
"Reni ... kamu sudah makan?" tanya sang ibu mertua yang mendatangi Renita dan Rendy.
"Sudah, aku sudah makan tadi." Jawabnya Renita dengan lembut.
Ibunya Malik duduk di tepi tempat tidur Renita. "Syukurlah kalau sudah makan. Em ... Rendy tiduran. Mau bobo bukan?"
Anak itu menoleh pada omanya seraya mengangguk. "Oya Oma ... Rendy capek dan mau tidur dulu!"
"Lho ... kamar Rendy kan di kamar sebelah, bukan di sini." Kata sang Oma sambil melihat Rendy yang tiduran di samping sang bunda.
Lalu sang ibu mertua mengalihkan pandangannya pada Renita. "Kamar Rendy kan sudah di siapkan di kamar sebelah, bukannya barangnya pun sudah di tata di sana."
"Terima kasih ya Mah, terima kasih banyak. Sudah menyiapkan kamar buat Rendy." Renita tersenyum pada sang ibu mertua.
"Sama-sama ... kan sudah sewajarnya seperti itu." Balas nya kembali.
"Bunda, Oma ... Rendy mau bobo di kamar yang baru ya, ngantuk!" Anak itu turun dari tempat tidur sang bunda lalu setengah berlari keluar dari kamar bundanya itu.
Renita dan ibunya Malik melihat anak itu sambil tersenyum tipis.
"Sebaiknya kau juga istirahat. Mama juga mau tidur, ngantuk ach." Wanita sepuh itu beranjak dari duduknya.
"Hati-hati Mah ..." Renita pada sang ibu mertuanya dengan lirih.
Beliau berjalan dengan langkah yang gontai. Lalu menutup pintu kamar tersebut, kan dan itu sendirian.
Renita pun membaringkan dirinya setelah sang ibu mertua keluar.
Hari pun semakin sore, Rendy yang sudah bangun dari tidur siang langsung mandi dan lanjut bermain di taman sendirian, yang tadinya dia suka dengan Genta dan ingin bermain dengannya! sekarang dia lebih memilih main sendiri sehingga sang omah pun menegurnya.
"Rendy, kenapa tidak main sama Genta? bukannya Rendy suka bermain sama Genta," suara sang omah.
"Rendy lagi malas aja Oma, lagi pengen sendiri mainnya," jawabnya anak tersebut.
"Oh begitu ..." sambungnya sang oma. "Ya udah ... nggak apa-apa main sendiri, tapi jangan jauh-jauh ya!"
"Baik Oma." Rendy mengangguk dan menatap ke arah Omanya yang duduk-duduk santai di kursi yang tidak jauh dari taman tersebut.
__ADS_1
Renita sedang berusaha menggeser tubuhnya untuk menjangkau kursi roda, kakinya yang terasa sakit sulit di gerakkan apalagi di bawa melangkah.
Wanita itu mau ke kamar mandi. Dan ingin mandi. Ketika tangannya hampir menggapai kursi roda. Shopia datang dengan wajah yang begitu datar, tangan melipat di dada memandangi dan mendekati ke arah Renita.
"Kau mau ke mana?" tanya Shopia sembari menatap gerak-geriknya Renita.
Renita menggerakkan manik matanya melihat ke arah Sophia. "Ada apa dan perlu apa?"
"Aku rasa ... aku tidak ada perlu apa-apa! karena kamu sendiri tidak bisa apa-apa, yang ada kamu cuma bisa ngerepotin orang!" Shopia menatap tajam ke arah Renita.
"Apa maksud mu, bilang seperti itu? dan apa gunanya kamu datang kemari hanya untuk mengatakan itu padaku? karena aku tidak perlu omongan itu, sebab bagi aku ... aku sadar sendiri kok kalau aku tidak bisa apa-apa. Tapi ini bukan keinginan ku melainkan sebuah takdir yang harus aku terima dengan lapang!" ucapnya Renita dengan jelas.
"Baguslah kalau kamu sadar diri, seharusnya kamu menolak ketika mau dinikahi Malik. Karena apa sih yang bisa kamu lakukan untuk dia yang kini sudah menjadi suami itu, yang ada kamu dilayani dia!" Kata-kata Sophia cukup pedas yang terdengar di telinga Renita.
"Sebaiknya kamu nggak usah banyak ngomong ya, karena kamu nggak tahu apa-apa. Aku baru tahu ternyata mulut mu itu lebih pedas dari cabe level 9." Renita dengan tegasnya membalas perkataan dari Shopia.
"Hoo ... Baru tahu ya kalau mulutku itu ada levelnya, bahkan lebih tinggi dari itu. Jadi siap-siap aja mulutmu itu ... terbakar habis-habisan dengan perkataan ku." Shopia tersenyum sinis.
"Tapi semoga aja level pedas mu itu tidak berarti apa-apa buat diriku!" Renita membalas tatapan Shopia yang tajam tersebut.
Tangan Renita mendekatkan kursi roda dengannya hendak diduduki.
Renita bengong melihat itu, Shopia bukannya lebih mendekatkan kursi itu pada dirinya, tetapi malah menjauhkan kursi tersebut ke dekat dinding yang tidak jauh dari pintu keluar.
