Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Informasi


__ADS_3

"Bun, jangan lama-lama ya perginya? dan hati-hati bawa motornya, jangan ngebut-ngebut!" pesannya Rendy pada sang Bunda, membuat Renita tersenyum manis dan menatap wajah anak itu penuh kasih.


Lantas Renita pun menyalakan motornya. "Sheila titip Rendy ya? Rendy ... jangan nakal dan jangan main jauh-jauh dari rumah, sama tante aja ya?" pesannya Renita sebelum dia menjalankan motornya meninggalkan tempat tersebut.


"Tenang Kakak ku terkasih, jangan khawatir! Rendy kan nggak akan-nakal ya ... dan kalau dia orang nakal ... nanti Tante jewer kupingnya sampai merah!" ucap Sheila sambil melihat kepada sang kakak dan juga ponakannya bergantian sembari mencubit kedua pipinya Rendy.


"Ya sudah ... Kakak berangkat dulu ya? Assalamu'alaikum?" ucap Renita memberi mengalihkan pandangannya ke depan.


Akhirnya dengan bismillahirrahmanirrahim ... Renita pun berangkat meninggalkan rumahnya! untuk menuju kantor dan bukan menuju kantornya sih yang jadi tujuan. Melainkan untuk mencari tahu Sebenarnya Azam masih di kantor, sibuk dengan urusan kerjaan atau ke mana.


"Bismillah ... ya Allah, mudahkanlah perjalanan ku ini agar aku bisa membuka kebenaran yang menghantui perasaan ku," gumamnya Renita sembari menjalankan motornya dengan kecepatan yang agak tinggi.


Di saat ini Renita menggunakan outfit yang sekiranya tidak dikenali oleh Azam, karena dia memakai pakaian yang jarang Azam melihat nya, ditambah lagi mengenakan jaket dan kacamata hitam.


Tidak lama kemudian, Renita pun tiba di area kantor namun dengan hati-hati dia memarkirkan motornya jauh dari parkiran kantor tersebut.


Kemudian wanita itu terus berjalan memasuki halaman kantor di mana suaminya setiap hari bekerja di sana. Dan kantor itu pun sudah nampak sepi karena sebenarnya jam kantor sudah lewat, staf dan karyawan pun tampak berangsur pulang.


Dan sebelum Renita masuk pun ... dia bertemu dengan staf nya Azam dan sepertinya dia pun akan pulang.


Renita buru-buru menghampirinya pria tersebut, sebelum dia mendatangi kendaraannya.


"Maaf, karyawan dan staf sudah pada pulang ya?" tanya Renita kepada seorang pria yang sepertinya tidak mengenali Renita sebagai istri dari Azam.


"Benar, sudah pada pulang!" dia itu mengangguk sembari menatap sekilas ke arah Renita.

__ADS_1


"Kira-kira ... apa ... pak Azam masih ada di dalam nggak ya? karena saya 8ngin bertemu dan ada perlu gitu sama beliau!" ucap kembali Renita kepada pria tersebut.


"Ooh pak Azam ... pak Azam itu ... sudah keluar dari satu jam yang lalu, Bu ... beliau sudah tidak ada di dalam! tapi kalau tidak percaya silakan ibu cari tau saja di dalam!" balasnya pria tersebut sembari mengangkat tangannya yang dia tujukkan kepada kawan-kawannya yang duluan berjalan.


"Oh ya, sudah keluar ya? Apa tidak ada kemungkinan untuk balik lagi ke kantor?" selidiknya Renita kembali dengan nada penasaran.


"Em ... sepertinya nggak, Mbak. Karena memang Pak Azam jarang lembur, dia selalu on time untuk pulang ke rumah!" jawabnya lagi.


"Pulang ke rumah? mana ada!" batinnya Renita sembari menatap orang tersebut.


"Oh gitu ya ..." Renita mengagungkan kepalanya, kemudian dia merasa mendapatkan angin segar untuk menanyakan perihal hari libur yang selalu sibuk, yang selalu keluar apa emang ada pekerjaan atau gimana?


