Kau Jandakan Aku Demi Janda.

Kau Jandakan Aku Demi Janda.
Dasar kebo


__ADS_3

Setelah bertukar peluh, Azam tiduran dan detik kemudian terdengar suara dengkurannya.


"Huuh ... dasar kebo. Habis main langsung molor, tapi ... eh emang nya kebo kalau habis main langsung tidur?" Sharon bengong seolah berpikir.


"Aku ach, masa bodoh." Sharon turun dari tempat tidur dan mengambil baju yang berceceran di lantai.


Terdengar suara tangisan putranya di luar membuat Sharon gegas memakai pakaiannya dan lalu keluar kamar momong putranya.


...---------...


Renita sedang berkutat dengan kerjaannya melihat ke arah jarum jam yang sudah menunjukan waktunya makan siang.


"Waktunya makan siang dan sudahi pekerjaan ku." Renita beranjak sambil membereskan berkas yang ada di meja serta menutup laptopnya.


Renita berjalan keluar dari ruangannya sambil menunduk memegangi benda pintar yang sedang chattingan dengan lawyernya yang memberi tahu kalau persidangan pertama lusa.


"Melamun?" suara bariton itu mengagetkan Renita sehingga dia sontak mendongak.


"Oh, aku kira siapa! iya ini eh tidak." Renita dengan nada agak gugup.


"Chattingan dengan suami ya?" Selidik Malik yang terus berjalan beriringan dengan Renita. di depannya ada beberapa staf berjalan.


"Aku, suami? Apanya? Ini besok lusa akan di adakan nya sidang pertama, kalau saya kerja setengah hari gimana? atau saya gak masuk kerja saja, tidak apa-apa?" Sekalian saja Renita bilang dan meminta ijin untuk libur barang sehari.


"Em ... Tidak apa-apa, setengah hari saja masuknya. Sekalian saya juga mau ikut, pengen tahu he he he ..." Malik terkekeh sendiri.


"Ha? Pengen tahu ... Tahu apa?" Renita mengerutkan keningnya.


"Ach sudah lah ... Oya gimana dengan Rendy? Apa hak asuhnya akan tetap dengan mu atau--"


"Tentunya kan tetap denganku dan aku akan pastikan kalau hak asuh Rendy jatuh ke tanganku. Karena ... bagaimanapun rasanya aku yang berhak, tapi aku nggak ada hak untuk melarang papanya untuk ketemu Rendy tapi pada kenyataannya. Setelah dia pergi dari rumah sampai sekarang nggak pernah dia menemui Rendy ataupun sekedar menanyakan kabarnya Rendy," ucap Renita dengan nada sedih.


Malik menolehkan ke arah Renita dengan kening mengerut, sejenak menghentikan langkahnya. "Jadi setelah kepergian dia dari rumah dia nggak ada nemuin Rendy atau menanyakan kabarnya? Dan Malik mendapatkan anggukan dari Renita.

__ADS_1


Sejenak hanya terdengar suara Berapa langkah dari pasang kaki mereka berdua dan juga yang lain yang memasuki kantin kantor.


Mereka memilih kursi yang berada di dekat jendela, kemudian memesan makan untuk mereka makan siang.


"Apakah kamu sendiri tidak pernah menghubunginya? ya ... untuk sekedar membicarakan perkembangan anak selidiknya Malik.


Renita menggeleng saya berkata tidak pernah aku tidak pernah menghubunginya dan hasilnya buat apa kalau dia ingat sama anaknya dia yang harus telepon aku tanyakan Gimana kabar anaknya temui anaknya nggak di rumah ya di sekolah!"


"Kok sampai segitunya ya? padahal baru punya anak satu kan? dan kebetulan anaknya juga masih usia di bawah masih gemes-gemasnya, masih lucu-lucunya," kepala Malik menggeleng rasanya kok aneh.


"Ya ... begitulah kenyataannya! tapi ya sudahlah, tidak apa-apa yang penting Rendy bahagia dengan saya dan kehidupannya pun tercukupi. Itu pun sudah cukup, nggak terlalu berharap papanya gimana-gimana!" ucapnya Renita Serata menghela nafas dan bernada pasrah.


Malik terdiam sesaat kemudian mengangguk kepada pelayan kantin. "Terima kasih Mbak!"


"Makasih Mbak?"ucap Renita kepada orang yang menyadarkan makan siang untuknya.


Alik menghembuskan nafasnya jangan panjang. "Ya sudahlah, kita makan siang dulu. setelah itu kita ke mushola! aku yakin kalau kamu itu wanita kuat dan hebat, mandiri dan juga penyayang semoga sidangnya besok lancar ya!"


"Aamiin ... itu yang diharapkan dan berharap tidak perlu panjang lebar ataupun berulang-ulang! maksud aku cukup lancar lah nggak harus makan waktu yang panjang banget untuk sampai ketuk palu." Renita menganggukan kepalanya.


