
“Dia anak ku dan keponakan ku.” Akunya Malik sambil menoleh pada Rendy dan Genta yang sedang bermain.
“Oh ... apakah anak wanit ayang tadi ya?” selidiknya Dion sambil mengingat wanita yang tadi dia temui.
“Yang mana?” Malik mengerutkan keningnya.
“Yang tadi yag berpakaian rok selutut.” Jawabnya Dion sambil mengedarkan pandanganya ke seluruh ruangan.
Setelah beberapa saat mengobrol, datanglah Sheila dengan penampilkan yang rapi, rambut terurai panjang dan pakaian berwarna coklat muda, Dion langsung mengira kalau itu pasti adik iparnya Malik terlihat dari wajahnya yang sedikit mirip dengan Renita.
“Nah ... dia datang, itu yang ingin aku kenalkan pada mu Dion.” Malik seraya menunjuk pada Sheila yang menghampiri mereka.
“Oh dia ya?” gumamnya Dion sambil menatap ke arah Sheila.
Sheila yang dari awal melihat ke arah pri aitu merasa yakin kalau pri ayang sednag duduk bersma kaka dan kakak iparnya itu adalah yang akan di kenalkan padanya. Dalam hati Sheila mengakui kalau pria itu tampan juga dan tidak kalah dari Malik.
Kini Sheila berdiri di dekat malik yang langsung di kenalkan dengan tamunya.
“Sheila ... kenalkan kalau dia namanya Dion, temannya Abang. Dan Dion ... dia adik ipar ku bernama Sheila dan dia seorang pengajar juga masih kuliah.”
Dion mengangguk lalu mengulurkan tangannya pada Sheila sambil menyebut namanya. “Dion, eskutif salah satu perusaan.”
Sheila langsung menyambut tangan dari Dion, sambil menyebutkan namanya dengan ramah. “Nama ku Sheila pengajar faud dan masih juga mengenyam pendidikan.”
Dion merasa kalau Sheila berbeda dengan Renita yang dari salaman pun sudah ketara berbedanya. Tapi Dion tetap suka pada Sheila yang berharap bisa cocok dengannya.
“Senang berkenalan dengan mu.” Ucap Dion sambil sama-sama mendudukan dirinya di sofa.
Lantas mereka berbincang dengan obrolan ringan dan setelah beberapa waktu kemudian mereka pun makan malam bersama.
Di saat makan malam. Mereka sambil berbincang ringan dan yang khususnya antara Sheila dan Dion. Sementara yang lain hanya mendengarkan saja.
__ADS_1
Dia dalam hati Shopia malah bersyukur kalau Sheila di kenalkan sama Dion oleh Malik yang berarti dia tidak akan ada saingan lagi.
Selesai makan malam. Mereka berpindah duduk mengobrol di ruang keluarga dengan santai. Di sana ada Malik dan Renita, Dion juga Sheila.
“Sayang. Kita ke atas yo? biarkan mereka berdua mengobrol,” ajak Malik pada sang istri.
Renita menoleh pada sang suami dan mengangguk setuju sehingga di apun langsung beranjak dari duduknya dan segera di gandeng oleh Malik.
“Sheila ... aku dan abang ke atas dulu ya, kalian mengobrol saja berdua!” ucap Renita pada sang adik, Sheila.
“Iya Mbak,” balas Sheila pada sang kakak.
Renita mengalihkan pandangan pada Dion yang melihat ke arah dirinya yang langsung tersenyum. “Di tinggal dulu ya!”
“Iya. Silakan, bro. Tidak apa-apa kok dan tidak akan ku gigit adik ipar mu, he he he ...” Dion melihat ke arah Renita dan Malik bergantian.
“Iya lah. Kalau ada sedikit saja lecet awas ku minta ganti rugi, ha ha ha ...” ucap Malik sambil mesem dan lalu berjalan bersama Renita yang masih kurang fit.
“Iya, Mbak ku memang juga beruntung mendapatkan suami seperti Abang yang katanya memang dari dulu sayang sama Mbak ku. Cinta lama bersemi kembali.” Sheila menatap ke arah Renita dan Malik yang menaiki anak tangga.
