Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Terima kasih


__ADS_3

Shopia tidak punya rasa terima kasih sama sekali pada orang yang sudah menebar kebaikan padanya.


"Kami pulang dulu ya? Genta, kalau ada apa-apa hubungi aja Tante atau Om!" Renita pun berpamitan serta mengajak suaminya untuk pulang.


"Iya, Tante makasih ya, Om." Genta pun mengantar Om Malik dan tante Renita sampai ke ambang pintu.


"Baiklah, kami pulang dulu! kalau memerlukan sesuatu ngomong aja jangan sungkan ya?" Malik mengusap bau Genta lalu kemudian mereka pun pergi meninggalkan Genta yang berdiri dan sempat menganggukkan kepala memandangi keduanya yang berlalu meninggalkan.


"Kita mau kembali ke tempat Rosita dulu atau langsung pulang?" tanya Renita sambil berjalan menoleh pada Malik yang menggandeng tangannya.


"Em ... nggak ach. Kita langsung pulang saja, lagian sudah malam dan aku capek pengen istirahat." Malik menggelengkan kepalanya! dia malas untuk mendatangi lagi ruangan Rosita di mana tadi dia sempat melihat Azam menatap aneh pada sang istri.


"Ya sudah, kalau gitu kita langsung pulang aja!" Renita mengiyakan suaminya yang ingin langsung pulang.


Kemudian mereka berjalan di sebuah lorong Rumah sakit menuju parkiran. Dimana mobilnya berada dan terparkir cantik di sana.


"Bismillah!" gumamnya Renita seiring dengan langkahnya yang memasuki mobil, dimana sang suami dengan perhatian sudah membukakan pintu untuknya.


Malik mengitari mobilnya untuk menjangkau belakang kemudi. Dan berapa kali dia menguap! rasanya ngantuk sekali, capek menyerang kedua matanya.


Melihat suaminya tampak ngantuk dan Renita berinisiatif. "Ya sudah, aku aja yang nyetir ya? kayaknya kamu ngantuk banget!"


"Nggak pa-pa ... biar aku aja, kamu duduk aja dengan manis! di depan ada tukang kopi kita beli dulu dua gelas kopi untuk mengusir rasa kantuk ku!" Malik tidak mengijinkan untuk Renita menyetir mobil dan biar dia sendiri yang membawanya.


"Ya udah kalau gitu beli kopi dulu!" Renita menganggukkan kepala seraya memasang bell safety di tubuhnya.


Setelah beberapa meter dari tempat semula, mobil berhenti tepat di depan warung kopi lantas Malika pun memesan dua gelas untuk dirinya dan sang istri.


"Terima kasih, Mas. Dan Ini uangnya, kembalian ... ambil saja!" Malik mengambil 2 gelas kopi dan sekaligus memberikan uangnya.

__ADS_1


Sejenak Malik menikmati kopinya begitupun dengan Renita, ia melirik jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Dan mereka masih berada di area rumah sakit sekitar 25 menit lagi baru nyampe ke rumah.


"Yank?" Renita melirik dengan perlahan pada sang suami yang tengah menikmati kopinya dan sesekali terlihat membelalakkan kedua mata yang mungkin terasa lelah dan mengantuk.


"Kenapa?" Gumam Malik sembari melirik sehingga bertemulah pandangan mata mereka berdua.


"Apakah kamu punya rencana untuk Genta kedepannya? mengingat mama nya yang sekarang sedang sakit dan papanya juga entah di mana bukan? sedari Genta kecil!" Renita dengan lirih membuka obrolan tentang Genta dan Shopia.


"Rencana kedepannya ... ya bantu dia, kalau memang mereka membutuhkan bantuan! bagaimanapun 'kan Genta keponakanku juga, kalau bukan kita sama siapa lagi yang akan membantunya!" balas Malik seraya menempelkan punggungnya ke belakang jok mobil dan sedikit mendongakkan kepalanya ke langit-langit.


"Aku setuju saja, kalau seandainya Allah menghendaki dia sembuh kembali aku ingin mengajak Shopia untuk bekerja! intinya memberikan dia pekerjaan! bila perlu memberikan dia jodoh yang baik," Renita sambil menaikkan kedua bahunya.


Malik menoleh ke arah Renita dan menatapnya dengan sangat lekat. "Ya! mudah-mudahan aja dia segera sembuh. Dan aku setuju jika kamu memberikan dia pekerjaan, kalau soal jodoh aku nggak tahu dan aku angkat tangan! dengan sikapnya yang tetap seperti itu ditolong juga nggak berterima kasih."


