
Dibawah sinar yang temaram Malik mendekati sang istri, lantas memeluk nya erat. Mulanya biasa saja namun lama-lama tangan dan bibinya Malik semakin aktif, nafasnya kian memburu menyapu kulit Renita yang merasa terus berdebar.
Renita sudah punya firasat kalau Malik pasti menginginkan dirinya. Makin lama Malik makin jauh bertraveling ke tempat yang baru kali ini dia datangi.
Malik semakin lama semakin jauh, berjalan di pegunungan yang tinggi nan indah. Pemandangan nya pun sangat memanjakan mata dan menggugah gairah jiwa.
Renita yang persilakan Malik untuk berjalan-jalan menikmati indahnya suasana sekitar, dan memanjakannya dengan segala kemampuannya. Sangat bahagia dan menyambut dengan baik. Sehingga ia tidak membuang-buang waktu untuk itu.
Suasana begitu syahdu dan sejuk menyelimuti tubuh, menambah gairah untuk terus melakukan traveling atau perjalanan jauh sampai menuju puncaknya.
"Maaf ya sayang, kalau aku kurang sabar untuk menunggu kamu sampai sembuh!" Bisiknya Malik sambil mengeratkan pelukannya.
"Nggak pa-pa, aku mengerti kok. Aku juga minta maaf bila tidak sempurna. Dan seperti yang kamu tahu kalau aku ini seorang jan--"
"Shutttth, jangan bicara begitu dan tidak perlu di bahas soal itu. Aku terima semuanya kok." Malik menempelkan telunjuknya di bibir Renita agar tidak melanjutkan perkataannya.
Renita terdiam dan mengatupkan bibirnya sambil menatap suaminya yang begitu dekat.
Malik menempelkan dagunya di bahu Renita yang terbuka. Deru nafasnya pun terasa hangat di kulit nya. "Aku sudah cukup bahagia kok, dengan yang sudah aku dapatkan dari mu malam ini. Semoga tidak bosan untuk memberikannya pada ku."
Renita mesem dengan sangat merekah. Dan sedikit mengangguk seakan memberi tanda setuju.
"Makasih sayang, makasih banyak! aku mencintai mu." Cuph kecupan kecil mendarat di kening dan pipi Renita bergantian.
Lalu beberapa saat kemudian, keduanya tidur begitu pulas saling berpelukan dengan sangat erat, merasa capek setelah melakukan perjalanan jauh yang tentunya teramat sangat menyenangkan.
Keesokan harinya Malik mendatangkan dokter ahli tulang untuk terapi kedua kakinya Renita biar cepat sembuh dan bisa berjalan lagi seperti semula.
"Gimana Dok, kedua kaki istri saya itu termasuk ringan apa berat?" tanya Malik kepada dokter yang baru saja memeriksa kedua kaki Renita.
__ADS_1
"Insya Allah ... ini termasuk ringan dan dengan ridho Allah, tidak lama pun dia pasti akan segera sembuh! banyak-banyak berdoa dan terus berusaha agar kedua kakinya bisa berjalan kembali dengan normal." Balasnya dokter dengan sangat meyakinkan.
"Syukurlah, Dok. Kalau sekiranya seperti itu dan saya percayakan sama dokter untuk menyembuhkan nya." Tambahnya Malik kepada dokter yang langsung mendapat anggukan.
Renita menghela nafas dalam-dalam seraya bersyukur dalam hati dan mudah-mudahan kata dokter itu benar. Kalau dia bisa sembuh dengan secepatnya.
Selanjutnya Malik berpamitan untuk pergi ke kantor, sementara dokter dan Renita didampingi oleh sang ibunda sedang menjalankan terapi.
"Dokter. Semoga aja Renita cepat sembuh ya kakinya, dan saya sangat berharap kalau mantu saya ini bisa cepat-cepat hamil juga, memberikan cucu untuk saya! rasanya sudah kangen ingin mendapatkan cucu dari Malik," ucap ibunda Malik.
"Berdoa saja yang kenceng. Bu ... biar kemauan ibu segera terlaksana, kesembuhan nya ... juga cucu pun di dapatkan dengan segera." Kata dokter sambil melaksanakan tugasnya.
"Aamiin-Aamiin ya Allah!" Ibunya Malik mengangguk.
Renita hanya mendengarkan percakapan mereka berdua dan dia pun bisa menangkap, kalau sang ibu mertua nya itu ingin segera mendapatkan cucu yang tentunya anak kandung dari Malik.
