
"Makasih atas dukungannya ya! Dan tolong rahasiakan dulu dari bapak dan ibu. Kakak nggak mau mereka kecewa atau merasa sakit hati, nanti saja mereka tahunya kalau Kakak sudah siap untuk mengatakan sendiri ya?" pinta Renita pada sang adik Sheila.
"Baiklah, Kak. Akan aku sudah bilang ... aku nggak akan bilang dulu sama orang tua kita dan aku akan menyerahkan semuanya kepada Kakak, Kakak cerita, mereka tahu! kalau Kakak gak cerita juga mereka nggak akan tahu! aku akan membungkam mulut ku serapat mungkin." Sheila sembari mengangguk.
Tidak menunggu lama masakan pun matang, lalu mereka bertiga menikmati makan seadanya. Rendy tampak paham makannya. Lain lagi dengan Renita yang tampak tidak bernafsu.
Seperti rencana sebelumnya, kalau Sheila akan menginap di rumah sang kakak dan intinya akan lebih sering tinggal di rumah tersebut.
"Hore ... Tante mau menginap di sini, jadinya Rendy ada temen! Bunda juga ada temennya. kita nggak berdua saja ya, Bun ya?" anak itu bersorak sambil melirik ke arah sang Bunda.
"Iya, jadi kita nggak sepi lagi karena ada tante yang menemani kita," jawabnya sang Bunda sembari mengusap kepala putranya penuh kasih sayang.
"Rendy seneng kan? Tante menginap di sini, nggak akan nakal kan? tanya Sheila kepada Rendy.
"Senang dong ... Tante Rendy senang banget kalau Tante tinggal bersama kita!" anak itu mengangguk bahagia sambil sesekali gelendotan di pangkuan Sheila.
Waktu terus berputar dan sekarang ini sudah menunjukkan pukul 09.30 menit, Renita sudah menidurkan Rendy di kamarnya! dan kini dia tengah duduk di ruang tengah bersama sang adik, Sheila.
"Jam segini belum pulang ya Kak?" Sheila menatap sang kakak yang tengah melamun biarpun wajahnya menghadap televisi, tapi hatinya dan pikirannya entah ke mana.
Kemudian wanita berjilbab itu menoleh pada sang adik. "Nanya apa sih?"
"Ya ampun ... melamun ya? itu mas Azam sudah malam belum pulang juga?" ulang Sheila.
"Iya pasti masih di sana." gumamnya Renita menerawang.
"Terus, kakak mau bertindak apa? emang Kakak mau dimadu. Emang Kakak mau diduakan? Emangnya kakak mau--"
"Cukup, jangan banyak bertanya nanti Kakak tambah pusing. Yang jelas Kakak nggak mau dipoligami titik! jangan banyak tanya lagi!" jelasnya sang kakak memotong perkataan dari Sheila
__ADS_1
"Berarti ... Kakak Siap bercerai?" selidiknya Sheila
"Iya tergantung--"
"Kok tergantung sih?" kali ini giliran Sheila yang memotong perkataan kakaknya, karena dia merasa penasaran apa dengan maksud yang tergantung.
"Kakak .... tergantung dianya mau menjadi suami yang baik dan bertobat atau enggak? gitu maksud kakak!" jawabnya sang kakak yang kembali melamun! menyadarkan bahunya ke bahu sofa dan pandangan yang kosong ke depan.
"Tapi Kakak juga harus memikirkan gimana masa depannya Rendy--"
"Sheila ... seandainya kakak terlalu memikirkan masa depan Rendy. Apa kabar dengan kakak sendiri?Kakak nggak sanggup ya! harus tersiksa setiap hari berbagi suami atau dikhianati, rumah tangga kami masih bisa berjalan dengan baik demi anak-anak. Misalkan! gimana dengan hati Kakak gimana, Sheila?" Renita balik bertanya sembari memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit.
"Huuuh ... ya sudah, aku mau istirahat dulu ya? ngantuk banget. Lagian besok aku mau ngajar dan ada kuliah juga siangnya, kalau kakak mau pergi ... paling aku bisa nungguin Rendy nya sore banget, Kak ... atau mungkin agak malaman." Sheila berdiri dan membawa bukunya.
