
"Rendy, Tante mau bertanya dan harus di jawab ya," ucap Sheila kepada Rendy, kini mereka sedang berada di taman rumah sakit. Karena katanya Rendy bosan berada di dalam terus, makanya dia bermain di taman.
"Mau bertanya apa Tante?" Rendy menatap lekat pada tantenya tersebut.
"Em ... Rendy sayang nggak sama Papa azam, Rendy kalau nggak ada papa Azam ... Rendy nggak akan ada di dunia ini!" ucapnya Sheila sembari membelai rambutnya Rendy.
Sejenak Rendy terdiam sembari memandangi ke area taman, dalam pikirannya berputar dan dia mengingat pada Papa kandung yaitu Azam, dia sayang sama papanya tapi entah kenapa papanya nggak sayang sama dia itu yang di pikirkan.
"Tentunya Rendy sayang sama Papa. Emangnya kenapa?" anak itu malah balik bertanya.
"Eeh ... Seandainya Papa sama bunda bersatu lagi gimana senang nggak?" Sheila terus mengorek seolah ingin tahu isi hati anak itu.
"Em ... Seneng. Tapi kan Bunda mau menikah sama papa Malik dan bukannya papa Azam sudah menikah lagi ya sama Tante itu?" ucapnya Rendy dengan tatapan yang kosong.
"Tapi mereka itu bisa saja bersatu demi kebahagiaan Rendy! kalau Rendy sayang sama Papa dan Bunda, coba dibujuk bunda dan papa. Nanti agar mereka bersatu kembali dan Bunda jangan biarkan menikah sama papa Malik, apa lagi sekarang papa Azam sedang sakit lho ... dia juga dirawat di rumah sakit, kasihan Papa nggak ada yang rawat--"
"Tapi Bunda juga sedang sakit dan sekarang Bunda nggak bisa jalan dan Bunda nggak akan bisa rawat papa kalau memang papa juga sakit!" potong anak itu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi kan nanti bunda bisa sembuh ... nanti bunda akan bisa merawat papa. Emangnya Rendy nggak mau melihat Papa yang sekarang dirawat juga di rumah sakit?" Sheila terus membujuk anak itu dengan sebuah tujuan yang tertentu.
"Mau, kalau papa sama Bunda bersama lagi mungkin papa akan menyayangi Rendy kembali seperti dulu!" kenang Rendy sembari menatap ke arah tantenya.
"Oh, jadi Rendy setuju kalau seandainya Bunda sama Papa Azam kembali bersama dan tentunya Rendy akan disayang lagi sama papa, tidak seperti sekarang." Kata Sheila kembali yang terus berusaha meracuni pikiran Rendy.
"Em ... Rendy gimana Bunda aja!" jawabnya anak itu sambil berlari di koridor Rumah sakit dengan tujuan ke ruangan inap Renita.
"Eeh, kok lari sih? Rendy jangan lari tungguin Tante!" teriaknya Sheila sambil beranjak dari duduknya dan berlari menyusul keponakannya tersebut.
"Papa, Papa. Eh ada oma." Rendy mendatangi Malik kepada ibunya yang dipanggil omah.
__ADS_1
"Dari mana cucu Oma? sudah ganteng begini, nanti ada yang culik gimana? Oma kehilangan cucu oma yang ini dong ..." sambut Oma nya.
"Kalau saja ada yang culik, ya ... tinggal lawan saja Oma ... Rendy pukul kakinya dan Rendy gigit biar dia nggak berani lagi culik Rendy. Rendy kan jagoan." Ucap anak itu dengan sangat percaya diri.
"Wieh ... Hebat deh pengen kerja papanya jadinya kita nggak khawatir kalau dia bermain sendiri!" Malik pun melirik ke arah Renita yang ikut mesem.
Kemudian Rendy menghampiri bundanya. "Bun. Apa benar Papa Azam sedang dirawat di rumah sakit, sakit apa?" Kedua manik mata Rendy yang bening itu menatap lekat ke arah sang Bunda.
Renita menoleh ke arah Malik yang bengong, lalu ke arah Sheila yang baru saja datang bersama Rendy dan Sheila langsung memalingkan mukanya ke arah lain. Renita berpikir pasti Sheila yang mengatakan kalau Azam sedang dirawat kepada Rendy.
