
Kini semuanya sudah berada di dalam kamar masing-masing, begitupun dengan Renita, dia sudah berbaring di atas tempat tidurnya dan menatapi jari manisnya yang kini sudah melingkar cincin ikatan dari Malik.
Keesokan harinya. Renita sudah berada di kantor dan dia sedang berkutat dengan tugasnya. Lalu dia berabjak dari duduknya dengan niat mau ke lapangan ke tempat para karyawan.
Renita berjalan dengan santainya dan mengamati kanan kiri, memperhatikan gimana kinerja karyawannya satu persatu agar dia tidak salah mengevaluasi kinerja karyawannya tersebut.
"Selamat pagi menjelang siang Bu?" sapa perwakilan karyawan ketika melihat Renita berada di sana.
"Pagi menjelang siang juga. gimana karyawan yang masih baru, betah kerja di sini?" Renita melihat ke arah beberapa karyawan yang baru bekerja di sana.
Ada beberapa yang malah saling lirik bukannya menjawab, ada juga yang jawab betah.
"Gimana kalau nanti siang kita makan siang bersama? ya nggak jauh-jauh sih di kantin aja. Ya anggap saja untuk menjaga hubungan para karyawan yang baru maupun yang lama dan tidak perlu khawatir nanti saya yang traktir, ada berapa karyawan di ruangan ini?" Renita mengedarkan pandangannya pada beberapa karyawan di sana.
Dan di sana ada sekitar 15 karyawan. "Oke, di sini ada 15 karyawan dan semuanya saya ajak makan bareng, untuk yang lainnya yang nggak ke ajak hari ini ... lain kali saja ya ... mungkin besok atau lusa tapi pasti akan saya traktir untuk mempertemukan dan mempererat hubungan partner kerja."
Ajakan Renita untuk makan bersama sangat di sambut baik oleh para karyawan di sana, dan sebelumnya pun mereka sudah mengucapkan terima kasih. Kemudian Renita kembali ke dalam ruangannya.
Namun sebelum sampai ke ruang kerjanya, sekretaris Malik sudah memanggil dan mendapat perintah agar Renita menemui Malik di ruangannya.
"Baiklah ... makasih ya, sebentar saya akan ke sana! ada satu barang yang harus saya ambil dari ruangan saya dulu!" Renita melanjutkan langkahnya ke ruangan kerjanya. Mau mengambil ponsel dan sebuah berkas, mau meminta persetujuan atas kebijakan baru.
Kini Renita sedang berjalan menuju ruangan nya Malik, sambil menenteng sebuah berkas.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
"Apakah anda memanggil saya?" suara Renita setelah mengetuk pintu ruangannya Malik lalu mendorongnya.
__ADS_1
"Silakan masuk!" Malik mengerahkan pandangannya ke arah Renita yang masih di depan pintu, menunggu persetujuannya untuk masuk.
Setelah dipersilahkan untuk masuk, baru lah Renita berjalan mendekati meja kerjanya Malik. Kemudian dia duduk di hadapannya pria tersebut.
"Ada apa ya memanggil saya?" Renita menatap ke arah Malik yang sejenak menunduk dan melihat sebuah berkas yang ada di mejanya.
"Katanya kamu mau mengajukan sesuatu untuk kebijakan perusahaan, atau gimana?" Tanya Malik sembari melipat tangan di atas meja.
"Oh, iya. Aku ada sesuatu yang ingin ku ajukan sesuatu. Mungkin sepele sih tapi saya rasa akan bermanfaat dan merubah sebuah system perusahaan yang akan merekatkan sebuah hubungan karyawan dengan lainnya, intinya menyatukan pertalian antara karyawan dan staf. Atasan dan itu setidaknya akan menambah semangat dan rasa nyaman bagi setiap karyawan." Renita menjelaskan maksudnya.
"Oke, terus?"
"Sebagai perusahaan besar ataupun kecil. Tidak ada salahnya untuk menyatukan semua karyawan perusahaan ... agar saling mengenal satu sama lain bahkan meningkatkan rasa kepedulian kepada sesama karyawan lainnya, bila perlu tercipta rasa kekeluargaan dan itu saya rasa ... akan membuat mereka nyaman bekerja dan lebih semangat lagi." Sambungnya Renita.
Malik hanya menganggukkan kepalanya, serta berusaha mencerna Apa maksud dan tujuan dari Renita.
