Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Memberi ketenangan


__ADS_3

Renita merasa kaget dengan kedatangan dua orang pria yang penampilannya rapi, tubuhnya tinggi besar dan langsung menyerang kedua orang yang merampok dan menyandra dirinya.


Dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Renita dia langsung menyambar tas miliknya dari orang yang tadi. Dan buru-buru menarik tangan putranya dari dalam mobil dan berlari ke tempat yang lebih ramai dan lumayan jauh dari mereka, di sana barulah Renita menenangkan putranya.


"Bunda Rendy takut!" suara enak itu sambil menangis lalu memeluk sang bunda.


"Iya Sayang tenang ya? sekarang Bunda sudah ada di sini sama Rendy dan Bunda gak kenapa-napa kok!" lirihnya Renita sembari memeluk Sang putra.


Lantas Renita melihat ke arah tempat yang tadi. Di mana Mereka tampak berkelahi.


"Ada apa Mbak lari-lari tanya seorang warga yang sepertinya dia dari warung kopi yang tidak jauh dari tempat Renita berdiri.


"Itu ada perampok, Pak. Dan itu mobil saya kempes bannya!" Renita menunjuk ke arah mobil dan juga orang-orang yang tengah ditangkap oleh kedua orang yang tidak dikenal juga.


Mendengar cerita Renita seperti itu membuat warga tersebut langsung menemui warga lainnya dan tidak membuang-buang waktu menyerbu tempat tersebut.


Kini Renita merasa lega. Karena sudah terlepas dari penjahat tersebut. Dia baru ingat sama suaminya setelah Rendy menyuruhnya untuk telepon papa.


"Oh iya, Bunda baru ingat." Lantas Renita menelpon Malik yang beberapa kali tidak di angkat juga.


Bikin hati Renita melemas dan harus minta tolong sama siapa? supir pulang kampung. Malik beberapa kali di hubungi hasilnya nol.


Renita menghela nafas kasar yang akhirnya ia berniat untuk menelpon Sheila saja yang lokasinya lebih dekat dan memungkinkan menjemput mereka berdua.


Akan tetapi baru saja mau tersambung ... terlihat sebuah mobil yang melesat datang menghampiri dimana Renita berdiri.


"Bun, Papa. Bun!" Rendy sangat antusias menunjuk mobil papanya yang langsung turun dari mobil mendatangi keduanya dengan wajah yang tampak cemas.


Malik langsung memeluk sang istri sembari berkata. "Kamu tidak kenapa-kenapa kan sayang Hem?"


Renita yang bengong dan tidak percaya kalau suaminya tiba-tiba ada di hadapan. Hanya bisa menggeleng pelan tanpa berkata-kata.


Setelah puas memupuk sang istri, Malik barulah memeluk Rendy. "Rendy tidak kenapa-napa kan pangeran Papa?"


Rendy pun menggeleng sambil berkata. "Aku Tidak kenapa-napa, Pah ... aku kan di dalam mobil. Bunda yang di todong sama perampok itu Pah!"

__ADS_1


"Syukurlah kalau kalian berdua selamat. Sebentar Papa mau ke sana dulu! Malik langsung mau mendatangi TKP yang beriringan dengan kedatangan polisi. Sehingga Malik urung.


"Tapi, Pah ... kok Papa ada di sini sih? mau jemput atau kalau kita sedang kemalangan?" tanya Rendy merasa heran.


"Iya sayang!" Malik mengusap rambutnya Rendy. Dengan tatapan tertuju pada TKP dimana kini polisi menangkap kedua perampok tersebut.


Dan kedua orang yang menolong Renita pun tampak ikut menggiring kedua penjahat.


Malik menoleh pada Renita yang bengong. Malik mengusap perut sang istri sembari berkata. "Apa ada barang di orang tersebut?"


Renita menggeleng. Dan menunjuk tas nya dan semua ada di sana termasuk kunci mobil.


Lalu Malik mengeluarkan ban baru yang akan dia pasang di mobilnya Renita. Dan ternyata orang dua yang menolong Renita kembali dan membantu Malik mengganti ban mobilnya Renita.


Renita yang masih berdiri di tempat sendirian karena Rendy ikut papanya, mengerutkan kening dan merasa heran, dalam katanya bertanya-tanya siapa kedua orang yang sudah menolongnya tersebut? apakah orang suruhan Malik .


Kepala Renita mengangguk pada ibu warung dan ingin ikut duduk, kakinya terasa pegal dan debaran jantungnya masih belum terkontrol. Sehingga Renita mencoba menghela nafas dengan sangat panjang.


"Kenapa sayang?" suara Malik dari samping dan memeluk sang istri dari belakang.


"Rendy mana?" tanya Renita pada sang suami yang tengah memeluk dirinya itu.


