
"Em ... Kakak cantik ... udah dulu ya! aku sudah di tunggu sama temen-temen. Terima kasih waktunya sampai jumpa di lain waktu dan kesempatan!" Alena menempelkan lima jarinya dan bergerak di udara melepaskan sun jarak jauh yang ditujukan kepada Pricilia.
Pricilia hanya mengangguk, dia tidak percaya ternyata Rendy bersikap seperti itu karena dia sedang berkabung, padahal apa susahnya sih hubungi dirinya. Kasih tahu apa yang sebenarnya terjadi! Rendy malah nggak ada kabar sama sekali.
Alena berjalan menghampiri teman-temannya yang kebetulan sudah menyiapkan bakso untuknya dan setelah makan bakso. Mereka pun pulang.
.
.
.
Di kediamannya Azam, Malik, Renita dan kebetulan Rosita pun sudah pulang dari Rumah sakit biarpun lukanya belum pulih benar. Akan tetapi dia memaksa untuk pulang dengan alasan khawatir pada kedua putrinya.
Renita menoleh pada putranya Rendy yang sudah 10 hari ini setelah kepergian papanya, dia tampak masih murung. "Rendy, Rendy kapan mau daftar ke penerbangan?" dengan lirih dan menatap putranya itu.
"Iya, Rendy ... masa mau dinanti-nanti, katanya ingin segera menjadi jadi tapi berapa hari ini malah terlihat murung. Papa juga ngerti dengan perasaan Rendy yang masih sedih sehubungan dengan kehilangan papa Azam, tapi kan bukan berarti terus-terusan harus seperti ini." Malik menambahkan ucapan dari sang istri.
Rendy menoleh pada sang Bunda dan juga Papa, dia menghela nafas dalam-dalam. Kemudian ia hembuskan, dia tarik kembali menghembuskannya kembali. Hingga berapa kali. "Insya Allah besok aku akan daftar, hari ini kan sudah sore, Pa. Bun, mulai besok aku tidak akan murung lagi, aku akan bangkit untuk menggapai cita-citaku dan ini hari terakhir!"
"Jujur, Bunda sedih sekali kalau lihat kamu setiap hari murung seperti ini, dan Bunda yakin Papa pun akan merasa sedih juga bila melihat putranya terlalu meratapi kepergian beliau, Rendy harus buktikan dan tetap menjadi kebanggaan kami semua!" tambahnya sambil mengupaskan buah jeruk untuk Syifa.
__ADS_1
"Iya, Bun ... mulai besok kami janji akan kembali beraktivitas dan berusaha untuk mencapai cita-cita Rendy, mohon doanya, Bun. Pa, Mama!" Rendy menoleh pada Rosita yang tampak melamun mengingat suaminya yang telah tiada.
Masih lekat dalam ingatan waktu terakhir dia bersama suaminya, yaitu perjalanan untuk menuju tempat wisuda putra sulungnya yang mengakibatkan kecelakaan dan akhirnya merenggutnya sang suami dari sisinya.
"Ros ... kamu melamun?" Sapa Renita sembari menyentuh tangan Rosita yang bengong sedari tadi.
"Oh, iya Mbak ... ada apa?" suara Renita telah membayarkan lamunannya Rosita sehingga dia menoleh dan menatap ke arah Renita.
"Nggak kenapa-napa. Aku cuman mau pamit aja, kamu jangan khawatir ataupun takut sendiri. Karena akan sering muncul kamu ke sini dan juga Rendy yang akan ikut menjagamu dan juga kedua anakmu."
"Iya, Mbak. Makasih! makasih banyak! atas perhatiannya." Kepala Rosita mengangguk, kemudian dia memeluk Renita sangat erat dan berlama-lama yang tidak terasa hingga meneteskan air mata.
Renita dan Malik pun berpamitan untuk segera pulang dan suasana sudah semakin sore. Rendy pun beranjak sembari menatap kedua orang tuanya kemudian tatapannya tertuju ke arah Rosita.
