
"Oh Jadi jadi Mama sudah ke sini gumamnya Malik.
"Iya, sudah dan mengajak Rendy untuk jalan-jalan, katanya kasihan lah seharian di rumah sakit!" sahutnya sang bunda Renita.
Malik menganggukkan kepalanya lalu menghampiri Renita. Menatap ya dengan lekat. "Sayang, jangan khawatir. aku akan berusaha agar kamu sembuh dan bisa berjalan lagi."
Mendengar suara Malik yang berada dekat dengan dirinya, membuat Renita memaksakan kedua matanya untuk terbuka dan melihat ke arah pria tampan yang berada dekat dengannya itu.
"Aku tidak tahu harus berkata apa, mengingat dengan kondisiku ini dan aku pasrah bila kamu membatalkan pernikahan kita!" tiba-tiba saja Renita berkata demikian. Karena dia tidak ingin membebani Malik.
"Sayang, jangan pikirkan itu! karena pernikahan kita akan terus berjalan. Sekalipun di rumah sakit ini. Soal resepsi itu bisa dibatalkan, tapi akad tidak akan pernah aku batalkan!" kata Malik dengan jelas dan yakin, kalau dia akan melanjutkan niat menikahi wanita.
"Kini aku hanya wanita lumpuh yang tidak bisa kamu harapkan dalam segi apapun, aku pasrah dengan keputusan mu apapun itu." Renita dengan sangat lirih dan menatap kata Malik.
"Keputusan ku sudah bulat, pernikahan kita akan terus berjalan walau sekedar akad di rumah sakit ini, nanti saja jika kamu sudah sembuh! setidaknya sudah keluar dari rumah sakit barulah mengadakan resepsinya." Malik begitu sangat meyakinkan.
Renita kembali terdiam begitupun dengan Sheila. Dia bengong menatap Malik dan juga ada Renita bergantian.
...------------...
"Malik, apa yakin akan meneruskan pernikahan ini? maksud Mama tidak di undur dulu ke waktu yang lebih tepat?" selidik sang ibu sambil menatap putranya yang berada duduk di hadapannya.
"Aku yakin dan tidak akan mengundur jadwal nya pernikahan ku dengan Renita, paling waktu saja paling tempat yang di rubah. Yaitu tempat di rumah sakit saja dan resepsi nya mau tidak mau di undur sampai Renita lebih baik." jawabnya Malik dengan yakin.
"Apakah Abang tidak akan menyesal dengan kondisinya yang sekarang?" suara Shopia yang dengan tiba-tiba muncul di tempat tersebut.
"Kenapa harus menyesal? aku mencintainya dari dulu dan sekarang dia seperti itu! kenapa harus menyesal." Malik menatap tajam ke arah Shopia.
"Tapi kan, dia lumpuh sekarang. Apa yang bisa di harapkan!" sambung Shopia.
"Saya tidak masalah apa pun keadaannya. Saya akan tetap terima!" jelas Malik sembari mengangkat bokongnya.
__ADS_1
Selanjutnya Malik sibuk menelpon yang bersangkutan. Merubah jadwal pernikahannya dengan Renita, yang mulanya di sebuah gedung menjadi di rumah sakit dan itu hanya akad saja. Dan resepsi di undur sampai waktu yang belum di tentukan.
Memang mendadak, perubahan jadwal pernikahan yang di rubah tempat. Tapi harus bagaimana bila keadaannya seperti itu.
Malik kemudian, membawa langkahnya ke rumah sakit menemui Renita. Memasuki mobilnya lantas melajukan dengan kecepatan sedang.
Dan setibanya di rumah sakit, Malik bergegas turun dari mobilnya dan berjalan di koridor rumah sakit. Dia ingin menemui dulu pihak rumah sakit untuk membicarakan! kalau besok sore akan diadakannya akad di ruang pasien yang bernama Renita! karena itu memang jadwalnya pernikahan mereka berdua yang seharusnya diadakan di sebuah gedung. Namun mengingat kondisi Renita yang seperti itu menjadikan acara akad dialihkan tempat yaitu di rumah sakit.
Setelah sekitar 30 sampai 40 menit Malik berbincang dengan pihak rumah sakit, akhirnya Malik mendapat persetujuan dari pihak sana, sehingga Malik pun mengucap banyak terima kasih atas izin dan dukungan dari pihak rumah sakit tersebut.
Kemudian Malik pun keluar dari ruangan tersebut, mengayunkan langkah kakinya menuju sebuah lift yang akan menghubungkan dengan ruangan inaf Renita.
Malik menekan tombol nomor lantai yang menjadi tujuannya. kebetulan milik tersebut hanya sendiri saja milik seorang.
Ting.
Malik mengayunkan kakinya keluar dari pintu lift dan bertemu dengan Sheila. Yang mungkin mau memasuki lift yang Malik pakai sebelumnya.
"Mau ke mana?" katanya Malik sambil menatap sekilas ke arah Sheila.
"Itu ... mau beli makan malam, soalnya aku mau beli agak jauhan dari rumah sakit! soalnya di sini kurang enak!" ucapnya Sheila seraya mengajak Malik untuk mengantarnya pergi.
