
Dari mobil yang kaca spionnya kesenggol oleh mobil Yati, keluar lah seorang laki-laki tampan berkaca mata hitam. Bertopi hitam dan langsung mengetuk pintu mobil sebelah Yati.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Buka pintunya? kamu tidak apa-apa kan?" terdengar suara pria itu malah bertanya pada yang bawa mobil.
Sementara tubuh Yati masih saja membeku. Dia belum bisa berbicara shock dan kaget! sehingga Renita yang langsung keluar saja sambil memangku Rendy. Menghampiri pria tersebut untuk meminta maaf.
"Saya, atas nama yang bawa mobil minta maaf! Yang sebesar-besarnya atas kelalaian kami dan ini benar-benar tidak di sengaja!" ucapnya Renita kepada pria yang langsung menoleh ke arah Renita yang datangnya dari arah belakang.
Sementara pria itu fokusnya ke arah Yati, sebagai orang yang membawa mobil. Pria itu langsung membuka kacamata hitamnya dan menatap ke arah Renita dan juga Rendy.
Membuat keduanya terkaget-kaget memandangi satu sama lain Seraya berkata.
"Malik?"
"Renita!"
Kemudian keduanya saling melempar senyuman. Dan tidak menyangka kalau mereka akan bertemu di tempat tersebut.
"Kamu sedang apa di sini?" selidiknya Malik sembari celingukan.
Dan Renita pun menjawab. "Aku di dalam mobil ini, dia teman ku dan baru pulang dari kantor itu!" Renita menunjuk ke arah kantor pengacara.
"Dari kantor itu? ada urusan apa?" Malik malah menyelidiki.
"Sekali lagi ... aku minta maaf ya? mungkin temen aku lagi agak melamun jadi ... hampir saja menabrak mobil yang ada di depan sana dan alhamdulillah! tidak sampai terjadi, tapi eeh ... malah banting setir dan menyenggol kaca spion mobil kamu. Nggak apa-apa kan? maksud aku nggak parah?" ujar Renita sembari melihat-lihat ke arah kaca spion.
"Kaca spionnya emang rusak, tapi yang aku khawatirkan ... orang yang berada di mobil ini takut kenapa-napa gitu!" balasnya Malik sambil menunjuk ke arah Yati yang masih berada di dalam mobil dan pintunya pun masih tertutup rapat.
Yati menghela nafas dalam-dalam, berusaha mengontrol di degup jantungnya yang kemudian dia menurunkan kaca jendela melihat ke arah Malik dan Renita yang sedang mengobrol. "Aduh Tuan ... aku minta maaf ya? maaf ... banget, aku nggak sengaja! ampun deh ach, rusak kaca spionnya nanti aku ganti deh!"
__ADS_1
Malik menoleh ke arah Yati sembari berkata. "Kaca spion mah gampang, gak seberapa kaca spion ini. Yang aku khawatirkan yang menyenggolnya, takut kenapa-napa! kamu nggak kenapa kan! mana lagi hamil ya?"
"Alhamdulillah ... aku kenapa-napa, ya Allah ... sekali lagi minta maaf ya? beneran gak harus diganti?" Yati meyakinkan diri kalau kaca spion milik Malik nggak harus diganti.
"Nggak usah ... nggak seberapa kok. Yang penting kamu gak kenapa-napa yakin nggak kenapa-napa nih?" tanya kembali Malik.
"Nggak kenapa-apa kok. Cuma jantung ku aja rasanya mau copot he he he ..." akhirnya Yati bisa ketawa walaupun tipis.
Kemudian Malik mengalihkan kembali pandangannya kepada Renita. "Rendy sepertinya ngantuk ya?" Malik mengusap kepala Rendy yang ditempelkannya ke bawah leher samping ibundanya.
Dan anak itu hanya mengangguk dan beberapa kali yang menguap. "Ya sudah, masuk aja ke dalam mobil atau mobil ku. Biar aku antar pulang." Tawarnya Malik yang bersedia mengantarkan pulang Renita.
"Oh nggak usah! nggak usah, makasih tapi aku pulang sama teman ku aja, ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya!" kata Renita sambil membalikan tubuhnya lalu mengitari kembali mobilnya miliki Yati.
Malik memandangi punggung Renita yang mengitari mobil Yati. Kemudian Malik pun menoleh kepada Yati. "Benar nggak kenapa-napa? Bisa nyetir lagi kan! hati-hati ya?"
"Gimana kalau aku aja yang nyetir? dan aku akan tidurkan Rendy di belakang! kamu pindah posisi," kata Renita kepada Yati.
Yang obrolan itu terdengar oleh Malik yang masih berdiri di tempat semula.
