Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Kaya pindahan


__ADS_3

Karena hari senin ini Renita mau mulai masuk bekerja, Alena pun sudah tampak siap di angkut dengan segala perlengkapannya.


"Kaya orang mau pindahan saja nih." Gumamnya Renita sambil memangku Alena yang sudah tampak segar.


"Bun, mau pindahan apa? segala dibawa!" tanya Rendi menatap bunda nya.


Renita menolehkan kepalnya pada Rendy sambil tersenyum. "Iya nih sayang, karena kan ini Hari pertama Bunda masuk kerja jadi biar nanti nggak repot kalau membutuhkan sesuatu!"


"He he he ... lucu aja kayak orang mau pindahan, Bun." Kemudian anak itu membawakan tas kecil milik perlengkapan nya Alena.


Malik menaiki anak tangga dan menjemput anak dan istri nya. "Sini, aku bawa Alena nya."


Renita pun memberikan putri kecilnya yang tampak senang sekali mau di bawa jalan.


"Papa-papa, papa! Mam ..." tangan Alena bertepuk tangan.


Lalu kemudian mereka pun bersiap untuk pergi, Rendy bersama supir di antar ke sekolahnya.


Malik dan Renita pergi ke kantor dengan menggunakan mobil nya Malik. Dengan membawa Alena tentunya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Dan mereka sambil mengobrol atau perbincang ringan.


Dan setibanya di kantor, di sambut oleh para staf dan karyawan! bunda dan baby nya di kerumuni bak gula dikerumuni semut.


Ada yang bilang kangen dan rindu atas kebaikan Renita dan gemas melihat baby Alena yang sangat menggemaskan.


"Haduh ... kangen. Ibu yang baik di sini. Dan beberapa bulan ini menghilang dan bikin kami merasa sepi dan kangen." Kata staf lainnya sambil memeluk Renita.


Begitupun dengan Renita menyapa semua stafnya dan karyawan yang tengah menyambut mereka dan Renita merasa senang dapat berada di antara mereka kembali.


Setelah beberapa saat berkumpul akhirnya mereka pun kembali ke tempatnya masing-masing untuk bekerja dengan tugasnya, begitupun dengan Renita dan Malik.


Namun Malik sebelum ke ruangannya terlebih dahulu, mengantarkan Alena ke ruangan nya Renita.


"Kalau ada apa-apa, kalau merasa repot bilang saja sama aku. Nanti aku datang ke sini!" kata Malik sambil berdiri di dekatnya Renita.


"Iya nanti aku pasti minta bantuan jika merasa repot!" Renita mengangguk lalu membuka laptopnya.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu aku mau ke ruanganku ya? sayang Alena yang anteng ya sayang!" Malik mengecup keningnya Alena yang berada di dalam keretanya manik mata nya yang bening memandangi ke arah Malik.


Kemudian Malik pun keluar dari ke ruangan Renita. Dan Renita mulai berkutat dengan kerjaannya yang lama ini ia tinggalkan. Namun sesekali matanya menoleh pada Putri kecilnya yang anteng bermain.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Boleh aku masuk?" suara pria yang berdiri di depan pintu yang terbuka sedikit.


Renita langsung menoleh ke arah sumber suara yang tidak lain adalah Azam. "Oh, masuk Mas!"


Azam pun masuk mendekati meja kerjanya Renita sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. "Tidak mengganggu 'kan?" Azam menenteng sebuah berkas di tangan.


"Nggak pa-pa, silakan duduk! ada apa ya?" tanya Renita sambil memajukan kursi nya ke depan.


Azam menoleh dan menatap pada Alena yang tengah minum susu dan tampak anteng sekali anak itu. Kedua sudut bibirnya tampak tertarik membentuk senyuman. "Hai, gemoy. Sedang apa gemoy?"


Renita pun menoleh ke arah putri kecilnya tersebut dan kemudian Azam memberikan berkas yang berada di tangan! kepada Renita.


"Soal apa itu?" selidiknya Renita Sembari mengambil berkas yang lalu di buka lembar demi lembarnya.


"Aku ada teman wanita! aku rasa sih baik, hanya dia menggunakan kursi roda kesehariannya dan aku ada niat untuk menikahinya, aku bicara sama kamu ... ya siapa tahu kamu bisa melihat apa kira-kira dia itu baik untuk ku dan juga Rendy atau seperti yang sudah-sudah!" ujar Azam.


"Oh ya? gimana aku bisa menilai. Aku 'kan nggak kenal sama wanita itu," kata Renita sambil menatap ke arah Azam.


