
Dion pun berpamitan untuk pulang dan dia membuat janji dengan Sheila untuk besok lusa mau makan siang berdua.
Dan itu sangat Malik dukung. "Pepet terus ... jangan sampai kendor ha ha ha ..."
"Ayo Bro. Aku pulang dulu ya. Terima kasih atas makan malamnya dan Makasih atas semuanya!" Dion mengulurkan tangannya kepada Malik.
"Iya sama-sama, hati-hati bawa kendaraan nya. Awas licin, soalnya barusan gerimis kan!" balasnya Malik sambil berjabat tangan dengan Dion.
Yang lalu kemudian Dion pun meninggalkan tempat tersebut yang sebelumnya berpamitan juga kepada Sheila.
"Gimana cocok kan?" tanya Malik pada Sheila yang masih berdiri menatap ke arah mobil Dion yang sudah menghilang dari pandangan.
"Pastinya sih aku cocok tapi entah dianya gimana? makasih ya Bang sudah berniat mengenalkan kami!" Sheila tersenyum manis ke arah Malik.
Malik pun tak ayal membalas senyuman dari Sheila. "Sama-sama! karena saya ingin kamu dapatkan yang terbaik dan insya Allah Dion ... itu setau Abang orangnya baik dan dia juga penyayang serta perhatian!"
"Iya, makanya aku ucapkan makasih banyak Abang sudah ikut memikirkan aku! Mbak Renita itu sangat beruntung mendapatkan suami seperti Abang yang bukan hanya menyayangi dirinya, anaknya juga keluarganya." sambungnya Sheila, membuat dia menyadari perasaannya selama ini adalah salah.
"Sudah lah ... yang penting sekarang ini kalian bisa melanjutkan hubungan dengan lebih baik, soal jodoh dan tidaknya ... itu urusan yang di atas kita hanya bisa berencana!" ungkapnya Malik seraya berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Sheila yang masih berdiri menganggukan kepalanya pelan, kemudian dia pun masuk menuju kamar tamu yang biasa ditempati kalau menginap.
"Selamat ya? aku senang sekali, akhirnya kau menemukan jodoh mu dan aku tidak ada saingan lagi!" tiba-tiba suara itu memecahkannya keheningan di saat Sheila mau masuk ke dalam kamarnya.
Sheila menoleh ke arah sumber suara sembari tersenyum kecut.
"Silakan kalau kamu bisa bersaing dengan mbak ku, karena aku yakin sampai lebaran monyet pun kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan Bang Malik! karena kalian sepupuan ya ... mungkin bisa aja sih menikah! biarpun sepupu, tapi ya itu. Sampai lebaran monyet pun kamu nggak akan pernah bisa dapetin Bang Malik, karena cinta Bang Malik hanya untuk seorang saja yaitu Mbak ku. Kalau bisa mencintai wanita lain! kenapa nggak dari dulu aja membuka hati buat kamu? bukankah selama ini kalian satu atap! kalau membuka hati kenapa nggak saling cinta."
__ADS_1
Shopia sedikit memanyunkan bibirnya saya menatap tajam ke arah Sheila. "Mungkin Bang Malik sudah tahu. Jika kamu akan menjadi duri dalam daging! makanya dia mencarikan laki-laki untuk dikenalkan padamu--"
"Tapi setidaknya Bang Malik itu punya perhatian sama aku! sehingga dia mengenalkan seseorang yang menurut dia baik untuk ku, berarti dia peduli sama aku. Sebagai kakak ipar yang baik! dan sayangnya ... mungkin Bang Malik tidak tahu jika yang menjadi duri dalam daging itu adalah kamu sepupunya sendiri! yang tidak punya otak dan juga hati, dia pasti sangat kecewa kalau tahu sepupunya itu tidak menyukai istrinya!" Sheila memotong perkataan dari Shopia.
Kedua manik mata Shopia melotot dengan sangat sempurna dan tangannya pun sudah melayang di udara sudah siap menampar pipinya Sheila! namun dengan cepat Sheila menangkapnya.
"Jangan coba-coba kau menamparku, jangan-jangan di balik insiden yang menimpa kakak ku itu ada campur tangan kamu! Sheila balik melotot menetap ke arah Shopia.
"Heeh ... kau itu tidak tahu apa-apa tentang perasaan ataupun kejadian yang menimpa kakak mu, siapa tahu dia mempunyai musuh. Atau ... dia punya madu yang mungkin saja benci sama dia sehingga mencelakainya. Jangan kurang ajar ya sama saya!" Shopia menarik tangannya yang digenggam oleh Sheila.
