah tidur ya?" Azam pun mengecup kening sang istri.


"Iya, Mas. Rendy sudah tidur!" Renita menghela nafas dalam-dalam yang terasa sesak di dada dan satu lagi, kali ini dia mencium parfum wanita yang semerbak dari tubuh sang suami.


Azam langsung berjalan menuju kamar Rendy, lalu membuka pintu dan melihatnya dari kejauhan.


"Hari ini dia tuh sudah merajuk terus, apalagi melihat teman-temannya bermain sama papanya, katanya ingin sama papa." Gumamnya Renita yang berdiri tidak jauh dari tempat Azam berdiri.


Azam hanya menoleh sekilas pada sang istri lalu dia membawa langkahnya ke kamar pribadinya ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Mohon dukungannya.


__ADS_2