"Nanti aku kenalkan, kalau aku ajak kamu ke sana sih ... nggak enak gimana kalau Malik yang aku ajak ke sana! nanti dia yang cerita sama kamu?" Azam menaikkan alisnya dan menatap ke arah Renita.


"Boleh! ajak saja dia untuk menemui wanita itu. Emangnya Mas sudah lama kenal dia atau baru-baru ini?" tanya Renita.


"Sudah berapa bulan ini sih ... emangnya Rendy belum pernah cerita kalau dia udah aku ajak untuk menemuinya," kata Azam mengingat kalau dirinya pernah membawa putranya itu ke tempat Rosita.


"Oo, Rendy sudah pernah kamu ajak ke tempat wanita itu! nggak tuh, nggak pernah cerita apa-apa!" Renita menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Aku kira dia cerita!" tambahnya Azam kembali seraya mengambil berkas yang sudah dicek oleh Renita.

__ADS_1


"Tidak, seingat ku ... Rendy tidak pernah cerita apapun tentang wanita yang dekat dengan kamu, Mas." Lanjut Renita sambil kembali menyibukkan kedua manik matanya pada layar laptop.


Setelah itu Azam pun berpamitan dan keluar dari ruangan Renita yang sebelumnya dia mengusap pipinya Alena.


Setelah Azam menghilang dari balik pintu, kepala Renita menoleh dan menatap bekas langkahnya Azam. Di pikirannya mengingat perkataan nya Azam soal wanita yang duduk di kursi roda.


"Siapa dia? bila memang dia jodohnya semoga menjadi yang terbaik. Untuk yang terakhir kalinya." Renita bergumam.


Kemudian kembali berkutat dengan kesibukannya dengan kerjaan dan juga mengurus Alena, karena Alena sedikit merengek Renita menggendong dulu Alena sepertinya dia mengantuk.


Hingga pada akhirnya Alena pun tertidur dan Renita menidurkannya di ranjang yang tadi Malik pasang sebelum pergi.


"Akhirnya bobo juga putri bunda. Yang nyenyak dan nanti main yang anteng juga, bunda harus bekerja di sini ... biar mendapat gaji, agar Abang Rendy tidak terlalu tergantung pada papa," gumamnya Renita sambil mengelus pipinya Alena dengan halus.


Lalu Renita kembali ke kursinya semula dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, beberapa saat sebab menidurkan terlebih dahulu baby Alena


Ketika jam makan siang tiba. Malik sudah mendatangi ruang kerja Renita untuk mengajak makan siang sang istri, namu Renita meminta untuk pesan aja dan makannya di ruangan tersebut. Ahar tidak meninggalkan Alena dan juga tidak ribet membawanya ke restoran.


Malik pun menuruti permintaan sang istri dan memesan ojol untuk memulihkan makanan untuk mereka berdua.


"Oh ya Bang, tadi ada Mas Azam ke sini sambil memberikan berkasnya, bicara sesuatu ... katanya dia ingin mengajak kamu untuk menilai seorang wanita yang nantinya akan dia jadikan istri!" ucap Renita pada suaminya.


Malik mengerutkan keningnya. "Mengajak aku, buat apa?"


"Katanya ingin dinilai baik atau enggaknya wanita itu untuk Mas Azam dan juga Rendy. Iata Mas Azam Rendy pun pernah ketemu wanita itu! tapi Rendy nggak pernah cerita ya sama kita? kalau dia diajak sama papanya untuk menemui seorang wanita, yang katanya sih kondisinya duduk di kursi roda!" ungkapnya Renita.


"Nggak tuh, Rendy tidak pernah bilang apa-apa soal wanita calon mamanya itu!" jawabnya Malik. "Lagian ... bagaimana pun dia atau kondisinya, apa salahnya? bila bisa saling menerima satu sama lainnya."


"Hooh, ia juga sih! yang penting bisa saling menerima, seperti dulu kamu terima aku yang mungkin kondisinya sama." Sambungnya Renita.


"Aku sih kalau diajak ya mau aja!" ucapnya Malik sambil berdiri mendekati pintu dan mengambil pesanannya untuk makan siang mereka berdua.


"Katanya ingin dilihat apa dia memang baik atau enggak jangan seperti yang sudah-sudah, mungkin mas Azam ingin lebih teliti soal itu!" lanjut Renita kepada Malik.


"Iya 'kan, sesungguhnya kita tidak bisa ya menilai orang gimana-gimana apalagi dengan sekilas mata! hanya dia saja yang tahu dan Azam yang lebih lama mengenalnya." Malik memulai makannya.


Renita juga, memulai makan siangnya sama sang suami. Malik dengan lahap. Sambil mengobrol dan sesekali saling menyuapi satu sama lain menunjukan pemandangan yang sangat romantis ....

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2