Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Menjenguk


__ADS_3

Setibanya di rumah, Malik langsung disambut oleh sang Bunda yang sempat merasa khawatir dengan berita cuaca yang buruk, sehingga mengakibatkan pendaratan mengalami sedikit keterlambatan.


"Alhamdulillah kamu selamat Nak? pendaratannya lancar?" tanya ibu Amelia setelah memeluk putranya sesaat.


"Alhamdulillah lancar, Mah. Walaupun sempat deg-degan dan memang terlambat sih berapa menit doang!" Malik sembari mencium punggung tangan ibundanya.


"Heuuh ... Mama sudah sangat khawatir takut pesawat kenapa-napa, Putra mamah gimana-gimana!" sambungnya sembari berjalan menggandeng tangannya Malik ke dalam rumah.


"Iya, alhamdulillah ... semuanya berjalan dengan baik!" jawabnya kembali Malik.


Kemudian Malik. Membuka kopernya dan mengambil oleh-oleh buat Rendy seperti yang dia pintar yaitu mainan pesawat.


Membuat Rendy sangat senang sekali, karena sekarang mainan yang dia suka adalah pesawat! sesuai dengan yang menjadi cita-citanya sekarang adalah menjadi seorang pilot.


"Wow ... pesawatnya bagus sekali Pah. Makasih ya makasih banget ..." Rendy memeluk mainannya sembari melihat ke arah Malik yang ikut merasa senang karena melihat anak itu bahagia.


"Sama-sama sayang. Semoga kamu suka dan semakin meyakinkan cita-citanya untuk menjadi seorang pilot nya!" Malik mengacak rambut anak itu sembari tersenyum.


"Rendy suka banget, Pah. Suka banget. Makasih, Pah. Bunda!" Rendy mengalihkan padangan pada sang Bunda yang mengangguk pelan dengan senyuman di bibirnya yang terus mengembang.


"Wah ... mainannya bagus sekali. Anaknya Yusna dapat nggak oleh-olehnya dari om?" kata Sang ibunda sembari menatap ke arah Malik seolah tidak ingin di lupakan.


"Ada ... aku sudah siapkan kok!" timpalnya Malik sembari mengeluarkan dua kotak hadiah untuk anaknya Yusna yang tak tahu apa isinya.


Setelah itu mereka langsung ke kamarnya untuk membersihkan diri. Begitupun dengan Renita untuk menyiapkan segala keperluan Malik dan juga membereskan pakaiannya, mengeluarkan barang-barang dari koper bawaan yang mungkin banyak pakaian kotornya.


Sore-sore Malik bersantai di balkon sembari melihat lincahnya Rendy yang sedang bermain di kolam renang. Sambil membuka laptopnya di pangkuan dan menikmati indahnya sore yang sehabis hujan terbitlah terang.


"Aku nggak tahu cita-citanya itu untuk menjadi seorang pilot! entah untuk sekarang ini atau memang sampai kapanpun dan memang menjadi cita-citanya!" suara Renita yang baru saja datang membawa dua gelas minuman buat dirinya dan sang suami.


Kalau memang jadi cita-citanya yang sesungguhnya juga nggak apa-apa, aku akan dukung kok dan insya Allah akan mewujudkannya!" balasnya Malik pada sang istri.


"Sebelumnya aku ucapkan banyak-banyak terima kasih kamu sudah mau dan berniat mendukung sampai manapun cita-citanya! dan aku hanya bisa mendoakan semoga apapun cita-cita anak itu yang tentunya baik untuk dia dan berguna untuk semua orang terkabulkan," Tambahnya Renita kembali.


"Aamiin ... sayang," sahutnya Malik.

__ADS_1


Yang kemudian balik semakin mendekat pada sang istri dan menyentuh perutnya. "Terus gimana nih kabar calon baby nya Papa baik-baik kan di sana? dan kira-kira apa ya cita-citanya? biar Papa bisa menyiapkannya!" Malik menaikan piyama Renita dan mencium kulit perutnya.


"He he he ... apaan sih? di tanya cita-cita segala!" Renita mengulum senyumnya.


"Ya nggak apa-apa, biar papanya menyiapkan dari sekarang!" kata Malik sambil mendongak lalu menempelkan kembali ke perutnya Renita yang ada pergerakan seolah-olah mengerti dengan perkataan dari papanya.


Renita membelai rambutnya Malik dengan lembut. Tadi dia sudah merasa was-was, namun sekarang bersyukur karena sudah berkumpul kembali.


Di dalam kepala Renita mulai ingat kembali dengan tuduhan dari Yusna tentang dirinya dan Azam. Akankah wanita itu mengadu kepada suaminya atau menganggap semuanya sudah selesai? entahlah Renita menjadi pusing sendiri.