Rosita pun mengangguk dan dia mengijinkan Rendy pulang ke rumah Renita, lagian di sana pun dia tidak sendiri. Ada dua asisten yang menemaninya. Namun dia mulai berpikir gimana kehidupannya ke depan. Saat ini masih ada uang tabungan peninggalan dari Azam setelah nanti habis mau gimana? Rosita menghela nafas sangat panjang dan dia menekankan dalam hati, kalau dia harus bangkit! dia harus semangat demi kehidupan mu dan anak-anak, dia harus bisa mendapatkan pekerjaan lagi.
Malik dan Renita sudah hampir berapa langkah, namun dia menoleh pada sang suami. Kemudian dia berbalik kepada Rosita. "Sekarang, kamu kan masih belum pulih ... nanti kalau kamu sudah sembuh, seandainya kamu bekerja di kantorku! mau nggak?"
Perkataan Renita membuat Rosita tercengang, tidak menyangka kalau Renita akan menawarinya pekerjaan, kedua manik matanya yang indah bergerak-gerak dan berbinar menatap ke arah Renita.
"Soal kemampuan kamu bisa belajar bila perlu belajar dari sekarang, karena seandainya kamu mampu kamu akan menggantikan posisinya Mas Azam, di kantor. Bukan begitu, Bang?" Renita menoleh kepada Malik yang langsung menganggukkan kepala, Rendy yang menyimak obrolan orang tuanya, dan dia merasa kaget sekaligus merasa sedih jika mama Rosita harus kembali bekerja.
__ADS_1
"Sesungguhnya kami tidak memaksa, hanya menawarkan dan akan menyesuaikan dengan kemampuan. Dan kamu turun kerja juga nggak harus cepet-cepet. Nanti saja kau sudah benar-benar pulih kesehatannya!" Tambah Malik seraya menatap ke arah Rosita yang terdiam, dalam hati yang paling dalam Rosita senang. Bagaimanapun dia sudah mendapatkan tawaran pekerjaan meskipun ia tidak tahu apa dia mampu atau tidak untuk menjalankannya.
"Sebelumnya. Aku banyak-banyak mengucapkan terima kasih kepada Mbak juga Abang yang sudah baik pada keluargaku, dari mulai suami aku sampai sekarang kalian masih perhatian sama aku setelah beliau pergi? rasanya ... aku tidak bisa berkata-kata kalian terlalu baik!"
Malik dan Renita menawarkan pekerjaan kepada Rosita karena mereka tidak mau dianggap meremehkan, karena sebenarnya bisa saja Malik terus menurunkan biaya untuk hidup Rosita dan anak-anak dengan percuma. Tapi takut menghinakan hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menawarkan pekerjaan di posisi Azam semula.
Malik pun percaya kalau seandainya Rosita mau menempati posisi Azam, dia pasti mampu karena dia pun lulusan sekolah menengah ke atas dan otaknya cukup pintar.
Kini Malik dan istri pulang bersama Rendy yang duduk di belakang. Dia sengaja tidak membawa motornya karena memang dari sejak itu, motor berada di rumahnya Renita! lebih dari 10 hari Rendy Hanya berdiam diri di rumahnya Azam tanpa melakukan apapun, tanpa kemana-mana sehingga motornya pun benar-benar istirahat di rumah Malik.
.
.
Suatu hari Rendy minta izin pada Bundanya untuk interview di sebuah perusahaan penerbangan yang memang sudah direkomendasikan oleh Malik untuk Rendy bekerja di sana.
"Bun, doakan aku ya! aku mau interview, semoga aku lulus dan berhasil!" Rendy mencium tangan sang Bunda lalu kemudian memeluknya dengan ....
"Iya sayang, Bunda doakan semoga kamu berhasil. Semangat ya dan juga banyak berdoa semoga Allah memberi kemudahan di setiap urusanmu!" balas Renita sembari menggerakkan tangan mengelus punggung putranya itu.
Rendy melajukan motor kesayangannya menuju sebuah maskapai dengan sebuah harapan yang besar, kalau dirinya akan lulus dan diterima bekerja di sana.
__ADS_1
Sepeninggalannya Rendy, Renita pun memasuki mobilnya untuk berbelanja bulanan sejenak menunggu putri nya yang sudah ABG itu, dengan gaya ABG nya jalan sambil goyang-goyang menghampiri mobil bundanya. Renita hanya diam serta menggeleng ....
.