"Kalau kita berbuat baik ... sama seseorang, nggak perlu lah berharap dibalas ataupun berterima kasih! biarkan saja. Nanti juga Allah yang membalasnya. Dan suatu saat nanti dia pun akan menyadari, jangan terlalu berharap balasan dari orang lain!" tambah Renita yang tampak ikhlas.


"Idih ... merayu, kamu juga baik. Kamu seorang suami yang bertanggung jawab untukku dan anak-anak! aku sangat bahagia memiliki kamu. Terima kasih sudah menjadi suami yang baik untuk ku!" Renita menyambut tangan Malik yang berada di pipinya yang semakin ia tempelkan dan lantas mencium punggungnya.


Senyum Malik mengembang, lalu menarik kepala dan Malik mencium keningnya nan mesra. "Aku akan selalu berusaha menjadi suami yang terbaik untuk mu, ayah yang baik untuk anak-anak kita!"


Kemudian keduanya berpelukan sangat mesra. Renita menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami yang memeluknya penuh kehangatan.


"Sesungguhnya ... aku sangat cemburu bila ada pria lain memandangi mu, begitupun dengan mantanmu itu. Biarpun kita sama-sama sudah bahagia dengan pasangan masing-masing! tapi entah kenapa semakin ke sini aku cemburu, bila kamu berbincang dengan Azam biarpun sebatas pekerjaan!" batinnya Malik sambil memeluk sang istri dengan sangat erat serat tangan yang bergerak mengelus.


"Yank?"


"Hem ..." sahut Malik tanpa melepas rangkulannya yang kuat itu. "Kenapa?"


"Pulang, kapan kita akan pulang? masa mau di sini terus! dah malam nih." Renita mendongak dan menatap wajah suaminya yang ganteng nya tak pernah hilang! biarpun waktu ke waktu usianya semakin bertambah dan hakikatnya berkurang.

__ADS_1


"Oh iya berasa sudah ada di kamar, he he he. Oke kita pulang!" Malik kembali meneguk kopi yang sisanya tadi, kemudian membuang gelasnya ke kantong sampah yang sudah disediakan dalam mobil tersebut! yang kemudian dia menyalakan kembali mobilnya dan memajukan dan kecepatan sedang.


"Hati-hati, jangan ngebut apalagi kalau ngantuk!" Pesan sang istri sembari merapikan kerudungnya agak berantakan.


"Oke sayang!" Bibir Malik melengkung menunjukkan sebuah senyuman yang bahagia.


Sekitar 25 menit kemudian. Mobil Malik tiba di depan kediamannya dan sudahlah memarkirkan mobil tersebut keduanya turun tidak lupa saling bergandengan memasuki pintu utama yang sudah dibukakan oleh bibi.


"Apakah Alina menanyakan kami?" tanya Renita kepada bibi, mengingat waktu kamu tadi mereka pergi ke rumah sakit. Alena tidak tahu.


"Iya, tadi sempat nanyain dan bibi bilang Bunda pergi ke rumah sakit sama papa, terus dia tidur!" Balasnya bibi sambil mengangguk.


Kemudian Malik dan Renita lanjutkan langkahnya, menuju kamar pribadi mereka berdua.


"Ach, aku nggak kuat! ngantuk pengen tidur!" Malik langsung buka jaketnya dan juga kaos dalam yang ia kenakan! sehingga mengekspos dadanya yang bidang. Lantas menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.


"He'em." Gumamnya sambil membawa langkah yang gontai ke kamar mandi, dan sekitar 3 menit Renita berada di sana.


Kepala Renita menggeleng setelah melihat suaminya yang sudah tampak lelap bahkan terdengar suara ngoroknya memenuhi ruang kamar tersebut yang tampak hening.


"Baru ditinggalkan 3 menit udah ngorok gitu banget." Renita tersenyum sambil berjalan mendekati tempat tidur! lalu berangkat naik berbaring di samping sang suami.


Renita menarik dan menutupi kedua tubuh mereka dengan selimut tebal! sebelum memejamkan mata mulut Renita komat-kamit membaca doa.


Malam semakin larut dan gelap, suasana semakin dingin mencekam! yang terasa hanya keheningan oleh Renita yang masih terjaga dan sempat tidur tapi tak Lena.


Brakk ....


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2