"Ada kalanya. Bahkan tak ayal para pekerja satu gedung, jangankan gedung, satu ruangan aja tidak terlalu saling mengenal satu sama lain dan saya menyarankan ... gimana caranya perusahaan membuat sistem agar mereka itu mendapatkan suasana baru, di mana ada kalanya suasana kekeluargaan yang tercipta. Tidak selalu membuat canggung antara staf dan karyawan. Juga dengan atasan."
"Misalnya dalam sebulan dua kali atau tiga kali, perusahaan mengadakan pertemuan antara karyawan, staf dan atasan. Contohnya mengadakan makan siang bersama atau makan malam bersama. Di satu kalikan semua karyawan dan staf itu memang mustahil, tapi itu pasti bisa."
"Saya mengerti dan saya setuju aja, apa yang terbaik untuk perusahaan! tapi ngomong-ngomong kita kapan fitting baju pengantin?" ucapnya Malik seraya menatap sangat lekat ke arah Renita.
Renita menggelengkan kepalanya bisa-bisanya Malik malah mengalihkan pembicaraan pada ... hal pribadi. Padahal ia sedang serius-seriusnya membahas tentang perusahaan!
"Kok malah bahas itu sih? Aku kan sedang ngebahas tentang perusahaan. Karyawan." Renita mengerutkan keningnya yang diarahkan kepada Malik.
"Perusahaan memang penting tapi kita juga lebih penting sayang, waktu kita cuma satu bulan Sayang, belum juga kita mengurus wedding! ketring dan tektek bengeknya. Kita jangan sampai banyak ngerepotkan orang lain, sebisa nya kita sendiri yang urus." sambungnya Malik dengan panjang lebar.
Sejenak Renita terdiam mengatupkan bibirnya dan tidak berkata apapun.
"Iya itu benar, oke kita urus semuanya tanpa bantuan orang lain." Renita mengangguk.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kamu mau memakai gaun pengantin yang dulu, apa memang masih muat dan tidak memalukan saya? yang nanti dicapnya tidak bisa memberikan kamu gaun pengantin!" Malik menatap curiga.
"Bukannya begitu, aku tergantung kamu! kamu mau mengajak aku fitting baju pengantin di mana, ya terserah aku ngikut saja!" bela nya Renita sambil mesem.
"Oh ... jadi kamu menyerahkan pada ku, seandainya mau di butik manapun!" sambungnya Malik.
"Iya itu benar, kan aku nggak mau seandainya pilihan ku tidak cocok dengan mu, jadi terserah kamu saja!" tambahnya Renita yang menyerahkan semuanya kepada Malik, karena dia tidak mau juga memilih sesuatu yang nantinya Malik tidak suka atau tidak setuju.
"Ya sudah, kalau begitu ... nanti setelah makan siang, kita ke butik dulu untuk fitting baju pengantin." ajaknya Malik.
"Sorry, nanti siang aku nggak bisa. Aku sudah janji sama beberapa karyawan untuk makan siang bersama." Protesnya Renita karena sudah terlanjur dia bikin janji untuk mengenakan makan siang bersama.
"Lho kok aku tidak tahu. Kalau kamu bikin janji dengan karyawan!" Malik menatap heran.
"Ini termasuk system' baru untuk menyenangkan karyawan dan mendekatkan mereka satu sama lainnya." Tambahnya Renita.
"Oo, begitu. Oke, kalau begitu ... aku akan membuat janji nanti sore sepulang kita kerja." Malik mengambil handphonenya.
"Iya, terserah. Aku ngikut saja, tapi siang ini aku gak bisa. Kalau begitu ... aku akan kembali ke ruangan ku!" Renita berdiri sambil menyimpan berkas yang belum Malik cek.
"Oke, kalau begitu ... nanti jam kerja selesai kita ke butik." Malik bersuara setelah Renita hampir melintasi pintu keluar.
Renita mengangguk seraya menoleh. Dan detik kemudian Renita melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan Malik.
Renita terus berjalan di koridor kantor untuk menuju ruangan kerjanya. Sesekali melihat ke arah handphone nya.
Setibanya di ruangan kerja, Renita mendudukan dirinya di kursi kebesarannya. Dan kembali berkutat dengan kerjaannya.
Di saat makan siang dah tiba. Renita pun beranjak dari kerjaannya, lalu bertemu dengan beberapa karyawan yang sudah menunggu di koridor lalu mereka berjalan menuju kantin bersama Renita yang akan mentraktir makan siang mereka, namun di saat Renita mau makan datanglah seseorang ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mohon tinggalkan jejak nya ya. Makasih.