"Oo ... nggak pernah lembur ya? terus gimana Kalau hari libur, apa nggak ada urusan kerjaan lain yang mungkin anda tahu? maaf saya bertanya! soalnya saya perlu banget sama dia, dan nomor handphonenya pun saya sudah kehilangan. Jadi sulit untuk menghubungi beliau." Dalihnya Renita.


"Kalau menurut saya sih ... nggak ada ya, nggak ada lembur pada hari libur. Kecuali di hari kerja," jawabnya kembali pria tersebut sembari agak melamun oleh-oleh mengingat-ingat sesuatu.


"Oh boleh-boleh, tunggu sebentar ya? saya cari dulu nomornya ... kalau nggak salah sih ... ini!" pria itu menyebutkan beberapa angka nomor handphone Azam.


Dan memang benar itu nomor Azam, karena nomor itu ada di kontaknya Renita. Renita mau minta nomor tersebut hanya sebagai alasan saja.


"Oke, makasih ya? makasih banyak atas bantuannya!" Renita menyatukan kedua tangannya di depan dagu sebagai ucapan terima kasih kepada staf Azam tersebut.


Kemudian Renita mengedarkan pandangannya ke gedung tersebut, karena merasa bila masuk pun percuma! akhirnya dia kembali di mana motornya berada. Dan dia langsung menelepon ke rumah untuk menanyakan kepada Sheila apakah Azam sudah pulang atau belum.


Dan jawabnya Sheila, kalau Azam belum nyampe rumah. Membuat semakin bertambahnya kecurigaan Renita terhadap suaminya.

__ADS_1


"Kemana dia? kalau setiap hari pulang cepat, tapi ke rumah sangat terlambat. Apa mungkin memang ke rumah wanita lain?" Renita menggembungkan kedua pipinya lalu menghembuskan nafas kasar dari hidung.


Lantas dia pun chat sang suaminya untuk menanyakan keberadaannya di mana? dengan dalih bertanya nanti malam mau disiapkan makan apa.


"Aku sedang ada meeting dan sudah kubilang aku nggak akan makan di rumah jadi nggak usah menyiapkan makan untukku" begitu jawabnya Azam.


"Meeting-meeting apanya? dan di mana? Apa aku harus hubungi sekretarisnya kali ya, tapi ... nanti dia curiga terus bilang-bilang sama Azam, gimana?" gumamnya Renita sembari mengedarkan pandangannya ke arah jalan.


Eeh kebetulan sekali, renita melihat sekretarisnya Azam sedang berjalan menuju mobil nya.


"Mbak, Mbak tunggu deh?" Renita buru-buru menghampirinya.


Wanita yang memakai pakaian formal itu bengong dan merasa heran, karena dia merasa tidak mengenali Siapa Renita.


"Saya ini ingin ketemu sama pak Azam tapi kata staf tadi ... di dalam sudah tidak ada orangnya, kira-kira ke mana ya?" selidiknya Renita tanpa membuka kecamatan hitamnya.


"Pak Azam sudah pulang, Mbak ... jam segini dia yang sudah pulang! sudah lama malah, dan ini bukan jam kerja loh Mbak." Jawabnya sekretaris Azam sembari menatap Intens ke arah Renita.


"Saya tahu ini bukan jam kerja ... karena saya dari jauh, jadi terlambat datang. Oh jadi dia sudah pulang dari lama ya?" akunya Renita.


"Iya, Mbak. Beliau sudah pulang dari lama! permisi saya duluan!" kata wanita tersebut sembari memasuki mobilnya.


"Huuh ... sepertinya kali ini tidak membuahkan hasil, eh dapat dong hasil! setidaknya aku tahu kalau Mas Azam tidak pernah pulang terlambat. Dan dia ... pulang kerja lebih cepat, namun ke mana pulangnya itu yang jadi pertanyaan?" Renita menatap mobil yang barusan ditumpangi oleh sekretarisnya Azam yang meluncur dengan cepat.


Sesaat kemudian Renita pun menaiki motornya dan lantas melaju dengan kecepatan sedang. Meninggalkan area tersebut yang ... setidaknya dia mendapat informasi yang lumayan berarti ....

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2