“Oh iya, katanya cinta dari SMA ya? hebat, cinta sejati itu. Jarang lho ...” Dion mengagumi sosok malik yang setia.
“Kalian sahabatan ya?” selidiknya Sheila sambil menatap penasaran pada Dion yang kalau diperhatikan sih ... tampan juga.
“Itu benar dan kita sahabatan dah lama sekali. Oya kamu ... ngajar ya TK atau faud?” Dion mulai menyelidiki sosok Sheila.
“Aku ... ngajar Faud dan kuliah yang tinggal satu tahun lagi itu pun kalau lulus dan tidak ada hambatan.” Akunya Sheila sambil tersenyum.
“Oya. Hebat ... jadi kamu kuliah sambil ngajar ya? bagus sekali kamu, tive wanita idaman. Nantinya biar berkarier tapi tidak akan melupakan kewajiban.” Dion mengacungkan jempol.
“Ach biasa saja kok. Aku sambilan begitu lumayan buat jajan dan tidak terlalu merepotkan orang tua yang sesungguhnya bukan orang kaya makanya aku harus pandai berpikir harus gimana caranya untuk bisa menggapai cita-cita ku untuk menjadi orang yang sukses.” Tambahnya Sheila sambil mengenang masa lalu
__ADS_1
yang memang termasuk pahit.
“Aku kagum dengan pemikiran mu itu, semog akau menjadi wanita yang sukses. Boleh bila aku main ke rumah mu dan bertemu dengan orang tua mu?” Dion menatap serius pada Sheila.
“Oh, boleh saja sih ... lagian, sekarang kami tinggal di kota ini juga dan karena menempati rumahnya Mbak renita.” Sheila menyilakan Dion bila mau main dan bertemu dengan keluarganya.
“Sebelumnya aku ucapkan makasih, atas keterbukaan kamu dan membuka hati untuk ku.” Ucap Dion sambil menatap lekat pada Sheila.
“Bagai mana aku tidak membuka hati pada mu? ku lihat kau baik dan juga sopan, semoga itu benar dan kamu itu jodoh ku. Aku memang suka pada Malik, tapi rasa itu ku hempaskan jauh-jauh karena itu tidak layak ada di hati ku. Malik adalah suami kakak ku dan dia sangat mencintai mbak Reni.” Hati Sheila bergejolak dan bermonolog sendiri kalau dia memang membuka hati pada Dion.
“Sayang, aku harapa mereka berdua cocok ya?” melirik pada sang istri yang duduk di sampingnya Malik.
Renita yang sedang menonton televisi menolehkan kepalanya pada Malik sambil berkata. “Aku juga berharap seperti itu. Semoga mereka berjodoh dan aku suka sama dia—“
“Apa, kau suka?” Malik terhenyak menatap tajam pada Renita.
“Em ... maksud ku ... suka dalam artian ... kalau dia baik dan berjodoh sama Sheila,” ralat Renita sambil mesem dan memegangi tangan Malik.
“Hem ... aku cemburu pada mu bila bilang suka pada Dion, jadi menyesal bila seperti itu he he he ...” malik terkekeh dan merangkul bahunya sang istri.
“Ih ... gajebo banget deh ...” Renita menggelengkan kepalanya.
Hening ....
Suasana begitu hening dan hanya suara deru napas keduanya saja yang terdengar sampai di telinga. Dengan tangan yang mulai aktif dan traveling kemana-mana. Setiap yang indah dia singgahi dan nikmati keindahannya tanpa batas.
“Yank ... jangan sekarang deh. Bukannya ada tamu dan mereka belum pulang. Kalau Sheila sih mungkin mau menginap entah juga mau pulang,” Renita mendorong pelan dada Malik.
Malik menatap kecewa pada istrinya tersebut.
“Padahal sebentar saja sayang.” Kata Malik sambil menempelkan bibirnya di pipi Renita yang sedikit menghindar.
__ADS_1
Lantas Malik berdiri sambil merapikan kaosnya dan mendekati pintu, meninggalkan Renita yang bengong sambil menatapi punggungnya Malik ....