
Renita semakin cemas dengan kondisi cuaca yang seperti ini. Sementara pesawat belum mendarat juga yang diperkirakan mengalami keterlambatan.
Wajah Renita tampak cemas sambil mengusap perutnya yang terasa lincah. "Nak, papa belum sampai, pesawatnya belum mendarat juga.
"Bun? kok Papa belum sampai juga ya!" Rendy pun tak kalah cemasnya dengan sang bunda.
Renita tidak menjawab, ia mengedarkan pandangan pada orang-orang yang sama-sama menunggu kepulangan keluarganya. Wajah-wajah itupun tampak cemas tak jauh beda dari dirinya.
Tetapi di saat-saat hampir dibuat spot jantung, Alhamdulillah terdengar ada pengumuman kalau pesawat yang ditumpangi oleh Malik sedang menuju detik-detiknya mendarat.
Renita khususnya merasa lega. Melihat pesawat yang mulai terlihat kecilencoba mendarat. "Alhamdulillah ... akhirnya mendarat juga."
"Bun. Pesawatnya turun, Bun. Papa pulang ya Bun!" Rendy tampak bahagia dengan kedatangan pesawat yang membawa papanya.
"Iya, Alhamdulillah ..." Renita mengangguk dengan tatapan mata yang berbinar.
Malik bisa bernafas lega setelah pesawat mendarat di atas landasan. Menarik tas nya dan mengenakan kaca mata hitam.
"Alhamdulillah ... akhirnya tiba juga," gumamnya Malik sambil membawa langkahnya mendekati tangga pesawat bersama penumpang lainnya.
Kemudian memasuki terminal dan pengecekan data. Dan di tempat tunggu terlihat Renita juga Rendy sedang menunggu dirinya.
"Papa?" panggil Rendy sambil berlari menghampiri Malik.
Malik menarik kedua sudut bibirnya serta menyambut kedatangan Rendy. "Rendy ..."
"Alhamdulillah ya Papa sudah selamat, padahal kami sudah cemas karena cuaca buruk dan katanya. Pesawat akan mengalami keterlambatan!" kata Rendy sambil memeluk Malik penuh rasa kangen.
Renita yang berjalan santai menghampiri suaminya diiringi dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. Antara rasa sedih dan bahagia karena pada akhirnya sang suami bisa juga berpijak dan bertemu lagi dengan keluarga.
Begitupun keluarga penumpang yang lain yang tampak terharu, dengan kepulangan keluarga yang mereka tunggu.
"Kenapa kau sedih, nggak bahagia ya aku pulang?" godanya Malik sambil menatap wajah sang istri yang menatapnya dengan berkaca-kaca.
__ADS_1
Renita tersenyum getir sambil menepuk tangan Malik lalu memeluknya. "Aku merasa terharu mengingat cuaca yang sangat buruk, takut kenapa-napa!" terdengar suara Renita bergetar.
Lalu kemudian mereka pun berpelukan sangat erat dan menumpahkan rasa rindu yang teramat dalam.
"Alhamdulillah, aku selamat dan kita dapat bertemu lagi berkumpul kembali seperti semula." Gumamnya Malik sambil memeluk sang istri dengan sangat kuat.
Memang tidak dapat dipungkiri gimana perasaannya di saat masih dalam pesawat, dan mendapat kabar kalau cuaca buruk di area Bandara yang menjadi tempat pesawatnya transit.
"He'em." Renita menganggukan kepalanya tanpa melepaskan rangkulan suaminya tersebut.
Malik mengusap punggung sang istri dengan lembut. "Kita sudah berkumpul kembali dan aku juga bersyukur, padahal hati ini sudah ... tadi rasanya jantung ini berhenti berdetak!
Beberapa saat Renita dan Malik saling berpelukan bahkan, Renita pun sempat meneteskan air mata. ya itu air mata bahagia karena yang dikhawatirkan sudah lewat. Orang yang dikhawatirkan Sudah berada di depan mata bahkan dalam pelukan.
"Aku takut, khawatir kamu kenapa-napa. Aku bahagia karena mungkin sudah berada di hadapan ku!" Gumamnya Renita kembali sambil dagu nya di samping lehernya Malik.
"Iya, aku sudah ada di sini sayang." balasnya Malik, lalu memudarkan rangkulannya menangkupkan kedua tangan di wajahnya sang istri.
Kepala Renita mengangguk seraya menundukkan pandangan untuk menyembunyikan manik matanya yang berkabut dan menangis.
"Itu, pasti. Karena bunda kan sayang sama Papa!" Malik menoleh pada Rendy yang beberapa langkah dari mereka berdua.
Karena semua pendataan sudah selesai, sehingga mereka pun sekarang mau siap untuk pulang biarpun hujan masih tampak menguyur namun tidak terlalu deras seperti tadi, sudah mulai reda.
"Aku lapar, rasanya pengen makan dulu deh sebelum pulang," rengek nya Rendy sambil melihat kanan dan kiri sebelum memasuki mobil.