"Kenapa melamun? memangnya sedang memikirkan apa? jangan banyak pikiran nanti janinnya kita terganggu!" lirihnya Malik sembari menundukkan dirinya kembali di tempat semula.


Manik mata Renita menggercap seraya berkata. "Nggak ... aku enggak mikirin apa-apa kok, tenang saja aku nggak banyak pikiran! ya paling soal kerjaan apalagi Hari ini aku absen karena jemput kamu!"


"Nggak apa-apa besok bisa masuk lagi kok!" Malik mengecup pipi dan kening nya Renita. Padahal dia tadi membuka laptop sedang mengerjakan sesuatu.


"Emmmm. Kangen!" bisik Malik yang tepat di dekat telinganya Renita.


Dan Renita menggeser wajah Malik dari dekat telinganya. "Ini sudah ketemu masih juga bilang kangen, kok gombal banget sih!"


Membuat kedua manik mata Renita mendelik dengan sangat sempurna. "Apa, ulang lagi kalimat barusan?"


"Nggak ... aku enggak bilang apa-apa! siapa bilang aku bilang sesuatu? cuma bilang kangen aja sama istri! hi hi hi ..." elaknya Malik.


"Achh ... bohong tadi bilang sesuatu ayo ulang lagi?" desak Renita.


"Nggak Sayang aku mau bilang apa-apa." Akunya Malik lalu merangkul punggungnya.


"Awas ya! bilang yang aneh-aneh nggak akan ku temenin tidur," ancamnya Renita sambil mesem.


"Eeh jangan dong ... masa Sudah berapa hari tidur sendiri di rumah juga akan dibiarkan sendiri, kasihan dong ... aku kan bercanda!" merajuknya tingkat dewa, takut dengan ancaman istrinya. Mana sudah berat nih kepala sehabis menahan hasratnya berhari-hari.


Renita hanya mesem sambil meneguk susu bumil dengan rasa buah.


"Sayang?" panggil Malik sembari menyibukkan dirinya dengan laptop.

__ADS_1


"Hem ...."


"Ingin segera malam!" gumamnya Malik tanpa menoleh pada sang istri dan pasang matanya tetap fokus ke layar laptop.


Kepala Renita menoleh pada sang suami dengan sedikit heran, apa maksudnya ingin segera malam?


"Emangnya kenapa dengan malam?" suara Renita penuh tanda tanya.


"Karena ... ingin segera menjenguk baby! jawabnya tetap masih fokus menatap layar laptop.


Renita hanya bisa menggeleng sambil mengulum senyumnya. Lalu berdiri membawa gelas kotor ke dalam.


Malik masih tetap di tempat semula yang tampak fokus dengan kerjaannya. Sejenak melihat ke belakang dimana sang istri sudah menghilang.


Saat ini Renita sedang di dalam kamar mandi dan Malik sudah menyiapkan diri untuk menunaikan ritual yang sangat dia n inginkan. Tidak lupa memakai wewangian di tubuhnya biar wangi dan memang wanginya sampai menyeruak di seluruh ruangan kamar tersebut.


Hingga wanginya sampai ke kamar mandi juga. Renita keluar sambil mendengus, melihat ke arah suaminya yang berada di atas tempat tidur dengan posisi duduk setengah miring dan bersandar di tumpukan bantal.


"Minyak wangi tumpah ya? kok kaya parfum tumpah sih?" sambil terus mendengus. Renita melihat ke arah suaminya juga.


"Tidak sayang, tidak tumpah. Barusan saja aku memakainya," sahutnya Malik apa adanya.


"Kok baunya kaya tumpah gini sih!" Renita merasa heran dengan baunya yang kebangetan.


"Beneran ... nggak tumpah sayang." Malik menarik tangan Renita yang masih berdiri di sisi tempat tidur.


Renita pun naik dengan berlutut lapu duduk di dekat suaminya. Dengan perasaan yang dag-dig-dug tak menentu, sudah dapat di duga kalau ada niatan untuk menjenguk baby-nya.


Tangan Renita melepas kerudungnya yang lalu dia simpan di sisi ranjang dan sedikit menyisir rambutnya dengan jari-jari.


Malik langsung memberi kecupan di kening dan di pipi Renita dengan kecupan mesra serta penuh gelora.


Tangannya mengambil remote dan menggantikan lampunya menjadi temaram. Dan tidak membuang-buang waktu! Malik langsung menjalankan aksinya yang sudah tidak tahan ingin menjenguk calon baby dan menahan rasa kangen dari beberapa hari yang lalu ....


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2