Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Masih betah


__ADS_3

Renita pun sangat lahap makan sate kambing di tempatnya. Dan Malik hanya tersenyum melihat sang istri yang sangat lahap tersebut.


Yang kebetulan ia sendiri tidak suka dengan kambing. Jadinya ia tidak makan.


"Gimana sayang, mau nambah lagi gak?" tawarnya Malik pada sang istri.


"Hem, nanti lah. Ini juga sudah habis 20 tusuk, dan ... sepertinya aku kenyang deh Yank. Cobain deh enak lho ..." Renita Menyuapi Malik yang langsung di tolak karena memang tidak suka.


"Hem, sayang. Papa gak suka sate kambing, jadi kita saja yang makannya!" Renita mengusap perutnya seakan-akan mengajak calon baby nya berinteraksi.


Lalu setelah selesai makan mereka pun segera pulang dan setibanya di rumah langsung kena interogasi dari Bu Amelia.


"Kalian itu dari mana sih? Mama sudah lama sampai rumah kok kalian baru nyampe?" tanya sang bunda.


Renita dan Malik saling berpandangan lalu kemudian wanita berkata. "Tadi aku habis cari sate kambing dulu, Mah ... aku pengen banget makan sate kambing makanya kita nyari dulu!"


"Aduh-aduh ... Malik tidak suka sate kambing!" Amelia menatap heran kepada Renita dan Malik, setahu dia Malik tidak suka sate kambing.


"Reni mah yang makan sate kambing. Dia pengen banget makan itu makanya kita nyari dulu dan akhirnya kita baru sampai rumah!" jelasnya Malik pada sang Bunda.


"Ooh, hah? kamu makan daging kambing! kan kurang baik bagi wanita hamil apalagi hamil tua--"


"Siapa bilang Mah ... dokter juga membolehkan kok asal jangan berlebihan mengkonsumsinya, dan nutrisinya juga baik kok bagus untuk tubuh." Potongnya Renita sambil berjalan memasuki pintu utama.


"Ya terserahlah! kamu juga yang nanti ngerasain gimana-gimana," ucapnya Ibu Amelia sembari mengikuti langkah Renita dan putranya, Malik.


Renita terus berjalan menuju tangga sambil memegangi perut yang begitu besar. Sebelum menaiki anak tangga. Rendy sudah menghampirinya.


"Bun Dede bayinya masih betah ya dalam perut, makanya belum keluar juga?" ucapnya Rendy sembari mengusap perut bundanya.


"Iya Sayang Baby nya masih betah di dalam perut Bunda, makanya belum keluar dan mudah-mudahan secepatnya ya." Renita mengusap rambut putranya tersebut.


"Iya. Dede bayi kalau udah waktunya, keluar lah dengan cepat kasihan Bunda tampak capek dan berat bawa kamu!" Rendy mengajak bicara makhluk yang masih berada dalam perut ibundanya.


Bibir Renita tertarik ke samping membentuk sebuah senyuman yang indah. Begitupun dengan Malik yang mengacak rambutnya Rendy.


"Rendy gimana sudah agak baikan tubuhnya! nggak kenapa-napa lagi kan?" tanyanya Malik.

__ADS_1


"Nggak ... Rendy nggak kenapa-napa dan ... sudah agak baikan kok. Lagian Papa baru aja pulang habis nemani Rendy! dia sepulang dari kantor langsung ke sini katanya," jawabnya anak itu.


"Oh jadi Papa Azam dari sini nemenin Rendy!" sambungnya Malik.


"Iya. Pah, tadi papa ke sini katanya sepulang dari kantor langsung ke sini dan sekarang belum lama ini pulang, oma juga ketemu sama papa ya Oma?" Rendy menoleh pada ibu Amelia yang langsung merespon dengan anggukan.


"Ya baguslah kalau begitu. Jadi kalau seandainya Papa dan Bunda sedang di rumah sakit ... Rendy nggak kesepian di rumah," timpalnya Malik lalu menggandeng sang istri untuk menaiki anak tangga.


"Ayo Rendy bantu, Bun." Rendy memegangi tangan Renita yang satunya.


"Makasih sayang!" gumamnya Renita sambil merasakan perutnya yang begitu sangat berat.


Renita langsung beristirahat di kamar. Berbaring setengah duduk dengan punggung yang bersandar di bantal yang bertumpuk.


"Butuh apa sayang? nanti aku ambilkan!" tawarnya Malik sambil menutupi kaki sang istri dengan selimut.


Dan Rendy duduk di samping sang Bunda. "Atau nanti kalau Bunda butuh sesuatu ... suruh Rendy saja, ya Bun."