Setiap hari Renita terus menjalani terapi. Dan dalam hampir dua minggu terapi, sudah menampakkan perubahannya yang signifikan. Yaitu Renita sudah mulai bisa berdiri agak kuat dan juga mampu melangkah biarpun baru satu dua langkah saja.
Begitupun sang ibu mertua, dia tersenyum lebar dan bersyukur karena Renita sudah agak baik.
"Mulai sekarang harus lebih rajin lagi untuk berjalan, jangan terlalu menggunakan kursi roda karena ini sebagai rangsangan dan membiasakan atau tidak tergantung dengan keberadaan kursi roda." Ungkapnya sang dokter.
Sementara Shopia yang berada di pojokan rumah, melihat ke arah mereka yang berada di halaman taman. Dengan senyum tipis serta ekspresi sinis. Melihat miris dan berharap itu hanya sebatas harapan yang akan segera terkikis.
"Tersenyumlah tersenyumlah dengan puas karena aku akan pastikan, kalau kau di sini tidak akan pernah menjadi nyonya. Hem!" Batinnya Shopia.
Saat ini Renita sedang mencoba berjalan naik turun tangga, walaupun dua langkah berhenti dan 2 langkah berhenti. Namun setidaknya dia bisa melaluinya, kalau menggunakan kursi roda dia tidak bisa naik turun.
"Hati-hati Ren!" Ucap sang ibu mertua sembari memegangi tangannya.
__ADS_1
"Mama-Mama. Duduk saja di sofa biarkan Renita sendiri saja, belajar berjalan. Mama pasti capek! duduk saja di bawah atau di atas. Aku akan coba sendiri kok!" Nita menolak dengan halus bantuan dari sang ibu mertua, sebab bagaimanapun beliau sudah sepuh.
"Tapi kan kamu itu masih sakit coba lihat dua langkah berhenti, kan karena capek dan kakimu masih sakit bukan--"
"Iya, Mah ... tapi Mama juga kan pasti lebih mudah capek, daripada aku! jadi sebaiknya Mama duduk saja di sofa bawah atau di atas biarkan Renita sendiri saja. Nanti kalau Mama kenapa-napa atau jatuh gimana? nanti aku yang disalahkan!" Renita dengan senyuman ramahnya kepada sang ibu mertua.
Ibunya Malik menghela nafas dalam-dalam. "Ya sudahlah, kalau begitu ... sekarang Mama mau duduk di atas, lihatin kamu dan hati-hati jangan sampai kamu terjatuh."
"Iya Mah." Renita membuang nafas nya dengan teratur sembari memegangi lututnya sebelah yang dia naikan.
"Tante-tante, di mana?" panggil Shopia sambil celingukan dan mendengar sahutan tantenya dari atas, Shopia berjalan cepat di tangga dan sikunya menabrak bahunya Renita.
Yang hampir saja tubuh Renita hilang keseimbangan dan terjatuh, namun Alhamdulillah ... Renita pegangan kuat ke pagar tangga sehingga dia tidak jadi terjatuh.
"Astagfirullah ... Ya Allah ... Huuu ... Hu ..." Renita membuang nafasnya dari mulut dengan dada yang berdebar yang hampir saja spot jantung.
Sementara Shopia tidak perduli kalau dia sudah menyenggol bahunya Renita, di lanjut saja jalan cepat menghampiri tantenya.
"Huuh ... Ya Allah ... beri aku ke sabaran." Renita kembali bergumam sambil melanjutkan langkahnya yang dua tiga langkah itu.
Pada malam hari. Kebetulan Malik pulangnya telat karena lembur yang katanya ada meeting sehingga pukul 20.30 baru pulang.
"Sayang, kamu di mana?" Malik celingukan mencari Renita yang tidak berada di tempat sedangkan kursi rodanya ada di sana.
Malik mengerutkan keningnya, mengingat Rendy ada di bawah sedang bermain dengan omanya dan Genta.
"Sayang ... dimana kamu?" Panggil Malik kembali lalu terdengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi.
Malik mengayunkan langkahnya setelah menyimpan tas nya dan menarik dasi dari lehernya, mendekati ke arah daun pintu.
__ADS_1
Dan sebelum Malik mendorong handle pintu tersebut, sudah duluan ada yang membuka dari dalam dan muncullah Renita berdiri dan hendak mengayunkan langkahnya keluar, membuat Malik melongo setengah tidak percaya dan bahagia melihat Renita yang sudah bisa berdiri dan melangkah ....