
Renita hanya mengaminkan saja. Tanpa banyak bicara lagi sambil memainkan ponsel nya mencari info. Kali saja ada pekerjaan yang sekiranya cocok untuk nya.
Beberapa saat kemudian, Renita dengan satu orang temannya pun memasuki kantor dan menemui bagian pembayaran, untuk melunasi suatu keperluan sekolahnya Rendy walaupun harus mengambil dari tabungannya lebih dulu.
Setelah beberapa saat berbincang, Renita pun keluar dan menghampiri kelas kembali.
Di dalam kelas begitu ramai. Ada yang mengobrol dengan suara yang keras, ada yang teriak-teriak Riang. Ada yang bernyanyi-nyanyi. Tidak jelas apa yang harus didengar.
Setibanya keluar jam sekolah, Renita bersiap untuk pulang dan mereka akan mampir dulu ke salah satu supermarket untuk belanja keperluan dapur.
"Bunda-Bunda Rendy mau nugget yang banyak ya? dan juga mau burger!" kata Rendy sembari mendongak pada Bundanya yang tengah memilih beberapa sabun untuk keperluan mencuci.
"Iya ... nanti kita beli yang banyak, sekarang Bunda mau beli sabun dulu keperluan untuk mencuci ya ... sabar ya ... nanti Bunda belikan nugget yang banyak buat Rendy." Jawabnya sang Bunda.
Rendy pun mengangguk sembari duduk di troli belanjaan sambil berceloteh dengan riang, juga mulutnya tak berhenti memakan sosis rasa sapi.
"Reni, beneran kamu Reni?" suara itu mengagetkan Renita yang sedang fokus mengambil belanjaan yang dia butuhkan.
Sehingga dengan refleks Renita pun menoleh ke arah sumber suara, ternyata seorang pria berwajah tampan dan wajahnya sebenarnya tidak asing bagi Renita! cuman waktu saja yang cukup lama membuat mereka tidak berjumpa sehingga ragu-ragu untuk menyebutkan namanya.
"Ma-Malik ... Malik ya?" suara Renita sedikit ragu-ragu takut salah menyebutkan nama.
"Benar, nama ku Malik. Masih ingat kan pernah satu kelas di SMA dulu walaupun cuma beberapa bulan saja! karena aku keburu pindah ke luar Negeri," pria itu dengan ramahnya sembari mengeluarkan tangan kepada Renita.
"Oh iya, aku masih ingat kok dan kamu pernah ngerjain temen aku kan Rara, hingga dia terjatuh! jahat banget kamu." Renita langsung mengingat masa-masa di SMA dulu dengan wajah yang sumringah.
"Ach ... soal itu kamu masih ingat aja, jangan ingat-ingat malu! ini pasti Putra kamu ya? ganteng banget!" pria itu menunjuk dan mengusap rambutnya Rendy.
Renita pun mengangguk seraya berkata. "Iya benar, ini putra aku namanya Rendy! Rendy kasih salam sama Om!"
__ADS_1
Dengan lucunya anak itu mengulurkan tangan dan mencium tangannya pria tersebut yang bernama Malik. "Om tampan ... namaku Rendy, putranya Bunda Renita!"
Malik tersenyum dan menoleh ke arah Renita. "Wah ... dia lucu dan pasti pintar seperti bundanya!"
"Aamiin. Oh ya! sedang apa di sini?" tanya Renita kepada Malik.
"Sedang belanja, nggak jauh seperti kamu!" jawabnya Malik sembari melihat-lihat isi etalase.
"Ooh," Renita mengangguk dia tidak tahu harus berkata apa lagi, sejenak Renita memandangi pria tersebut.
Malik adalah pria yang pernah satu kelas dengannya, tapi cuman berapa bulan saja! dia pindahan dari kota lain dan pada akhirnya dia pindah lagi ke luar Negeri. Sehingga sekolahnya di sekolahan bersama Renita cuma berapa bulan saja.
Dari waktu itu, baru ketemu lagi sekarang. Dan dia wajahnya ... tubuhnya masih tetap sama seperti dulu, ketika waktu sekolah nggak ada yang banyak berubah kecuali gaya rambut yang lebih rapi beda dengan dulu yang acak-acakan maklum gayanya anak muda.