Namun sebelum Renita menjelaskan, Malik semakin mendekat dan berkata kepada Rendy sembari mengusap kedua bahunya. "Kabar yang kita dengar sih seperti itu dan soal sakit apa? kami belum tahu, em ... gimana kalau besok Rendy sama Papa aja, kita menjenguk papa Azam ke sana ya? kalau Bunda kan belum bisa keluar dari rumah sakit!"
Tetapi apa yang dikatakan oleh Rendy sebagai jawaban sembari menjauhi Malik. Dia berkata. "Nggak mau ah, Rendy nggak mau ketemu papa, papa juga nggak sayang sama Rendy!"
Sungguh perkataan Rendy yang berbeda dengan apa yang dikatakan kepada nya tadi, yang katanya dia sayang sama Papa dan mau saja kalau kedua orang tuanya bersatu kembali.
"Rendy ... sini sayang?" panggilnya Renita sembari melambaikan tangannya pada putranya tersebut.
Rendy pun langsung menghampiri bundanya.
"Sayang, Rendy kan anak baik. Harus hormat dan sayang kepada orang tua, termasuk bunda dan papa. Biarpun papa selama ini tidak ingat Rendy. Tapi dia tetap papa Rendy!" Renita memeluk buah hatinya dengan sangat erat.
Orang-orang yang berada di sana hanya melihat dan memperhatikan Renita dan Rendy, lalu beberapa saat kemudian pihak dari KUA pun datang.
Kini Malik menempatkan dirinya duduk tidak jauh dari pihak kau dan juga Ayah dari Renita. Setelah berbincang beberapa saat antara mereka bertiga, akhirnya akad pun mulai di persiapkan.
Kebetulan tempat itu cukup luas untuk menampung beberapa keluarga yang terdiri, kedua orang tua Azam beserta Jefri. Orang tua Renita dan Sheila, ibunya Malik dan Shopia juga satu pria yang sudah berumur yang setahu Renita adalah paman dari Malik.
Nasi kotak pun tersedia di sana tidak lupa dengan minumannya yang merupakan air putih dan air buah.
__ADS_1
Suasana terasa tegang, seiring rasa gugup dan deg-degan nya dada Malik yang untuk kali pertamanya akan mengucap ijab dan kabul, mempersunting sang pujaan hati.
Mengikrarkan janji suci untuk bersama, dalam biduk rumah tangga dan mengarungi bahtera bahagia.
Diawali dengan bismillah lalu Malik menghela nafas dalam-dalam sesaat melihat ke arah Renita yang tampak gugup dan gelisah.
Kemudian akad pun dimulai, ayah Renita dan tangan Malik saling berjabat, dan tangan Malik sangat keringatan. Jangankan telapak tangan, pelipis pun tampak bercucuran keringat dingin.
biarpun dengan hati yang dag-dig-dug dan perasaan yang tidak menentu, biarpun ini kali pertama untuknya. Tetapi Malik mampu mengucap ijab kabul dengan satu tarikan nafas saja.
Sehingga semuanya bisa bernapas dengan lega melewati masa-masa yang cukup ikut menegangkan.
"Gimana prasaksi, sah?"
"Sah!"
"Sah!"
Lalu kemudian ditutup dengan sebuah doa yang dipimpin oleh pihak KUA. Dan semua mengucapkan Aamiin juga turut bahagia dengan sahnya antara Malik dan realita sekarang sudah menjadi suami istri.
Malik menoleh kepada wanita yang tersenyum simpul. Serta menyembunyikan rasa sakit yang berada di kakinya, juga rasa haru Karena kini dia sudah berubah status menjadi seorang istri kembali namun bukan istri dari Azam melainkan dari seorang Malik.
Di saat wanita mengangkat wajahnya ternyata Malik sudah berada di hadapan dengan mengolah senyuman yang merekah. Mengulurkan tangannya kepada Renita yang langsung disambut dan menciumnya penuh hormat.
Begitupun dengan Malik. Dia memegangi kepala Renita dan mengecup keningnya dengan durasi yang cukup lama, sehingga Renita pun memejamkan kedua manik matanya.
"Aku bahagia sekali sayang, sekarang kita sudah menjadi suami istri yang sah. Tiada lagi rasa canggung, tiada lagi kata yang gak enak ataupun malu!" kata Malik seraya berbisik.
Renita hanya menganggukkan kepala sembari senyum tipis, dia tidak tahu harus berkata seperti apa selain kata syukur di dalam hati! karena niat baik Malik untuk menikahinya dan apapun kondisinya, sudah terlaksana ....
__ADS_1