
Renita menatapi ke arah Rendy yang berada di dalam gendongan Malik yang tampak nyaman dan tenang.
“Mbak jangan khawatir. Dan tidak perlu pikirkan itu, biar aku yang urus semuanya Mak. Aku akan seret mas Azam ke sini biar melihat anaknya, aku geram jadinya.” Gerutu nya Jefri.
“Iya Jefri. Kamu saja yang urus, Mbak malas berurusan dengan orang seperti itu yang mungkin mata hatinya sudah tertutup kali.” Renita pasrah dengan sikapnya Azam yang bikin dada ini sesak.
“Iya Mbak, aku yang akan urus dia,” Jefri menolehkan kepalanya pada Malik yang dia itu bos nya sang kakak ipar dan kini tengah menggendong ponakannya.
“Papa ... Rendy kangen papa,” suaranya Rendy sangat pelan.
“Ini sama Om sayang, papanya lagi sibuk dan sekarang sama om saja ya? anggap saja om ini papanya Rendy.” Ucapnya Melik sambil mengusap punggung Rendy yang berada di dalam pelukannya.
Dengan tatapannya yang sayu ... Rendy mendongak pada Malik dan berkata dengan suara pelan. “Om ... tidak apa-apa kan bila Rendy panggil Papa?”
Malik melihat ke arah Renita dan Jefri yang bengong dan Renita bersiap bicara namun Malik mencegah nya dengan isyarat tangan. “Tentu, Rendy boleh panggil Om ini dengan sebutan Papa boleh ... dan Oma akan senang sekali bila anak ganteng ini panggil Papa.”
Perkataan itu membuat Renita menghela nafas dalam-dalam sedih dan kesal bercampur menjadi satu. Sedih kalau putranya merindukan sosok ayah dalam hidupnya dan kesal pada Azam yang lupa pada putranya sendiri.
Rendy tampak gembira mendengar jawaban dari Malik barusan. Wajahnya tampak sumringah dan sorot matanya berbinar. “Makasih ya Om ...eh Papa.” Tangan anak itu merangkul pundak nya Malik dengan erat.
“Dengan ya pangeran kecil ku, harus cepat sembuh dan nanti bila sudah sembuh ... kita akan jalan-jalan kemana pun pangeran kecil mau, dan Papa siap mengantar kemana saja.” Ungkap Malik sambil tetap mengendong anak itu.
“Oke, Papa ... benar ya mau ajak Rendy kemana saja? sama bunda juga ya?” tanya anak itu setengah ragu.
Lagi-lagi Malik menoleh pada Renita dan seraya berkata. “Oh tentu dong ... perginya sama bunda nya si pangeran kecil ini.” Malik mencubit gemas hidung anak itu yang tampak gembira.
“Oke, kalau begitu dan makasih ya Om ... eh Papa ...” Rendy kembali nemplok di dadanya Malik.
__ADS_1
Renita melihat ke arah jam, lalu berkata pada Rendy sembari ingin memintanya dari Malik. “Rendy sayang ... Om nya kan mau sibuk lagi dan sini sama Bunda yo?”
Namun Rendy menggeleng kalau dia tidak mau sama bundanya. “Rendy nggak mau. Mau sama papa Bunda ...”
“Atau sama Om Jefri saja yo? kita jalan-jalan ke luar yo.” Jefri menawarkan diri, namun anak itu kekeh tidak mau dan ingin bersama Malik saja, yang ada dia malah menangis saking tidak maunya di ambil dari Malik.
“Biar saja dia bersama ku sampai dia tidur dan aku tidak apa-apa juga tidak terlalu sibuk. Kasian dia,” malik melihat ke arah Renita dan Jefri.
Memang ada benarnya juga kata-kata Malik kalau kasihan sama Rendy yang jelas-jelas merindukan papanya dan biarlah saat ini Rendy bersama Malik selama Malik nya juga ada waktu.
