
Renita yang masih terjaga mendengar suara yang membuat dia tersentak, namun menjadikannya sangat merasa takut sehingga menyembunyikan wajahnya di balik selimut dengan keringan dingin di tubuhnya.
Brakk!
"Ya ampun ... suara apa itu?" gumamnya Renita dengan suara bergetar, dia ketakutan tetapi penasaran! perlahan membuka selimut yang menutupi wajahnya dan menoleh ke arah suami yang tampak nyenyak sekali tidurnya.
"Yank, bangun? di luar ada apa? kok aku jadi ngeri begini!" mengusap bulu kuduknya yang merinding.
Tangan Renita terus menepuk-nepuk pipi Malik agar pria itu terbangun. "Yank. Bangun? ya-nk ... bangun! diluar ada yang mencurigakan." Namun Malik masih juga tidak mau bangun dan dia hanya bergumam.
"Hem!"
Walau merasa takut, Renita mencoba untuk bangun dan kembali membangunkan suaminya. "Yank, bangun ... aku takut."
Setelah Renita merasa lelah membangunkan Malik, akhirnya pria tampan itu membuka matanya perlahan memicing melihat ke arah Renita. Lalu kemudian melihat ke arah jam yang jarumnya menunjukkan pukul 01.30. Dini hari.
"Ada apa sih sayang ... masih malam juga, ngantuk!" Malik dengan suara serak nya khas bangun tidur sambil meraih tubuh sang istri di peluknya dan mengajak untuk tiduran.
Renita langsung menggelinjang bangun kembali. "Yank, bangun! ada suara yang mencurigakan. Ayo bangun!"
Malik memejamkan kedua matanya yang terasa sangat-sangat sepet. Kemudian membuka kembali menoleh pada sang istri. "Ada apa, Hem ... kangen bukan! sini bobo." Lagi-lagi tangannya menarik pinggang sang istri yang langsung di tepis.
"Iih, bangun? tadi Aku mendengar suara yang mencurigakan di arah luar bagian belakang, takutnya orang jahat." Renita menunjuk ke arah jendela.
Malik perlahan bangun sambil mengusap wajahnya yang tampak ngantuk sekali itu. Renita menatap suaminya yang hanya menggunakan celana pendek saja itu berjalan menuju jendela.
Mengintip dari balik jendela lepas ke bawah dan di sana tidak ada apa-apa. Yang ada hanya keheningan. "Tidak ada apa-apa sayang. Ayo tidur lagi lah ngantuk banget nih!" Melik berjalan dengan gontai dan menjatuhkan tubuhnya di tempat semula.
Ngiung.
Ngiung.
Ngiung.
__ADS_1
Samar-samar terdengar suara alarm berbunyi menandakan ada orang yang menyusup ke dalam rumah, membuat Renita dan Malik terkaget-kaget apalagi Malik yang baru saja memejamkan matanya langsung membuka kembali dan beranjak bangun mau keluar kamarnya.
Namun Renita yang sadar kalau suaminya nggak berpakaian, langsung menyambar kaos dan menyusul sang suami yang sudah melintasi pintu. "Yank pakai dulu bajunya, malu."
Dengan cepat Malik menyambar kaosnya dari tangan Renita dan langsung berlari menuruni anak tangga. Di bawah sudah pada riuh para asisten dan security yang mengajar orang yang baru saja menyusup dan mereka sudah kecolongan sehingga orang luar bisa masuk rumah segala.
"Ada apa ini? ada apa? kok kalian bisa sih kecolongan. Emangnya pintu nggak dikunci? banyak orang, security juga ada kenapa bisa-bisa nya ada orang menyusup?" suara Malik tersengal-sengal.
"Tidak tahu, Tuan. Dan sepertinya penyusup sudah sampai ke kamar tamu Mungkin dia pikir di sana ada barang berharga." Jawabnya seorang asisten yang tampak panik.
Renita hanya melihat dan mengamati apa yang mereka katakan. Dengan jantung yang berdegup kencang.
"Coba cek ruangan yang lain, siapa tahu mereka udah masuk sana dan mungkin ada yang hilang atau gimana!" Renita memerintah asistennya untuk mengecek ruangan-ruangan lain.
Orang-orang yang diperintahkan oleh Renita pun langsung pergi dan mengerjakan tugasnya dengan segera.
Malik mondar-mandir bersama scurity dan sopir yang habis menyusul pencuri yang tidak tertangkap karena sudah terlalu jauh.
"Sepertinya cuma satu kamar aja yang di datangin. Mungkin dia pikir ada barang yang bisa dicuri kali, sehingga masuk ke sana!" laporan dari salah seorang asisten kepada Renita.