"Oh jadi orang dua itu--"


"Benar, orang itu adalah orang kepercayaan ku! kamu tidak kenapa-kenapa kan sayang? aku sangat khawatir sama kalian." Cuph kecupan hangat mendarat di keningnya Renita.


"Tidak, aku tidak pa-pa kok cuman shock aja dan tidak bisa membayangkan bila aku tidak ada yang menolong!" jawabnya Renita sembari terbayang kembali kejadian beberapa waktu uang lalu.


Kemudian mereka pun pulang mengenakan mobilnya Malik. Sementara mobilnya Renita dibawa oleh orang suruhannya Malik.


Setibanya di rumah, Renita disambut oleh sang ibu mertua yang akhirnya ngedumel.


"Makanya turutin omongan orang tua, jangan suka pergi sendirian. Kalau kenapa-napa gimana? mana sedang hamil lagi, nanti cucu saya jujur yang celaka. Kamu itu nggak bisa dibilangin ya? sudah setiap hari bekerja capek-capek! pergi juga maunya sendirian, sopir kan ada. Suami juga ada!" Bu Amelia merepet bagai suara petasan yang tidak ada jeda nya.


Renita hanya terdiam dan berdiri sambil menautkan kedua tangannya. Begitupun dengan Malik tidak sepatah kata pun yang dia ajukan pada sang bunda.

__ADS_1


"Kok oma malah marahin Bunda sih? yang kena insiden Bunda. Tapi Bunda juga yang dimarahin!" Rendy menatap Omanya yang bicara tanpa jeda.


"Oma Itu bukan marah sama Bunda, tapi cuma bilangin supaya Bunda itu menurut sama orang tua! apalagi Bunda lagi hamil yang harus banyak pantangannya! tidak bisa sesuka hati." Jelasnya Ibu Amelia kepada Rendy.


"Ya sudah Mah. Renita capek harus istirahat! bicaranya besok pagi aja," pada akhirnya Malik menggandeng tangan sang istri membawanya ke lantai atas! menghindari sang Bunda yang kemungkinan masih panjang untuk memberi ceramah.


Sambil berjalan Renita hanya bisa mesem, tersenyum lucu mengingat sang ibu mertua.


"Kenapa senyum-senyum, jangan bilang lucu ya?" selidiknya Malik sembari menoleh pada sang istri yang sedang senyum-senyum sendiri.


"Ach nggak. Cuman pengen mesem aja, daripada tadi aku dibikin spot jantung dan biarkan sekarang aku untuk tersenyum!" sahutnya Renita sembari memasuki kamarnya.


Lantas Renita masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Setelah berapa menit dan Renita keluar dari dalam kamar mandi, gantian Malik yang masuk.


Kini Renita tengah berdiri di depan cermin dan menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan yang kosong. Mengingat kejadian tadi dan kata-kata orang jahat itu yang katanya minta di puaskan di ranjang. Membuat bahu nya bergidik ngeri.


Beberapa kali menggercapkan matanya, dia tidak bisa membayangkan jika itu terjadi padanya. "Iiy, untungnya aku bisa selamat. Kalau tidak gimana?"


Beberapa kali Renita bergidik ngeri. Bila membayangkan sampai orang jahat itu memaksanya.


"Ach ..." pekik Renita tatkala bahunya ada yang menyentuh.


"Sayang, ini aku!" Malik langsung memeluknya. Malik merasa kalau istrinya masih trauma dengan kejadian tadi.


"Aku takut, Yank. Aku takut!" Renita memeluk erat punggung Malik.


Beberapa saat mereka berpelukan. Memberi kenyamanan pada Renita.


"Aku akan buatmu tenang, tentram dan melupakan semua yang telah terjadi!" Malik berbisik dan mulai mencumbu istrinya. Menciumi bagian wajah sampai tidak terlewatkan satu senti pun.


Tubuh Renita di pangkuannya ke atas tempat tidur. Cklek. Mematikan lampu sehingga suasana di kamar itu gelap gulita tanpa cahaya dan hanya ada sinar remang-remang dari luar di balik gorden jendela.


"Biarkan aku membuat kamu merasa tenang dan melupakan semua yang sudah terjadi malam ini. Aku akan membuat mu bahagia, buang semua kenangan buruk dan gantikan dengan yang indah." Lirihnya Malik sambil memposisikan dirinya dengan senyaman mungkin untuk keduanya.


Di bawah keheningan malam sinar yang temaram, menambah kesyahduan bagi dua insan yang tengah menjalani tugas nya dengan baik. Menyatukan dua raga yang berbeda dan membangun biduk bahagia dan merobohkan rasa trauma yang menyelimuti hati Renita dari kejadian tadi ....

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2