
Alangkah terkejutnya Malik ketika melihat sebuah mobil yang sudah berguling-guling, mungkin sebelumnya menghantam tiang listrik dan beberapa meter sebelumnya tergeletak seorang wanita yang berkerudung hitam di pinggir jalan.
Untuk memastikan yang tergeletak itu adalah Renita, kedua netra mata Malik mencari-cari keberadaan wanitanya! namun tidak ada dan setelah mengarahkan juga menajamkan pandangannya dia baru yakin, kalau itu adalah Renita.
"Renita?" gumamnya Malik sembari melompat, berlari sekencangnya menghampiri seseorang yang tergeletak itu. Kemudian banyak warga yang menghampiri dan juga mobil menabrak tersebut.
"Sayang, sadar! sayang bangun? ini aku! sayang sadar? sayang bangunlah?" Malik memeluk kepala Renita dan menepuk-nepuk pipinya, namun wanita itu tetap bergeming.
Suara-suara dari warga begitu riuh tidak jelas apa yang harus didengarkan, yang jelas mereka memperbincangkan mobil yang menabrak tiang listrik itu sebelumnya menabrak seorang wanita, Malik pun tidak perduli dengan itu. Yang penting sekarang adalah keselamatan Renita.
Malik semakin panik setelah mendapatkan darah di jarinya dari kepala Renita, Malik semakin di bikin spot jantung dan Malik pun meminta tolong segera agar ada yang sudi menyediakan mobil dan mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Sebab mobil Malik pun terlalu jauh jika harus didatangi. Alhamdulillahnya ada pemilik rumah yang memiliki mobil di komplek tersebut, bersedia menolong dan membawa Renita ke rumah sakit.
...----------------...
Malik mondar-mandir berjalan bak setrikaan di depan pintu ruang UGD, hatinya begitu risau. khawatir! cemas bercampur menjadi satu, rasa ketakutannya tidak bisa di sembunyikan dari wajahnya tersebut.
"Gimana Dok, kabarnya calon istri saya?" tanya Malik yang bergegas menghampiri dan bertanya kepada dokter, rasa gusar dan cemas yang tergurat di wajahnya Malik.
Sejenak dokter terdiam menatap ke arah Malik yang tampak cemas dan khawatir. "Istri anda mengalami retak tulang di kedua kakinya hingga dia mengalami kelumpuhan untuk sementara waktu!"
Duarrrrrr ... Duarrrrr ....
Bagaikan suara petir yang menyambar, bagai deburan ombak yang menghantam batu karang. Rasanya hancur perasaan Malik saat ini mendengar kabar berita dari dokter kalau Renita mengalami kelumpuhan sementara.
"Oh, tidak mungkin Dok. Tidak mungkin!" Malik menggelengkan kepalanya berkali-kali rasanya tidak percaya jika wanita yang dua hari lagi menjadi istrinya mengalami kelumpuhan.
Dokter menepuk kedua bahu Malik. "Yang sabar ya, dan kami akan terus berusaha untuk menyembuhkannya. Dan beri dia dukungan semangat untuk bisa menjalani hidup dengan baik dan yakinlah kalau dia bisa sembuh."
Kedua lutut Malik bergetar lemas dan dia berlutut di lantai dengan kepala mendongak, menutupnya dengan kedua telapak tangan! dia pun tidak kuasa menahan tangisnya dengan pernyataan dokter yang demikian, tapi kalau memang itu kenyataannya gimana?
"Mana Renita? Renita di mana Nak Malik?" Suara ibunya Renita yang baru saja datang bersama suami, Rendy yang di tuntun dan Sheila yang berjalan cepat menghampiri Malik yang masih berlutut di lantai.
__ADS_1
"Mbak di mana dan gimana kabarnya Bang? kenapa bisa bisa masuk rumah sakit?" tanya Sheila sembari menatap tajam ke arah Malik.
Malik mengusap wajahnya dan tampak menghela nafas dalam-dalam, ia berdiri berusaha dengan tegak dan menegar kan hati.
"Papa, bunda mana dan ... kenapa ada di sini! emangnya bunda sakit apa?" Rendy kebingungan.
"Nak Malik, Renita mana? dan gimana kejadiannya! Sampai masuk rumah sakit seperti ini. Apa yang terjadi?" tanya ibunya Renita kembali.
"Saya tidak tahu kejadiannya gimana, yang jelas ketika saya menoleh dia sudah tergeletak di jalan dan ada mobil yang tergelincir nabrak tiang listrik. Saya belum konfirmasi tentang itu karena saya lebih mementingkan membawa Renita ke rumah sakit ini!" Gumamnya Malik sambil mengusap ingusnya.
Dari UGD terlihat brangkar pasien di dorong keluar berisi seseorang yang di perban kepalanya. Dan dia tampak tidak sadarkan diri.