"Em ... mungkin juga sih ... tapi entah kenapa ya? kok aku jadi curiga sama kamu! siapa tahu kamu mengetahuinya atau mungkin dalang dari semuanya, karena bagaimanapun kamu terlalu terobsesi dengan sepupu mu itu. Sehingga mengajak ku kerjasama untuk menggagalkan pernikahannya! dan bodohnya aku mau-mau saja diajak-ajak, tapi sangat beruntung lah kalau mereka bagai batu karang yang tangguh tidak mempan di hantam batu karang dan badai. Dalam keadaan apapun mereka tetap menikah! salut dan kagum aku sama mereka." Tambahnya Sheila sedikit mondar-mandir di depan Shopia dengan kedua tangan yang dilipat di dada.
Sheila memperlihatkan dirinya kalau dia juga mampu lebih angkuh dari Shopia. Dia sudah tahu gimana watak Shopia yang akan tersenyum bila lawannya lembek.
"Kamu jangan coba-coba memfitnah aku, karena semua yang kamu tuduhkan itu tidak benar!" Shopia mengerahkan jarinya ke arah hidung Sheila.
"Tahu apa? kamu tahu apa tentang aku? jangan mengarang cerita! apalagi ini bukan wilayah mu--"
"Saya tahu ini bukan wilayah ku tapi juga bukan wilayah mu. karena kamu juga di sini hidup cuma numpang bukan? kamu di sini juga cuman sepupu. Apa bedanya dengan ku yang adik ipar. Lagian masih mending aku ke sini cuman datang sekali-sekali, tidak setiap hari dan juga tidak minta biayai. Aku kerja sendiri mencari duit sendiri. Sementara kamu keuangan pun malah yang gimana rasa malu kamu?" lagi-lagi Sheila langsung memotong perkataan Shopia.
"Rrrgghh ... lama-lama kau benar-benar menyebalkan ya! apakah perlu ku sumpal mulut mu itu dengan kain dapur. Kau tidak perlu mengingatkan ku! karena aku tahu diri kalau di sini aku cuman sepupu. Apa kamu juga ingin tidak punya malu sama aja bukan? apa kau lupa? kau pun berusaha untuk menggagalkan pernikahan kakak mu itu!" Shopia Ini mendapat tajam ke arah Sheila.
"Iya itu benar, dan kini aku sangat menyesalinya! sesuatu yang tidak pantas aku lakukan! hanya untuk menghancurkan kebahagiaan kakak ku sendiri dan itu semua karena dirimu juga dan aku menyesal itu!" jelasnya Sheila sembari menatap tajam ke arah Sophia.
"Bagus lah kalau kamu sudah menyesali itu, dan semoga kau bahagia dengan yang baru--"
"Tentu. Karena aku tidak ingin menjadi wanita mengharap suami orang! seperti wanita yang ada di hadapanku ini," jelas Sheila sambil memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Dasar kurang ajar, wanita tidak tahu malu. Wanita se-ta-n, wanita munafik. wanita ... enghhhh ..." Shopia mengacak rambutnya frustasi sembari berjalan mendekati kamarnya yang kebetulan terdengar tangisan putranya.
Di kamar Malik dan Renita setelah barusan Rendy kembali ke kamarnya, Malik mendekati sang istri yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya.
Renita tampak menguap menahan ngantuk, sementara ia ingat kalau tadi Malik sudah on. Kalo di tinggalkan tidur kasian juga.
"Sayang, aku sudah memikirkan untuk resepsi pernikahan kita dan kebetulan kau kan sudah berangsur sembuh." Malik merangkul bahunya sang istri yang langsung meletakkan kepala di bahunya.
"Oya, aku sih terserah kamu saja dan tidak ingin yang aneh-aneh!" Renita membelai dadanya Malik yang bidang dan langsung bagaikan si setrum menegang ke seluruh tubuh.
"Sayang mau konsep seperti apa hem?" selidik Malik sembari menempelkan pipi ya di kepala sang istri dengan tangan mengusap rambutnya Renita dibarengi Deri nafas yang mulai memburu.
"Konsepnya seperti apa ... terserah kamu aja lah! apa yang kamu pilih aku akan suka--"
"Ach!" pekik Renita tatkala Malik merubah posisi tubuhnya berada di atas menumpukan media siku nya di kedua sisi bahunya Renita.
"Kalau gini suka kan? hem ... kita akan membuat adik ya Rendy." Bisik Malik di dekat telinganya Renita.
"Hi hi hi dari terigu dan telor!" gumamnya Renita sambil tertawa kecil.
"Kamu terigu nya dan aku sediakan telornya. Cukup kan dua saja! yang penting mengembang. banyak telor pun kalo tidak mengembang percuma sayang!" Malik kembali berbisik.
Renita hanya mengulum senyumnya ketika Malik bilang mau sediakan dia telor ....
...🌼---🌼...
Aku harap jangan bosan ya dengan kali recehan ku ini yang banyak tipenya dan juga kurang menarik dalam segi ceritanya 🙏
__ADS_1