Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Mogok


__ADS_3

Setelah beberapa meter Renita mendorong motornya, peluh pun sudah sangat bercucuran di tubuh Renita. Terasa sangat panas dan melelahkan.


Banyak ketemu dengan para staf dan karyawan yang membawa kendaraannya masing-masing, tapi mereka nggak seorang pun yang bertanya ataupun sekedar menyapa Renita yang sedang berjalan mendorong motornya.


"Ya ampun ... apa sekarang orang-orang itu sudah kurang respek kali ya? sama orang lain, padahal kalau di bilang kenal ya kenal, apalagi satu kerjaan satu kantor. Tapi seolah-olah tidak peduli dengan kesusahan orang!" gumamnya Renita sambil terus berjalan dan sesekali mengusapkan keningnya yang bercucuran dengan keringat.


"Tapi ... ya sudahlah, aku harus berdiri dengan kakiku sendiri, jangan berharap bantuan dari orang lain. Kalau bisa ... membantu orang bukan dibantu orang! ayo Renita semangat jalani hidupmu apapun yang terjadi. Susah maupun senang jalani dan pahitnya telan juga!" Renita terus bermonolog sendiri sambil berjalan sampai terlihatlah ada sebuah POM bensin mini di depannya.


"Alhamdulillah ... akhirnya ketemu juga POM bensin mini, wahai motorku. Sekarang kau akan ku beri minum yan ... minumlah sampai kau puas dan hilang rasa dahaga mu." Renita sejenak menghentikan langkahnya menatap depan motor, sembari di elus-elusnya dan detik kemudian dia mempercepat langkahnya! biarpun sudah terasa lelah dan pada akhirnya tiba juga di depan POM bensin mini tersebut.


Renita langsung mengisi bensin memberi minum pada motor kesayangannya tersebut, membiarkan dia penuh biar kenyang! kata Renita biar nggak kehausan lagi dalam beberapa hari ini.


"Nah, Alhamdulillah sekarang kau sudah penuh, dan bawalah aku pulang!" ucap Renita setelah membayar bensinnya! kemudian dia naik dan menghidupkan mesin motor, mundur lalu merayap dan detik kemudian melaju dengan sangat cepat.


Namun entah kenapa setelah sekitar beberapa km dari pom bensin, motor kembali mogok. Membuat Renita kebingungan. "Ada apa lagi ini? bensin sudah penuh masa masih kehausan? ayo dong ... Rendy kan menunggu di rumah!"


Renita berusaha menepikan motornya lalu dia turun mengecek apa yang salah? eh ... ternyata ban nya kempes. Mungkin kena paku, lagi-lagi Renita celingukan bertambah lagi pr-nya yaitu mencari tukang tambal ban.


"Cielah ... kempes lagi, mana nggak kelihatan juga tukang tambal ban motor di mana? ya Allah ... masih juga mengujiku. Apa harus ganti ban kali ya? sudah terlalu lama mungkin bannya pengen diganti, ya sudahlah! tunggu aja nanti aku gajian, kedua ban kamu akan aku ganti semuanya dengan yang lebih baru. Sabar ya sabar." Renita seolah-olah mengajak bicara manusia sembari menepuk-nepuk jok motornya tersebut.


"Kenapa lagi motornya Ren?" suara itu membuat kepala Renita langsung menoleh. Dan dia tiada lain ada bukan adalah Malik yang masih duduk di dalam mobilnya, di jok belakang.


"Ban nya kempes. Mana jauh lagi tukang tambal bannya," sahutnya Renita dengan wajah yang tampak lelah.


Kemudian Malik pun turun dari mobilnya, menghampiri Renita dengan langkah yang begitu cepat. Sehingga tidak menunggu menit dia sudah berada di sampingnya Renita.


"Tukang tambal ban ada nya di depan! ya sudah lah ... kamu ikut mobil aku aja lah. Aku antar kamu pulang! motor ini biarkan supirku yang mengantarkan nanti. Sini kuncinya?" Malik meminta kunci motor dari Renita dan mengajak wanita itu untuk ikut ke mobilnya saja.

__ADS_1


"Tapi--"


"Sudah, nggak usah tapi-tapi. Ayo buruan? nanti keburu sore, anakmu kasihan pasti menunggu! bukannya tadi pulang 1 jam yang lalu, kok masih di sini?" Malik mengambil barang-barang Renita dari motor termasuk tasnya. Dia berjalan mendekati mobilnya.


Mau tidak mau ... Renita pun menyusul Malik yang sudah lebih dulu berjalan mendekati mobil, apalagi memang benar dengan apa yang dikatakan Malik. Kalau Randy di rumah pasti sudah menunggu kepulangan ibundanya, dia suka bawel biarpun telat sedikit dan itu hanya digunakan waktunya untuk belanja saja.