"Dia siapa?" gumam ibunya Renita yang langsung tubuhnya menegang melihat pasien tersebut. "Renita?"
Malik ikut mendorong brangkar tersebut dengan dokter dan suster menuju ruang inap.
"Bunda ... Bunda kenapa Nenek?" Andi menggoyangkan tangan neneknya sambil menunjuk yang ada di brangkar tersebut.
Tanpa berkata-kata! orang tua Renita dan juga sang adik menyusul brangkar tersebut yang menuju ruang inap VIP.
"Ren, kamu kenapa bisa seperti ini?" suara sang bunda.
"Bunda, Bunda bangun? kalau Bunda sakit, aku sama siapa? hik-hik-hik ..." anak itu terisak.
Malik menoleh ke arah Rendy, tasnya mengiris hati mendengar perkataannya barusan. Lalu mengalihkan pandangan pada dokter.
Sementara Sheila menatap sedih pada Renita yang terbaring lemah dan tidak berdaya. Serta tidak sadarkan diri.
Malik mengakhiri obrolannya dengan dokter. "Saya akan segera mengurus administrasi nya."
Kemudian Malik menghampiri tempat tidur pasien, menatap wajah pucat Renita yang masih belum sadarkan diri itu. Lantas mengalihkan pandangan pada Rendy yang sedang menangis dan memeluk sang bunda.
"Sayang, anak cowo kok menangis sih ... Anak cowo kan harus kuat. Tidak boleh cengeng. Anak jagoan itu harus bisa jagain bunda!" Malik memeluk calon putra sambungnya itu.
__ADS_1
"Tapi bunda, Pah ... dia sakit apa? kasian ..." Rendy menoleh pada sang bunda.
Malik mencium kening Rendy dengan durasi yang lama. "Doa kan cepet sembuh ya?"
"Mbak Renita mengalami kelumpuhan?" Sheila dan sang Bunda merasa tersentak setelah mendengar kalau Renita lumpuh dari sang ayah.
Sang ayah mengangguk membenarkan pertanyaan dari putri nya. Kalau Renita lumpuh.
Sheila menoleh pada Malik yang memangku Rendy dan dia langsung mendekati pria itu.
Bugh.
Sheila menepuk bahunya Malik. "Ini gara-gara Abang! Mbak renita seperti ini, kalau sudah begini. Siapa yang bertanggung jawab?"
Malik menggeser tubuhnya berapa langkah dari Sheila. "Saya minta maaf tapi ini bukan keinginan saya ataupun Renita dan saya akan bertanggung jawab atas biaya semuanya sampai Renita sembuh, sampai bisa berjalan lagi seperti dulu!"
"Kamu pikir gampang? dia sembuh dengan singkat dan bisa berjalan lagi? tidak! itu butuh waktu, aku tidak bisa membayangkan kalau Mbak Renita tidak bisa sembuh lagi." Sheila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dia menangis dan tidak bisa membayangkan gimana jadinya bila sang kakak tidak sembuh lagi.
"Sheila jangan ngomong begitu mbak mu pasti sembuh lagi, kita doain dan kita nggak boleh berputus asa. Justru kita harus memberi semangat untuknya sembuh!" ucap sang ayah kepada Sheila.
"Saya tahu semuanya tidak ada yang instan, semuanya butuh proses dan saya yakin! kembali biarpun membutuhkan waktu yang agak panjang dan saya tidak akan pernah meninggalkannya!" Jawabnya Malik memberikan keyakinan.
Sementara sang Ibu menangis di dekat Renita yang berbaring lemah dan belum juga sadar, bagaimanapun dia mengingat kalau sekitar 2 hari lagi Renita akan menikah dengan Malik! terus dengan keadaan yang seperti ini gimana dengan pernikahannya?
"Bohong sekali jika kamu tidak ingin meninggalkannya, terus apa kabar dengan pernikahan kalian yang tinggal 2 hari lagi? sementara keadaan mbak Renita ini? apa kabar dengan pernikahannya nanti?" selidiknya Sheila dengan suara yang menggebu-gebu.
Rendy menatap ke rahasia dan Malik bergantian. "Kok Tante marahin papa sih?"
"Saya yakin Renita akan segera sadar dan saya akan menikahinya bagaimanapun kondisi dia, bila perlu ... kita menikah di rumah sakit ini, dan pernikahan akan tetap terjadi. Apapun kondisinya!" Jelasnya Malik tanpa ragu sambil menatap ke arah Sheila.
Penjelasan dari Malik membuat keluarga dari Renita tercengang setengah tidak percaya, apa iya Malik mau menikahi dengan kondisi Renita yang seperti sekarang ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya untuk dukungan supaya aku tambah semangat, terima kasih.