Sementara Renita bernegosiasi dengan Rendy, agar dia tidur di belakang dan anak itu bersedia. Sehingga Renita pun langsung kembali mengitari mobil Yati untuk duduk di belakang kemudi setelah membaringkan Rendy di jok belakang.
"Kamu bisa nyetir?" tanya Malik menatap ke arah Renita.
"Insya Allah bisa," jawabnya Renita sambil mendudukan dirinya di belakang kemudi.
"Kalau gitu hati-hati ya." Ucup Malik seraya sedikit membekukan tubuhnya di samping Renita yang sudah duduk di dalam mobil.
"Iya insya Allah makasih ya balasnya Renita sambil menutup bell safety tersebut dan menyalakan mesin mobilnya.
Beberapa saat kemudian, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang yang dikemudikan oleh Renita. Menuju kediamannya Yati, karena dia sendiri nanti pulang dengan motornya yang tersimpan di kediaman Yati tersebut.
"Aku benar-benar sok deh, ya Allah ... jantungku hampir saja copot! bisa-bisanya aku lalai," ucapnya Yati sembari meneguk minumnya.
"Aku aja sama, hampir saja aku juga spot jantung!" balasnya Renita sambil fokus ke depan di mana jalanan tampak ramai dengan kendaraan lain.
__ADS_1
"Terus gimana, Ren. Cara kamu melanjutkan hidup?" selidiknya Yati sembari menoleh ke arah Renita yang sedang menyetir di sampingnya tersebut.
"Em ... insya Allah aku akan mencari kerjaan, nggak mungkin kan aku berdiam diri sementara aku butuh biaya hidup biarpun seandainya Rendy dapat nafkah dari Mas Azam, tetap aja aku harus mencari sendiri untuk kebutuhan ku dan untuk sehari-harinya!" ujarnya Renita sembari melirik sekilas kepada Yati.
"Bagus itu, Ren. Aku setuju dan kamu hebat, kamu kuat sudah di selingkuhi, ditinggalkan. Kamu tampak tegar sementara aku belum tentu bisa seperti itu!" Yati merasa bangga pada sahabatnya itu, Renita.
"Biasa aja ya. Aku berusaha bukannya bisa, kan aku nggak mau terlalu rapuh meratapi nasib! aku harus kuat. Aku harus bisa melanjutkan hidupku demi buah hati aku juga!" jawabnya Renita kembali.
"Iya, makanya ... Aku kagum sama kamu Dan semoga kamu mendapatkan pekerjaan ya! serta kamu bisa buktikan pada mantan suamimu itu, bahwa kamu bisa hidup lebih baik dan kamu tidak susah walaupun hidup tanpa dia!" ungkapnya Yati sembari menepuk bahunya Renita.
Tidak lama di jalan, akhirnya mereka pun sampai di kediaman Yati.
Dikarenakan rendy tidur! jadi Renita tidak segera pulang dan menidurkan dulu buah hatinya di kamar tamu, sampai Rendy terbangun nanti.
Yati pun mengajak Renita untuk makan siang di sana biarpun jam makan siang agak lewat.
"Aduh ... semakin nggak enak nih, jadi ngerepotin terus!" ucapnya Renita sembari mendudukan dirinya di kursi menghadapi meja makan.
"Sudahlah Ren, Kan dari dulu kita bersahabat! hanya setelah menikah saja kita jauh dan kita jarang ketemu. Aku harap mulai sekarang persahabatan kita dekat kembali!" ujarnya Yati sembari mendekatkan wadah nasi ke dekat nya Renita.
"Harapannya sih kayak gitu. Tapi kan bagaimanapun ... kalau namanya sudah berkeluarga kan? pasti ada bedanya waktu kita itu terbatas," balasnya Renita sembari mengambil sayur.
Mereka pun menikmati makan siangnya dengan sangat lahap biarpun Renita sedang tidak berada dalam baik-baik saja tapi kalau soal makan nggak terlalu ditinggalkan, karena dia nggak mau karena masalahnya dia meninggalkan makan. Kalau dia sakit, siapa yang akan mengurus putranya.
Menghadapi dunia butuh makan Basti!
"Setelah ke pengadilan besok, aku akan pulang dulu ke tempat orang tuaku! untuk menjelaskan semua ini." Ungkapnya Renita.
"Emang orang tuamu belum tahu?" selidiknya Yati sembari meneguk minumnya.
"Aku rasa ... belum. Berapa waktu kemarin sih adik aku tahu kalau suamiku selingkuh! tapi kalau sudah Mas Azam menceraikan ku ... aku belum cerita sama adik aku, dan aku sudah berpesan sama dia kalau jangan cerita dulu masalah ku pada orang tua sebelum aku sendiri yang cerita padanya."
Di saat sedang asik makan, datanglah sebuah mobil memasuki kediaman Yati ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mohon dukungannya ya? agar aku tambah semangat untuk melanjutkannya. Makasih