Malik pun membukakan pintu untuk Renita, kemudian setelah itu dia mengitari mobilnya duduk di belakang kemudi. Sementara sopirnya berjalan mendekati motornya Renita.


"Kamu belum jawab, tadi aku tanya kan ... kurang lebih 1 jam yang lalu kamu pulang dari kantor, kenapa masih di sini! apa emang dari tadi kempesnya?" selidiknya Malik sembari menyalakan mesin mobil.


"Em ... Tadi kehabisan bensin makanya aku dorong dari jauh, setelah kan kasih bensin beberapa puluh meter dari pom ... mogok lagi. Ban kempes!" Jawabnya Renita sembari memasang bell safety nya.


"Kan bisa minta tolong, memangnya nggak ada itu orang yang dikenal kan masih dekat kantor. Setidaknya ada orang kantor atau karyawan yang kamu kenal, minta tolong untuk membeli bensin!" ucap Malik sembari melirik sekilas lalu kembali melihat ke arah depan.


"Gimana! aku mau minta tolong? ada berapa juga bertemu, paling cuman menoleh doang. Melirik dengan sebelah mata tanpa respect ataupun menyapa, bertanya. Boro-boro mau membantu, nggak ada, jadi ... jadi ... rasanya aku segan untuk minta tolong makanya aku dorong aja sampai pom bensin." Jawabnya Renita.


"Oh, makasih ya!" Renita menoleh pada Malik dengan menunjukkan sennyum yang manis yang membuat hati Malik bergetar.


"Kok senyumnya begitu amat sih? bikin hatiku bergetar ha ha ha ..." Malik terkekeh bikin wanita merasa malu.


"Ih apaan sih?" Renita menggelengkan kepalanya seraya menoleh ke arah luar jendela.


Malik bertanya pada Renita tentang lokasinya atau tempat tinggal. Dan Renita langsung menunjukkan lokasinya sehingga Malik meluncurkan mobilnya dengan kecepatan lebih tinggi.


Tidak lama kemudian mobil Malik tibalah di kediaman Renita. Dan Renata langsung turun.


Di teras tampak Rendi dan Feni sedang duduk dan Rendy tampak bahagia melihat bundanya pulang dan langsung menyambutnya.

__ADS_1


"Bunda dari mana sih? lama banget pulangnya, ini kan sudah sore. Biasanya juga Bunda nggak pulang sesore ini?" sambut Rendy dengan mendongak pada sang bunda.


Renita pun berjongkok agar sejajar dengan anak itu. "Sayang ... maaf ya, Bunda telat pulangnya. Karena motornya mogok! tuh kan ... Bunda pulangnya sama mobil om, gak pake motor!"


Rendy celingukan mencari motor sang Bunda. "Oh iya, motor Bunda mana? kok Bunda pulangnya sama mobil, apa motornya dijual Bun? apa Bunda nggak punya uang buat jajan Rendy, sehingga menjual motor?"


Malik yang baru sampai, dekat Renita. Tertegun dengan pertanyaan Rendy pada sang Bunda. "Motor Bunda ... tadi ban nya kempes, makanya di bawa sama sopir Om, bukannya di jual sayang."


"Oh ban nya kempes, Rendy kira dijual. Karena Bunda nggak punya uang jajan buat Rendy tapi Rendy pengen jajan, Bunda punya uang nggak?" anak itu menoleh pada sang Bunda.


"Rendy pengen jajan! jajan apa?" tanya sama Bunda.


"Emang Rendy mau jajan apa? Ini om kasih buat jajan nih." Malik memberikan uang rp100.000 kepada Rendy dan dia menoleh ke arah Feni. "Dia pengaduh Rendy ya? ini buat jajan."


Sebelum mengambil uang dari Malik Rendy menoleh pada sang Bunda, seolah bertanya apakah dia boleh menerima atau tidak.


Renita mengangguk seolah membolehkan kalau Rendi boleh mengambil uang pemberian dari Malik. Karena sesungguhnya Renita mengajarkan putranya agar tidak mempunyai mental minta-minta tapi justru harus bisa memberi, tapi kan ini tidak meminta karena keikhlasan yang memberi! ya terima saja.


"Terima kasih ya Om. Terima kasih banyak, semoga rezeki Om digantikan dengan lebih banyak!" ucapan sebagai Terima kasih dari Rendy pada Malik.


"Sama-sama sayang!" Malik tersenyum kepada Rendy dan mengusap kepalanya.


Kemudian Malik pun berpamitan, karena sudah sore dia mau pulang, tapi ... karena mengingat sopirnya belum sampai membawa motor Renita, menjadikan Malik duduk-duduk di terasnya rumah Renita.


Sementara Renita masuk ke dalam rumah dan Rendy katanya pengen jajan ke warung bersama Feni ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa ya like nya komennya dan dukungan lainnya juga terima kasih


__ADS_2