Namun ketika pas selesai makan, Malik menerima sebuah telepon dan dia terlihat terkejut dan sedikit panik. Sehingga dia berpamitan kepada Renita untuk segera pulang dulu ke rumah.


"Sepertinya aku harus pulang dulu, ada sesuatu yang penting dan meninggalkan kantor!" kata Malik sembari beranjak dan tergesa-gesa mengeluarkan uang untuk membayar makan siangnya sekalian dengan Renita.


"Punyaku biar aku bayar sendiri aja nggak apa-apa!" ucapnya Renita sembari mendongak melihat ke arah Malik yang tampak panik.


"Tidak apa-apa, aku aja yang bayar! sudah dulu ya, aku pamit dulu dan tolong kalau ada yang nanyain aku. Pulang dulu sebentar dan nanti balik lagi ke kantor!" Malik segera mengayunkan langkah lebarnya meninggalkan kantin kantor yang barusan dia makan siang di sana.


"Ada apa ya kok terserah gitu apakah ada yang sakit atau gimana?" Renita bertanya-tanya dalam hati sembari menatap punggung Malik yang dengan sekejap sudah hilang di balik pintu kaca.


"Huuh ..." Renita pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju mushola karena dia akan melaksanakan dulu salat zuhur, setelah itu barulah dia kembali ke tempat kerjanya.


Setibanya di ruangan kerja Sudah ada berapa orang baru mau melamar kerja dengan pakaian yang rapi.

__ADS_1


Renita pun langsung menyilakan mereka masuk dan mewawancarai mereka satu persatu, namun pada akhirnya Renita berkeputusan kalau besok pagi-pagi mereka datang kembali. Dengan alasan biar otak lebih fresh ketika pagi-pagi, tidak seperti sekarang pikiran agak bercabang dengan pola pikir yang sudah berputar dari pagi sampai siang.


Dengan ekspresi wajah yang agak kecewa. Mereka pun pulang, mau tidak mau besok pagi baru kembali.


Renita membuang nafasnya melalui mulut seraya menaikkan alisnya, kepalanya agak terasa pusing.


Kemudian Renita bergelut lagi dengan pekerjaan yang ada di atas meja dan dia masih harus banyak mempelajari, sistem-sistem kerja di sana maklum dia masih baru dan belum paham dengan sistem atau kinerja yang lama.


Hari sudah beranjak sore dan kini sudah waktunya pulang sehingga Renita pun membereskan meja kerjanya sebelum dia beranjak di tempat tersebut.


Wanita berjilbab warna piece tersebut meraih tas kecilnya dari atas meja yang sudah bersih dan rapi, kemudian dia mendekati jendela untuk menutupnya. Setelah itu barulah dia keluar dari ruangan tersebut berjalan menenteng sebuah map yang isinya harus banyak dipelajari di rumah nanti.


Berjalan bersama staf lain yang saling menyapa dan mengobrol.


"Saya suruh bawa nih di rumah punya bayi!" kata seorang wanita yang usianya mungkin sama dengan Renita. "Makanya harus buru-buru."


"Oh iya silakan apa yang kau punya bayi kasihan sama menunggu ya? kata Renita sembari mengangguk.


"Hooh, yuk duluan, dah ..." kata wanita itu kepada wanita dan yang lainnya. Setelah berada di parkiran.


Begitupun Renita mengambil helm yang menggantung di depan motor, manik matanya melihat ke arah mobil yang diyakini adalah milik Malik. "Bukannya tadi ... dia pulang? tapi mobilnya sudah menjogrog lagi di sana? apa sudah kembali?" Tanya Renita dalam hati sambil menatapi mobil Malik dan melihat ke arah pintu utama kantor.


"Berarti benar, pulangnya sebentar! ya sudahlah. Ngapain dipikirin! mendingan aku segera pulang, Rendy pasti sudah menunggu, dia kan sudah berpesan kalau pulang kerja harus cepat pulang. Jangan kemana-mana dulu, okelah sayang." Renita segera melajukan motornya mundur sedikit lalu belok dan maju meluncur meninggalkan area parkiran.


Namun setelah berapa puluh meter dari area parkir ataupun kantornya motor mogok! setelah dicek kehabisan bensin.


"Ya Allah kok aku lupa ngisi bensin sih sampai kehabisan gini astaghfirullah!" Renita turun dan planga-plonga mencari pom bensin yang tidak terlihat di daerah situ.


"Mana nggak terlihat lagi pom bensin di mana masih jauh, ck!" Renita berdecak. "Masa aku harus dorong dulu tapi ya sudahlah hitung-hitung olahraga pada sore hari!"


Mau tidak mau Renita harus mendorong motornya hingga menemukan pom bensin untuk mengisinya.


"Nasib ... nasib, gara-gara aku kelupaan! yang seharusnya tadi pagi isi bensin akhirnya kayak gini deh," monolog Renita sambil terus berjalan mendorong motor sampai menemukan pom bensin untuk mengisi daya nya ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Mana like nya nih ... dukungan lainnya. Makasih.


__ADS_2