Renita menggerakan pasang matanya pada Rendy lalu mengalihkan penglihatannya kepada Malik yang juga duduk di tepi tempat tidur di dekatnya. "Saat ini aku tidak butuh apa-apa. Kalau nanti aku butuh pasti aku nyuruh kok!"


"Iya mbak. Mungkin belum waktunya untuk lahiran! biarpun dokter memperkirakannya kapan-kapannya, kan kalau tuhan belum mengizinkan ya ... seperti inilah!" balasnya Malik seraya memandangi sang kakak yang jalan mendekati mereka.


"Tapi yakin, kehamilannya tidak bermasalah?" tanya Yusna sambil berdiri di dekat Renita.


Renita menatap ke arah Malik seraya berkata. "Tidak ... kandungan ku baik-baik saja dan kalau memang belum ingin keluar gimana? buktinya sudah suntik perangsang pun aku nggak berasa apa-apa! cuman mules-mules biasa doang."


"Oh begitu!" membulatkan mulutnya. "Tapi ya, kali saja ingin ditemani sama siapa gitu?"


"Insya Allah aku tidak menginginkan yang macam-macam, Mbak! yang penting mau di manapun lancar aja lahirannya, sekalipun tidak ditemani sama siapa-siapa!" Renita pun melirik pada Malik, suaminya.


"Ya kali aja gitu ... ingin ditemani sama bapaknya Rendy. Siapa tahu kalau sudah dikunjungi atau gimana ... gitu, bayi nya cepet keluar!" tambah lagi Yusna.


Renita menghela nafas dalam-dalam mendengar ocehan dari Yusna sembari beralih pandangan dengan Malik.


"Ehem, Mbak sama siapa ke sini?" tanya Malik berusaha mengalihkan pembicaraan mereka berdua.


"Sendiri, tadi Mama bilang sama aku di telepon! katanya Renita sudah 2 hari di rumah sakit eh malah balik lagi nggak jadi lahiran! aku ke sini untuk memastikan nya benar apa tidak? katanya kata dokter sudah waktunya, kok bisa ya belum keluar juga?" Yusna seraya tampak mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Mbak tolong deh omongannya dijaga ya! jangan bikin istri saya stress. Kita berprasangka baik dan berpikir positif saja! mungkin belum waktunya, dan hitungan manusia itu bisa salah!" Malik berucap demikian pada sang kakak.


Tatkala melihat wajah istri yang tampak pucat dan sedih dengan omongan Yusna yang ach bikin orang tambah stres.


"Rendy. Bunda pengen istirahat, Rendy main saja di luar. Atau istirahat juga, kan Rendy juga belum begitu fit tubuhnya." Kata Renita pada Rendy.


Dan anak itu pun menurut perkataan bunda nya namun sebelum turun dia mencium pipi sang Bunda seraya berkata. "Bunda ... Rendy sayang Bunda."


"Iya sayang," Renita pun mengecup keningnya Rendy sebelum anak itu turun dari tempat tidur meninggalkan kamar tersebut.


"Istirahat ya sayang." Malik pun mengusap pipi Rendy.


Yusna melihat gerak geriknya anak itu sampai hilang dari balik pintu.


"Mbak, Renita harus istirahat. Silakan Mbak pun keluar!" Malik menunjuk pintu yang terbuka.


"Kamu mengusir ku?" Yusna menatap tajam pada sang adik, Malik.


"Bukan begitu Mbak ... Renita butuh istirahat. Jadi tolonglah mengerti!" ucap Malik kembali.


"Ck. Dasar adik laknat." Yusna berjalan membawa langkahnya keluar kamar Malik dan Renita.


Malik menggoyangkan bahunya melihat sang kakak. "Di sini juga bukan bantu doa atau dukungan malah ngelantur ach!"


Tangan Renita menyentuh tangannya Malik. "Sudah, Yank ... biar saja ... aku tidak pa-pa kok." Padahal Renita pun tidak mampu menyembunyikan rasa yang was-was juga takut.


"Apaan, bikin tambah stres saja, aku aja yang mendengar nya pusing apalagi kamu." Tambahnya malik sambil mendekatkan wajahnya pada sang istri dan mengecup keningnya.


"Kamu mau mandi bukan? mandi sana." Renita menunjuk ke arah pintu kamar mandi.


"Aku tidak mau mandi ach malas. Pengen sama kamu mandi nya," Melik malah naik lantas duduk di samping sang istri.


Renita pun hanya mengulum senyumnya sambil menahan rasa mulas dan panas di pinggangnya ....


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2