"Nyonya Renita yang terhormat, aku sudah membantumu menjauhkan kursi roda ini dan silahkan kamu ambil sendiri!" Shopia tersenyum penuh kemenangan, lalu dia keluar dari kamar tersebut melenggang dengan suasana hati yang puas.
Brugh ....
Terdengar suara pintu yang Shopia tutup. Renita menatapi pintu tersebut yang kini tertutup rapat dan di sampingnya kursi roda yang dia butuhkan, sebenarnya dari tadi Renita pengen ke toilet ingin buang air kecil dan sekalian mau mandi.
"Astagfirullah ... astagfirullah ... Ya Allah berikan aku kesabaran dan berikan aku juga kekuatan!" gumamnya Renita sembari menghela nafas dalam-dalam seraya berpikir. Gimana caranya dia bisa menjangkau kursi roda yang cukup jauh dari tempat tidur.
Renita berusaha menapakkan kedua kakinya di lantai. Namun tak ada tenaga, yang membuatnya Ia tidak mampu untuk berdiri apalagi melangkah. Dan pada akhirnya tubuhnya luruh ke lantai.
Brugh.
Renita mengembuskan nafas dari hidung secara kasar, dadanya terasa sesak dan kedua manik mata nya pun berembun. Terkumpul cairan bening di ujung mata.
__ADS_1
"Aku tidak mau di kasihani. Aku harus bisa dan aku tidak mau membuat orang lain khawatir termasuk Malik, aku harus bisa! Ketika dia pulang yang tidak lama lagi. Aku harus sudah mandi." Gumamnya Renita pelan dan suaranya terdengar bergetar.
Renita bertekad kalau Malik nanti pulang, dia sudah selesai mandi sehingga dia buru-buru menggerakkan tubuhnya, sekalipun harus mengesot menjangkau kursi roda.
Kemudian Renita pun berusaha untuk menaikkan tubuhnya dengan perlahan, agar dapat menduduki kursi roda tersebut dan alhamdulillah. Pada akhirnya Renita bisa dan dia merasa lega.
"Alhamdulillah ... akhirnya aku bisa juga menjangkau kursi roda ini dan mendudukinya, sekarang aku harus segera mandi. Sebentar lagi Malik pulang, aku nggak mau dikasihani apalagi merepotkannya! setidaknya aku harus bisa mengurus diriku sendiri." Monolognya Renita sembari memutar roda kursi tersebut dan mengarahkan nya ke dalam kamar mandi.
Walaupun sulit ataupun susah payah, Renita berusaha untuk mandi sendiri dengan niatnya yang tidak ingin terlalu merepotkan Malik.
Sambil berada di dalam kamar mandi, hati Renita pun bertanya-tanya. Apakah buah hatinya sudah bangun dan mandi, atau masih di dalam kamarnya?
Sekitar 20 menit kemudian Renita sudah selesai bersih-bersih dan sudah tampak segar dan wangi. Dia yang masih mengenakan handuk terus menggerakkan kursinya mendekati lemari dan mengambil pakaian gantinya.
"Alhamdulillah sekarang aku sudah mandi!" gumamnya Renita sembari menatap dirinya di dalam pantulan cermin sambil menyemprotkan parfum ke bagian tubuhnya. Tidak lupa memakai kerudung, karena dia berniat ingin melihat Rendy di kamarnya! apakah anak itu sudah bangun atau belum.
Namun ketika Renita ingin meraih handle pintu, pintu tersebut sudah didorong lebih dulu ke dalam dan masuklah Malik seiring dengan suaranya yang mengucap salam.
"Assalamu'alaikum. Sayang mau ke mana?" Suaranya Malik sembari berdiri pas di tengah-tengah pintu, menatap keadaan wanita yang berada di hadapannya tersebut.
"Wa'alaikum salam ... Em, aku mau melihat Rendy, apakah dia sudah bangun atau belum, tadi aku suruh tidur siang dan Setelah itu suruh mandi juga tapi sampai saat ini belum juga dia menunjukkan batang hidungnya!" Ujarnya Renita setelah mencium punggung tangannya Malik.
"Rendy kan sedang bermain di taman, bersama mama, sepertinya sudah mandi kok, dah ganti baju dan wangi dia!" ucapnya Malik sembari menyimpan tasnya di atas meja.
"Oh ... kamu sudah bertemu dia?" sambungnya Renita sambil memutar roda kursi menjauhi pintu.
"Sudah sayang, barusan aku ketemu dia. Sayang sudah mandi di antar sama siapa, bibi?" Malik mengerutkan keningnya.
"Nggak ... aku berusaha sendiri aku nggak mau terlalu ngerepotin orang!" jawabnya Renita.
Sejenak Malik terdiam seraya berlutut di hadapan Renita lalu mencium keningnya.
"Kalau perlu apa-apa, butuh bantuan ... ngomong aja sama aku, jangan sungkan-sungkan ... aku kan suamimu. Kamu boleh merasa sungkan dengan yang lain tapi sama aku nggak boleh sungkan, bicara saja." Malik membingkai wajah Renita dengan kedua tangannya.
Renita mengangguk dan terlintas di pikirannya apa yang dikatakan Shopia tadi. Namun sama sekali dia tidak ingin mengatakannya kepada Malik ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Hai ... apa kabar semuanya ... yang masih mengikuti aku sampai detik ini. Terima kasih banyak ya tanpa kalian aku bukan siapa-siapa 🙏