"Oh, ya sudah syukur saja kalau nggak ada yang hilang dan yang penting tidak membahayakan nyawa kita semua! ya udahlah semuanya tidur lagi dan kunci pintu yang bener. Apa yang akan menjadi milik kita tak akan pernah hilang tapi kalau seandainya hilang berarti itu bukan rezeki kita lagi. Serahkan semuanya pada yang kuasa!" ujar Renita sambil mengajak sang suami untuk istirahat kembali.
"Apa yang menjadi milik kita nggak akan pernah hilang biarpun hilang akan kembali dan digantikan yang lebih baik! tapi jika sebaliknya berarti itu bukan rezeki kita, dan kembali lagi kalau seandainya yang maha kuasa memang menghendaki, semuanya akan terjadi." Ungkap Renita yang di tujukan pada sang suami.
"Memang benar sih ... tapi kan sudah sepantasnya kita berjaga-jaga dan berhati-hati, bukan berarti benar-benar pasrah kalau kita sudah berusaha menjaganya tapi hilang juga! itu barulah kita pasrah!" timpal Malik sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Lalu kemudian mereka pun bubar dan masuk ke dalam biliknya masing-masing, untuk melanjutkan ritual tidurnya kembali.
"Aku belum bisa tidur nyenyak, entah kenapa kedua mata ku ini terjaga terus!" ucap Renita sembari baringkan dirinya di atas tempat tidur di samping sang suami yang posisinya miring menghadap dirinya.
"Emangnya kenapa nggak bisa tidur apa yang sedang dipikirkan apa kangen ..."
"Kangen apa, sama siapa? dan aku tidak memikirkan apapun biarpun mata ini sulit terpejam." akunya Renita sambil menggeleng.
__ADS_1
Tangan Malik menyentuh pipi Renita di belainya dengan sangat lembut. "Sekarang tidurlah, sebentar lagi akan menjelang pagi!"
Akan tetapi Renita malah beranjak bangun. "Aku mau ambil wudhu dulu!" Renita menurunkan kedua kakinya menapaki lantai lantas berjalan menuju kamar mandi.
Malik hanya menatapnya sambil menempelkan kepala di atas bantal. Memikirkan kejadian barusan bisa-bisanya orang menyusup masuk, padahal ada security dan pintu terkunci juga.
Beberapa saat kemudian Renita kembali lantas mendatangi alat salat yang tersimpan di atas nakas. Dalam beberapa menit Renita bersimpuh di atas sajadah dan memanjatkan doa yang terbaik untuk keluarganya.
Sampai Renita kembali ke atas tempat tidur, Malik masih terjaga dan menunggu sang istri selesai dari salatnya.
"Kenapa belum tidur lagi?" tanya Renita sambil menarik selimutnya.
"Aku belum ngantuk! jadi kepikiran yang barusan kurang apa coba itu digembok penjaga pun ada masih aja pencuri masuk," ucap Malik sembari menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Nah ... berarti 'kan kita sudah usaha dan hasilnya seperti itu, berarti kita cuma bisa pasrah!" balas Renita sambil tersenyum.
"Iya kali ya! kita sudah usaha dan hasilnya Allah yang menentukan," kepala Malik mengangguk-angguk apa yang dikatakan sang istri ada benarnya.
"Itu benar! manusia hanya bisa berencana dan berusaha Allah juga yang mau menentukan segalanya." Tambahnya Renita sembari memegang tangan Malik yang ia tempelkan ke pipinya.
"Yank. Kamu 'kan tidak memakai KB dan kita juga sudah sering berusaha hampir tiap malam! tapi hasilnya kamu belum hamil lagi ya? padahal pengen sekali nambah momongan, bukan hanya Rendy, Alena. Apa benih ku sudah pada kempes kali ya?" Malik menatap sang istri sambil nyengir.
"Iya, padahal nggak dijaga dan aku rasa baik-baik saja! karena mungkin Allah cuman ngasihnya dua, gimana? tidak di tambah lagi." Renita dengan lirih.
"Padahal aku pengen banget nambah biar lebih ramai, apalagi kalau udah pada dewasa. Seperti sekarang aja Rendy jarang ada di rumah, Alena sibuk dengan dirinya sendiri. Anak itu lebih suka menggambar!" Malik semakin merapatkan tubuhnya pada sang istri.
Renita beranjak duduk ketika Malik bersiap memeluknya. "Aku jadi keinget Alena, aku mau melihat dia dulu sebentar ke kamarnya! sebentar ya."
Membuat Malik menggaruk kepalanya yang tidak gatal. tadinya mau mengajak untuk bercocok tanam siapa tahu membuahkan benih yang baik seperti sayuran yang ....
.
Bersambung.
__ADS_1