"Iya, nanti di jalan ke restoran dulu. Kita makan dulu! pasti Bunda juga belum makan ya!" Malik melirik pada sang istri yang berjalan dengannya dan terus memegang tangannya erat.
Renita pun langsung merespon dengan anggukan! memang mereka juga belum makan, menunggu di Bandara lama. Mana ingat makan!
Sesuai permintaan Malik. Supir menghentikan mobilnya setelah hampir 10 menit perjalanan, berhenti di depan sebuah restoran Jepang. Renita, Rendy. Malik dan juga sopirnya turun meninggalkan mobil berjalan agak cepat karena gerimis memasuki restoran tersebut.
Langsung Mereka pun memesan makanan yang sekiranya mereka suka. Tentunya masakan yang dimasaknya di meja sehingga dimakannya pun masih panas atau hangat, sangat cocok dimakan di kala hujan gerimis begini, setidaknya dapat menghangatkan badan.
__ADS_1
Setelah sama-sama menikmati makan siangnya, Mereka pun beranjak dari duduknya dan bersiap untuk pulang! setelah sebelumnya membayar bill bekas makan mereka.
Dan cuaca di luar tampak cerah kembali, sudah reda dan tampak bayang-bayang pelangi mewarnai di ujung langit di sana.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil dan mobil pun melaju dengan sangat cepat dengan tujuan pulang ke tempat kediaman Mereka.
"Gimana keadaan di rumah, selama tidak ada aku baik-baik saja kan?" selidiknya Malik pada sang istri yang berada duduk di sampingnya! sementara Rendi duduknya di depan sama sopir.
Renita menoleh dan menatap wajah suaminya tersebut seraya berpikir ... dibilang baik ya baik. Dibilang nggak baik ya begitulah. Dan Renita pun tidak tahu yang akan terjadi setelah ini. Ada kemungkinan kalau Yusna akan mengadu kepada Malik soal ketika dirinya berdua dengan Azam.
Akan tetapi Renita pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti, dan dia pun yakin bahwa suaminya akan bersikap bijak. Tidak akan mudah percaya dengan omongan yang belum tentu sesuai buktinya.
"Baik saja kok, memangnya kenapa?" Renita balik bertanya dan dia baru ingat, kalau di rumah dipasang CCTV jadi apa yang terjadi pasti ketahuan oleh Malik.
"Nggak ... aku cuman tanya saja apa di rumah baik-baik saja saat aku nggak ada, atau gimana! ya syukurlah kalau baik-baik saja," Malik mengusap bahunya sang istri lalu mencium kepalanya.
Rendy menoleh ke belakang. "Pah gimana rasanya di dalam pesawat menakutkan nggak sih?"
"Nggak! siapa bilang menakutkan? justru menyenangkan, disediakan makanan juga. Padahal jarak tempuh yang tidak terlalu jauh," sahutnya Malik sambil melihat pada Rendy. Padahal tadinya mau mencium pipi istrinya.
"Pah aku mau jadi pilot boleh nggak!" anak itu menatap serius pada Malik. "Biar aku bisa membawa pesawat dan kalau Papa mau keluar kota ataupun ke luar Negeri ... aku bisa mengantarkan!"
Kedua sudut bibir Malik tertarik membentuk senyuman dan dia merasa bangga kalau putra sambungnya ini punya cita-cita menjadi pilot. "Kenapa nggak boleh? boleh dong. Jadi Rendy pengen jadi pilot nih?"
Anak yang mengenakan kaos kotak-kotak itu menganggukkan kepalanya. Matanya berbinar menatap ke arah Malik dan sang bunda.
"Apapun yang menjadi cita-cita Rendy, Papa akan dukung! sekalipun itu menjadi pilot insya Allah Papa siap kok untuk membuat Rendy mencapai cita-cita itu! asalkan Rendy nya benar-benar serius belajar yang tekun, oke?" Malik mengacak rambut Rendy dengan tangan yang satunya. Kerana tangan sebelah lagi merangkul pinggang Renita.
"Oke. Makasih Papa makasih banyak, Bunda juga makasih! ini akan belajar lebih baik lagi biar pintar dan Rendy menjadi seorang pilot. Rendy akan bilang juga sama papa Azam ach ..." Rendy begitu sumringah mendengar dukungan dari Malik sebagai papa sambungnya.
"Yang penting Rendy selalu nurut sama orang tua, berbakti, belajar yang benar tidak boleh terbawa oleh pergaulan yang kurang baik! harus pilih-pilih teman juga. Teman yang baik seperti apa? gimana? yang mana teman yang harus ditinggalkan. Kerena itu juga penting untuk masa depan Rendy juga sayang!" suara bundanya yang lirih.
Rendy mengangguk-anggukkan kepalanya sepertinya mengerti dengan kalimat yang bundanya berikan ....
__ADS_1
.
Bersambung