Dan ketika di sekolah, Malik adalah pria idaman hampir semua anak cewek di kelas maupun luar kelas, karena ketampanannya. Keramahannya dan kebaikannya.
Tapi tidak dengan Renita, Renita tidak merasakan apa-apa terhadap Malik waktu itu. Makanya banyak yang mengatakan kalau Renita nggak naksir sama pria itu padahal dia tampan dan baik.
"Lama ya kita tidak bertemu, waktu itu kelas berapa ya?" gumamnya Malik sambil melirik ke arah Renita.
"Em ... Waktu itu kelas 2 dan sekarang Sudah berapa tahun, kan? mungkin kurang lebih dari 8 tahun kita naru bertemu!" jawabnya Renita sembari tersenyum.
"Iya bener-bener, kurang lebih segitu lah dan aku rasa nggak ada yang berubah dari kamu, Renita tetap aja seperti ini," ungkapnya Malik sembari menganggukkan kepalanya.
"Aah ... bisa aja, banyak yang berubah kok ... maklum lah sudah tua dan sudah punya anak!" ujar Renita sembari menggeleng.
"Beneran, memang seperti itu kenyataannya. Teman yang lainnya kapan ya kita kumpul-kumpul gitu? reunian kecil-kecilan gitu." Kata Malik sambil mengambil makanan cepat saji.
"Aku juga memang lama nggak ketemu sama temen-temen sekolah dulu, karena setelah menikah ya kita agak jauh ya! dalam segi hubungan maupun lokasi. Hubungannya kalau sudah menikah itu ... dan jarak yang begitu jauh ya renggang juga!" tambahnya Renita.
__ADS_1
"Itu pasti, karena sudah menjadi realita, jarang persahabatan dari sekolah sampai tua itu jarang. Karena kalau sudah mempunyai keluarga masing-masing, lokasi juga jauh! tapi ya ... setidaknya masih bisa berkomunikasi biarpun jarang, masih Alhamdulillah!" Timpalnya Malik.
"Hooh. Itu benar!" balasnya Renita sembari mendorong troli belanjaan yang ada si kecil Rendy yang begitu Anteng dengan mainannya dan juga melihat-lihat belanjaan.
Di depan sana ada seorang wanita yang sedang menggendong balita yang mungkin usianya baby tersebut baru setahun lebihan dan dia wanita melihat ke arah Malik.
"Kalau sudah belanjanya, kita langsung pulang saja!" kata si wanita yang memangku balita, usianya kira-kira seusia dengan Renita.
"Iya, sebentar! saya ketemu teman lama di sekolah dulu." Jawabnya Malik sembari terus berjalan menghampiri wanita tersebut.
Wanita itu mengangguk pada Renita, begitupun Renita padanya.
Wajahnya Malik menoleh ke arah Renita dan Rendy bergantian.
Renita berpikir pasti itu istrinya dan juga anaknya Malik. Mereka pun terpisah di sana, sekilas Malik melambaikan tangannya kepada Renita dan Rendy.
Selanjutnya Renita pun meneruskan berbelanjanya, sampai pada akhirnya dia membayar semua belanjaan dan kini dia sudah menjinjing beberapa kantong kresek.
Renita berjalan keluar dari supermarket tersebut dengan tidak lupa menuntun tangan putranya. Kemudian Renita menggantungkan semua belanjaannya di motor.
Lantas mendudukan putranya di jok depan, setelah Renita mengenakan helmnya! barulah dia menghidupkan motor dan melaju dengan kecepatan sedang. Meninggalkan area supermarket tersebut.
Hari sudah semakin siang dan cuaca pun semakin terik, panas membakar bumi. Renita yang baru sampai ke rumahnya! langsung memasukkan motor ke dalam garasi, lalu menyimpan belanjaan ke dapur.
Sementara Rendy melepaskan tas punggungnya di atas meja dan dia berbaring di lantai sembari berkata. "Huh ... adamnya ... berbaring di lantai."
Bibir Renita tersenyum melihat tingkah putranya tersebut ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya.