Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Kasihan


__ADS_3

Kini Jefri sudah menitipkan motor ke warung dan kuncinya sudah dia berikan ke orang yang berada di rumahnya Sharon agar memberikannya pada Azam, kira-kira ada keberanian gak dia pulang? setelah kejadian ini.


Lantas Jefri pun naik ke dalam mobil yang sudah ada Renita dan beralih posisi, Rendy duduk di pangkuan ibunya. Tentunya yang bawa mobil saat ini Jefri.


Mobil yang di kemudi kan oleh Jefri meluncur dengan cepat, meninggalkan daerah tersebut.


"Bunda, papa kenapa hidungnya berdarah? apa Bunda nggak kasihan sama papa?" Rendy mendongak pada sang Bunda yang tengah bengong melihat ke arahnya luar jendela.


"Bunda nggak tahu! nggak tahu kenapa, biar saja ... papa kan sudah besar! papa juga bisa berobat dan nanti papa pulang ke rumah kita!" jawabnya sang Bunda.


"Papa mau pulang kan, Bun?" tanya kembali Rendy.


"Iya ... Papa pasti pulang dan sekarang kita pulang duluan, agak cepat! Jef ... bentar lagi Maghrib." Renita menoleh pada sang adik ipar.


"Baik, Mbak! tapi jangan terburu-buru juga! yang penting kita selamat, santai aja." Jawabnya Jefri kepada sang kakak ipar.


"Nggak apa-apa kan? kalau kamu telat pulang!" ucap kembali Renita kepada Jefri.


"Nggak apa-apa, Mbak, yang di rumah pasti mengerti kok keadaan ini, tenang saja!" balasnya Jefri.


Kemudian suasana begitu hening, kecuali suara dari mobil yang mereka bawa. Renita melamun dan tidak terasa air matanya pun menetes! namun dia buru-buru untuk menghapusnya.


Melihat ke arah Rendy yang tampak kecapean dan dia pun akhirnya tertidur di pangkuan sang Bunda dengan sangat lelap.


"Aku benar-benar tidak menyangka. Mbak kalau Mas Azam berbuat demikian, dan aku minta maaf Mbak sebagai adiknya. Aku sangat kecewa dengan kelakuan Mas Azam seperti itu, Mbak sudah berusaha menjadi istri yang baik tapi mas Azam sia-siakan aku malu. Mbak," ucap Jefri sembari menyetir.


Dan Renita tidak menjawab sepatah kata pun dia hanya menggerakkan matanya sekilas kepada Jefri lalu mengarahkan kembali ke luar jendela.


Ia tidak tahu harus berkata apa lagi sebagai luapan atau ungkapan perasaan nya saat ini, jika harus dijabarkan dengan kata-kata ... sungguh hati Renita saat ini terluka, berdarah dan menganga! suami yang selama ini dia cintai dan dia percayai ternyata mengkhianati.


Setibanya di rumah dan Renita langsung menidurkan Rendy di dalam kamarnya, sementara Jefri memasukkan mobil ke dalam garasi terlebih dahulu.


Sebelum Renita masuk ke dalam kamarnya, dia sempat melihat Jefri masuk dari pintu depan. "Kalau kamu lapar, masak aja sendiri ya? Mbak rasa di kulkas masih ada kok bahan-bahan untuk memasak atau kamu masak mie aja ya?"

__ADS_1


"Mbak, nggak usah khawatir dan tidak perlu memikirkan aku! aku bisa mengurus sendiri dan aku akan masak sendiri kok kalau aku lapar." Jawabnya Jefri seraya mendudukan dirinya sesaat di sofa sebelum dia menunaikan salat Magrib.


Setelah itu, Renita masuk ke dalam kamarnya dan langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu yang kemudian dia bersimpuh dan mohon ampun atas segala dosa dan kekurangannya! sehingga membuat suaminya melakukan perselingkuhan dengan seorang janda dan menyia-nyiakan dirinya dan putranya.


Di dalam doa Renita sambil menangis sejadi-jadinya, dia tidak tahu harus mengadu kepada siapa lagi kecuali pada sang Maha pencipta, dia belum kepikiran untuk mengadu kepada orang tuanya! karena yang ada mereka akan sakit hati nantinya dan terluka bahkan benci kepada suaminya.


Sementara dirinya sendiri ada kemungkinan untuk bisa memaafkan kesalahan dan kesilapan suaminya, sedangkan orang lain belum tentu.


Sehingga untuk sementara waktu ini ... dia pendam sendiri dan untuk kedepannya dia pun belum tahu mau dibawa kemana rumah tangga ini. Ingin melihat dulu apakah Azam mengakui kesilapan nya atau sebaliknya.


lantas Renita mengambil kitab suci Alquran dan dia membacanya sambil tersedu, dia ingin meluapkan semua kekesalan dan menumpahkan segala perasaannya, berharap Allah memberikan dia ketenangan dan ketentraman jiwa.


Sekalipun dia berada dalam masalah yang cukup berat seperti saat-saat yang kini dia rasakan dan harus dihadapi dengan segenap kesiapan.


Setelah menunaikan isya, Renita barulah keluar dari kamarnya. Dan menemukan Jefri sedang memasak mie rebus beserta sawi dengan potongan cabe, bikin ngiler.


Namun perut Renita tidak merasa lapar, sehingga tidak tergoda sedikitpun.


"Mbak, aku masak mie rebus! Mbak mau?" tawarnya Jefri.


Tangan Renita bergerak mengusap kepalanya Rendy, dalam hati berkata. "Haruskah anaknya terpisah dari bapaknya?" karena Renita pun tidak mungkin membiarkan anak nya ini jatuh ke tangan papanya bila saja perpisahan itu terjadi. Takkan pernah dia biarkan.


Beberapa kali Renita mencium kening Rendy dengan penuh kasih dan haru. Wajah Renita tampak kusut dan matanya pun terlihat sembab.


Jefri tengah menikmati makan mie nya. Melihat ke arah Renita yang keluar dari kamar Rendy yang tampak kusut wajahnya dan matanya lumayan bengkak.


"Mbak, jangan terlalu terpuruk Mbak ... Mbak bisa tunjukkan kehebatan Mbak. Sebagai wanita yang kuat dan wanita yang gak ada tandingannya!" ucapnya Jefri.


"Kamu ini ... Emangnya mbak lagi bertanding apa? ada-ada saja!" Renita itu tersenyum getir.


"Iya, kan lagi bertanding dan melawan perasaan dan harus kuat, maksud nya ... tunjukkan pada semua orang kalau Mbak Renita yang hebat!" Jefri mengangkat tangannya menunjukkan tanda semangat.


"Insya Allah, Jef ... Mbak akan berusaha untuk kuat demi Rendy dan mbak gak akan menyerah dengan keadaan!" jawabnya Renita sembari menghela nafas dalam-dalam.

__ADS_1


Renita menoleh pada jarum jam yang berada di dinding, sudah menunjukkan pukul 08.00 lewat.


"Mbak, harus bangunkan Rendy dulu. Dia belum makan malam." Renita pun beranjak kembali ke kamarnya Rendy. Niatnya mau bangunkan putranya yang l belum makan malam.


Tidak lama kemudian, Renita kembali sambil memangku Rendy.


"Duuh ... Putra ... Putra Bunda ini belum mandi lho ... belum makan. Mandi dulu ya, terus makan baru bobo lagi." Renita mengusap kepala Rendy yang nemplok di dadanya Renita.


"Gak mau mandi, Bunda. Rendy nggak mau mandi, mau makan aja!" ucapnya Rendy sambil menempelkan pipinya di dada Renita, anak itu masih tampak ngantuk emang bangunnya pun dibangunkan.


"Om Jefri mau menginap ya?" tanya Rendy Setelah dia melirik ke arah Jefri.


"Iya, om mau nginep di sini, tidurnya sama Rendy boleh?" jawabnya Jefri sambil menatap ke arah ponakannya tersebut.


"Boleh, di tempat tidurku kan luas. Juga cukup untuk berdua kok!" jawabnya anak itu sembari menggosok kedua matanya.


Kini Rendy duduk sendiri di kursi, sementara sang Ibu sedang menyiapkan makanan untuknya.


Dan setelah makanan siap, Renita lantas menyuapi putranya dengan sabar, sementara Jefri kini sudah duduk di depan televisi.


Tiba-tiba terdengar suara motor yang memasuki halaman rumah, dan itu suara motor Renita yang tadi di titipkan di warung untuk Azam pulang.


Renita menoleh ke arah pintu utama, begitupun dengan Jefri dia menatapi daun pintu yang sebentar lagi pasti akan terbuka.


Blak ....


Daun pintu terbuka dengan tendangan kaki Azam, wajahnya tampak marah dan melotot dengan sangat ke arah Jefri dan juga Renita bergantian.


"Apa-apaan kalian! tadi datang ke sana apa maksud kalian ha? untuk mempermalukan aku!" sergah nya Azam sembari berdiri dan bertolak pinggang.


Menunjukan kalau dia sedang marah pada Renita sekaligus adiknya yang dia rasa telah ikut campur. Hidung nya pun tampak di perban yang tadi kena tonjokan dari Jefri ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Like nya dong ... biar tambah semangat nih ... makasih ya atas dukungannya.


__ADS_2