"Ya nggak apa-apa, soal itu bisa diatur yang penting ... kamu nggak sibuk baru kakak akan meninggalkan Rendy!" jawabnya sang kakak sambil mengangguk.
Sementara Renita masih berada duduk di atas sofa, di ruangan tengah dengan televisi yang menyala namun seakan tidak berfungsi karena tidak ditonton sama sekali.
Ketika terdengar suara mobil Azam sekitar pukul 10 malam, masuk ke pekarangan. Renita pun langsung berdiri dan menyambutnya dengan membuka pintu.
"Assalamu'alaikum ..." suara Azam sembari melintasi pintu yang sudah dibukakan oleh sang istri.
"Wa'alaikum salam ... baru pulang mas?" kemudian Renita pun langsung meraih tangan Azam di ciumnya dan itu sudah menjadi kebiasaan Renita kepada sang suami mau pergi ataupun sebaliknya.
Azam pun mencium keningnya Renita sekilas, yang tidak terasa lagi mesranya seperti dulu. Sekarang lebih singkat dan hambar.
"Rendy sudah tidur?" tanya Azam sembari mendekati kamar Rendy.
"Sudah setengah jam yang lalu, pulangnya jangan terlalu malam dong, Mas ... kasihan Rendy! jadi dia tidak ada waktu untuk bertemu ayahnya apalagi bermain, kasihan dia loh!" ucapnya Renita dengan lirih.
__ADS_1
Azam menoleh ke arah Renita. "Kenapa sih harus bahas itu lagi? kan sudah tahu saya sibuk. Lagian ada kamu sebagai ibunya, bahkan Randy pun mengerti kok akan kesibukan ku!" ucap Azam dengan nada sedikit ngegas biarpun suaranya agak pelan.
"Ya-ya ... bukannya begitu, Mas ... bagaimanapun dia butuh perhatian, jangan sampai Mas kehilangan momen-momen indah bersama dia, Mas!" balasnya Renita dengan nada dingin.
"Achhh ... sudah lah, aku capek dan ngantuk!" Azam meneruskan langkahnya menuju kamar.
Renita pun mengikuti langkah Azam. "Tapi mas!"
"Apa lagi sih? kok sekarang kamu itu nggak pernah ngertiin sama aku? suami datang, capek kok malah di anuin!" Azam menoleh dengan malas pada sang istri.
"Bukan gitu, Mas ... aku cuman mau bilang! kalau ada Sheila menginap di sini, dan dia tidurnya di kamar sebelah." Sambungnya Renita sambil menunjuk ke arah kamar sebelah kamar Rendy.
"Oh Sheila, ya sudah nggak apa-apa." Azam menaikkan kedua bahunya lalu melintasi pintu kamar menyimpan tasnya dan membuka kemeja juga jas, dia lempar ke arah gantungan yang malah terjatuh bukannya menggantung.
Dan pada akhirnya Renita juga yang membereskan pakaian bekas Azam. "Oh iya, aku bikinkan wedang jahe dulu ya? buat kamu biar nggak masuk angin!"
Renita membalikan tubuhnya menghadap pintu lantas berjalan. Baru tiga langkah, namun Azam mencegahnya.
"Tidak usah, aku sudah minum dan aku tidak membutuhkan apapun! aku cuma mau mandi saja," ucap Azam sembari mengerahkan langkahnya ke pintu kamar mandi.
Renita kembali memutar tubuhnya dan setelah suaminya berada di kamar mandi ... Renita mengarahkan pandangan ke tas miliknya Azam. Buru-buru Dia berjalan mendekati tas milik suaminya itu yang berada di atas nakas.
Dan Renita mencari ponsel milik suaminya tersebut. Setelah ketemu ... Renita berniat untuk mencari kontak wanita yang menjadi simpanan suaminya, atau membuka chat atau apa gitu yang ada di WhatsApp. Tetapi sayang! ponselnya dikunci dan setelah beberapa kali memasukkan kodenya pun ponsel Azam tidak bisa terbuka.
Membuat Renita putus asa dan akhirnya menyimpan kembali di tempat asalnya ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa subscribe agar dapat notifikasinya ya like comment bintang dan dukungan lainnya Makasih banyak.
__ADS_1