Sejenak Malik terdiam. lalu dia berkata. "Aku ada perlu sama Renita, jadi sorry ya nggak bisa ngantar!" dan Malik langsung berjalan melanjutkan langkahnya menuju ruang inap Renita.
"Aish ... tega amat kau, tidak mau mengantar ku awas ya? masa aku harus jalan sendiri sih ... Bang! Abang?" Sheila menatap punggungnya Malik yang terus membawa langkahnya meninggalkan dia.
Malik sedikit menggelengkan kepalanya, berjalan dan memasuki ruang inap Renita. Tampak Renita tengah duduk di tempatnya bersama Rendy yang tidak jauh-jauh dari sang Bunda, dan kebetulan perban di kepalanya sudah dibuka! karena memang tidak terlalu parah kalau luka di kepala.
"Assalamu'alaikum ..." Malik sambil celingukan melihat ke arah kanan dan kiri di mana kedua orang tua Renita pun berada. Tengah duduk di sofa.
"Wa'alaikum salam ... eh Nak Malik!" siapa kedua orang tuanya Renita.
__ADS_1
Sebelum menghampiri Renita, Malik terlebih dahulu menghampiri kedua orang tuanya.
"Kebetulan sekali Nak Malik kesini, ada yang ingin ibu dan ayah tanyakan--"
"Tentang apa? Bu, Ayah!" tanya Malik sembari menatap ke arah calon mertuanya silih berganti.
Kemudian ayahnya Renita kini yang berbicara melanjutkan perkataannya sang istri. "Begini nak Malik ... tentang rencana pernikahan kalian berdua, apakah sudah dibatalkan?"
Malik mengerutkan keningnya. "Dibatalkan? kalau resepsi emang sudah saya batalkan dan bukan dibatalkan sih ... cuman mengalihkan waktu yang entah sampai kapan! minimal sampai Renita sudah bisa pulang dari rumah sakit, sementara akad akan tetap berlangsung pada waktu yang sama. Cuman ... beda tempat saja yaitu akad walimah nikah akan dilaksanakan di ruangan ini!"
Kedua orang tua Renita saling bertukar pandangan. Begitupun dengan Renita yang di tempat tidurnya menatap ke arah Malik yang juga mengarahkan pandangan kepadanya, dengan sebuah senyuman yang terukir indah di bibirnya itu.
"Jadi pernikahannya akan tetap langsung? terus bagaimana dengan kesiapan kita, mana ada persiapan?" lirihnya sang Ibu Renita.
"Ibu jangan khawatir. Saya akan bawa dari pihak salon ke sini untuk mendanani kalian dan besok pagi-pagi ... pakaian pengantin dari butik yang sudah di pesan itu akan datang ke sini. Jadi kalian tidak perlu pulang dulu atau ngapa-ngapain! cukup di sini saja." Balasnya Malik kepada sang calon mertua.
"Bagaimana dengan kondisi aku yang seperti ini? emangnya kamu nggak akan menyesal menikahi aku yang bukan seperti dulu lagi!" ucapnya dengan lirih Renita yang ditujukan kepada Malik.
Malik beranjak dari duduknya dan menghampiri Renita. "Eeh ternyata Rendy udah bobo ya? pantesan nggak ada suaranya!" Malik mengusap kepalanya Rendy yang sudah tertidur, pantasan saja anak itu tidak pernah memanggilnya.
"Iya, pas kamu datang dia sudah tertidur!" gumamnya Renita.
Malik menidurkan dirinya di kost yang dekat wanita duduk lalu dia menelan nafas dalam-dalam.
"Emang kenapa dengan dirimu. Aku nggak ada masalah, aku mencintai mu dari dulu! apakah harus rasa cinta itu hilang gara-gara insiden? jangankan kelumpuhan yang sipatnya sementara waktu, sekalipun kamu lumpuh total pun. Aku siap menerima kamu apa adanya! karena sesungguhnya cinta itu tidak memandang fisik ataupun kondisi!" ujar Malik dengan tetapan yang sangat lekat dan penuh kasih sayang kepada Renita.
"Tapi bagaimana dengan keluarga mu?" selidiknya Renita dengan suara yang pelan dan mengalihkan pandangannya kelainan arah.
Bagaimanapun Renita berpikir, seandainya Malik bisa menerima dia apa adanya! keluarganya kan belum tentu, sementara menikah itu bukan hanya menyatukan dua kepala. Dua hati yang berbeda. Namun juga menyatukan dua keluarga bermacam-macam pola pikiran nya.
"Sayang, kita yang akan menikah dan membina rumah tangga. Bukan keluarga ku, imam kamu adalah aku! bukan keluarga ku. Memang ibuku wanita pertama yang aku cintai tapi setelah aku mempunyai istri ... istri lah yang harus aku utamakan! dan Mama nggak ada masalah apapun dengan kondisi kamu! dia begitu welcome, nggak ada masalah!" Malik menggeleng kan kepalanya jangan pelan.
__ADS_1
Untuk sementara waktu ... Renita terdiam dan hanya menggerakkan manik matanya ke arah Malik dan juga kedua orang tuanya yang berada duduk agak jauh dari mereka, Renita dan Malik ....