Kemudian Malik mengusap-usap punggungnya Rendy biar anak itu tidur dengan tenang. Renita dan Jefri mengobrol dengan suara pelan agar tidak mengganggu Rendy yang tampak mau tidur.
“Kalian belum makan bukan? makan saja dulu dan Rendy biar aku yang jaga,” ucapnya Malik pada Renita dan Jefri.
“Oya, Mbak ... biar aku yang beli makan ke luar dan Mbak di sini saja.” Jefri langsung beranjak dari duduknya dan pergi keluar untuk membeli makan siang tanpa menunggu jawaban dari sang kakak iparnya tersebut.
Sementara Renita menatap ke arah Malik dan Rendy yang tampak mulai tertidur itu. “Terima kasih ya sudah mau di merepotkan oleh Rendy,” ucap Renita.
“Sekali lagi makasih ya?” lagi-lagi Renita berterima kasih kepada Malik.
Malik berjalan menuju sofa yang berada Renita di sana. “Aku harap ... bila kau perlu bantuan atau perlu sesuatu ... bilang saja sama aku dan tidak perlu sungkan-sungkan.”
Sejenak Renita terdiam dan menatap ke arah Malik sehingga pandangan mata mereka berdua pun bertemu.
“Oya, aku juga akan membayar semua biaya rumah sakit dan kamu tidak usah Khawatir. Aku akan mengurus semua.” Malik bersedia untuk membayar semua biaya rumah sakit.
“Oh tidak usah, aku bisa mengurus semuanya kok ... dan tidak perlu merepotkan mu,” tolak Renita sambil menunduk melihat lantai, dia semakin segan dan tidak enak hati.
__ADS_1
“Sudah lah ... oke aku mau pergi dulu, ingat ya ... bila ada apa-apa bilang saja sama aku. Jangan sungkan.” Malik berpesan sebelum pergi, dan Renita hanya mengangguk pelan.
Renita memandangi punggung nya Malik sampai menghilang dari pandangan dan Renita menoleh pada arah Rendy yang sedang tertidur, lantas dia datangi. Mengusap kepalanya dan menciumnya keningnya.
“Cepat sembuh ya sayang ... biar kita bisa bersama dan berjalan-jalan.” Bisiknya Renita pada putranya yang sedang tidur tersebut.
“Mana pak Malik Mbak? aku sudah membelikan makan buat kita bertiga.” Suara Jefri sambil memasuki ruangan tersebut sambil menjinjing makan siang buat mereka makan.
“Dia sudah pulang dan katanya biaya rumah sakit ini akan dia bayar dan sampai selesai.” Balasnya Renita yang berkata tentang Malik.
“Di baik sekali ya Mbak.” Gumamnya Jefri lalu mengajak Renita makan siang bersama.
Kemudian Renita pun mengambil bagiannya dan lalu menikmati makan siang nya berdua dengan Jefri sambil menunggui Rendy untuk bangun karena mau di periksa oleh dokter.
“Oya Mbak, Pak Malik itu sudah berkeluarga tau masi lajang?” selidiknya Jefri sambil menatap tajam pada sang kakak iparnya.
“Aku tidak terlalu tau Jefri, entah sudah berkeluarga atau sebaliknya, yang jelas ... dia itu memang baik dari dulu juga.” jawabnya Renita sambil menggeleng.
“Jadi, Mbak sudah mengenal dia dari lama dong?” Jefri semakin menyelidik.
“Em ... dia itu sempat satu sekolah, lalu dia tidak lama pindah dan baru-baru ini bertemu lagi,” cerita Renita sambil mengenang kembali ke masa lalu.
“Oo! Teman lama ... apa ada clbk? Ha ha ha ...” Jefri tertawa.
“Apaan sih ... dari dulu juga teman biasa kok ... gak ada yang aneh!” akunya Renita sambil mesem.
Di saat sedang asik mengobrol ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Ayok dong ... jangan lupa selesai membaca tekan like dan dukungan lainnya. Makasih